CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 75. MOGOK MAKAN


__ADS_3

Felicia selalu menyukai makanan, meskipun dia sedang marah ataupun sedih, hanya dengan menyuguhkan makanan enak maka Felicia akan terhibur. Tapi kenapa kali ini taktik itu gagal? Ini tidak bisa dibiarkan, jika Felicia menolak makan maka dia akan sakit.


Davina pun berjalan kearah kamar tidur Felicia dilantai dua lalu mengetuk pintu, “Feli sayang! Ini nenek. Ayo keluar dan makan malam. Koki sudah memasak banyak makanan enak khusus untukmu. Ada iga bakar dengan saus berry kesukaanmu! Enak sekali. Ada juga pai apel dan cheesecake. Keluarlah dan mencoba semua makanan itu. Rasanya enak sekali, aromanya saja sudah membuat nenek lapar.”


“Tidak mau! Nenek saja yang makan, aku tidak mau makan! Aku akan makan bersama mama Liona dan kakakku! Aku tidak mau makan sampai nenek mengijinkanku bertemu mama dan kakak.” teriak Felicia dari dalam kamar.


“Dasar anak nakal!” Davina menghela napas, merasa kesal atas perilaku cucunya yang semakin keras kepala dan sudah berani mogok makan sebagai protes. “Felicia keluarlah. Apa kamu mogok makan sebagai protes pada nenek?”


“Iya! Aku tidak mau makan selamanya!”


Daviba sangat marah mendengar jawaban cucu kesayangannya itu. Felicia hanya makan bubur saat sarapan, dia bahkan menolak makan siang dan sekarang waktunya makan malam. Biasanya Felicia akan makan snack sebelum makan siang dan makan malam. Demi Tuhan! Sekarang dia malah mogok makan, ini pasti akan memperburuk kesehatannya.


“Felicia…..” Davina masih berusaha membujuk tetapi tampaknya Felicia tak peduli dan langsung menyela.


“Aku sudah bilang tidak mau makan! Kalau nenek tidak mengijinkan aku pergi kerumah sakit menjenguk papa, kalau nenek tidak ijinkan aku bertemu mama Liona dan kakak El maka aku akan berhenti makan selamanya! Biar aku mati kelaparan! Biarin nenek tidak punya cucu perempuan lagi!”


Davina berpikir jika Felicia tidak akan bertahan lama dengan mogok makannya, bagaimana bisa bocah itu jauh-jauh dari makanan yang sudah jadi favoritnya? Davina tidak akan membiarkan Felicia memanipulasinya dengan cara mogok makan. Dia pikir jika dia mendengarkan permintaan cucunya dan mengijinkannya pergi maka Felicia akan merasa menang. Tidak! Tidak bisa begitu!

__ADS_1


Sambil menggertakkan giginya, Davina berjalan kelantai bawah dan berkata, “Biarkan saja dia. Nanti kalau dia lapar dia akan keluar sendiri. Dia tidak akan bisa menahan lapar.” Wanita itu memilih untuk membiarkan Felicia kelaparan daripada mengijinkannya pergi kerumah sakit. Jika Felicia kerumah sakit maka dia akan bertemu dengan Liona dan putranya. Davina tahu jika wanita itu menemani Reynard dirumah sakit.


Sudah jam sembilan malam dan Felicia masih belum keluar dari kamarnya. Meskipun Davina bertekad membiarkan cucunya dan enggan memenuhi keinginannya tapi Davina sudah berkali-kali mengetuk pintu kamarnya. Dia pun bertanya pada pelayan yang sejak tadi bolak balik mengetuk pintu kamar Felicia. “Apakah dia masih tidak mau makan dan tidak membuka pintu?”


Pelayan itu hanya menggangukkan kepala, meskipun dia juga ingin protes atas sikap majikannya itu tapi dia tidak berani. Davina melirik jam ditangannya, sudah pukul sembilan lewat dua puluh lima menit malam, Felicia masih belum makan sepanjang hari.


“Felicia?” panggil Davina sambil mengetuk pintu kamar tapi tidak ada respon. Wanita itu mulai merasa cemas, detak jantungnya tidak beraturan. Dia mulai menggedor pintu sambil memanggil cucunya, “Felicia! Apakah kamu mendengar nenek? Feli sayangku, tolong jawab nenek jangan membuat kami khawatir. Ayo buka pintunya sayangku.”


