
Miko belum pernah melihat Liona bersikap seperti ini. Dia mengutuki dirinya karena menanyakan perihal ayah Elvano. “Maafkan aku. Aku hanya penasaran saja makanya bertanya. Aku tidak ada maksud lain dan kau tidak perlu menjawabnya.”
“Sama sepertimu, aku juga ingin tahu siapa ayah Elvano.” ujar Liona tenang.
“Apa kau bilang?” Miko tercengang.
“Ya kau dengar apa yang kukatakan barusan.”
Miko menggaruk tengkuknya, ‘Apa maksudnya bicara seperti itu? Bukankah ayah Elvano adalah Seth? Tapi setelah dia mencerna ucapan wanita itu, diapun menghela napas lega. Apakah dia benar-benar tidak tahu siapa ayah anakny? Apakah dia terlibat tindakan tidak bermoral? Miko semakin takut memikirkan semua kemungkinan yang terjadi.
“Berapa banyak mantan pacarmu dulu? Jwab jujur.” kata Miko melotot.
“Bukan urusanmu!”
Karena dia merasa kalau Miko telah salah paham, Liona pun enggan memberi penjelasan. Dia memutar bola matanya lalu berdiri membuang sampah. Jam makan siang telah usai dan mereka kembali melakukan pengambilan gambar. Adegan mereka berdua diambil pada sore hari. Adegan keduanya berlangsung lancar dan membuat semua kru tersentuh dengan adegan mereka yang luar biasa.
“Dulu semua orang berpikir tidak ada seorangpun yang pantas bersanding dengan Miko tapi sekarang mereka berdua sangat cocok berdampingan bermain film.”
“Aku setuju dengan ide kalian, bagaimana mereka berinteraksi setiap syuting selalu memukau.”
Miko hanya terkekeh mendengar ucapan semua orang lalu dia memeluk pinggang Liona, “Bagaimana menurutmu pendapat semua orang? Apakah kita memang cocok di film dan juga dikehidupan nyata? Apakah kau mau mempertimbangkan tawaranku?”
Liona tersenyum dengan sangat manis pada mantan pacarnya itu lalu menginjak kaki Miko dengan kuat.
“Aduh….aduh…..Liona!!!” teriak Miko kesakitan.
__ADS_1
“Ah, maaf aku tidak sengaja miko.” kata Liona memasang wajah bingung dan pura-pura. Miko yakin jika wanita itu sengaja melakukannya. Dia pun pergi bersiap-siap untuk melanjutkan syuting lagi. Adegan yang diambil kali ini memainkan peran penting dengan kata lain selama Liona bermain dengan bagus di adegan ini dia akan menarik banyak penggemar setelah serial TV itu ditayangkan. Adegan demi adegan pun sukses bahkan di beberapa adegan mampu membuat semua kru meneteskan airmata. Akting Liona sangat bagus dan memukau.
Vena yang melihat proses berjalannya syuting, berdiri ditengah-tengah kerumunan sambil mengepalkan tangan. Dia merasa tidak senang karena untuk kesekian kalinya Liona sukses mnedapat pujian dari para kru atas kemampuan aktingnya yang luar biasa. “Ahhhh...Liona! Kau lagi...kau lagi! Kau benar-benar saingan yang sulit untuk dikalahkan. Selama kau ada disini tak peduli seberapa keras aku berusaha semuanya sia-sia. Kenapa kau selalu menjadi pusat perhatian?” Vena mengeluh dan mengumpat.
Vena adalah pemeran utama diserial itu tapi setiap kali dia melakukan adegan, selalu saja mendapatkan kritikan dari sutradara. Reiki selalu memarahinya didepan semua orang karena dianggap tidak mampu menghayati karakter yang dia perankan. Bahkan sutradara itu mengatakan kalau Vena tidak pantas mendapatkan peran itu jika bukan karena dukungan pacarnya.
Dia menggertakkan giginya, ‘Kenapa sutradara dan para kru selalu memuji penampilan Liona? Dia juga mengijinkan Liona untuk menyelesaikan adegannya hanya dalam satu kali pengambilan gambar. Dia pun akhirnya mengerti, meskipun dia adalah pemeran tokoh utama wanita dan Liona hanya pemeran wanita pembantu tapi kemampuannya tidak dapat dibandingkan dengan Liona dalam hal memikat hati penonton. Jika begitu maka Liona akan punya lebih banyak penggemar ketika serial itu ditayangkan. Maka dia hanya akan menjadi keset kaki Liona. Tidak….tidak…..aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia harus memikirkan cara untuk menghentikan Liona dan menyingkirkannya dari dunia hiburan.
“Ya Nona Vena?” Farah asisten Vena segera berjalan kearah Vena dan menyerahkan sebotol air minel. Vena mengacuhkan asistennya sebaliknya dia memberikan isyarat pada Farah untuk mendekat. Saat Farah berjongkok dan mendekatinya, “Apakah kau sudah melakukan yang kusuruh?” tanya Vena dengan suara pelan.
