
‘Persetan denganmu! Aku sedang menyandera putramu sekarang dan aku ragu kamu bisa menyelamatkan dia seorang diri! Ada begitu banyak orang bayaranku disini!’ pikir Adam didalam hatinya.
Adam mundur kesalah satu sudut kamar sambil menggendong Elvano dan kembali mengancam Liona lalu berkata, “Jika kamu berani mendekat, aku akan membunuh anakmu!”
“Silahkan saja! Mari kita lihat siapa yang lebih cepat!” balas Liona dengan wajah tanpa ekspresi. Liona menarik pisau bedah dari bahu pria yang tadi dia tikam. Pria itu menjerit kesakitan.
Kemudian Liona mengarahkan pisau yang penuh darah itu kearah Adam. Tindakan Liona begitu cepat sehingga Adam bahkan tidak punya waktu untuk bereaksi. Otot-otot di wajah pria gendut itu berkedut karena ngeri dan panik. Tak hanya itu, dia mulai berkeringat dingin.
“Kamu…..kamu…..tidak mungkin….” jari telunjuk pria itu menunjuk kearah Liona. Dia menatap ngeri kearah Liona, seolah-olah wanita cantik itu adalah jelmaan iblis yang haus darah.
Seolah menjawab keraguan ayah angkatnya itu, Liona mengarahkan pisaunya kearah pria lain lalu menikam paha pria itu tanpa ragu, “Aaaaaahhhhhhh!” pria itu berteriak kesakitan.
Dia mencengkeram pahanya yang berdarah. Kaki pria itu menekuk karena menahan berat tubuhnya dan dia tidak mempunyai kekuatan lagi untuk bangun. "Aaaaggghgggghghhh......"
Jeritan pria itu terdengar pilu menggema memenuhi kamar mewah itu. Mata Liona merah menatap tajam pada Adam. Dia bagaikan seekor singa yang siap menerkam dan membunuh mangsanya.
Bukan hanya itu saja, saat liona menikam paha pria itu, darah berceceran di lantai kamar itu. Wajah Adam ikut kecipratan darah dan pria itu langsung menjerit dengan keras.
Dia semakin ketakutan saat melihat sikap Liona yang kejam dan tidak ragu untuk melukai orang. Meskipun begitu, dia masih mencoba untuk tenang dan terlihat berani.
“Aku…..aku adalah ayahmu! Kenapa kamu bersikap kejam dan tak hormat padaku?” Adam bertanya dengan nada tegas tetapi Liona bisa melihat rasa takut di wajah pria itu. Liona menatap pria itu dengan wajah datar.
“Kukatakan sekali lagi, lepaskan anakku!” Liona mengulangi perintahnya. Dia mengarahkan pisaunya ke kepala Adam dan wajah pria itu langsung pucat ketakutan. "Akubtidak akan segan-segan memisahkan kepalamu dengan tubuhmu!"
Sifat pengecutnya pun langsung muncul dan terlihat sangat jelas. Dia menggunakan tubuh kecil Elvano sebagai tameng untuk melindungi dirinya meskipun tubuhnya mulai gemetar. ‘Dia gila! Liona benar-benar sudah gila! Wanita ****** ini tidak segan untuk melukai dirinya!’
__ADS_1
'Kenapa dia bisa berubah menjadi wanita mengerikan? Ahhh....sial...sial....aku tidak mau mati! Tapi aku membutuhksn uangnya.' gumam Adam didalam hatinya.
Seperti biasanya, yang lemah takut pada yang kuat sedangkan yang kuat sangat takut pada pihak lain yang tidak takut mati. Siapa yang mengira bahwa Liona tidak hanya kuat tetapi juga tak kenal takut?
“Liona, kemarilah! Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik sebagai ayah dan anak! Kekerasan sangat tidak baik bagi kita berdua dan ini akan berakhir dengan salah satu dari kita terluka!”
“Kesabaranku sudah menipis! Dan kamu bukan ayahku! Jangan membuatku mengulangi untuk yang ketiga kalinya!” teriak Liona marah.
