
Sebenarnya sebagai seorang seniman memiliki resiko yang cukup berat.
"Apakah kamu sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Miko pada Liona.
"Jauh lebih baik! Terima kasih, Miko."
"Hahaha.....kita akan syuting adegan ciuman yang penuh dengan kesialan. Aku sudah tidak sabar untuk syuting adegan ini."ujar Miko tertawa.
Setelah mendengar ucapan Miko, wajah Liona berubah menjadi gelap dan muram, "Kita masih bisa berteman baik jika kamu berhenti berbicara sekarang....."
"Huh! Memangnya siapa yang mau jadi teman baikmu?" sahut Miko yang sebenarnya menginginkan menjadi pacar eksklusif Liona tetapi wanita itu hanya menginginkan berteman saja dengannya.
'Sialan!' keluh Miko didalam hati.
"Pergi kamu sana! Jangan dekat-dekat denganmu! Kamu paling menyebalkan!" kata Liona dengan kesal.
Asisten datang membawakan kursi untuk Miko. Dia pun duduk disebelah Liona dan menggeliat, "huh! Beberapa menit yang lalu kamu menghujaniku dengan cinta kasih seolah-olah kamu tidak bisa hidup tanpa aku. Tapi sekarang hanya dalam sekejap mata saja kamu malah mengusirku dengan kejam! Wanita memang makhluk paling aneh, suka berubah-ubah!"
Liona bingung dengan sikap pria itu. Seperti yang diharapkan, Miko pasti membuat masalah untuknya ketika dia tidak ada pekerjaan. Liona mengabaikan pria itu dan membalikkan tubuhnya membelakangi Miko.
"Hei! Halo!"
"Aku punya nama! Dasar tidak sopan!" teriak Liona mendengus kesal.
"Liona! Aku sedang mencoba berbicara serius denganmu. Apakah kamu tidak mendengarku?" Miko mendorong punggung Liona dengan jarinya.
Liona berbalik dan memelototinya, "Kamu tahu kan tadi kita hanya berakting! Itu hanya akting, Brengsek! Jika kamu mati sekarang, aku akan meneteskan airmata untukmu! Apakah kamu sudah puas sekarang?"
Sambil menggosok hidungnya Miko berkata, "Hmmm lupakan saja!"
Setelah berpikir keras selama beberapa menit, Miko kembali menghampiri Liona. Dia memang tak pernah mau mengalah dan selalu ingin mendapatkan apapun yang dia mau.
__ADS_1
"Liona jika kita berperan sebagai pasangan dalam beberapa drama lagi. Apakah kamu akan benar-benar jatuh cinta padaku?" Miko menahan napas lalu menjaga agar pandangannya tetap rendah dan berusaha untuk tidak terlalu kelihatan bersemangat ingin mendapatkan jawaban.
Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, saking kencangnya hingga dia takut jantungnya akan meledak jika melihat terus kearah Liona. Jadi Miko berusaha agar terlihat setenang mungkin. Kenapa Liona tidak segera menjawab pertanyaanku? pikirnya.
Miko terus saja menunggu dalam diam tetapi tetap tidak ada jawaban dari wanita itu. Satu menit berlalu.....dua menit berlalu.... dan akhirnya lima menit sudah berlalu tapi tetap saja tidak ada jawaban apapun. Waktu menunggu adalah siksaan bagi Miko.
Akhirnya dia tidak punya pilihan lagi selain berbalik dan menghadap Liona. Gelombang amarah langsung melanda diri Miko. Liona masih duduk dikursinya tetapi matanya tertutup dan napasnya terdengar teratur. Wanita itu tertidur karena kelelahan. Miko benar-benar kesal.
'Apa-apaan Liona ini? Tidak menghargai orang sama sekali!'keluhnya. Pembuluh darah biru muncul didahi Miko dan dia masih harus menahan diri agar tidak mencekik Liona. Sebaliknya, Miko menyodok bahu wanita itu dengan kuat.
Liona hanya mengerutkan kening sedikit dan berbalik dalam tidurnya.
'Brengsek! Apakah kamu begadang sepanjang malam? Kenapa kamu bisa tetridur di tempat kerja begini?' Miko mengutuk didalam hati.
Tapi ketika dia mendekati Liona, dia bisa melihat dengan jelas ada lingkaran hitam dibawah mata Liona. Miko menghela napas dan berjingkat pergi. Dalam perjalanan keluar dia meminta asistennya untuk membawakan payung dan meletakkannya di atas kepala Liona.
'Aku memang terlalu baik! Ini pasti karma. Mungkin aku berutang banyak pada Liona di kehidupan sebelumnya dan sekarang sudah waktunya untuk membayar hutang itu.' Miko merasa alasan ini cukup untuk menghibur dirinya sendiri.
"Sayangnya lembaga sensor film mengeluarkan larangan yang menayangkan adegan yang mengandung pornografi dan kekerasan di semua acara TV dan film. Jadi kita akan mengedit adegan itu dalam serial drama kita. Jadi adegan yang akan kita rekam hanyalah adegan yang akan kita tayangkan. Jadi adegan ciuman akan ditiadakan." ujar Sutradara Reiki.
