CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 148. SEMOGA BERUNTUNG


__ADS_3

Namun diluar dugaan, Reinhard tidak membuat keributan dibar itu. Wajah pria itu terihat sangat dingin. Dia berusaha keras untuk menahan amarahnya namun tidak melakukan apa-apa. Tetapi bukannya merasa lega, Delvin malah merasa lebih takut dari sebelumnya. Jika Reinhard menyimpan rasa kesalnya dalam hati maka suatu saat nanti dia pasti akan meledak.


Menghancukan semua orang yang ada didekatnya. Atau lebih buruknya lagi mungkin Reinhard sedang merencanakan balas dendam. Jika itu benar maka Reinhard sedang memikirkan sebuah rencana yang sangat kejam.


“Semoga beruntung Liona! Kamu akan membutuhkan banyak keberuntungan kali ini.” gumam Delvin pada dirinya sendiri.


Saat Liona mengedarkan pandangan untuk mengamati sekitar ruangan itu dia mengutuk didalam hainya. Dia telah memperhatikan semua orang yang masuk tetapi Delvin dan Reinhard belum muncul juga. Di menghela napas kecewa, mungkin Delvin benar-benar tidak mengatakan apapun pada Reinhard seperti yang dimintanya tadi. Akhirnya dia pun merasa menyesal sekarang.


Apa yang harus dilakukannya sekarang? Liona merasa tidak rela dengan hasil yang didapatnya malam ini. Dia telah berusaha keras membujuk Elvano agar tidur lebih awal serta membujuk Felicia agar tidak mencarinya malam ini sehingga dia bisa keluar dengan penampilan seperti ini. Apakah mungkin dia melakukan hal yang sama keesokan harinya?


Liona berusaha mencari ide lain selama beberapa menit. Tiba-tiba dia mendapat ide cemerlang, dia mengeluarkan ponelnya dan mengambil beberapa foto kerumuman orang yang sedang asyik menggoyangkan tubuh mereka dilantai dansa. Kemudian dia juga mengambil beberapa foto konter ditempat dia sedang duduk sambil minum.


Untuk berjaga-jaga, dia mengambil selfie dengan pria yang duduk disebelahnya. Beberapa menit kemudian Liona membuat kolase dengan seua foto itu dan mempostingnya di momen whatsapp nya. Dia juga menambahkan kata-kata ‘berkenalan dengan teman baru.’


Dia juga mengatur agar postingan itu hanya dilihat oleh Delvin dan Reinhard saja.


Dia tidak mau teman-temannya akan salah paham. ‘Nah ini baru jenius! Pasti saat mereka berdua melihatnya, Reinhard akan panas! Hahaha!’ Liona dengan bangga memberi selamat pada dirinya.


‘Reinhard akan tahu kalau aku pergi ke bar malam ini.’ dengan begitu dia tidak perlu menunggu sampai besok agar pria itu tahu kemana Liona pergi malam sebelumnya.


Itu saja sudah cukup untuk Liona. Setelah meminum tiga gelas anggur, pria disebelah Liona berkata, “Wah aku sudah minum cukup banyak. Apakah kamu mau pergi mencari tempat lain yang lebih asyik dan lebih bagus dari tempat ini?”


Liona juga sudah menghabiskan minumannya jadi dia mengangguk setuju dengan pria itu.

__ADS_1


Lalu pria itu membayar tagihan minuman mereka dan mengantar Liona keluar dari bar. Lengan pria yang tidak tahu malu itu melingkar di pinggang Liona dengan santainya. Saat itu sudah pukul dua dini hari dan sangat kontras dengan hiruk pikuk didalam bar. Suasana diluar sangat sepi dan sunyi. Tidak ada mobil yang lewat atau orang berlalu lalang.


Lampu jalanan yang terang benderang menyinari wajah Liona. Pria yang berjalan bersamanya tampak seperti tidak mempercayai keberuntungannya malam ini. Dia tidak menyangka akan mampu menarik perhatian seorang wanita yang sangat cantik dan bertubuh seksi seperti Liona. Pria itu mengencangkan cengkeramannya dipinggang Liona.


“Cantik! Coba katakan padaku, bagaimana kalau kita pergi ke hotel saja sekarang?” tanya pria itu tanpa basa basi lagi. “Aku bisa membooking kamar presidential suite di Hotel Hill.”


