CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 84. MENGGODA LIONA


__ADS_3

Jika di apartemen Aurora terjadi badai hebat, jauh berbeda dengan kediaman keluarga Wilfred. Suasana tenang dan damai dihiasi tawa canda dua bocah yang selalu menghidupkan suasana.


Didalam dapur rumah Reynard, sepasang kekasih yang tampak sedang sibuk berkutat dengan bahan makanan. Wajah Reynard terlihat serius saat dia meletakkan sayuran yang sudah dicuci diatas talenan. Liona hanya diam setelah mendengar penjelasan Reynard. Kecelakaan mobil? Wah, kejadiannya benar-benar diwaktu yang tepat!


“Sebenarnya pria itu pantas mendapatkan hukuman tapi tampaknya kekerasan adalah cara terbaik untuk menangani pria bajingan seperti dia. Aku harap kejadian ini membuatnya kapok.” kata Liona.


“Apakah kau tahu kalau Reno tidak akan mendapatkan uang sepeserpun setelah bercerai?”


“Wah hebat! Bu Marsya benar-benar menginspirasi para wanita diluar sana yang telah dikhianati pasangannya.” Liona tersenyum merasa kalau Reno benar-benar dihukum oleh perbuatannya. Lagipula Marsya hanya mempertahankan apa yang menjadi haknya sejak awal. Toh pria itu tidak punya apa-apa sebelumnya.


Tiba-tiba Reynard menyeret Liona keluar dari lamunanya, tangan besarnya meraih wajah Liona. Sentuhan itu membuat Liona gugup. “Hem….ada apa?”


Reynard menyelipkan helaian rambut kebelakang telinga Liona. Ujung jari pria itu menyentuh wajah Liona, diapun memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang diberikan pria itu hingga ke tulang punggungnya.


Detak jantung Liona semakin tak kencang dan tak karuan. Dia merasa ada yang berbeda dengan sikap Reynard hari ini. Biasanya pria itu menampakkan ekspresi menakutkan dan dingin diwajahnya sepanjang hari tapi akhir-akhir ini ekspresi wajah Reynard telah berubah. Dia masih menjaga jarak dengan orang lain tapi tidak membuat orang lain merasa takut lagi.


Yang terpenting, dia tidak lagi menghindari kontak fisik dengan orang lain. Sudah beberapa hari ini Reynard selalu menyentuh rambut atau kepala Liona dan membelai wajahnya namun Liona masih belum terbiasa dengan sikapnya itu. Saat ini dia merasa sangat gugup dengan perlakuan Reynard padanya. “Apakah kau baik-baik saja?”


“Ya, aku baik. Kenapa kau bertanya? Apa ada yang salah?”


“Hem….aku merasa akhir-akhir ini kau sedikit...eh….begini….kau sedikit berbeda dari biasanya.”


“Benarkah, sayang?” tanya Reynard ditelinga Liona sengaja menggodanya dengan menghembuskan nafas tepat ditelinganya membuat tubuh Liona bergetar.

__ADS_1


Suara pria itu terdengar sangat lembut dan memikat membuat jantung Liona berdebar kencang. ‘Ya ampun kenapa dia semakin menggoda?’ gumamnya dalam hati.


‘Ah…..terjadi lagi. Benar-benar terjadi lagi.’ Terkadang Liona bertanya-tanya apakah Reynard menyadari bahwa setiap sentuhan dan perlakuan manisnya mempengaruhi Liona. Pria itu memang sedang menggodanya. Dan Liona selalu tidak bisa mengendalikan diri setiap kali pria itu menyentuhnya lembut.


Tanpa sadar, Liona menyentuh dahinya dan merasakan suhu tubuhnya masih normal.  Reynard menarik tangan Liona dan mendekap tangan itu didadanya. Telapak tangan pria itu terasa hangat dan rasa itu tersalurkan keseluruh tubuh Liona. Dia mencoba menarik tangannya tapi Reynard tetap memegangnya erat.


“Kau…...emmm….” Liona tergagap.


“Apa yang ingin kau katakan, sayang?”


“Itu….” Liona merasa sedikit pusing karena sentuhan Reynard.


“Katakanlah! Kau bisa bercerita tentang apapun padaku.” ucap Reynard dengan suara lembutnya.


“Terimakasih banyak telah menolongku.” kata Liona dengan wajah merona. “Jika bukan karena bantuanmu aku pasti akan terjebak dalam kekacauan ini. Terimakasih ya untuk semua yang kau berikan.”


