
“Ehemmm…..” Delvin melirik kearah Reynard dan Liona. Dia melihat cara jalan Liona yang terlihat agak aneh tidak seperti biasanya. Dia pun menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan kakaknya.
“Kapan kau sampai?” tanya Reynard.
“Tadi malam tapi aku tidak melihat kalian dan pagi-pagi sekali aku kesini ternyata kalian masih tidur. Kak…...”
Reynard yang tahu keusilan adiknya pun mengacuhkan dan menggandeng Liona keruang makan.
Felicia berlari dan duduk disebelah Liona sambil memiringkan kepala menatap wanita itu. “Mama Liona…..apakah mama baik-baik saja?”
“Iya sayang. Memangnya kenapa?”
“Hem…..wajah mama terlihat pucat. Mama sakit?”
“Tidak Feli. Mamamu tidak sakit hanya kelelahan saja. Biarkan mama Liona makan dulu ya.”
Felicia pun berlari kembali keruang tengah dan berbisik-bisik dengan Elvano. Delvin yang kepo berusaha menguping pembicaraan keponakannya tapi Felicia dan Elvano melotot kearahnya membuat Delvin mengalihkan tatapannya ke televisi.
“Apakah masih terasa sangat sakit?” bisik Reynard lagi pada Liona, dia merasa bersalah atas perbuatannya tadi malam yang terlalu liar.
“Sudah mulai berkurang, terimakasih ya sudah memberiku salep itu.”
“Iya, sayang. Kalau kau mau hari ini kau bisa ikut bersamaku ke kantor. Aku ada meeting nanti siang dan kau bisa menemani anak-anak disana sambil menungguku. Selesai meeting kita bisa jalan-jalan.”
“Apakah kau yakin membawaku ke kantor?”
“Kenapa tidak? Kau calon istriku dan semua orang juga sudah tahu itu. Lihat cincin ditanganmu. Apakah kau lupa dengan statusmu, sayang?”
Liona tersenyum melihat cincin berlian dijari manisnya, cincin pemberian Reynard. Tadi sebelum turun untuk sarapan Reynard sudah mengatakan pada Liona keinginannya untuk membuat acara pertunangan mereka. Dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
“Tentu saja aku tidak lupa. Bagaimana mungkin aku lupa jika kekasihku setampan dirimu?”
“Ayo….bersiap-siaplah. Pakaianmu ada dikamarku.”
__ADS_1
“Ha? Bagaimana bisa pakaianku ada dikamarmu?”
“Ha...ha...ha….aku sudah membeli beberapa pakaian untukmu dan kusimpan di kloset milikku. Jadi tiap kali kau menginap disini, pakaianmu sudah lengkap dan kau tidak perlu ke rumah sebelah.”
Liona memilih setelan celana jeans putih dan atasan warna peach dipadu cardigan warna senada. Ditambah kalung dan anting-anting berlian pemberian Reynard, tas dan sepatu branded warna senada dengan baju. Pulasan makeup warna natural dan lipstik warna nude membuat tampilan wajah Liona terlihat cantik alami. Setelah dia selesai menata rambutnya dengan memakai penjepit ditengah rambut, Reynard sudah berdiri dibelakangnya dan memandang pantulan wajah Liona di cerman. “Cantik! Sangat cantik!”
Wajahnya merona setiap kali Reynard memujinya, pria itu mendaratkan kecupan dipipi kanan Liona lalu menggandeng tangannya menuju lantai bawah.
“Wow…..mama Liona cantik sekali!” pekik Felicia sambil kedua tangannya menangkup pipinya.
“Mamaku memang cantik makanya aku juga tampan.” ucap Elvano memuji dirinya.
“Mama kita! Ingat ya Kak El…..mama dan papa kita, kita kan sudah janji saling berbagi.”
“Iya...iya….bakpao!”
“Ha..ha...ha...ha…..apa? Bakpao? Kenapa kau panggil Feli dengan sebutan itu?” tawa Delvin. Reynard dan Liona tertawa tak habis pikir dengan tingkah kedua anak itu.
“Tidakkah paman melihat wajahnya bulat seperti bakpao? Dia tidak pernah berhenti makan.”
Felicia mengerucutkan bibirnya dan menggandeng tangan Liona seakan wanita itu hanya miliknya sedangkan Elvano menggandeng tangan Reynard.