Bahu Miko langsung merosot karena merasa kecewa, apa yang diharapkannya ternyata tidak menjadi kenyataan. Jika boleh jujur, sebenarnya alasan utama dia menerima peran didalam serial drama ini karena dia ingin dekat dengan Liona.
Terutama melalui adegan intim yang ada, didalam naskah asli berisi beberapa adegan panas antara dirinya dan Liona. Miko sangat bersemangat untuk melakukan adegan ini. Tetapi karena peraturan baru yang dikeluarkan lembaga sensor film, semua harapannya hancur.
Larangan menayangkan adegan pronografi termasuk ciuman dikeluarkan demi menjaga kesehatan fisik dan mental penonton yang masih dibawah umur. Jadi semua film dan acara TV harus mematuhinya. Dengan demikian sebagian besar adegan ciuman antara dirinya dan LIona dihapus.
Reynard tidak ikut campur kali ini jadi seharusnya dia dan Liona bisa menyelesaikan adegan itu tanpak banyak kesulitan. Ketika mereka selesai syuting, langit sudah gelap. Setelah syuting selesai, Miko sudah tidak memiliki jadwal syuting adegan lain di serial drama ini.
Sutradara Reiki berjalan menghampiri Miko yang terlihat sangat bersemangat dengan hasil kerja pria itu. Awalnya Reiki memutuskan untuk mengundang Miko karena dia sangat populer. Nama Miko sangat terkenal didunia hiburan.
Tapi Reiki tidak pernah berpikir bahwa seorang pria yang berkepribadian kuat seperti Miko juga bisa memainkan peran sebagai seorang pria yang lemah lembut dengan sangat baik. Dia memberikan ampolp besar kepada mIko.
__ADS_1
"Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini." ucap Reiki.
Miko mengambil amplop itu sambil tersenyum lebar, "Anda tidak perlu sungkan! Aku juga sangat menikmati bekerjasama dengan anda."
'Memang menyenangkan,' pikir Miko lalu dia berbalik dan mengedipkan mata kepada Liona.
Ekspresi terkejut muncul diwajah wanita itu.
"Bagaimana kalau kita semua keluar dan merayakan momen penting ini? Kami akan minum untuk penampilan Miko yang luar biasa." ujar Reiki mengumumkan dengan riang.
Para kru pun langsung setuju dan menyambut gembira usulan sutradara Reiki, mereka bersemangat dengan pergi keluar malam untuk bersenang-senang.
"Wah ini luar biasa! Akhir-akhir ini kita telah bekerja keras di lokasi syuting. Aku bahkan makan dan tidur di studio! Aku tidak bisa pergi keluar selama.....Aku tidak tahu sudah berapa hari."
"Aku mengerti! Tapi berkat Miko, malam ini kita akan bersenang-senang."
"Akhirnya! Ini yang aku tunggu-tunggu! Aku benar-benar membutuhkan udara segar agar tidak menjadi gila! Udara segar bercampur dengan manisnya asap knalpot kota. Ha....ha...ha....ha....."
Miko tercengang melihat reaksi semua kru yang sangat antusias. Dia bahkan belum menyetujui untuk bergabung dengan mereka.
"Hei....Miko....Bagaimana pendapatmu? Kamu akan bergabung bersama kami kan?" tanya Reiki lagi.
"Eh, aku tidak tahu. Aku masih punya pekerjaan yang harus kulakukan besok." Miko sebenarnya tidak ingin pergi. Dan alasannya cukup sederhana.
Reiki mengundang semua orang termasuk Vena. Jika Vena memutuskan untuk bergabung maka Liona tidak akan pergi. Jadi tidak ada alasan bagi Miko untuk pergi bersama mereka. Sebenarnya dia lebih suka menghabiskan waktu berdua dengan Liona.
Dia harus memikirkan satu cara untuk menunjukkan kekurangan Reynard dan membuat Liona menyerah. Bagaimanapun dia tidak mau Liona bersama dengan pamannya itu.
"Ayolah Miko! Kita belum pernah keluar bersama semenjak kamu bergabung dengan kru. Jika kamu tidak ingin berpesta maka kita bisa pergi makan malam santai bersama-sama. Jarang-jarang ada kesempatan untuk acara jalan-jalan bersama semua anggota kru. Kita mungkin tidak memiliki kesempatan seperti ini lagi di masa depan."
Reiki pun berbalik dan menatap Liona, "Liona....tolong bujuk dia! Kalian berdua baru saja menyelesaikan banyak adegan bersama jadi kalian harus merayakannya."
__ADS_1
'Aku? Aku harus membujuk pria brengsek itu? Anda adalah sutradara dan dia bahkan tidak mendengarkan anda! Bagaimana mungkin dia mau mendengarkanku?' pikir liona yang merasa bingung.