
Waktu istirahat selesai dan syuting dimulai lagi. Kali ini Vena sangat yakin dia akan lolos pengambilan gambar kali ini setelah melatih kembali dialognya. Tapi saat syuting dimulai, Vena lupa lagi dialognya dan dia terus menerus membuat kesalahan. Sudah dilakukan pengambilan gambar sebanyak dua puluh kali untuk adegan yang sama dan Vena masih saja gagal. Dia bahkan tak bisa mengatakan sepatah katapun selama pengambilan gambar. Setiap kali dia bersama Liona seakan seluruh tubuhnya membeku dan lidahnya kelu, dia tak bisa bergerak dan tak mampu berucap apapun. Vena merasa jika Liona sudah menyantet atau mengirim guna-guna padanya, dia belum pernah seperti itu sebelumnya.
*Visual Vena Obelia mengenakan pakaian hitam saat syuting peran Naomi si wanita pertama
Reiki mengamuk dan semua kru terdiam tak mampu berkata-kata. “Hentikan semua! Vena! Kenapa kamu tidak bisa bicara ha? Selalu lupa sama dialogmu dan kamu bahkan tak tahu berakting sama sekali! Hanya itu ternyata kemampuanmu iya? Modal wajah cantik tapi etrnyata tak tahu berakting! Supaya kamu tahu ya tidak ada ruang bagi orang-orang yang tak mampu berakting dalam serial ini. Jika kamu memang tak bisa berakting, silahkan angkat kakimu jauh-jauh dari sini! Jangan membuat orang lain lelah mengulang adegan akibat ulahmu!”
Hati Vena sakit dibentak oleh seorang sutradra. Sudah bertahun-tahun dia berada di industri hiburan belum pernah dia dipermalukan seperti itu.
Matanya merah dan airmata tak terbendung lagi, rahangnya mengeras dalam hatinya dia menyumpahi semua orang yang ada disana. ‘Liona sialan! Perempuan sialan kamu! Kamu datang hanya untuk menghancurkanku! Akan kubalas kamu Liona.’ Vena bersumpah pada dirinya sendiri akan membalaskan sakit hati dan rasa malunya hari ini pada Liona.
Aduh! Brengsek banget sih.
Mengapa wajahku bisa merona merah begini?
Seolah tersengat aliran listrik, Liona menarik tangannya dan menatap Reynard dengan mulut menganga. Dia berpikir jika Reynard benar pura-pura pingsan agar bisa dekat dengannya. Tapi setelah menatap pria itu sekian lama, dia masih terbaring tak bergerak sedikitpun dan matanya juga tertutup. Ketika matahari mulai terbenam, syuting tak bisa dilanjutkan lagi, setengah hari terbuang sia-sia karena ulah Vena. Tak ada satupun adegan yang bisa diselesaikan dan semua orang merasa sangat lelah. Satu persatu mengemasi barang-barang mereka dan meninggalkan lokasi syuting. “Ya ampun! Aku belum pernah melihat sutradara Reiki semarah tadi loh. Dia bahkan menghentak-hentakkan kakinya kayak mau menghajar orang ya.”
“Ya benar sekali. Semua gara-gara Vena tuh. Katanya sih dia aktris hebat tapi yang tadi itu apa coba? Masa dia ngak bisa akting sama sekali, bisa lupa sama dialognya lagi! Vena membuang-buang waktu kita seharian, wajahku sudah dirias tebal begini lagi belum lagi kita sudah nunggu berjam-jam. Semua usaha kita hari ini sia-sia karena dia.”
“Iya ya benar!”
__ADS_1
Para kru yang terpaksa menyabarkan diri dan menunggu pun mengeluh. Vena mendengar semua kutukan yang diucapkan para figuran padanya. Wanita itu mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya kesal. “Liona Gantari! Semua ini salahmu!”
‘Dasar wanita brengsek kurang ajar! Aku sangat membenci wanita itu, setiap kali Liona muncul dihadapanku aku selalu diterpa kesialan.’
“Vena! Kamu baik-baik saja?” tanya Mita salah satu artis pemeran pembantu. “Apa kamu lagi ngak enak badan ya?” Mita mencoba menghiburnya. Artis itu memiliki reputasi lebih rendah dari Vena. Vena memiliki citra sebagai gadis polos dan murni sedangkan Mita memiliki citra sebagai artis penggoda. Mita memilih citra sebagai artis seksi dan berani. Dalam dunia hiburan hal itu biasa, para artis akan menciptakan citra mereka masing-masing agar tak berbenturan dengan artis lainnya dan tak menimbulkan konflik.
