
“Maaf jika aku belum menjengukmu karena akhir-akhir ini aku sibuk dengan syuting dan mengejar deadline. Terimakasih atas bantuanmu waktu itu. Aku sangat terkejut setelah mendengar kejadiannya.”
Liona hanya tersenyum dan tak mengatakan apa-apa.
“Baiklah. Karena kamu sudah ada disini, mari mulai bekerja. Kita akan mengambil beberapa foto untuk foster publikasi. Pergilah keruang ganti pakaian dan rias wajahmu.”kata Reiki.
“Wah, kebetulan sekali ada adeganmu dengan Naomi hari ini jadi bisa diselesaikan sekalian sore nanti.
“It’s ok. Aku akan menonton saja, mungkin aku bisa belajar sesuatu nanti.” kata Liona.
Liona adalah seorang wanita yang selalu tersenyum dan rendah hati, dia juga suka berkomunikasi dengan orang lain dengan mudah. Reiki sangat menyukai Liona dan dia yakin aktris baru itu tak lama lagi akan melejit.
Di bawah sebuah pohon tampak Vena dan aistennya Rianti sedang beristirahat. Rianti mengambil sebuah kursi untuk Vena dan Rianti mengipasinya karena udara mulai panas.
“Sudah kau lakukan yang tadi kusuruh?” ucap Vena berbisik pada asistennya agar tak didengar orang lain.
“Ya, sudah. Janga khawatir, aku melakukannya dengan hati-hati. Yakinlah semua akan berjalan sesuai rencana. Aku sudah memasukkan zat kimia itu kedalam kosmetik miliknya, wajah cantiknya akan segera hancur dan rusak dalam tiga puluh menit.” kata Rianti menjelaskan. Proses syuting masih berjalan, beberapa adegan sedang diambil. Dalam serial itu pemeran utama pria adalah Yogi Pramudya sedangkan pemeran utama wanita adalah Vena Odelia yang keduanya adalah artis papan atas. Untuk pemeran utama biasanya mereka memiliki ruang ganti sendiri.
__ADS_1
Ada beberapa aktris pendukung lainnya dalam serial itu. Yogi Pramudya berada dalam naungan Wilfred Media bersama seorang aktris pendukung bernama Cindy Pradita berusia dua puluh sembilan tahun dan sudah berakting dibeberapa serial TV dan juga filem. Dia juga mempunyai ruang ganti sendiri. Liona sebagai pendatang baru harus berbagi ruang ganti dengan beberapa aktris pendukung lain. Ruang ganti itu luas dan bersih. Terdapat delapan kursi dan tiga penata rias untuk menata riasan dan baju aktris. Saat Liona masuk hanya ada dua penata rias yang sedangkan yang satu lagi belum datang. “Hai, Liona kenalkan ini adalah Aisyah Maharani, salah satu penata rias disini dan yang ini adalah Ajeng. Kenalkan ini Liona yang akan berperan sebagai Rosalind.” seorang aktris memperkenalkan Liona pada penata rias disana. Mereka pun bersalaman dan bertukar senyum sopan.
Tak lama, seorang staff memasuki ruang ganti membawakan gaun yang akan dipakai oleh Liona. Gaun berwarna merah itu akan dipakai Liona karena adegannya nanti adalah adegan dimana dia menghadiri sebuah pesta, disanalah dia akan bertemu sang Tuan Muda.
Liona memeriksa gaun yang akan dipakainya nanti. Dia memastikan gaun itu tak rusak, lalu dia meminta staff untuk membantunya memakaikan gaun itu. Hari ini adalah syuting pertamanya dan dia akan beradegan dengan Vena. Perang antara mereka sudah dimulai, Liona bertekad akan menunjukkan kemampuannya dan membuat Vena hancur. Perseteruan antara artis sih memang sudah biasa, kadang mereka malah saling menjatuhkan. Dan cara termudah untuk menghancurkan artis adalah dengan merusak pakaian, riasan dan benda lainnya yang akan mereka kenakan. Itu sebabnya Liona sangat hati-hati saat memeriksa gaun yang akan dipakainya.
