
Tangan kecil itu bergerak cepat dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, semua sisi kubus kembali ke satu warna. Miko langsung terdiam seperti orang bodoh.
“Wah! Kak El hebat sekali!” Felicia memuji kakaknya.
Elvano melirik Miko dengan santai seolah mengejek pria bodoh itu kemudian dia menundukkan kepala menlanjutkan memeprbaiki kubus rubik.
Miko hanya bisa menatap bocah itu dengan tatapan bodoh. ‘Kenapa aku merasa jika bocah itu memandangku rendah ya?’ tanya Miko dihatinya.
“Hem...El, aku akan memelikanmu mainan yang jauh lebih menariknanti. Apa kau suka transformer? Bagaimana dengan mainan pesawat jet terbaru?”
“Tidak! Aku hanya suka kubus rubik.” jawab Elvano enteng.
“Oke, lain kali aku akan membelikanmu kubus rubik yang jauh lebih menarik.” Miko memutuskan untuk mengambil hati Elvano. Dia ingin bocah itu mengatakan hal-hal baik tentang dirinya pada Liona, dengan cara ini Liona pasti akan menyukainya.
“Tidak perlu, terimakasih.” tolak Elvano.
Miko mulai merasa frustasi, keningnya mengerut, “Memangnya kenapa?”
“Kubus rubik ini diberikan paman Wilfred padaku, sudah cukup bagus dan aku suka.” jawabnya.
“Paman Wilfred?” tanya Miko. ‘Paman Wilfred yang mana maksudnya? Apakah Delvin atau Reynard?’ Miko bertanya-tanya dalam hati merasa penasaran.
“Paman Reynard! Siapa lagi memangnya?” Elvano tampak mengerti kebingungan Miko dan menjelaskan. Miko semakin tak mampu berkata-kata. ‘Jadi benar paman Reynard! Paman sangat licik ternyata, dia tidak segan menyuap seorang anak kecil.’ keluh Miko. Ini ronde kedua dan Reynard tidak ada disana tapi Miko kalah lagi.
Saat makan malam, raut wajah Miko terlihat lesu, sambil makan dia menatap Liona dengan penuh kebencian seolah dia adalah wanita tidak punya hati nurani. Liona yang menyadari sikap Miko pun merasakan kepalanya gatal. “Ada apa Miko? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Liona kesal.
Sorot mata pria itu menjadi lebih kesal lagi setelah mendengar nada suara Liona. Reynard mengerutkan kenind dan mengetukkan sendoknya diatas meja.
__ADS_1
Dia menatap tajam pada Miko lalu membentak, ”Makan yang benar dan bersikap sopanlah.”
Suara dingin dan tegas membuat orang yang mendengar merasa takut dan patuh. Miko merasa ketakutan, dia menundukkan kepala dan mulai makan dengan tenang. Untuk ketiga kalinya dia kalah dari pamannya.
Keesokan harinya Liona sudah berada dilokasi syuting, hujan turun dengan deras sepanjang hari. Untungnya adegan pengambilan gambar berada didalam ruangan sehingga jadwal tidak tertunda. Saat tiba dilokasi syuting, Liona memegang payung dan tas besar berisi beberapa kotak makanan yang dia siapkan dari rumah. Liona berusaha keras menyiapkan makanan lezat untuk sutradara Reiki, Yogi dan Kiara. Mereka yang telah mendukungnya secara terbuka saat Aurora memfitnahnya di sosial media.
Liona merasa berhutang budi pada mereka. Yogi dan Kiara memilih tinggal dilokasi syuting karena mereka pemeran utama. Meskipun mereka bintang terkenal tapi mereka tidak pernah mencari masalah dengan kru lainnya. Mereka makan makanan yang disediakan perusahaan untuk anggota kru. Liona memasak makanan spesial sebagai ucapan terimakasih karena sudah membelanya dimata publik. Dia juga menyiapkan satu kotak untuk Miko.
“Selamat pagi sutradara!” sapa Liona melihat pria itu.
“Selamat pagi Liona.” balas Reiki. “Segera tukar kostummu dan rias wajah. Pengambilan gambar akan segera dimulai.”
“Baiklah. Ini aku bawakan makanan spesial yang kumasak dari rumah.” kata Liona menyerahkan kotak makanan pada Reiki. “Terimakasih atas supportmu Sutradara.”
Reiki mengintip isi kotak itu dengan wajah berseri-seri. “Terimakasih atas perhatianmu. Segeralah siapkan diri untuk syuting.”
