
‘Oke, sekarang sdah waktunya, Reinhard pasti sudah kesal sekarang.’ Liona menahan napas dan menunggu amarah pria itu meledak. Namun diluar dugaannya Reinhard tidak marah. Pria itu hanya menatap foto dilayar ponselnya.
Tapi ketika dia melihat tulisan, ‘Mencari teman baru, dia mengalihkan pandangan dan menatap Liona lagi.
“Foto-fotonya terlihat bagus ya.” kata Reinhard sambil mengangguk.
‘Apa yang kamu pikirkan? Bukan itu maksudku! Sialan!’ Liona langsung mengutuk didalam hatinya. Dia tidak melakukan banyak pengorbanan untuk mendapatkan pujian soal foto yang bagus.
Tadi malam dia mengambil foto dengan seorang pria asing dan memberi caption dengan kata-kata menipu.
Tidak hanya itu, Liona juga tidak pulang kerumah semalaman, seharusnya Reinhard marah, bukan? Jika Reinhard adalah pria normal maka dia sudah menyimpulkan bahwa Liona telah tidur dengan pria yang ada di dalam foto itu.
Namun Reihard masih tampak santai seolah tak terpegaruh sama sekali. Ketidak pedulian itu membuat Liona merasa bingung.
‘Aku mengerti. Sepertinya aku harus menggunakan senjata rahasiaku.’ pikir Liona sambil memutar bola matanya. Dia melepaskan mantel Reinhard lalu memperlihatkan bahu serta tulang selangkanya.
Dia menggunakan gaun slip dan Liona terlihat sangat seksi dan memikat. Di tulang selangka dan dada Liona ada tanda merah yang mirip bekas ciuman.
Liona menguap lebar dan sengaja mencondongkan tubuhnya lebih dekat agar Reinhard bisa melihat lebih jelas tanda kemerahan disekujur tubuh Liona. Liona tidak sabar menunggu reaksi pria itu menyadari bekas ‘ciuman’ ditubuhnya.
“Ya ampun Liona! Apakah kamu tadi digigit segerombolan nyamuk ya?” tanya Reinhard dengan kening berkerut.
“Apa kamu bilang?” tubuh Liona langsung membeku. Dia sama sekali tidak menyangkan reaksi Reinhard akan seperti itu. ‘Apa dia tahu kalau bercak kemerahan itu memang bekas gigitan nyamuk? Tapi kan mirip dengan ciuman? Kenapa dia bisa tahu ya?’ bisik hatinya.
Dia tidak menyangka reaksi Reinhard akan seperti itu. Dia sengaja pergi ke bar mengambil foto mesra dengan seorang pria asing.
Dia sengaja tidak pulang ke rumah sepanjang malam untuk menambah daftar dosanya, dia memiliki tanda merah disekujur tubuhnya yang terlihat persis seperti bekas ciuman.
Pria waras mana pun pasti akan berpikir kalau Liona sudah berhubungan **** dengan seorang pria semalam. Tapi sekarang Liona malah dibuat tidak berdaya dan dia merasa frustasi.
“Reinhard Wilfred!” teriak Liona menatap tajam pria itu. Mendengar namanya dipanggil, Reinhard akhirnya memperhatikan tulang selangka dan anggota tubuh Liona yang lain dengan alis berkerut. “Tunggu disini sebentar! Jangan kemana-mana!”
__ADS_1
“Oke.” Liona menjawab tak berdaya. Usahanya semalam untuk membuat Reinhard cemburu ternyata sia-sia saja.
Tak berapa lama Reinhard turun dan membawa salep, lalu dia duduk disebelah Liona dan meletakkan cukup banyak salep di jarinya. Pria itu menepuk pahanya dan menyuruh Liona,
“Letakkan kakimu disini.” ucapnya dengan ekspresi serius.
“Oke.” Liona langsung menurut. Reinhard dengan lembut melepaskan sepatu hak tinggi wanita itu dan mengoleskan salep di tulang keringnya secara merata.
“Salep apa ini?” tanya Liona saat merasakan sensasi dingin menyentuh kulitnya saat salep dioleskan.
“Ini salep yang dikembangkan oleh keluarga dokter Kevin Ardana. Salep ini sangat baik untuk gigitan nyamuk seperti ditubuhmu ini.” ujar Reinhard dengan sarkas membuat Liona malu ketahuan bohong.
Liona pun langsung terdiam.
Salep itu sedikit dingin tapi ujung jari Reinhard hangat, menimbulkan sensasi aneh ditubuh Liona. Memikirkan hal ini tubuh Liona menjadi kaku dan tanpa sadar dia menarik kakinya karena merasa malu.
“Jangan bergerak dulu. Biar aku oleskan salepnya.” ucap Reinhard memerintah dengan tegas. Tubuh Liona membeku dan membiarkan pria itu dan membiarkan pria itu melakukan apa yang dia inginkan.
