
“Hahaha….hahaha….kakak...kakak…..kamu telah menjebak Liona dalam kontrak kerja agar dia tak bisa lagi menjalin hubungan dengan pria lain. Kakak sadar tidak kalau kakak berkencan dengan Liona maka kakak harus membayar pinalti yang besar? Ha...ha...ha. Kakak niatnya mau menjebak malah ikutan terjebak juga, sepertinya perjuangan kakak untuk menikahi Liona masih butuh perjuangan lagi nih.” Delvin bicara sambil tertawa terbahak-bahak.
“Oh...jadi kamu pikir itu lucu ya? Apa kamu lupa point di kontrak itu, jika dia mau berkencan maka harus ada persetujuanku. Jadi aku tak perlu membayar pinalti” balas Reynard. Sontak Delvin teringat point itu tertulis dalam kontrak. Benar-benar licik Kak Reynard, Liona mungkin tak sadar kalau dirinya sudah masuk perangkap kakakku pikirnya sambil terus tertawa.
“Coba kakak pikir, apa pernah ada orang yang melakukan hal gila seperti kakak untuk mendapatkan seorang wanita? Ha...ha….ha….ha.” pria itu terus tertawa sambil memukul-mukul pahanya.
“Delvin! Berhenti tertawa!”
“Iya, maaf kak.”
“Kamu kan sudah sering jatuh cinta dan berkencan dengan banyak perempuan. Pengalamanmu soal berkencan sudah banyak, iyakan?” tanya Reynard menatap tajam adiknya.
“Apakah kakak ingin memintaku untuk mengajarimu cara untuk memikat wanita? Oh, kakak! Wajahku tampan dan aku baik hati, aku tak pernah mengejar wanita malah mereka yang mengejarku. Jadi maaf beribu kali maaf kakak, jangan memintaku untuk mengajarimu cara mengejar wanita. Kakak bahkan lebih tampan dariku, senyummu sangat mempesona jadi aku rasa bukan hal yang sulit bagimu untuk mengejar Liona.”
... *...
Liona baru saja sampai dirumahnya, para pekerja suruhan Reynard sedang memindahkan barang-barang mereka keluar. Tampak Felicia dan Elvano sedang duduk berdampingan di sofa, terlihat mereka sedang berbincang serius. Felicia mengeluarkan kotak dari dalam tasnya dan memberikannya pada Elvano.
“Apa isi kotak ini?” tanya Elvano penuh rasa ingin tahu.
“Itu isinya barang berharga yang ku kumpulkan.” jawab gadis kecil itu. Kotak itu terasa berat lalu Felicia mengeluarkan kunci dan membuka kotak itu. Benda berkilauan memenuhi kotak itu, berlian dan emas dari ukuran kecil sampai besar. Elvano terkejut dan langsung menutup kotak itu. “Kak Elvano, semua itu adalah hadiah yang kukumpulkan sejak aku masih kecil. Paman Delvin yang memberikannya padaku, dia selalu mendapat berlian yang bagus dan membelinya untukku. Dan emas batangan itu hadiah dari papa dan paman Delvin juga. Apakah kakak menyukainya?” kata Felici menjelaskan sambil menatap wajah Elvano untuk melihat reaksinya.
Elvano membuka lagi kotak itu dan memperhatikan, semua berlian dan emas batangan yang ada dalam kotak. Entah berapa nila total semuanya tapi yang jelas sangat mahal. Bahkan ada berlian dengan berbagai warna juga. “Apakah kakak menyukainya?” tanya Felicia lagi. “Semua itu benda paling kusukai dan Kak El yang pertama melihatnya. Kakak bisa memiliki isi kotak itu.” kata Felicia lagi.
“Kalau semua ini untukku, lalu apa yang kamu mau dariku?” tanya Elvano.
__ADS_1
“Aku ingin meminta sesuatu, jangan khawatir kak karena yang kuminta bukan hal buruk. Karena aku sudah memberi harta ku paling berharga untuk kakak, bisakah kakak berbagi Mama Liona denganku?”
“Apa? Berbagai mama? Kamu kok nggak menyerah juga sih?”
“Ehm...aku sangat menyayangi mama Liona. Aku takkan menyerah selamanya. Aku akan berjuang agar Mama Liona bisa jadi mama ku juga.” Wajah Felicia tampak serius saat mengucapkan itu. Saat Liona berjalan mendekati mereka, Felicia langsung berlari kepelukannya.