“Baik….baik…..tenang Liona. Aku akan melepaskan putramu sekarang!” ucap Adam. Adam sudah tidak berani lagi mengancam Liona karena dia takut pisau yang ada ditangan wanita itu akan menembus kepalanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Adam akhirnya melepaskan Elvano. Bocah laki-laki itu segera berlari kearah ibunya yang langsung mengulurkan tangan untuk memeluk putranya erat-erat. Saat Liona merasakan kehangatan putranya didalam dekapannya dia bernapas lega. Auranya yang mengintimidasi menyelimuti sekujur tubuhnya beberapa saat lalu telah hilang.
“Apa kamu baik-baik saja sayang?” tanya Liona sambil memeriksa tubuh Elvano. Anak itu mengangguk sebagai jawaban dan meletakkan kepalanya dibahu ibunya. Lalu Liona meletakkan tubuh Elvano berdiri di lantai dan bertanya. “Apakah kamu bisa berjalan sendiri?”
Saat Liona yakin jika putranya dalam keadaan baik-baik saja, wanita itu berjalan menghampiri Adam sambil mengarahkan pisau ke tenggorokan pria itu. Adam itu ketakutan hingga dia kencing dicelananya.
Ancaman Liona membuat kedua lututnya lemas dan dia terjatuh berlutut ke lantai. “Jangan sakiti aku! Singkirkan pisaunya oke? Kalau kamu salah gerak bisa-bisa kamu menggorok leherku….” Adam memohon dengan suara bergetar.
“Cih! Berani sekali kamu menculik putraku dan mengancamku! Kamu pikir kamu itu siapa hah? Ayo ikut denganku!” perintah Liona.
“Baik….baik...aku akan mengikutimu.” Adam adalah tipe pria yang suka menindas pihak yang lemah tetapi akan ketakutan sekali menghadapi lawan yang kuat.
Semakin lemah seseorang, maka Adam akan semakin senang memperlakukan orang itu dengan buruk, tentu saja Adam mempunyai kelemahan.
Dia takut pada orang yang tidak mengenal rasa takut karena orang seperti itu mampu melakukan hal yang tidak terduga. Liona memahami kepribadian Adam dengan sangat baik sehingga dia menemukan cara untuk menghadapi pria itu.
__ADS_1
Untuk menghadapi pria seperti ayah angkatnya itu, Liona harus menggunakan kekerasan. Adam hanya akan merasa takut dan jera serta tidak akan berani mencari masalah lagi dengan Liona jika diperlakukan dengan sangat kejam.
Liona menyeret Adam keluar dari kamar itu, saat Adam berjalan keluar kamar, kaki pria itu gemetar dan wajahnya pucat.
Sementara itu didalam mobil, Delvin menatap layar laptop dengan mata tak percaya, dia tidak menyangka sama sekali jika wanita yang kuat dan tidak kenal takut didalam video itu adalah Liona. Dia melirik kearah Reynard, wajah kakaknya itu menampakkan ekspresi emosi yang cukup rumit.
Mata pria itu terlihat gelap dan suram, tidak ada yang bisa menebal apa yang ada didalam pikiran Reynard saat ini. “Kak, apakah kita akan pergi untuk membantu Liona?” tanya Delvin.
Sebenarnya jawaban atas pertanyaan itu sudah sangat jelas, mereka tidak perlu ikut campur dalam urusan pribadi wanita itu.
“Blokir semua berita yang berkaitan dengan peristiwa ini.” Reynard terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia mematikan laptop dan memberikan perintah kepada adiknya, “Hancurkan semua rekaman video pengawasan di hotel itu.”
“Baiklah. Aku mengerti kak. Akan segera ku lakukan.” jawab Delvin.
Reynard melakukan ini untuk melindungi Liona.
“Kak Reynard! Keterampilan Liona menggunakan pisau itu sangat mengagumkan.” ujar Delvin. Dia menyiratkan bahwa Liona sepertinya mendapatkan pelatihan untuk menggunakan senjata seperti itu.
Karena dia terlihat seperti seorang profesional saat menggunakan pisau itu, bukan seperti orang biasa.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Reynard mengeryitkan keningnya.
“Kak, aku pikir Liona telah terlibat dengan sesuatu selama empat tahun dia berada diluar negeri. Ketika aku menyelidiki tentang latar belakangnya aku tidak dapat menemukan informasi apapun tentangnya selama empat tahun itu.”
__ADS_1