CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 121. KESAL ATAU CEMBURU


__ADS_3

Liona bingung, “Kau barusan bilang apa?”


“Aku akan melakukan seperti yang kau katakan tadi. Maksudku, aku tidak akan bekerja sekarang.”


Liona melongo lagi, saat mata mereka bertemu wajah wanita itu langsung memerah. ‘Oh…..sepertinya apa yang dikatakan Delvin itu memang benar. Reynard mengikuti saran yang aku berikan.’ Liona mengalihkan pandangan dan bertanya.


“Lalu kenapa kau berpakaian seperti ini? Apakah kau berencana untuk pergi berkencan?” Begitu selesai mengucapkan kalimat itu, Liona langsung menyesal. ‘Oh tidak! Kenapa aku membuka mulut besarku ini? Sekarang Reynard akan berasumsi bahwa aku merasa cemburu karena dia mungkin akan berkencan dengan wanita lain yang dipilihkan orangtuanya atau semacamnya.’


Liona mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Reynard.


Begitu Liona mengangkat kepalanya, dia melihat tatapan penuh harap dimata Reynard. Mengetahui bahwa pria itu telah salah paham, Liona melambaikan tangannya menjelaskan dengan cepat, “Aku…...bukan itu maksudku tadi.”


“Lalu apa maksudmu sebenarnya?” Reynard bertanya balik.


‘Apa yang aku maksud? Aku juga tidak tahu!’ pikir Liona dalam hati, dia bahkan tidak tahu bagaimana harus memberi penjelasan pada pria itu.


“Uhm….aku dengar dari Felicia bahwa teman kencan buta yang kau temui tadi adalah wanita yang sama dengan wanita di restoran pada hari aku kembali ke kota ini. Aku tahu ini adalah masalah pribadimu dan keluargamu. Tapi menurutku, kau juga harus meminta pendapat si kecil. Dia adalah putrimu satu-satunya dan pendapatnya sangat penting dalam hal ini. Kurasa dia sangat tidak menyukai wanita itu.”


Liona berhentu sejenak kemudian melanjutkan, “Yang harus kau perhatikan adalah karakter moral wanita yang akan menjalin hubungan asmara denganmu. Bagaimanapun juga, dia akan menjadi ibu tiri Felicia di masa depan. Jika dia memiliki karakter yang buruk, ada kemungkinan dia akan memperlakukan Felicia dengan buruk. Nanti Felicia akan sangat mengerti. Apa kau tega?”


Wajah Reynard sontak berubah menjadi gelap. Dia sangat kesal pada wanita bodoh didepannya ini. ‘Bagaimana dia bisa tetap tenang setelah mengetahui bahwa aku melakukan kencan buta dengan wanita lain?’ Reynard tetap diam dan berusaha menahan rasa kesalnya. Dia tidak menyadari bahwa Liona merasa depresi saat membicarakan topik mengenai calon pacar pria itu. Liona tahu bahwa Felicia sangat menginginkan seorang ibu.


Dia takut setelah Reynard menikah, Felicia tidak akan menghabiskan waktu dengannya lagi. Tiba-tiba suatu pemikiran melintas dikepala Liona. Dengan ekspresi serius diwajahnya dia bertanya, “Apakah kencan butamu hari ini berjalan sukses? Apakah kau setuju untuk mulai berkencan dengan wanita itu?”


Aura dingin disekitar Reynard sedikit berkurang. “Kenapa kau bertanya? Memangnya kau peduli?” tanya Reynard dengan suara dingin dan agak kesal.

__ADS_1


“Tentu saja aku peduli!” jawab Liona.


Tetapi sebelum Reynard sempat menajwab, Liona sudah mendahului, “Jika kencan butamu tadi berhasil, maka kita dapat membatalkan perjanjian kita.” Saat mengucapkan kalimat itu Liona merasakan dadanya sesak. Dia merasakan hatinya sangat sakit, dia tahu orangtua Reynard tidak suka mempunyai menantu dari kalangan aktris. Dan dia tahu jika orangtua pria itu tidak menyukainya karena profesinya.


“Kenapa?” Reynard bertanya dengan raut wajah bingung.


“Kau masih berani bertanya kenapa? Jika kau setuju untuk berkencan dengan wanita itu, maka kau akan memiliki pacar. Aku memiliki prinsip moral yang ketat. Aku setuju dengan perjanjian kita karena aku peduli padamu dan kesehatanmu. Tapi yang paling penting adalah kita berdua masih lajang. Setelah kau punya pacar, aku tidak bisa berada disini lagi dan aku tidak bisa membantumu lagi.” kata Liona dengan kesal.


