
“Aku tidak bermaksud membunuh Liona. Aku hanya ingin melukainya saja untuk membalaskan dendam Aurora. Aurora sudah diblacklist dari dunia hiburan karena Liona dan hidupnya menjadi mendertia saat ini. Aku memang ingin membalaskan dendam Aurora pada wanita itu.” ujar Dinda memberi alasan dengan suara bergetar.
“Kau gila! Aurora di blacklist dari dunia hiburan karena kesalahannya sendiri. Apa hubungannya dengan Liona?” teriak Reiki penuh amarah.
“Diam kau!” balas Dinda marah. “Semua yang dikatakan Aurora memang benar, kau selalu membela Liona. Kalian berdua pasti punya hubungan terlarang!”
Reiki memandang Dinda dengan tatapan tak percaya, bagaimana bisa gadis itu bicara seperti orang gila? Tanpa basa basi lagi Reiki mengeluarkan ponselnya dan menghubungi polisi. Biarkan polisi saja yang mengurus masalah ini dan gadis gila itu.
Sementara itu dirumah sakit Pratama Medika.
“Apa kau kesakitan?” tanya Reynard khawatir.
Liona meringis kesakitan. “Iya, sakit sekali.”
Wajah Reynard menjadi gelap dan suram. Liona berada dalam pelukannya, dia berjalan kelift dan menekan tombol ke lantai 23 untuk menemui Kevin. Tak berapa lama mereka sampai dilantai 23. “Rey, tolong turunkan aku.” ucap Liona.
“Tidak, kau terluka, sayang.” Reynard tak mau mendengar ucapan Liona. Wanita itupun tak mau berdebat dengan Reynard dan memutuskan bungkam. Bagaimanapun Reynard tidak akan mendengarkannya. Yang luka itu lengannya bukan kakinya tapi Reynard menggendongnya dan enggan membiarkannya berjalan sendiri. Tanpa menunggu balasan dari Liona, pria itupun bergegas menuju ruangan Kevin.
“Brengsek!” ujar Kevin terkejut karena tiba-tiba ada orang masuk ke kantornya.
Dia berencana ingin berteriak pada siapapun yang masuk tanpa permisi tapi dia menahan kemarahannya ketika dia melihat Reynard yang masuk sambil menggendong Liona. “Eh bro, ternyata kau yang datang. Kenapa kau datang kemari?”
“Cepat hentikan pendarahannya. Bantu dia.”
Sebelum Kevin bisa melihat identitas wanita yang berada dalam pelukan Reynard, dia sudah bisa menebak jika wanita itu pasti Liona. Hanya dia satu-satunya wanita yang akan disentuh oleh Reynard selain Felicia tentu saja. Wanita kesayangan Reynard, dia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada wanita kesayangannya.
Liona masih mengenakan kostum namun pakaiannya ternoda lumpur akibat pengambilan gambar tadi pagi. Belum lagi Reynard tidak sengaja memecahkan kantong darah yang terikat dibahunya membuat Liona berlumuran darah asli dan darah palsu. Kevin yang melihatnya pun bergidik ngeri menatap penampilan Liona seperti itu.
“Apa-apaan ini? Apa yang telah terjadi? Dua hari yang lalu dia masih baik-baik saja, kita bertemu, bagaimana ceritanya dia bisa berakhir seperti ini?”
“Panjang ceritanya. Hanya luka di lengannya yang asli.” jawab Reynard.
__ADS_1
Kevin pun merasa tenang setelah mengetahui Liona tidak terlibat masalah besar. Tapi, saat dia melihat luka robek yang dalam dilengan iona, dia merasa terkejut. Liona telah menekan luka itu sepanjang jalan agar darahnya berhenti tapi lukanya terlalu dalam.
“Aku khawatir, luka ini terlalu dalam dan harus dijahit.” ujar Kevin menyimpulkan.
Wajah Liona pun langsung pucat setelah mendengar ucapan dokter Kevin. “Apakah aku bisa menolak? Aku agak takut dijahit.” ujar Liona bergidik ngeri membayangkan dirinya dijahit.
“Tapi kau tidak punya pilihan, jika lukanya tidak dijahit maka proses penyembuhan akan lama. Lukamu dalam dan hanya dengan tindakan dijahit yang bisa dilakukan. Luka ini tidak bisa dibiarkan terbuka karena bisa infeksi.”
“Tapi----aku tidak mau dijahit.” protes Liona. Dia khawatir setelah dijahit akan ada bekas jahitan dilengannya.
