CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 51. TIDAK BISA TIDUR


__ADS_3

Di dapur terlihat Liona sedang sibuk memasak untuk makan malam. Sedangkan kedua anak itu sedang berada didalam kamar dilantai dua merancang misi balas dendam untuknya. Liona melepas celemeknya dan hendak membawa piring ke meja makan yang berisi capcay dan daging sapi semur.  Tiba-tiba Reynard memeluk pinggang Liona dari belakang dan memegang piring di tangannya “Biar aku saja yang bawa. Kamu sudah lelah masak.” Hembusan napas dan wangi maskulin dari tubuh Reynard menggetarkan tubuh Liona.  Seketika dia merasakan semua sendinya lemas, jantungnya berdetak kencang. Tangan kekar itu mengambil alih piring dari tangan Liona dan tersenyum saat dia melihat wanita itu memejamkan mata.


Reynard meletakkan piring itu diatas meja.  “Apa yang kau lakukan disini? Kapan kau datang?” tanya Liona gugup ketika melihat Reynard menata makanan dimeja makan.


“Apakah kau tidak ingin aku datang kerumah ini?” alih-alih menjawab, Reynard malah balik bertanya.  Liona terdiam, mana mungkin dia melarang Reynard datang kerumahnya, toh rumah ini milik Reynard.  Liona mengembangkan senyum manisnya meskipun masih gugup “Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu.  Kau bisa datang kapanpun kau mau.” kata Liona dengan lancarnya.


“Baguslah kalau begitu! Terimakasih atas undanganmu.  Aku pasti sering datang kesini.”


Perkataan Reynard sontak membuat Liona sadar bahwa dia sudah salah ngomong. ‘Sial! Aku baru saja memberinya ijin untuk bebas keluar masuk dirumah ini.  Bukankah dia punya kunci cadangan? Ya, Tuhan. Apa yang telah kulakukan?’ gumamnya dalam hati mengutuki diri sendiri.


Liona mengatur piring dan gelas di meja makan.  Reynard dan Delvin sudah duduk dan tatapan Reynard tak lepas dari Liona. Wanita itu tak berani menengadahkan wajah menatap Reynard.  “Aku akan memanggil anak-anak supaya mereka turun untuk makan malam.”


‘Memanggil anak-anak? Bukankah itu terdengar seperti istri yang sedang bicara dengan suaminya.  Wajah Reynard langsung sumringah dan menjawab “Baiklah. Panggillah anak-anak kita untuk makan.”


‘Ya, Tuhan.  Kenapa jantungku berdetak semakin kencang? Setiap kali berada didekatnya aku tak bisa mengendalikan diriku.’


Liona pergi ke kamar Elvano dan menyuruh mereka makan malam bersama.  Liona duduk berhadapan dengan Reynard.  Kedua bocah itu saling bertatapan memberi isyarat satu sama lain, entah apalagi yang sedang mereka rencanakan. Tatapan Reynard tak beralih dari Liona hingga makanan di piringnya habis. Makan malam ini sungguh siksaan baginya, Liona merasa lapar dan jantungnya berdebar-debar.  Setelah makan seorang pelayan yang entah kapan datangnya segera membereskan meja makan dan mencuci piring.  Saat Liona bergerak mau membantu pelayan itu, tatapan Reynard seakan melarangnya.  Alhasil Liona pun duduk kembali.


“Papa, apakah papa lelah? Wajah papa pucat sekali. Papa merasa kurang enak badan?” tanya Felicia meletakkan punggung tangannya di kening Reynard.  Liona mendongak dan melihat wajah pucat Reynard.  Saat dalam perjalanan pulang tadi Liona memang tak memperhatikan wajah Reynard, sehingga dia tak melihat jika pria itu kelihatan seperti sakit.  Lingkaran hitam dibawah mata dan wajahnya yang pucat.  Reynard merasa tidak nyaman lalu bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Tuan...”


“Cukup panggil namaku.  Kita tidak sedang berada di tempat kerja.”


“Baiklah. Kau kenapa? Ada yang bisa kulakukan untukmu?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat.”


“Papa! Papa tidak bisa tidur lagi ya? Sudah berapa hari papa tidak tidur?” tanya Felicia yang mengetahui keadaan ayahnya.  Reynard tak bisa menutupi apapun dari gadis kecil itu.  Felicia menuangkan air di gelas dan menyodorkan pada Reynard dengan tatapan cemas.  Reynard mengecup kening putrinya dan mengelus kepala Felicia. “Papa baik-baik saja, sayang.  Kau jangan khawatir ya.”