Tak ada suara apapun dari dalam kamar. ‘Apakah Felicia pingsan karena tidak makan seharian? Davina panik saat pikiran itu melintas dikepalanya, “Cepat bantu membuka pintu ini! Kita harus membuka pintu ini! Aku takut cucuku kenapa-napa didalam.”


Begitu sudah berada didepan kamar Felicia, Abraham langsung menendang pintu kamar. Meskipun dia sudah berusia paruh baya tapi tubuhnya masih kuat. Abraham mengerahkan seluruh tenaganya menendang pintu itu lagi hingga engsel pintu rusak dan pintupun terbuka. Semua orang bergegas masuk ke kamar bernuansa pink itu. Pendingin ruangan mati dan ruangan itu terasa panas. Davina sangat terkejut melihat kamar cucunya yang berantakan dan panas.


AC dikamar itu rusak dan karena Felicia mengurung dirinya didalam, tidak ada seorangpun yang tahu jika AC rusak. Hari ini cuaca sangat panas, dengan ac yang rusak dan semua jendela tertutup rapat, Felicia pasti sangat tersiksa didalam kamar sepanjang hari, Wajah Davina berubah dan berjalan mendekati cucunya yang tergeletak dibawah jendela. Matanya tertutup, pipinya memerah dan bibirnya pecah-pecah, Felicia pingsan.


“Felicia!”


Davina mengangkat tubuh gadis kecil itu dan memangkunya, “Felicia bangunlah sayang. Apa kamu baik-baik saja? Kamu membuat nenek sangat takut! Bangunlah sayangku.”

__ADS_1


Tak ada respon apapun dari Felicia, matanya tertutup rapat, tubuhnya terlihat lemah dengan ******* napas yang juga lemah.


“Ya ampun badannya panas sekali!” Davina menangis saat merasakan panas yang menguar dari tubuh kecil itu. Dia melirik kearah suaminya sambil menangis.


“Dia demam, dia pasti kepanasan sepanjang hari makanya dia jadi demam. Apa yang harus kita lakukan?” Davina ketakutan dan kehilangan akal. Abraham tak ingin membuang waktu lagi lalu mengambil tubuh Felicia dari pangkuan istrinya dan menggendongnya. Dia membawa Felicia ke kamar sebelah dan menghidupkan ac. “Ambilkan segelas air yang dicampur garam dan gula. Bawakan juga es! Ambil es sebaskom sekarang!”


Pelayan pun berlarian keluar ruangan dan dalam sekejap kembali membawa semua yang diminta oleh Abraham. Pria itu memerintahkan pelayan untuk membungkus es dengan handuk dan meletakkan dikening dan ketiak Felicia. Pria itu perlahan mengangkat kepala Felicia dan berusaha memasukkan air kemulutnya, “Feli buka mulutmu, minumlah sedikit ya.”


Felicia memalingkan kepalanya dengan gerakan lemah sehingga air minum mengalir ke lehernya.


Davina menangis tersedu-sedu dan merasa bersalah melihat kondisi cucu kesayangannya. “Felicia tolong minumlah. Jangan keras kepala begini. Apakah kamu tidak kasihan pada kakek dan nenekmu?”


“Ma….mama…..mama Liona.”


Tatapan matanya lemah menatap Davina dengan penuh harap. Wanita itu semakin merasa sedih, dia dan semua anggota keluarganya memanjakan Felicia sejak kecil, bocah itu selalu bebas dan ceria sehari-hari. Dia selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya selama ini tapi kini dia begitu lemah. Felicia belum pernah seperti ini sebelumnya.


Masih segar dalam ingatan Davina saat menemukan Felicia selamat dari kecelakaan dan masih hidup. Bagaimana bayi kecil itu berjuang untuk hidup, beberapa tulang rusuknya patah dan bahkan bayi kecil itu tidak bisa mengeluarkan suara saat menangis. Tangis Davina semakin menjadi dan dia sangat menyesal.

__ADS_1


__ADS_2