Bagi seorang aktris, kecantikan adalah segalanya bahkan bekas luka sekecil apapun akan berdampak besar pada kecantikannya. Sementara itu Kein melirik Reynard untuk meminta bantuan menyakinkan Liona. Wanita itu melihat gerakan si dokter lalu dia menarik lengan baju Reynard, “Sayang, aku tidak mau dijahit. Nanti ada bekas lukanya seprti seekor kelabang yang merayap dilenganku. Aku tidak bisa memakau baju lengan pendek atau mengekspos lenganku lagi dimasa depan. Bekas jahitannya pasti terlihat jelek.”
Reynard mengeryitkan dahi mempertimbangkan permintaan Liona.
“Aku akan meminta Kevin untuk menjahit lukamu dengan sempuran Kita akan melakukan operasi plastik setelah lukanya sembuh jadi tidak akan ada bekas jahitan setelahnya. Kau tidak perlu khawatir.”
Namun Liona masih tidak puas dengan jawaban Reynard. Dia menarik lagi lengan baju Reynard dan mengguncangnya pelan, “Reynard….”
Mulut Dokter Kevin menganga karena kaget mendengar ucapan Reynard. ‘Oh bro dimana prinsipmu sebagai seorang laki-laki?’ tanya Kevin dalam hati. Tapi dia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh Reynard tanpa mampu membantahnya. Setelah Kevin selesai membersihkan luka Liona, dia mundur selangkah, “Sudah selesai. Selama beberapa hari kedepan jaga lukamu tetap kering. Jangan sampai terkena air ya dan ganti perbannya setiap hari.”
“Terimakasih dokter Kevin.” jawab Liona sopan.
Reynard berniat meninggalkan ruangan Kevin. “Hei bro…..”
“Dia perlu obat pereda sakit, berikan resep untuknya.” kata Reynard dengan nada datar.
“Baiklah, akan kulakukan.” Kevin pun buru-buru menulis resep obat pereda sakit, saleb dan beberapa antibiotik untuk membantu penyembuhan luka Liona.
“Bukan yang ini.” kata Reynard memegang pena ditangan Kevin. Pria itupun berhenti menulis dan tampak bingung.
“Aku masih ingat waktu itu kau pernah bilang kalau sedang mengembangkan sebuah formula baru berupa saleb untuk menghilangkan bekas luka.”
__ADS_1
Wajah dokter Kevin pun langsung pucat seperti kertas. “Oh…...”
“Dimana salep itu Kevin?” tanya Reynard.
Kevin terlihat tak nyaman dibawah tatapan Reynard namun beberapa saat kemudian dia dengan enggan membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah tabung kecil dan menyodorkannya pada Reynard. “Ini salebnya.”
“Apa khasiat salep ini?” tanya Liona penasaran.
“Salep untuk menghilangkan bekas luka.” jawab Kevin.
‘Hem….benarkah hanya itu saja manfaatnya? Aku rasa bukan hanya itu, kalau tidak kenapa wajah dokter Kevin terlihat tidak rela memberikan salep itu?’ pikir Liona dalam hati.
Setelah insiden itu, sutradara Reiki pun memaksa Liona untuk mengambil cuti beristirahat dan menyembuhkan luka dilengannya. Lagipula tidak memungkinkan Liona untuk syuting denga luka parah dilengannya.
Saat mereka kembali kerumah Reynard, kedua anak berteriak kencang melihat balutan perban dilengan Liona. “Mama! Mama terluka?”
“Papa! Kenapa papa tidak menjaga mama Liona? Papa sudah janji.” kata Felicia mengerucutkan bibirnya.
“Kita masuk dulu, mama kalian harus istirahat. Kalian berdua tidak boleh berisik dan harus membiarkan mama istirahat.”
Reynard membawa Liona ke kamar utama dengan kedua anak mengikuti dibelakang.
“Kak, kalau kau tidak membutuhkanku lagi disini, aku mau pergi.” kata Delvin.
“Kau bisa menempati lagi rumahmu. Liona dan Elvano akan tinggal disini bersamaku?”
“Ha?” Delvin pun terkejut dengan kemajuan yang sudah dicapai oleh kakaknya. “Baiklah. Aku akan minta pelayan membantu mengemas barang-barang mereka.”
“Hem….”
Felicia lompat keatas ranjang namun Reynard langsung menahan tangannya. “Jangan dekat-dekat!”
__ADS_1
“Papa! Aku mau dekat mama Liona! Aku dan Kak El yang akan mengurusnya. Iyakan, kak?”