
Hesty menepuk punggung Vena dan menghiburnya, “Vena, masih cukup sulit untuk melihat bagaimana semuanya akan berakhir. Aku tahu sifat pria lebih baik darimu. Dengan wajah dan bentuk tubuh yang dimiliki Liona…..aku yakin tidak ada pria yang menolaknya.”
“Seth pasti bisa! Aku yakin dia tidak akan tergoda pada Liona!” ujarnya penuh keyakinan.
“Tapi aku harus memperingatkanmu! Kamu tidak boleh percaya pada seorang pria. Itu terlalu beresiko, kamu harus mendapatkan perhatian Seth sehingga kamu memiliki satu kartu kemenangan lagi.”
Veba mengulang apa yang baru saja dikatakan oleh ibunya didalam hati. Bibir wanita itu membentuk sebuah senyum menyeringai yang sulit diartikan.
“Aku akan menangani Liona sendiri. Kamu hanya perlu fokus pada Seth saja dan pastikan dia segera melamarmu. Kamu harus menikah dengan Seth dan menjadi istri sahnya. Setelah resmi menjadi istri Seth maka kamu bisa bernapas lega.”
“Apa rencana mama?” Vena bertanya dengan senyum licik. Dia tahu ibunya sangat licik dan selalu punya rencana-rencana luar biasa.
“Kamu jangan khawatir. Aku sudah menemukan caranya untuk menghadapi wanita ****** itu. Tunggu dan lihat saja nanti. Ketika rencana itu berjalan dengan lancar, kita hanya tinggal duduk dan bersantai sambil menyaksikan Liona diserang oleh publik.”
Sepasang ibu dan anak itu saling memandang dengan senyum licik dibibir mereka.
Saat itu hujan lebat dan cuaca dikota menjadi dingin. Liona baru saja keluar dari dan menuruni tangga, saat dia menuju ke ruang keluarga tampak Delvin ada disana. “Oh Liona, kamu sudah kembali.” Delvin mengenakan pakaian dengan warna yang sedikit mencolok. Tetapi Liona mengakui kalau pakaian itu sangat cocok untuk Delvin.
Delvin menghampiri Liona dan mengedipkan mata padanya. “Kak Reinhard baru saja membicarakanmu.” katanya tersenyum lebar menatap Liona.
“Apa kamu bilang?”
__ADS_1
“Kak Reinhard bertanya-tanya kapan kamu akan setuju menikah dengannya.”
Liona langsung terdiam karena detak jantungnya langsung kencang dan dia merasakan keringat dingin dipunggungnya.
Rupanya Delvin membantu Reinhard untuk mengejarnya. Liona tidak tahu harus berbuat apa! Dia masih harus membalas dendam agar hidupnya tenang. Dia tidak mau mendapat masalah dari keluarga besar Wilfred bahwa dia menikahinya untuk mempunyai kekuatan. Mungkin cara paling aman yang bisa dia lakukan saat ini adalah berpura-pura tidak mengerti maksud Delvin.
Liona merasa sedikit galau memikirkan hal ini. Dia sadar jika dia menikahi Reinhard maka kekuatan dan perlindungan ada padanya, tapi dilain sisi itu berarti keluarga Wilfred akan memiliki pandangan buruk tentangnya. Liona tidak menginginkan itu, dia ingin memiliki kehidupan pernikahan yang damai dan tenang tanpa adanya drama keluarga.
Liona menatap Reinard dari sudut matanya, biasanya pria itu selalu menyiratkan perasaannya secara langsung tapi kenapa dia menyuruh Delvin yang mengatakan padanya? Dia bisa melihat ekspresi wajah Reinhard tampak bersemangat dan antusias. Dia mengambil tasnya tapi sebuah tangan merampas tas itu dan menarik lengan Liona.
Tarikan itu cukup kuat sehingga Liona membentur dada bidang yang keras didepannya. “Aduh….”
“Kamu mau kemana? Masih marah?” ujar Reinhard ditelinga Liona yang langsung membuat bulu kuduknya meremang dan detak jantungnya kencang. “Biar aku bawakan tasmu.”
Dia malah mengeratkan pelukannya dan menatap lengan Liona yang masih terluka. “Ayo kita pergi. Aku akan menemanimu.” kata Reinhard dengan tegas. Bukan dia tidak tahu kalau wanita itu sedang marah padanya tapi dia juga tidak akan membiarkan Liona merajuk terlalu lama.