Kemudian dia buru-buru mengatakan, “Aku beritahu ya, aku tidak akan tidur dengan pacar orang lain. Tidak! Aku bukan wanita seperti itu.” ujarnya penuh kekesalan. Dia juga memiliki nilai-nilai moral yang harus dia jaga. Ekspresi wajah Reynard menjadi gelap.


‘Jadi dia penasaran dengan hasil kencan tadi bukan karena dia peduli padaku, tetapi karena dia tidak mau melanggar prinsip moralnya.’ pikir Reynard. Pria itu menarik napas dalam-dalam untuk menahan amarahnya.


“Hei! Kau kenapa?” Liona bertanya ketika dia melihat ekspresi Reynard yang sedikit aneh.


“Tidak apa-apa.” jawab Reynard.


“Hei kau mau pergi kemana?” tanya Liona.


“Aku butuh air dingin.” jawab Reynard singkat. Minum air dingin mungkin bisa membantunya merasa lebih baik. Cepat atau lambat dia akan benar-benar marah pada wanita itu. Liona segera mengambil langkah besar untuk mengejar pria itu.


 


“Kau belum memberitahuku bagaimana hasil kencan buta mu tadi.”


“Tidak ada.”

__ADS_1


“Apa kau bilang?” tanya Liona lagi.


Reynard turun ke dapur dan mengeluarkan sebotol air dingin dari lemari es, dia membuka tutupnya dan meminum beberapa teguk. Liona terkesima lagi. Saat Reynard minum air, wajahnya menghadapnya dan Liona melihat rahang pria itu sedikit terangkat dan jakunnya naik keatas dan kebawah dengan jelas.


Jujur saja, Liona merasa Reynard terlihat sangat seksi. Liona terus menatap Reynard tanpa berkedip. Tanpa sadar dia menelan salivanya dengan sangat keras. Suaranya begitu keras hampir sebanding dengan suara saat Reynard meneguk air. Pria itu menatap lurus kemata Liona. Aliran panas mengalir ke dahi wanita itu, dan pipinya memerah.


“Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku juga merasa haus.”


Mata Reynard menjadi gelap. Tapi beberapa saat, ekspresi wajahnya yang keruh kembali normal. ‘Jadi apakah dia hanya berpura-pura tenang?’ pria itu bertanya pada dirinya sendiri. Reynard menyerahkan botol air ditangannya pada wanita yang sedag berdiri didekatnya. Liona merasa gugup sehingga telapak tangannya mati rasa. Untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar haus, dia mengambil botol dari tangan Reynard dan meminum beberapa teguk tanpa ragu-ragu.


Ketika Liona meletakkan botol setelah selesai minum, dia melihat senyum tipis dimata Reynard. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Liona.


Reynard bersandar dilemari es dan berkata perlahan, “Aku baru saja minum air dibotol itu.”


‘Jadi kami melakukan ciuman tidak langsung lagi? Brengsek!’ pikiran Liona menjadi kosong dalam sekejap kemudian wajahnya memerah seperti awan matahari yang terbenam di sore hari.


“Kau…..kau….”


“Apakah kau masih haus?” tanya Reynard lagi.


“Ya sedikit.” jawab Liona.


Mendengar jawabannya, Reynard meraih pergelangan tangan Liona dan berkata, “Ayo ikut aku!”


“Kemana?”

__ADS_1


“Kau akan tahu nanti.” jawab Reynard tersenyum. Reynard membawa Liona kesebuah ruangan yang berada disudut paling kanan. Liona belum pernah masuk keruangan itu sebelumnya dan tidak tahu ruangan apa itu.


Lalu membuka pintu dan menyalakan lampu. Liona memejamkan mata sejenak karena merasa silau. Lampu-lampu diruangan itu sangat terang, ruangan itu dicat dengan warna hitam putih dan ada beberapa lemari dan rak yang penuh dengan berbagai macam jenis anggur. Selain anggur juga ada minuman keras lainnya seperti wiski, brandy, bir, cognac dan sampanye. Mata Liona melebar. Dia bisa melihat ratusan botol minuman kerasa tertata dengan rapi diruangan ini.


__ADS_2