Untunglah tidak ada yang salah dengan gaun yang akan dipakainya. Karena dia berada dilokasi syuting bersama Vena, maka gadis itu pasti akan berusaha menyakiti Liona. Liona sangat paham hal itu dan ia sangat hati-hati. Setelah selesai berganti pakaian, ia menunggu giliran untuk dirias. Liona duduk menunggu gilirannya, Ajeng tak henti menatap kearah Liona mengagumi kecantikan dan kulit Liona yang putih bersih.
“Ajeng.” panggil Liona saat hanya mereka berdua yang berada didalam ruangan itu. Tanpa ragu Liona menyerahkan sebuah amplop berisi uang pada Ajeng si penata rias. “Maaf ya, aku tak suka memakai kosmetik yang sudah dipakai orang lain. Apa kamu bisa membantuku?”
Liona mengenakan gaun warna merah, rambutnya digulung ke atas, riasan wajahnya tak terlalu tebal dan nampak lebih natural. Gaun merah itu memancarkan aura yang kuat, dengan kulitnya yang putih Liona terlihat bak seorang ratu mengenakan gaun merah itu. Dia bahkan mengagumi dirinya didepan cermin, sangat mempesona, satu persatu aktris pendukung mulai masuk keruang itu dan menatap Liona takjub. Ya Tuhanku!
Mereka meletakkan tangan didada melihat pesona Liona dalam balutan gaun merah. Jika para wanita saja merasa terpesona oleh kecantikan wanita itu, bisa dibayangkan bagaimana reaksi para pria saat melihat penampilannya nanti.
Tak salah Sutradara Reiki Savian memilihnya untuk peran Rosalind. Hanya kecantikan Liona yang bisa menghidupkan karakter Rosalind. Seorang staff datang menjemput Liona dan membawanya kelokasi pengambilan gambar. Sesi pengambilan foto untuk publikasi pun berjalan lancar. Saatnya makan siang dan semua kru sudah duduk ditempat ternyaman yang mereka pilih. Vena memperhatikan Liona dari kejauhan.
“Hei Rianti, kamu bilang semua berjalan lancar. Tapi kenapa perempuan itu terlihat baik-baik saja? Ini sudah beberapa jam dan wajahnya biasa saja.” kata Vena pada asistennya.
__ADS_1
Wajah Rianti langsung berubah, dia tak tahu harus menjawab apa. Dia sudah lakukan apa yang diperintahkan oleh Vena padanya.
“Aku….aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku sudah memasukkan zat kimia itu ke kosmetik. Sesuai dengan apa yang kamu katakan tadi.”
“Sialan kamu! Berani sekali kamu memberi alasan. Bilang saja kalau kamu itu memang tak becus bekerja!” bentak Vena. Rianti pun langsung terdiam dan menundukkan wajahnya.
Vena Obelia dikenal publik sebagai aktris yang lembut da baik hati. Hanya orang dekatnya saja yang tahu betapa buruknya sifat dan perilakunya. Dia seorang gadis yang tak tahu malu, egois, pemarah, iri hati dan suka semena-mena.
“Vena...”
“Pergi sana! Berani sekali kamu menangis didepanku, hu?” dengusnya kesal “Pergi sana! Aku tak mau melihat wajahmu.”
Rianti mencoba menahan diri agar tak menangis lagi. Vena semakin emosi karena rencananya gagal hari ini. Brengsek! Ternyata Liona tak sebodoh dulu. Aku terlalu meremehkannya, pikirnya. Ternyata gadis bodoh itu sekarang sudah banyak berubah, dia lebih pintar dan cerdik.
“Vena, tolong katakan apalagi yang bisa kulakukan. Mungkin aku bisa lakukan hal lain padanya.” ucap Rianti.
“Diam! Sudah telat. Tadi itu waktu yang tepat untuk menghancurkannya.” Vena melototkan matanya menatap tajam sang asisten.
__ADS_1