‘Apa yang salah dengan pria ini?’ sekarang dia yakin kalau perjalanannya hari ini akan canggung.
Reinhard melirik Delvin lalu dia membawa Liona keluar rumah. Reinhard secara khusu memerintahkan supir untuk mengendarai SUV 7 seater mewah untuk membawa mereka jalan-jalan hari ini. Delvin masuk lebih dulu dan dia memilih duduk dekat jendela belakang. Liona segera mengikuti tapi sebelum dia masuk Elvano menarik bajunya.
“Mama, aku mau duduk dengan paman Delvin.” Elvano tak menunggu lama langsung masuk ke barisan belakang dan duduk ditengah. Karena ada tiga kursi di barisan belakang mobil, Liona memutuskan duduk disebelah Elvano. Tepat ketika dia akan masuk, Felicia tiba-tiba menarik ujung bajunya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
__ADS_1
“Mama Liona, aku mau duduk dengan Kak El.” ujar Felicia langsung masuk sebelum Liona sempat merespon. Liona berdiri tercengang. ‘Sepertinya aku harus duduk disebelah Reinhard.’ keluhnya dalam hati. Sebenarnya dia sedang menghindari Reinhard selama beberapa hari ini namun sepertinya sekarang dia tidak bisa menghindar lagi.
Saat Liona masuk kedalam mobil dia langsung duduk didekat jendela. Di sebelah supir ada seorang pengawal jadi Liona tak mungkin minta pindah ke kursi depan. Mau tak mau dia terpaksa duduk bersebelahan dengan Reinhard. Sementara dibarisan belakang tiga orang saling melirik dan terkekeh. Liona memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.
Padahal hari ini rencananya dia mau keluar jalan-jalan tapi sepertinya Reinhard akan selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Entah apa yang ada dikepala pria itu, akhir-akhir ini dia sangat posesif dan tidak mengijinkan Liona pergi sendirian. Liona biasa merasakan ada aura yang tak terlukiskan di sekeliling tubuh pria itu.
Aura itu sangat kuat sehingga Liona merasakan kulit kepalanya kesemutan. Meskipun merasa bingung dan enggan, Liona tidak punya pilihan lain selain duduk. Reinhard menatap Liona dan bertanya dengan nada datar, “Apa ada paku dipantatmu? Kenapa dari tadi kamu bergerak-gerak terus?”
Mulut Liona terbuka lebar. Tapi dia hanya diam dan tak membalas ucapan Reinhard.
Dia hanya menatap tajam pada pria itu. ‘Kamu lah yang memiliki paku dipantatmu!’ Liona membalas didalam hatinya. Tetapi dia akhirnya berhenti bergerak dan tidak mengatakan apapun lagi.
“Jalan! Kita pergi makan dulu.” perintah Reinhard pada supir. “Ke restoran pinggir pantai.”
Setelah mendapat perintah, supir menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Untuk mengurangi rasa canggung, Liona mengeluarkan ponselnya dan pura-pura sibuk. Dia membuka daftar teman di WA-nya. Kontak yang dimilikinya tidak terlalu banyak karena dia hanya menyimpan nomor teman-teman dekatnya saja. Saat Liona menggulir kebawah, kebetulan dia melihat kontak terakhir yang ada di WA. Entah kenapa dia berhenti setelah melihat kontak itu.
Nama kontak itu adalah, ‘Pria paling tampan didunia.’ dan Gambar profil pemilik nomor terlihat sangat gelap sehingga Liona hampir tidak bisa mengenali foto itu. Reinhard melirik ponsel Liona dengan santai dan melihat foto yang sedang dilihat oleh wanita itu. “Apakah dia adalah mantan pacarmu?” tanya Reinhard dengan dahi berkerut.
Orang mengatakan kalau intuisi pria cukup akurat dan bahkan melebihi wanita. Liona segera meletakkan ponselnya dan memutar matanya kearah Reinhard. “Bukan urusanmu!” katanya dengan kesal. Tiba-tiba supir menginjak rem dan mobil mendadak berhenti.
__ADS_1
“Aduh!”
Karena daya dorong yang kuat, tubuh Liona condong kedepan dan hampir menabrak bagian belakang kursi supir. Untungnya Reinhard masih sempat meraih pergelangan tangan Liona tepat waktu dan menarik tubuh Liona kedalam pelukannya untuk mencegah benturan. Tindakan Reinhard itu membuat bagian keningnya membentur dadanya yang bidang dan kuat.