
Hari ini Liona kembali ke tempat syuting, dia akan melakukan pengambilan gambar bersama Miko. Pria itu menghampiri Liona yang sedang fokus membaca naskah. Dia tersenyum memperhatikan wajah Liona yang terlihat cemberut, dimata Miko wajah itu sangat menggemaskan.
"Liona, apa yang kamu lakukan disini sendirian? Boleh aku temani?" tanya Miko ingin duduk disebelah Liona.
Namun wanita itu langsung mendelikkan matanya dan menatap tajam Miko, "Pergi sana! Jangan dekat-dekat!"
Miko pun membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Liona dan bertanya, "Ada apa denganmu? Kenapa marah-marah tidak jelas? Memangnya aku salah apa?"
"Dasar brengsek! Apa kamu becanda? Kamu tidak punya mata hah? Aku sedang membaca naskah dan perlu fokus! Pergi sana! Jangan mengganggu konsentrasiku." ujar Liona memutar bola matanya karena kesal.
"Kamu ini benar-benar aneh! Aku hanya bertanya padamu, tidak meski marah begitu kan?" ujar Miko.
"Ck! Tapi aku merasa terganggu! Kamu paham bahasa manusia tidak? Aku bilang pergi sana!" teriak Liona dengan nada marah yang membuat Miko terperanjat dengan sikap kekanak-kanakan Liona.
"Kamu sedang ada masalah ya? Ada yang bisa kubantu tidak? Kita inikan berteman jadi kamu jangan sungkan padaku. Katakan, apa yang sedang kamu hadapi."
"Kalau kamu ingin membantuku maka tolong diam! Aku sangat menghargai jika kamu tutup mulutmu." celetuk Liona dengan tajam.
"Liona! Apa maksud perkataanmu?" Miko merasa sedikit heran dan tersinggung karena Liona mengusirnya dengan nada ketus.
"Pergilah! Jangan ganggu aku lagi. Aku sedang membaca naskah ini! Kamu disini hanya mengganggu konsentrasiku saja!" sahut Liona memutar matanya dengan kesal.
"Omong kosong! Aku sudah berdiri disini selama sepuluh menit dan aku melihatmu hanya membaca halaman yang sama sejak tadi! Kamu sadar tidak?"
Liona merasa malu dan marah karena dia ketahuan berbohong, Dia tersenyum malu. Kemudian dia membanting naskah itu keatas meja didepannya. Hari ini Liona dalam suasana hati yang tidam baik. Di masa lalu, tidak peduli bagaimana keadaan mental dan emosinya, dia selalu berhasil mengabaikan pikiran negatif dan hanya konsentrasi pada syuting saja.
__ADS_1
Itu adalah sesuatu yang dapat dilakukannya dengan mudah. Tetapi sekarang, dia bahkan tidak bisa mendalami adegannya. Pengaruh Reinhard pada dirinya ternyata jauh lebih besar dari yang dia bayangkan sebelumnya. "Kasihan sekali aku." Liona menghela napas untuk yang ke sekian kalinya.
Liona mengingat saat adegan ketika Reinhard menyatakan cintanya tak berapa lama setelah dia menandatangani kontrak dan adegan Reinhard melamarnya untuk menikah beberapa hari lalu. Dan Reinhard memberinya waktu tujuh hari untuk memberinya jawaban.
Dan saat itu Reinhard menyetujui memberi waktu tujuh hari pada Liona, dan bukan itu saja Liona bahkan meminta agar selama tujuh hari itu mereka tidak bertemu. Lagi-lagi Reinhard menyetujui dan sekarang waktu tiga hari sudah berlalu setelah lamaran Reinhard.
Hanya tersisa empat hari lagi yang tersisa dan dia tidak tahu bagaimana menanggapi Reinhard. Pikiran Liona benar-benar kacau balau.
"Liona...."
"Diam kamu!" teriak Liona semakin marah.
Sudut mulut Miko berkedut dan dia berkata dengan agak ragu-ragu, "Sutradara Reiki ada disini."
Ketika Liona menoleh, dia melihat Reiki Savian sedang berjalan kearahnya dan Miko dengan senyum cerah menghiasi wajah Liona yang sejak tadi cemberut. Perubahan cepat itu mengejutkan Miko.
"Halo Sutradara Reiki!" Liona langsung berdiri untuk menyapanya.