“Ya, jangan khawatir Nona Vena. Aku sudah melakukannya sesuai perintahmu dan semuanya akan berjalan dengan lancar kali ini. Tunggu dan lihat saja hasilnya.”
Vena tersenym dan menghela napas lega setelah mendengar perkataan asistennya. “Selama kau melakukan tugasmu dengan baik aku akan menggandakan bonus akhir tahunmu.”
Syuting adegan Liona dan Miko pun terus berlanjut. Adegan kali ini ada adegan perkelahian, sebelum syuting adegan, Reiki sudah menemukan seorang instruktur seni bela diri untuk melatih orang-orang yang akan terlibat dalam adegan termasuk Liona. Menurut pengaturan sutradara, Liona harus bertarung dengan beberapa pria yang ingin membunuh suaminya. Dua orang pria yang berperan sebagai pembunuh bayaran adalah figuran dan mereka menganggap serius pengambilan gambar.
Dalam adegan itu salah satu pembunuh akan menusuk Liona dengan samurai dan mengenai bahunya lalu Liona akan membalas menusuk jantung pembunuh itu. Namun siapa yang menyangka bencana terjadi saat pengambilan gambar adegan biasa itu. Untuk mengambil gambar yang nampak realistis, pedang panjang pembunuh itu terbuat dari besi tapi pedang itu tidak memiliki mata pisau. Apalagi kantong darah sudah diikatkan dibahu Liona sebelum syuting dimulai.
Pembunuh itu harus menusuk kantong darah dengan pedang. Tapi ketika pedang panjang itu bergerak untuk menekan Liona, cahaya dingin melintas dibawah sinar matahari. Liona pun terkejut dan tanpa sadar segera membalikkan tubuhnya kesamping tapi meskipun dia menghindar pedang panjang itu menggores lengan Liona.
“Arhrhhhh…….!” Liona mengerang saat merasakan sakit yang amat sangat dilengannya dan darah segar mengalir melalui jari-jarinya lalu menetes ketanah. Aktor pendukung itupun tercengang karena pedang panjang ditangannya ternyata benar-benar pedang asli. Kejadian itu mengejutkan semua orang dilokasi syuting.
“Apa yang terjadi?” teriak Reiki berlari menghampiri Liona. “Bawakan kotak P3K! Cepat!”
Hanya dalam waktu singkat darah Liona membentuk genangan darah di tanah.
__ADS_1
Mendengar keributan itu, Miko yang sedang berakting pura-pura mati segera membuka matanya dan melihat luka penuh darah dilengan Liona. Miko terkejut lalu bergegas lari kearah wanita itu. “Apa yang terjadi?” tanyanya bingung.
“Pedang ditangan aktor itu adalah pedang asli.” ujar seorang kru yang langsung membuat wajah Miko berubah drastis. Saat kotak P3K tiba, Miko langsung mendorong kerumunan menjauh kemudian membuka kotak P3K dan mengobati lengan Liona.
Ini agak menyakitkan tapi jika lukamu tidak segera dibersihkan bisa infeksi. Kau tahan dulu ya.”
“Baiklah.” jawab Liona.
Begitu Miko menyemprotkan cairan alkohol untuk membersihkan luka dilengan Liona, butiran keringat dingin langsung membasahi dahi wanita itu. Sambil menenangkan Liona, Miko membalut luka dilengan wanita itu. Tapu luka itu sangat dalam dan kain kasa tidak bisa menghentikan pendarahan.
Kain kasa pun langsung basah oleh darah, “Pertolongan pertama tidak berhasil sebaiknya segera bawa Liona kerumah sakit.”
“Jangan khawatir aku baik-baik saja.” jawab Liona.
“Baik kau bilang? Kau masih bisa bercanda sekarang? Luka dilenganmu parah aku akan membawamu kerumah sakit.” ujar Miko marah.
Saat dia mengangkat tubuh Liona, dia merasa temperatur disekitar mereka turun drastis, begitu dia melihat kebelakang, dia melihat Reynard dan Delvin sedang berjalan kearah mereka. “Tuan Wilfred apa yang membawa anda kesini?” tanya Reiki. Wajahnya ketakutan dan pucat pasi.
Dengan wajah dingin Reynard mengabaikan Reiki dan tak peduli dengan reaksi semua orang dilokasi syuting. Reynard menggendong tubuh Liona lalu berbalik dan pergi. Delvin pun segera pergi menyusul kakaknya sebelum dia menoleh pada Reiki.
“Reiki! Kami datang kesini untuk meninjau kemajuan serial TV ini tapi tak kusangka akan menyaksikan pemandangan seperti itu. Tadi pedang itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari jantung Liona. Jika liona tidak segera menghindar aku sudah khawatir dia mati sekarang.”
Ketakutan menghiasi wajah Reiki, dia tidak bisa membayangkan kosnekuensi yang harus dia tanggung jika hal buruk terjadi pada Liona. Sebelum Reiki bisa mengatakan sesuatu, Delvin melanjutkan, “Kau harus bisa menjelaskan kejadian ini.”
__ADS_1