Setelah selesai berdandan lengkap untuk adegan itu, Miko keluar dari ruang ganti bersama asistennya yang memegang payung untuknya. Dia duduk disebelah Liona dengan penuh semangat, sikapnya jauh berbeda dibandingkan kemarin.
“Aku sudah menunggu lama untuk syuting adegan ciuman dengan Liona.” Saking semangatnya dia hampir tidak bisa tidur sepanjang malam. Sedangkan Liona hanya diam karena merasa tertekan dan tidak nyaman.
“Ayo kita mulai!” ujar Sutradara Reiki. Kemudian dia menjelaskan detail adegan itu pada mereka. “Liona, kau perlu menyampaikan karakter seorang wanita pintar yang kuat dan mendominasi. Tepatnya kau harus menampilkan sikap kuat tapi tidak kasar. Sedangkan Miko, kau harus bersikap menyerah pada tipu muslihat seorang wanita yang arogan. Perhatikan gerakan dan emosi kalian, itu yang terpenting.”
“Jangan khawatir. Peran ini sudah disiapkan untuk kami, kami akan bersikap seperti dikehidupan nyata. Kami akan memberikan yang terbaik.” ujar Miko yang membuat Liona terperanjat.
“Dasar brengsek! Apakah aku memiliki karakter mendominasi? Sepertinya karakterku tidak cocok dengan karakter Rosalind ini.” Liona mengutuk dalam hati.
“Mulai. Kamera action!” Reiki memberi intruksi.
__ADS_1
“Brak...” Rosalind menendang pintu gudang kayu dengan kuat sehingga membuat para kru bergidik. Dia sudah mengikat Arwan, pria itu mencoba melawan tapi kekuatannya tidak sebanding dengan Rosalind. Wajahnya memerah karena cemas tapi dia tidak bisa membebaskan diri. Rosalind memasang ekspresi cemberut dan melemparkan Arwan ke tumpukan kayu bakar. “Nona Rosalind, kau adalah wanita bagaimana mungkin seorang wanita dari keluarga baik-baik berlaku seperti ini? Kenapa kau membawaku ke gudang dan mengikatku? Apa yang kau inginkan?” tanya Arwan.
Rosalind mencondongkan tubuh menatap mata tunangannya. Jarak mereka hanya dua sentimeter, napas terengah-engah mereka bisa didengar semua orang. Arwan memerah saat dia membuang muka. “Nona Rosalind….”
“Diam kau!”
“Kneapa kau begitu mendominasi?”
“Apa maksudmu? Aku? Wanita mendominasi katamu?” Rosalind meraih kerah pria itu, “Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali bahwa kita sudah bertunangan. Kau adalah milikku, jangan terlibat hubungan dengan wanita lain!”
“A---aku tidak pernah melakukan itu.”
“Omong kosong.”
Sudut mulut Arwan Singgih berkedut, “Nona Rosalind, kau adalah wanita bangsawan. Kenapa kau mengucapkan kalimat menghina seperti itu?”
Tatapan melankolis melintas dimata Rosalind. “Apa kau tidak menyukaiku? Apa menurutmu aku lemah dan tidak berbudi luhur seperti gadis-gadis lain?” Saat Rosalinnd bicara pada Arwan, dia melonggarkan cengkeraman tangannya dikerah Arwan dan duduk ditanah memunggungi pria itu.
Dia mencengkeram lututnya, ‘Aku tahu kau tidak menyukaiku dan satu-satunya alasan kau menyetujui pertunangan kita untuk memenuhi keinginan orangtuamu.”
Arwan tergugup, “Nona Rosalind….” dialog keduanya terus berlangsung.
Pria itu hanya memandangi punggung Rosalind tanpa mengetahui wajah Rosalind tidak sedih sama sekali. Tapi matanya bersinar karena siasatnya berhasil.
Rosalind berjalan mendekati Arwan dan menggoda.”Aku tidak peduli kau menyukaiku atau tidak. Aku tetap menyukaimu jadi aku harus meninggalkan tanda disini.” Rosalind mengulurkan jari rampingnya menyentuh bibir. Suasana digudang itu penuh romansa. Arwan tersipu malu.
Tubuh mereka sangat dekat sehingga daunpun tidak bisa diselipkan diantara mereka. Jantung Miko berdegup kencang, dia akan emncium Liona. Seluruh kru larut dalam suasana romansa dan tersipu. Ketika bibir Liona berjarak hampir tiga centimeter dari bibir Miko, bencana melanda.
__ADS_1