Hari ini adalah hari pertama dia kembali ke lokasi syuting sejak dia mengalami cedera. Setelah Liona selesai merias wajah, Miko memintanya untuk melatih adegan mereka yang seharusnya akan syuting sore nanti. Ini adalah pertama kalinya Liona bertemu dengan Reiki setelah kecelakaan itu.
"Apakah kamu sudah benar-benar pulih, Liona? Kamu bisa memperpanjang cutimu jika kondisimu belum sepenuhnya pulih." kata Sutradara Reiki.
"Aku sudah sembuh." jawab Liona tersenyum.
Reiki menepuk bahu Liona dan berkata, "Aku meminta maaf atas kecelakaan yang terjadi hari itu."
__ADS_1
Liona mengalami kecelakaan dan cedera karena alat peraga syuting diganti secara diam-diam. Tetapi untuk menjaga reputasi kru tetap utuh, Reiki memilih untuk tidak melibatkan polisi. Pertama memanggil polisi untuk menyelidiki akan memiliki dampak negatif pada kru.
Kedua, usia kru yang melakukan kesalahan itu masih sangat muda dan belum memiliki pengalaman. Yang ingin dia lakukan hanyalah memberi pelajaran pada Liona, bukan membunuhnya. Setelah mempertimbangkan, Reiki memutuskan untuk tidak melibatkan polisi.
Lagipula Reiki tidak ingin merusak masa depan kru itu, karena dia tahu staf kru itu seorang yang pekerja keras sehingga dia hanya memecatnya saja tanpa mengambil tindakan hukum terhadapnya. Liona masih tersenyum dan diam saja. Namun Liona tidak bisa memaafkan orang yang telah mencelakainya.
Tidak peduli apa niat orang itu, faktanya membuktikan bahwa Liona hampir saja terbunuh dengan cara mengganti alat peraga. Liona bukanlah orang suci yang bisa berpura-pura semua itu tidak pernah terjadi.
"Liona, aku tahu mungkin kamu merasa diperlakukan sedikit tidak adil. Kali ini kami yang salah." Reiki kembali berbicara.
"Heh, sutradata terlalu berlebihan. Aku akan menghormati keputusan kru." jawab Liona. Dia hanya mengatakan bahwa dia menghormati keputusan ini tetapi tidak mendukung keputusan yang telah dibuat.
Miko ingin menyela berkali-kali, tetapi ketika dia melihat mata Liona yang ganas menatapnya dia malah langsung merajuk dan diam saja.
Reiki yang merasa mali menyentuh puncak hidungnya dan segera mengganti topik pembicaraan. "Bagaimana persiapanmu untuk adegan hari ini?"
"Sejauh ini tidak ada masalah." jawab Liona dengan tenang, "Miko adalah aktor yang sangat baik, semuanya berjalan dengan baik."
Miko tercengang mendengar ucapan Liona. 'Huh! Dasar rubah kecil bermuka dua. Saat kita hanya berduaan tadi kamu mencoba mengusirku berulang kali! Tapi sekarang kamu bahkan berbohong dan memujiku setinggi langit didepan sutradara. Seolah-olah kamu menghormatiku. Selain itu kita masih belum berlatih adegan yang akan kita lakukan sore nanti. Tapi kamu berbohong semuanya baik-baik saja. Kamu bahkan memuji kemampuan aktingku! Huh! Pujianmu tidak akan mempengaruhiku.'
Memikirkan hal ini, Miko memiringkan kepalanya dengan arogan.
"Baguslah, aku telah menonton ulang semua adegan yang kita rekam terakhir kali. Hasilnya sangat bagus dan kita tidak perlu merekam ulang adegan itu lagi." kata Reiki kepada mereka berdua.
"Mari kita mulai syuting dari bagian yang terakhir, setelah itu kita akan merekam ulang adegan ciuman yang kemarin tidak dapat kita selesaikan karena kerusakan alat peraga. Setelah dua adegan ini selesai, maka adegan Miko dalam drama ini juga akan berakhir." Reiki kembali menjelaskan secara detail.
__ADS_1
"Baiklah." Liona menghela napas lega. Dia akhirnya akan segera terbebas dari Miko. Miko mendapat julukan sebagai 'Pria Idaman Wanota'. Sebagian wanita anggota kru adalah penggemarnya dan mata mereka selalu mengikuti Miko dan Liona seperti ealng. Setiap kali dia dekat dengan Miko maka Liona bisa merasakan ekcemburuan dari mata para wanita itu.