“Dan apa lagi?” gumam Liona bingung.


“Dan….? Nada suara Reynard mulai terdengar tak sabar.


Aduh, apalagi sih sekarang? Liona berusaha memeras otak tetapi tidak bisa memikirkan apapun lagi. Dengan bingung dia berkata. “Apalagi yang harus kukatakan?”


Rahang Reynard terkatup rapat. “Kau bilang mau berterimakasih padaku. Apakah begini caramu berterimakasih? Hanya dengan beberapa kalimat saja dan selesai?”

__ADS_1


Liona diam dalam kebingungan selama beberapa menit akhirnya dia bicara dengan suara rendah tapi masih terdengar jelas. “Kau tahu tidak ada sebuah pepatah yang mengatakan, lakukanlah segala sesuatu dengan baik dan jangan pernah mengharapkan imbalan maka kau tidak akan pernah kecewa….”


“Itu hanya sebuah pepatah tidak semua orang bisa membantu tanpa pamrih.” Reynard sengaja berjalan mendekati Liona secara perlahan membuat tenggorokan wanita itu tiba-tiba terasa kring dan jantungnya kembali berdetak kencang. Seiring langkah Reynard yang mendekat, Liona pun mundur sampai akhirnya punggungnya menyentuh tembok.


Dia tidak bisa menghindar lagi sekarang dan Reynard semakin mendekat sambil menatapnya, Liona semakin tenggelam dalam pesona mata gelap pria itu yang seakan memenjarakan jiwanya tak mampu untuk melepaskan diri. Lalu Reynard mencondongkan tubuhnya kedepan.


Menutup jarak diantara mereka. Brak! Tiba-tiba pintu dapur terbuka dari luar dan Liona langsung mendorong Reynard menjauh. “Ma-maafkan saya nyonya.” kata pelayan sambil menundukkan wajahnya lalu menutup kembali pintu dapur.


Liona merasa sangat malu, dia bergegas menuju kompor dan tak berani menatap mata Reynard, jantungnya berdebar semakin kencang.


‘Ya Tuhan…..Reynard ini semakin lama semakin menjadi-jadi. Untung saja pelayan itu datang.’ Tanpa sadar Liona mengaduk makanan dengan sembarangan dan hampir menumpahkan isi panci kelantai. ‘Aduh….apa yang harus kulakukan sekarang?’ Setiap kali Reynard mendekatinya, dia selalu meleleh dan jatuh dalam genangan pesona serta gairah Reynard apalagi saat Reynard menatapnya dengan mata hitam gelapnya yang penuh pesona itu.


Liona selalu kehilangan kendali dirinya, sementara Reynard semakin hari makin tak canggung menggoda dan merayu Liona. Dia tak pernah ingin melepaskan wnaita itu jika sudah berada dalam dekapannya. Liona memegangi dadanya berusaha menenangkan diri, keringat dinging mengucur dikeningnya lalu dia menghapusnya dengan punggung tangan.


Sementara itu di kediaman Vena, dia sedang marah besar setelah membaca berita tentang pemboikotan Aurora. “Dasar bodoh! Bodoh! Dasar perempuan tak berguna! Harusnya dia yang menjatuhkan Liona bukannya dia yang malah menghancurkan karirnya sendiri!”


“Vena apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya asistennya.


“Kau masih bertanya apa yang harus kulakukan? Masa kau tidak tahu? Aku tak menyangka kalau kau juga sebodoh perempuan itu. Cepat kau membuat pernyataan permintaan maaf secara terbuka.” ujar Vena dengan mengatupkan mulut.


“Kau bisa pakai akun media sosialku, cukup katakan saja kalau kita salah paham tentang Liona. Katakan kalau akun media sosialku diretas orang dan jangan lupa posting permintaan maaf yang bernada sedih dan menyentuh hati.”


“Oh iya…..buat kalimat permintaan maaf itu menyakinkan agar masyarakat luas bisa melihat niat baikku. Pastikan permintaan maaf itu terlihat tulus.” ujar Vena lagi.

__ADS_1


Shima pun mengangguk. “Liona benar-benar wanita yang beruntung, seharusnya dia sudah hancur dengan semua skandal itu. Tapi kita tidak punya pilihan lain sekarang.”


Ini semua gara-gara Aurora si idiot yang sudah menghancurkan semua rencana Vena, setelah mengunggah postingan permintaan maaf sang asisten menoleh ke Vena.


__ADS_2