CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 24. DUKUNGAN REYNARD


__ADS_3

Disisi lain lokasi syuting, Reynard melihat Liona yang kepanasan menunggu gilirannya untuk pengambilan gambar.  Reynard berada diruang ber AC, pria itu mengenakan setelan jas warna biru dongker, dia tahu jika Liona sudah menunggu dilokasi syuting selama tiga jam.  Dengan pakaian dan riasan lengkap tampak Liona tak nyaman menunggu lebih lama lagi.


*Visual Reynard Wilfred



*Yang dibawah ini visual Delvin Wilfred



“Berapa lama lagi dia harus menunggu gilirannya?”


“Menurut kru di lapangan, saat ini sedang pengambilan gambar untuk Vena dan Yogi, mereka adalah pemeran utama dan Liona hanya pemeran pendukung jadi Liona harus menunggu lama sampai pemeran utama selesai syuting.”


“So, berapa lama kedua pemeran utama itu akan syuting?”


“Kalau tidak salah kemungkinan akan selesai dua jam lagi tapi sejak tadi Vena melakukan banyak kesalahan selama syuting jadi mungkin akan lebih lama lagi, bisa jadi Liona tak bisa syuting hari ini.”


Reynard mengeram dan tangannya terkepal menahan emosi.  Bagaimana mungkin wanita yang disukainya harus menunggu begitu lama disana.  Delvin tahu jika kakaknya itu marah dan dia berusaha meredakan amarah Reynard. “Kak, hal seperti itu sudah biasa. Pendatang baru didunia hiburan harus sabar menunggu sampai giliran mereka tiba.”


“Liona tak perlu melakukan itu!”


Delvin mengerutkan keningnya, apakah Reynard bermaksud akan mendukung karir Liona dan tak mau wanita itu menderita dengan melewati semua proses yang melelahkan itu? Delvin menatap intens kakaknya “Kak, semua orang tahu jika untuk menjadi seorang aktris tidak mudah. Saat ini pemeran utama masih syuting dan belum selesai lagi jadi Liona harus menunggu sampai pemeran utama selesai syuting baru dia bisa mulai pengambilan gambar.”


Mendengar penjelasan adiknya membuat Reynard tak suka, raut wajahnya seketika berubah dan dia mengeluarkan ponsel dari saku lalu menghubungi Bastian.


“Bastian, pergi lokasi syuting Pernikahan Ketiga sekarang, aku mau bicara dengan kru disana.”


Karena menunggu lama, Liona merasa mengantuk. Tiba-tiba asisten Reiki mendatanginya “Nona Liona, sutradara meminta anda untuk menemuinya sekarang.”

__ADS_1


“Baiklah.”


‘Kenapa dia mau bertemu denganku? Apa ada masalah ya? Liona terkejut karena sutradara ingin bertemu dengannya, dia pun langsung meninggalkan lokasi pengambilan gambar.  Dari kejauhan terlihat Reiki melambaikan tangan padanya. “Liona cepat kesini.”


“Iya...aku datang.”


Liona sudah berdiri didepan Reiki “Sutradara Reiki….”


“Apakah kamu melihat pria yang berdiri disana?” tanya Reiki sembari telunjuknya mengarah ketempat Bastian berdiri. “Dia adalah Bastian Hartono presiden dari Wilfred Media.  Mungkin kamu belum kenal dengannya karena kamu baru disini.  Tapi dia hadir dalam audisimu waktu itu.”


“Ya, lalu?”


“Tuan Bastian mengunjungi lokasi syuting untuk melihatmu berakting.” kata Reiki tersenyum sambil menepuk pundak Liona “Ini kesempatan bagimu. Jangan kamu sia-siakan.”


Mendengar itu Liona merasa senang, itu adalah kejutan manis baginya.  Siapa yang menyangka akan dikunjungi oleh seorang presiden dari perusahaan besar didunia hiburan. Dia tahu kabar tentang Wilfred Media.  Dulu Sky Media mendominasi dunia hiburan namun sejak dua tahun terakhir Wilfred Media mendominasi dan menjadi perusahaan yang paling diincar oleh para artis untuk bisa berada dibawah naungan perusahaan itu.