“Mama Liona!” serunya “Kapan mama sampai? Aku sangat rindu sama mama.” ujar Felicia memeluk Liona erat seakan tak ingin jauh darinya. Felicia menciumi wajah Liona dengan ekspresi sangat menggemaskan.
“Mama Liona tahu tidak kalau aku sangat merindukanmu. Papa jahat banget samaku. Aku harus memohon agar dapat ijin dari papa untuk datang kerumah mama, aku sangat rindu sama mama dan kak Elvano….”
Liona melirik Elvano dan tersenyum, mereka tahu jika Felicia hanya akting dan terlalu melebih-lebihkan. Felicia dan Reynard punya karakter yang sama dan licik.
“Mama, apakah kita harus pindah malam ini juga?” tanya Elvano mengalihkan pembicaraan. Liona menjawab dengan anggukan. “Apa El sudah mengemasi semua barang-barangmu?”
“Sudah ma. Ini aku masukkan dalam tas.” jawab Elvano menunjukkan tas ransel berisi barang-barang miliknya.
“Mama kenapa bengong? Apa kita tidak jadi pergi?” tanya Elvano.
“Maafkan mama ya sayang, mama tidak tahu alamat rumah baru kita! Mama lupa nanya tadi.”
“Felicia pasti tahu alamat rumah baru kita.” ujar Elvano melirik ke gadis kecil itu. "Feli, dimana alamatnya?"
Mendengar ucapan Elvano, tiba-tiba Felicia punya ide cemerlang. “Mama Liona telepon papa saja. Pasti papa tahu alamatnya.” kata Felicia memiringkan kepalanya menatap Liona yang tak punya nomor telepon Reynard.
Felicia berpura-pura mencari ponsel miliknya dalam tas, lalu dia menggelengkan kepala “Maaf ya Mama Liona. Papa tidak mengijinkan aku bawa ponsel karena aku masih kecil. Tapi aku hapal nomor telepon papa. Mama Liona bisa hubungi papa.”
__ADS_1
“Baiklah. Berapa nomornya?” tanya Liona tanpa pikir panjang. Felicia langsung menyebutkan serangkain angka. Liona menghubungi nomor itu, Reynard dengan cepat menjawab. “Halo.”
“Maaf Reynard, aku ada sedikit masalah. Staf perusahaan yang mengemasi barang-barangku sudah pergi, aku lupa menanyakan alamat rumah baru. Apakah kamu bisa memberikan alamatnya padaku?”
“Ya. Kamu tambahkan nomorku di kontak whatsapp mu. Akan kukirimkan alamatnya.”
‘Ihhhh,menyebalkan banget sih ini orang, kenapa tidak kasi tahu saja langsung alamatnya? Pake nyuruh simpan nomor telepon lagi, gerutu Liona dalam hati.
“Baiklah. Terimakasih ya.” Setelah sambungan telepon terputus, Liona menyimpan nomor telepon Reynard dan membuka aplikasi whatsapp dan mengirimkan pesan singkat pada Reynard. Beberapa detik kemudian pria itu langsung membalas dan mengirimkan alamat rumah beserta lokasinya. Bahkan pria itu mengirimkan pesan suara, terdengar suara maskulin dan seksi pria itu “Felicia sangat merindukanmu. Tolong bawa dia kerumah baru ya dan jaga dia sebentar. Aku akan datang menjemputnya.”
Liona hanya menjawab singkat dan menggoda “Iya, sayang.”
Reynard yang membaca pesan balasan Liona tersenyum penuh arti. ‘Akhirnya berhasil juga, gumamnya puas.
Sementara Felicia menahan senyum karena rencana liciknya berhasil. Luar biasa, papa dan mama Liona saling kirim pesan. Sepertinya Felicia dan Reynard sama liciknya. Like father like daughter. Namun Elvano tahu jika Felicia sengaja melakukan itu. Tadi Elvano sempat melihat ponsel Felicia berkedip-kedip dalam tasnya, sengaja dibuat tak bersuara.
“Felicia, kamu tahu tidak kalau ponselmu ada dalam tas mu.” kata Elvano menatap wajah Felicia ingin melihat reaksinya. Tak bisa berkata-kata lagi, Felicia hanya melongo “Aduh! Aku ketahuan ya!” ujarnya terkekeh.
*Ini visual Reynard Wilfred
*Yang dibawah ini visual Delvin Wilfred (adiknya Reynard)
__ADS_1