“Bagaimana jika kita makan siang di kantor saja?” tanya Reynard.
“Bukankah kita baru saja makan? Aku belum lapar, belikan makanan untuk anak-anak saja. Kita makan malam diluar saja nanti.” kata Liona. Mobil mewah yang membawa mereka meluncur menuju gedung perkantoran mewah Wilfred Group. Setibanya di depan pintu utama, sekuriti membukakan pintu mobil untuk atasannya. Delvin berjalan dibelakang Reynard yang berjalan beriringan dengan Liona dan kedua anak mereka. Para karyawan menyapa mereka, terlihat beberapa karyawan wanita berbisik-bisik saat melihat Liona. Reynard yang mememgang tangan Elvano membuat wajah-wajah di kantor itu terkejut.
“Siapa bocah laki-laki itu?” tanya resepsionis pada rekannya.
“Bukankah wajahnya terlihat sangat mirip dengan Tuan Wilfred?” sahut yang lain.
“Setahuku itu putranya Nona Liona, tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan Tuan Wilfred?”
“Apakah bocah laki-laki itu putra Tuan Wilfred dan Nona Liona?”
__ADS_1
“Iya, mungkin saja. Itu alasan Tuan Wilfred mengumumkan hubungannya waktu itu, jangan-jangan mereka menjalin hubungan diam-diam selama ini.”
Bisik-bisik para karyawan ada yang terdengar oleh Delvin. “Kembali kerja! Kalian disini digaji untuk bekerja bukan menggosip.”
Reynard dan Liona bahkan terlihat santai dan tidak peduli pada ucapan para karyawan. Mereka memasuki lift eksekutif menuju lantai teratas ruang direktur.
“Kalian tunggu disini ya, papa ada meeting sebentar.”
“Okay papa.” sahut kedua bocah serempak.
“Beritahu sekretarisku jika kalian butuh sesuatu ya sayang,” ucap Reynard mengecup kening Liona, sontak kedua bocah menutup mata mereka dengan tangan. Tingkah keduanya membuat Reynard dan Liona tertawa.
“Baiklah. Semoga sukses meetingnya ya,” ujar Liona tersenyum manis.
“Papa jangan lama-lama ya. Setelah meeting bolehkah kita pergi ke mall?”
“Boleh. Tunggu papa selesai meeting ya dan kalian berdua jangan nakal.”
“Okay, papa.”
Elvano dan Felicia duduk disofa sambil menonton Ipad masing-masing, keduanya sesekali berbicara mengomentari video yang sedang mereka tonton. Komentar-komentar kedua bocah itu terdengar sangat lucu ditelinga Liona yang sedang membaca majalah bisnis milik Reynard. Dia duduk dikursi kebesaran sang CEO. Tak lama suara ketukan dipintu, seorang OB membawakan minuman untuk mereka lalu pergi. “Kalian suka jusnya?” tanya Liona.
“Suka, mama. Ini jus terenak yang pernah aku minum.” kata Elvano.
“Itu berarti jus buatan mama tidak enak ya?” Liona cemberut. Kedua bocah itu lantas mendekati Liona dan menghiburnya.
“Jus buatan mama juga enak, iyakan Kak El? Aku paling suka jus buatan mama Liona.” bujuk Felicia memeluk lengan Liona.
“Iya enak. Tapi jus ini juga enak, jus paling enak yang pernah kuminum diluar.” ujar Elvano. "Mama jangan marah ya.....makanan buatan mama yang paling the best." Kedua bocah mengacungkan jempol pada Liona.
Setelah selesai minum jus, kedua bocah itu kembali sibuk dengan Ipad. Mereka duduk berdampingan di sofa, sesekali terdengar suara tawa keduanya.
Liona yang duduk di kursi kerja Reynard juga terlihat sedang mengutak-atik ponselnya. Membaca chat-an di group, tak ada yang menarik hanya beberapa informasi jadwal syuting dan info syuting yang akan dilakukan di luar kota. Liona menghela napas, dia menyadari jika di lokasi syuting luar kota nanti, dia akan banyak berakting dengan Vena dan Miko.
__ADS_1
Liona meletakkan ponselnya diatas meja lalu berjalan kearah jendela. Cuaca hari itu bagus dan cerah. Liona memandang keluar jendela, tampak pemandangan indah kota dengan gedung-gedung pencakar langit.