
Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dibenak Vena, dia lalu memegang tangan ibunya dan bertanya. “Dimana Tuan Anjas sekarang? Apa ibu sudah menghubunginya?”
“Aku juga tidak bisa menghubungi Anjas.” jawab Hesty.
Hati Vena langsung merasa tidak enak. Dia berjalan mondar mandir diruangan itu dengan raut wajah cemas.
“Dasar bodoh! Ayah bodoh sekali! Apakah ayah telah dibutakan oleh keserakahan? Bagaimana mungkin dia memiliki niat menculik anak Liona? Apakah aku tidak memberi kalian cukup uang? Kenapa dia bisa membuat kesalahan sebesar ini? Jika media mengetahui masalah ini, aku harus keluar dari dunia hiburan! Jika itu sampai terjadi, jangan harap aku bisa memberi kalian uang lagi.”
“Ayahmu melakukan ini semua untukmu Vena! Ayahmu ingin mendapatkan lebih banyak uang karena dia ingin membantumu mengembangkan karirmu di dunia hiburan. Bukankah selama ini kamu menyalahkan Liona karena selalu menyebabkan masalah untukmu di lokasi syutinng? Ayahmu berniat untuk menculik anak Liona dan memberi Liona pelajaran agar dia berhenti menindasmu!”
Hati Hesty sedikit dingin mendengar putrinya menyalahkan Adam. Dia memegang tangan Vena dan memohon, “Vena, aku meminta bantuanmu karena aku tidak bisa mendapatkan jalan keluar lagi. Tolong pikirkan rencana untuk menyelamatkan ayahmu! Bagaimanapun juga, dia adalah ayah kandungmu, Vena!”
Rencana apa yang dimaksudkan oleh ibu? Bagaimana caranya dia bisa menemukan jalan keluar untuk menyelamatkan ayahnya? Dia tidak mungkin curhat pada temannya dan menceritakan masalahnya. Lalu,Vena pun teringat sesuatu. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
“Vena, siapa yang kamu telepon?” tanya Hesty cemas.
“Liona!” jawab Vena. Ayahnya sudah tidak pulang selama tiga hari. Pasti telah terjadi sesuatu dan itu berarti rencana Adam tidak berhasil. Pasti Liona mengetahui keberadaan ayahnya itu. Telepon terhubug tetapi setelah berdering selama beberapa menit, tidak ada yang menjawab.
“Sialan kamu Liona!” umpatnya kesal.
“Vena, mungkin sebaiknya kita menghubungi polisi saja.” Hesty mencoba memberikan saran.
“Tidak bu. Kita tidak bisa menghubungi polisi! Kalau kita sampai menghubungi polisi, Liona akan terlibat secara otomatis. Kemudian apa yang akan terjadi? Saat polisi menyelidiki lebih lanjut mereka akan menemukan bahwa ayah mencoba menculi anak Liona.” ujar Vena.
“Jika ayah masuk penjara maka karir aktingku akan hancur! Bagaimana dengan masa depanku?”
Hati Hesty berdarah mendengar perkataan putrinya itu. Dia menatap Vena dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Vena merasa agak canggung ditapa oleh ibunya seperti itu. Dia berusaha menghindari konta maka dengan ibunya.
“Bu, ada apa dengan ibu? Kenapa ibu malah menatapku seperti itu?” tanya Vena.
“Vena, apakah reputasimu lebih penting daripada nyawa ayah kandungmu sendiri?” tanya Hesty sambil memegang tangan Vena.
__ADS_1
“Ibu! Mereka tidak mungkin….”
“Bagaimana jika mereka berani melakukan itu?”
“Aku…..” Vena mulai merasa kesal.
“Vena, aku tahu kamu tidak setuju dengan cara yang dilakukan oleh ayahmu. Tetapi, tak peduli seberapa tidak tahu malunya dan kejamnya dia, ayahmu selalu menyayangimu dan memperlakukan kita dengan baik. Ayahmu telah berusaha keras untuk memberimu semua yang kamu inginkan.”
Vena mengerutkan keningnya lagi, “Ibu…..”
Hesty langsung menyela dengan wajah dingin,
“Ayahmu selalu memperlakukanmu seperti seorang putri kerajaan. Sekarang dia berada dalam masalah dan sudah menjadi kewajibanmu untuk membalas budinya. Lakukan sesuatu untuk menyelamatkan ayahmu!”
“Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak akan membantunya.” jawab Vena.
“Ya sudah! Kalau begitu kamu harus lakukan sesuatu!”
‘Apa mungkin mereka membunuh ayahku? Tidak! Tidak mungkin! Liona itu wanita lemah dan tidak mungkin punya cukup keberanian untuk melakukannya. Tapi kenapa ayah tidak pulang selama tiga hari?’ Vena berpikir dalam hatinya. ‘Apa mungkin ada hal yang terjadi pada ayah?’
Baik Vena dan Hesty tidak berani memikirkan hal yang aneh-aneh begitu. Saat Vena hendak melemparkan ponselnya ke tempat tidur, ada yang mengetuk pintu dari luar.
Tok tok tok
Vena dan Hesty saling berpandangan dan Hesty segera melangkah untuk membukakan pintu. Farah yang mengetuk pintu. “Nyonya, tadi ada seseorang yang membunyikan bel pintu.”
Membunyikan bel pintu? Siapa? Apakah Adam pulang kerumah? Hesty bergegas menuju ke pintu depan dan melihat melalui lubang intip dengan waspada. Tetapi dia tidak melihat siapapun diluar. “Tidak ada orang diluar.” ucapnya.
“Tadi ada orang yang membunyikan bel pintu. Belnya berdering selama beberapa kali. Saya tidak berani membuka pintu karena saya tidak melihat ada orang diluar.” kata Farah.
Hesty pun mengatupkan bibirnya dan membuka pintu dengan pelan. Seorang pria tiba-tiba terjatuh ke lantai saat pintu itu sudah terbuka.
__ADS_1
“Aaaahhhh!” Hesty berteriak karena terkejut. Wanita itu membuka pintu lebih lebar dan melihat lebih dekat. Tubuh lemas Adam melorot ke lantai, akhirnya pria itu pulang setelah hilang selama tiga hari. “Suamiku! Sayang, akhirnya kamu pulang!”
Hesty bergegas membantu suaminya untuk berdiri. Barulah saat itu dia menyadari sesuatu, ada yang tidak beres dengan suaminya itu. Adam masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dia kenakan tiga hari yang lalu. Tidak ada bekas luka yang terlihat ditubuhnya.
Tetapi pria itu meringkuk, tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin dan tubuhnya gemetar karena histeris serta ekspresi wajahnya seperti ketakutan.
Matanya memandang ke segala arah dengan liar dan kelopak matanya terlihat membiru. Dalam tiga hari terakhir, Adam telah kehilangan banyak berat badan dan dia terlihat sangat tua.
Hesty membantu suaminya duduk di sofa yang terletak diruang tamu. “Suamiku! Sayang, apa yang telah terjadi padamu?” tanyanya dengan suara sedih.
“Vena! Cepat ambilkan ayahmu segelas air minum!”
Vena pun menuangkan air dingin kedalam gelas dan menyodorkan gelas itu pada ayahnya.
Adam menerima gelas dengan tangan yang gemetar. Sehingga air didalam gelas tumpah ketika dia akan meminumnya. Dan yang lebih buruknya lagi, air itu tumpah keseluruh tubuhnya membuat seluruh tubuhnya basah kuyup.
"Ayah...."
"Sayang!" seru Hesty saat berusaha membantu suaminya. Dengan cepat dia mengambil gelas dari tangan Adam dan membantunya minum. Setelah selesai minum, tubuh Adam tidak lagi gemetar seperti beberapa menit lalu.
"Apakah kamu mau minum lagi?" tanya Hesty dengan suara lembut.
"Ya, terima kasih." jawab Adam dengan suara yang sangat serak.
"Vena! Ambilkan air minum lagi untuk ayahmu!" perintah Hesty.
Vena pun mengambil air minum kemudian memberikan kepada ibunya. Hesty membantu Ad untuk minum dan setelah itu terlihat bibir Adam mulai terlihat lembab dan tubuhnya tidak lagi gemetar. Sekarang dia terlihat jauh lebih tenang, Adam duduk sambil menyandar di sofa karena merasa mengantuk.
"Ayah...."
"Jangan ganggu ayahmu dulu. Biarkan dia istirahat sebentar! Bantu aku membawanya ke kamar." kata Hesty kepada Vena
__ADS_1