Hotel Hill adalah sebuah hotel bintang lima terkenal dikota itu dan hanya berjarak beberapa meter saja dari bar tempat mereka berada tadi.


Liona tersenyum kecil dan menarik dasi pria itu dan membawanya kesebuah gang sempit disebelah bar. Gang itu terlihat sangat sempir tetapi masih cukup lebar untuk dua orang yang berjalan berdampingan.


Tembok sekitarnya tinggi sehingga menghalangi cahaya kota dan juga cahaya bulan. Suasana di gang sempit itu terlalu gelap untuk melihat apapun.


Liona mengedipkan matanya dengan genit kearah pria itu yang membuat pria itu semakin gila karena dibutakan oleh nafsu. “Kenapa repot-repot pergi ke hotel? Itu hanya membuang uang saja. Kita sudah memiliki tempat yang sempurna untuk malam ini. Bagaimana kalau disini saja?” kata Liona dengan suara manja dan lembut sambil tersenyum menggoda.


Melihat Liona yang memasuki gang gelap bersama pria asing itu, Delvin mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Itu adalah tindakan yang Delvin lakukan setiap kali dia merasa gugup.


“Ayolah kak! Kalau kakak tidak melakukan sesuatu sekarang maka pria itu akan memanfaatkan Liona. Apa kakak mau hal buruk terjadi pada Liona?”


Reinhard masih menunggu dalam diam.


“Kak…..” Delvin mulai memohon lagi tapi Reinhard segera memotong perkataannya.


“Tunggu sebentar.”

__ADS_1


‘Hah? Tunggu sebentar katanya? Waktunya sangat sempit bodoh! Beberapa menit lagi dan kita akan terlambat menyelamatkan Liona.’ piki Delvin dalam hati.


“Kak, dengarkan aku. Aku yakin Liona banyak minum malam ini. Kakak ingat tidak? Trakhir kali Liona mabuk, dia bahkan merayuku tanpa sadar. Sekarang hanya Tuhan saja yang tahu apa yang akan Liona lakukan dalam keadaan mabuk begitu. Kakak harus pergi sekarang agar mencegah wanita itu melakukan hal-hal memalukan.”


Reinhard masih tidak bergerak, dia seolah-olah tidak mendengarkan perkataan adiknya. Pria itu hanya duduk dikursi penumpang sambil menatap kearah gang yang sempit dan gelap itu.


Pencahayaan di gang itu terlau gelap untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi didalam sana. Reinhard mengepalkan tinjunya dan ekspresi dingin terlihat diwajahnya.


“Kak Reinhard…..” tepat ketika Delvin hendak menyelesaikan kalimatnya dia mendengar jeritan yang membekukan darah datang dari arah gang gelap didepan mereka.


“Suara apa itu?” Delvin langsung waspada dan jantngnya berdetak kencang. Ada yang salah disini. Delvin berbalik untuk melihat jalan masuk kedalam gang itu. Tepat pada saat itu, ada seorang pria berkacamata bergegas keluar dari gang itu.


Begitu pria itu berada dihadapan Delvin dan Reinhard, mereka melihat Liona mengikuti pria itu dibelakangnya. Liona menendang tubuh pria itu sekuat tenaga dan pria itu pun ambruk ketanah.


Liona meletakkan lututnya dipunggung pria brengsek itu dan memegang kedua lengan pria itu untuk melumpuhkannya. Delvin hanya bisa memandang mereka dengan tatapan terkejut.


‘Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini? Delvin bergumam sambil membalikkan tubuhnya menatap Reinhard dan terkejut saat dia melihat ekspresi sombong di wajah saudaranya itu.


‘Apa-apaan ini? Apakah Kak Reinhard sudah mengetahui bahwa Liona hanya berpura-pura menggoda pria itu ya?’ baru kali ini Delvin merasa bingung dalam hidupnya.


“Aduh! Aduh! Tolong lepaskan aku! Wanita ****** gila! Biarkan aku pergi!” pria itu berteriak sambil meringis kesakitan. Tetapi Liona semakin menekan lututnya lebih keras lagi ke punggung pria itu.


“Aku minta maaf oke? Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apakah kamu menginginkan yang? Aku punya banyak uang, silahkan periksa kantongku…..”

__ADS_1


__ADS_2