Bekas merah gigitan nyamuk sudah tidak terasa gatal lagi. Kevin memang sangat mengagumkan, Liona merasa kagum pada efek instan salep itu.
Reinhard dengan sabar mengoleskan salep di lengan, bagian belakang leher dan juga tulang selangka Liona. Semua rasa gatal di sekujur tubuh wanita itu hilang dalam sekejap. Mata Liona berbinar karena merasa sangat senang.
“Salep ini benar-benar manjur,” komentarnya. Reinhard menatap wajah Liona dengan tersenyum tipis.
‘Oh tidak! Tanpa sadar akau jatuh dalam perangkap pria ini!’ Liona merasa kesal sendiri karena tidak bisa memperhatikan perkataannya. Secara terang-terangan dia mengakui bahwa salep itu bekerja dengan baik.
Liona mengakui bekas merah ditubuhnya memang bekas gigitan nyamuk. Liona merasa kecewa dan malu pada dirinya sendiri.
Ingin rasanya dia menampr dirinya sendiri karena bersikpa bodoh dan gegabah. ‘Tidak…tidak. Ini bukan salahku. Aku sama sekali tidak ceroboh. Hanya saja musuhku terlalu licik.’ Liona berkata didalam hati mencari alasan untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Liona berdeham dan menatap Reinhard untuk mengurangi gugup.
“Apakah kamu tidak memiliki pertanyaan sama sekali?” tanya Liona dengan ekspresi penuh harap. Reinhard merenung selama beberapa detik dan menjawab, “Tidak ada. Kenapa memangnya?”
__ADS_1
Kesabaran Liona menipis tapi dia masih belum mau menyerah, “Apakah kamu tidak merasa penasaran dengan pria yang ada di foto itu? Lagipula aku tidak pulang semalmaan. Apakah kamu tidak ingin tahu apakah aku tidur dengan pria itu?”
Liona menatap wajah Reinhard dengan teliti dan berusaha membaca pikiran pria itu. Namun sikap Reinhard tetap biasa saja. Tidak menunjukkan emosi sedikitpun sehingga membuat Liona kewalahan mencoba mencari tahu isi pikiran Reinhard.
Tepat ketika dia akan mengajukan pertanyaan lagi, Reinhard menutup salep lalu menoleh kearah Liona. “Aku percaya padamu. Jadi tidak ada yang perlu kupertanyakan.” ujar Reinhard. Liona akhirnya kehilangan kata-kata. Baru kali ini dia mengalami rasa pahit akibat kekalahan.
Wanita itu diliputi oleh perasaan campur aduk dan ingin menangis tetapi tidak ada airmata yang keluar. Dia tidak menyangka kata-kata Reinhard terdengar sederhana dan polos memiliki dampak sangat besar pada dirinya.
Liona bingung dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia kehilangan akal sehatnya. Lalu Liona berdiri dan berkata, “Aku mau istirahat sekarang. Aku capek semalaman.”
Reinhard tidak memaksanya, dia hanya memberikan instruksi pada Liona, “Oleskan salep ini dua kali sehari dan benjolan merah ditubuhmu akan segera hilang.” dia menyodorkan salep itu ketangan Liona.
“Baiklah, aku mengerti.” Liona pergi sambil merajuk dan memasang wajah masam. Hal pertama yang dia lakukan setelah berada didalam kamar adalah menghapus riasannya dan mandi.
Elvano masuk kekamar ibunya tepat ketika Liona keluar dari kamar mandi. Liona menghela napas lega sambil berpura-pura baru saja bangun.
“Selamat pagi sayangku.”
“Selamat pagi mami.” sahut Elvano tersenyum. Ketika mereka turun ke lantai bawah, Elvano melihat ada banyak benjolan merah ditubuh ibunya.
Dia mengerutkan kening dan bertanya dengan lembut, “Mami, kenapa banyak sekali gigitan nyamuk di tubuh mami?”
Liona langsung tercengang, ‘Apa? Kenapa kata-kata Elvano sama dengan yang dikatakan Reinhard?’
Ekspresi serius diwajah Elvano juga sama persis seperti ekspresi Reinhard beberapa menit lalu. Sesaat dia mengira Elvano yang berdiri didepannya adalah Reinhard. ‘Apa-apaan ini? Tunggu dulu!’
“Elvano, apakah tanda merah ini mirip dengan benjolan bekas gigitan nyamuk ya?”
Elvano menatap ibunya dengan geli, “Ya tentu saja mami. Itu kan memang bekas gigitan nyamuk.”
Liona tercengang lagi. Dia tidak tahu mengapa dirinya mengatakan ini dengan seorang anak kecil. “Mami lupa menutup jendela tadi malam, makanya mami digigit nyamuk.” ucap Liona.
__ADS_1