Mita seorang penjilat, untuk menaikkan popularitasnya dia berusaha mendekati Vena. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit tak enak badan mungkin pengaruh cuaca.” jawab Vena tersenyum tipis.
“Aku bisa mengantarmu ke rumah sakit kalau kamu mau.” kata Mita lagi.
“Terimakasih, tapi kurasa tak perlu. Nanti juga enakan kok. Aku bisa istirahat dirumah.” ucap Vena melangkah pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian dan menghapus riasan wajahnya.
Mita adalah wanita yang suka iri pada orang lain, dia tak suka jika orang lain memiliki penampilan yang lebih darinya. Ia merasa iri dan tak suka pada Liona karena wanita itu jauh lebih cantik dan anggun dari Mita.
“Vena, apakah semua ini karena ulah Liona? Kamu ngak usah pedulikan dia, kamu itu artis papan atas dan jauh lebih bagus darinya.” puji Mita mengambil hati Vena. “Meskipun dia cantik itu tak ada pengaruh bukan? Diluar sana juga banyak yang cantik dan masuk ke industri hiburan setiap tahun tapi tidak semua orang bisa bertahan. Wajah cantik saja ngak cukup untuk bisa berhasil didunia hiburan, kamu jangan khawatir ya Vena.” kata Mita lagi.
Sengaja Mita menyanjung Vena agar dia senang dan merasa jika Mita memihaknya dengan begitu Vena bisa membantunya. Mendengar ucapan Mita yang terdengar tidak menyukai Liona, Vena melirik kearah asistennya.
“Liona itu cantik tapi dia itu serigala berbulu domba. Kamu tahu tidak kalau sebenarnya peran Rosalind itu untukmu tapi Liona sudah merebutnya darimu.” kata Rianti menyela.
“Oh? Benarkah begitu Rianti? Jaga bicaramu jangan menyebar gosip.” kata Vena pura-pura.
__ADS_1
“Maaf, saya tidak bermaksud. Lupakan saja ucapanku tadi ya.” kata Rianti, namun ucapan Rianti malah membuat Mita ingin mencari tahu kebenarannya.
“Vena, apakah kamu tahu sesuatu? Benarkah Liona merebut peran itu dariku?”
“Jangan salah sangka, Rianti hanya bicara asal saja kok.”
“Aku akan mencari tahu semuanya. Kalau itu benar, aku tidak terima jika Liona sudah merebut peran itu dariku.” kata Mita marah.
“Mita, sini dengar baik-baik. Kamu tahu kan bagaimana dunia hiburan itu, artis pendatang baru akan melakukan apapun untuk menaikkan karirnya. Bukankah ini aneh? Masa sih dia baru pertama kali akting sudah langsung diterima.Pasti dia ada main dibelakang, kamu harus selidiki dan beri pelajaran pada perempuan itu karena merebut peran yang seharusnya jadi milikmu.” kata Vena memprovokasi Mita yang memang bodoh.
“Baiklah. Terimakasih ya Vena karena kamu selalu baik padaku. Akan kuberi pelajaran perempuan itu.” geram Mita yang tak sadar sudah termakan omongan Vena.
“tapi kamu harus janji tidak akan beritahukan siapapun ya karena informasi itu hanya orang dalam yang tahu.”
“Aku janji.”
“Baguslah kalau begitu. Aku sangat yakin kalau Liona menggunakan wajah cantiknya untuk menggoda seseorang yang punya pengaruh didunia hiburan untuk mendapatkan peran itu.” kata Vena menambahi.
Mita pun langsung mempercayai semua omongan Vena. Mita bukan artis yang punya citra baik, dia adalah wanita simpanan seorang pria berumur yang memiliki kuasa didunia hiburan. Dia bahkan rela tidur dengan sutradara maupun produser bahkan siapa saja didunia hiburan untuk mendongkrak popularitasnya. Dengan penuh frustasi Mita berdiri dari tempat duduknya lalu berkata “Dasar pelacur! Rianti memang benar, Wanita itu pasti sudah bersepakat dengan seseorang dengan kecantikannya. Dia artis pendatang baru dan dia juga tak memiliki agensi. Mustahil kan kalau dia bisa dapat peran itu yang di sutradarai seorang sutradara terkenal? Arggg…..aku benci pelacur! Aku akan membunuh wanita itu.”
__ADS_1