“Bodoh amat deh apapun alasan kedatangannya, apa yang dikatakan Reiki tadi benar. Aku tidak boleh menyia-yiakan kesempatan ini.  Kalau bisa aku harus mendapatkan kontrak dengan perusahaan itu.”


“Kamu tidak keberatan kan dengan kehadirannya?” tanya Reiki.


“Oh...tidak. Sama sekali tidak masalah buatku. Aku malah senang, suatu kehormatan bagiku.”


Reiki menggangguk dan meminta asistennya memanggil Vena. Dia ingin Liona segera melakukan pengambilan gambar, toh proses setiap episode tidak harus diambil secara berurutan. Liona pun diminta untuk melakukan syuting perannya.


“Action!”


Saat ini Liona dan Vena bertemu di episode yang sama. Vena mengenakan pakaian hitam dengan riasan tebal sedangkan Liona masih dengan gaun merah dan riasan naturalnya. Sebenarnya Vena tak suka saat asisten sutradara memintanya untuk syuting bersama Liona sekarang karena belum tiba gilirannya. Kehadiran Liona didepannya membuat Vena gugup, saat dialog dimulai mulutnya gagap dan dia lupa dialognya membuat syuting terpaksa diulang.


*Visual Liona memgenakan gaun merah saat syuting untuk peran Rosalind si wanita ketiga

__ADS_1



“Ma—maaf. Saya eh...lantai itu...itu...”


Pemeran dan kru yang sedang menonton merasakan keringat dingin melihat adegan kedua wanita itu yang terlihat sangat tegang. Saat itu giliran Vena mengucapkan dialog, tetapi saat matanya bertemu dengan tatapan Liona yang tajam, Vena kehilangan akal dan lupa dialog yang harus diucapkannya.  Mulutnya kaku tak mampu berkata apapun.


“Cut!” teriak Reiki dengan marah. Dia tak menyangka Vena lupa dialognya dan terlihat sangat tidak profesional saat ini.  Mereka tak tahu jika Vena sangat ketakutan berhadapan dengan Liona.


“Vena! Apa yang kamu lakukan, ha? Ini sudah yang kesekian kalinya kamu lupa dialogmu.”


“Maaf!” kata Vena menggigit bibirnya sambil mengubah raut wajah memelas agar semua kru merasa kasihan padanya.


“Baiklah. Sekali lagi. Jika kamu masih seperti itu, syuting hari ini batal!” kata Reiki kesal.


Liona sangat menghayati perannya dan tampil jauh lebih baik dari Vena.  Adegan pun diulang lagi, tapi kali ini Liona menatap Vena lebih tajam dan mengerikan bagai ular pyton yang ingin melilit dan meremas mangsanya sampai hancur. Vena tergagap merasa ngeri melihat tatapan Liona, dia lupa lagi dialognya.


“Cut!”


Reiki sudah hilang kesabaran, hanya adegan sederhana saja tapi harus diulang beberapa kali. “Vena! Aktingmu payah sekali, masa sih kamu kalah dengan artis pendatang baru, hu? Liona bahkan berakting jauh lebih baik darimu. Dasar sial!”


Semua pengambilan gambar itupun gagal semua meskipun sudah diulang berkali-kali.  Reiki yang sudah stress melihat Vena, meminta semua kru untuk beristirahat selama dua puluh menit.


Vena yang marah pada Liona pun berlari mendekatinya “Hei perempuan murahan! Apa yang sudah kamu lakukan padaku ha?” teriaknya. Dia tak menyangka kenapa dia bisa lupa semua dialognya setiap kali berhadapan dengan Liona.


“Hai adikku…..eh salah kita bukan sedarah ya, aku lupa. Vena dengar baik-baik ya, selama aku berada di serial yang sama denganmu dan syuting bersamamu, maka kau akan terus menerus membuat kesalahan. Percaya tidak?” Liona tersenyum pada Vena.


“Diam kau!”


Terikan Vena membuat semua orang menoleh kearah mereka. Vena langsung pergi dan bertekad untuk melatih dialognya. ‘Aku tidak boleh kalah! Liona itu bukan tandinganku, dia bukan siapa-siapa.’ gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2