“Papa bohong. Feli bisa lihat wajah papa pucat dan itu---dibawah mata papa hitam.”  Felicia berteriak sambil menangis terisak-isak. “Paman Delvin, sudah berapa malam papa tidak bisa tidur?”


“Baru tiga empat hari,sayang.” jawab Delvin melirik Liona.  “Terakhir kali papamu bisa tidur nyenyak saat di rumah Elvano.  Sudah semingguan ini papamu hanya tidur satu atau dua jam saja.” Felicia yang mendengarnya pun langsung menangis pilu.


“Papa bohong.  Feli bukan anak kecil lagi, aku sudah empat tahun. Aku tidak bodoh.”


Felicia semakin menangis lalu lari keluar, Elvano langsung mengejarnya. Liona juga langsung menyusul mengejar Felicia. Felicia berlari naik kelantai atas dan meringkuk disudut balkon.


“Kamu jelek sekali jika menangis.  Menangis tidak membuat masalah selesai.  Jangan nangis ya Feli.” bujuk Elvano memeluk tubuh gadis kecil itu layaknya seorang kakak. Melihat sikap perhatian Elvano justru membuat tangis Felicia semakin kencang. 

__ADS_1


“Papa sakit, kak. Aku tidak punya mama sekarang papa sakit. Aku tidak mau kehilangan papa juga.  Aku tidak mau jadi anak yatim piatu. Huaaa…..huaaaa…..nasibku menyedihkan….huaaaa.” isaknya.


“Sakit? Apa maksud Feli bilang papa nya sedang sakit.” Liona berdiri terpaku.  “Sayang, Apa maksudmu?” tanya Liona. “Papamu sehat bagaimana mungkin dia akan meninggal?” Felicia menyeka airmatanya lalu menatap Liona, dia pun menceritakan semuanya pada wanita itu sambil tersedu-sedu.  Akhirnya Liona mengetahui apa yang terjadi pada Reynard.  Setelah mengunjungi psikiater, ternyata Reynard menderita trauma dan insomnia akut. Kecelakaan maut yang merenggut ibu Felicia menjadi penyebabnya.


Sejak itu Reynard mengalami susah tidur.  Awalnya dia mengkonsumsi alkohol dan setelah itu dia bisa tidur, kadang minum obat tidur. Namun tubuhnya semakin tak bereaksi terhadap obat tidur.  Bahkan berbagai terapi yang dilakukannya pun tak membuahkan hasil. Dokter Ardana adalah teman Reynard dan Delvin sejak kecil pun tak mampu membantunya.  Semakin lama insomnia Reynard makin parah.  Hingga pada hari itu di rumah lama Liona akhirnya Reynard bisa tidur nyenyak.


Jadwal kerja Reynard yang padat dan kurang tidur mempengaruhi kesehatannya.  Itu sebabnya sikapnya selalu tegang dan dingin.  Jika masalah ini tidak segera diatasi, Reynard bisa terkena berbagai penyakit seperti stroke, jantung, darah tinggi bahkan kematian mendadak. “A—apakah tidak ada pengobatan untuk papamu?”


Felicia menengadah memandang Liona lalu menggeleng, “Semua udah dicoba mama Liona tapi papa tidak sembuh….huaaaaa.”


Tak berapa lama Dokter Ardana tiba dan langsung memeriksa Reynard.  Dia terlihat cemas saat melihat wajah Reynard yang pucat pasi.  “Sudah berapa hari kamu tidak tidur?”


“Empat hari...” jawabnya melirik Liona yang juga terlihat mencemaskannya.


“Apa? Empat hari? Kenapa kamu bisa ceroboh! Kamu tahu kan kondisi fisikmu?”


“Aku hanya tidak bisa tidur.”


Ardana terdiam, apalagi yang bisa dia katakan. Toh semua cara sudah dilakukan tapi tak berhasil.  Tiba-tiba dia teringat sesuatu.  “Dimana Delvin?”

__ADS_1


“Aku disini.”


“Kamu ingat saat Reynard tertidur dirumah lama Liona waktu itu?” tanya Ardana, kedua pria itupun melirik kearah Liona.  “Ayo kita ke villa sebelah.” Ketiga pria itu pergi ke villa sebelah bersama Felicia yang digendong Delvin. Liona yang khawatir menarik tangan Elvano dan ikut pergi kerumah sebelah. Mereka langsung menuju ke kamar Reynard tanpa membuang waktu lagi. Liona mengedarkan pandangan kesekeliling kamar itu, dia kagum dengan desain kamar yang maskulin.  Terdengar musik lembut mengalun diruang kamar itu dan Reynard yang berbaring diatas tempat tidur.  Pelayan menurunkan tirai jendela.


__ADS_2