CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 85. KAU TERLALU BOROS


__ADS_3

“Vena, saranku cobalah untuk menahan diri agar tidak mencari masalah dengan Liona dimasa depan. Dia memiliki koneksi yang sangat baik di Wilfred Media dan dia adalah tunangan Tuan Reynard. Jika kau membuat masalah dengannya maka akan membuatmu terlibat masalah besar. Kau tahu tidak kalau beberapa hari lalu aku mendengar sesuatu….” ujar Shima.


“Apa yang kau dengar?” tanya Vena lalu menatap agennya dengan penuh harap.


“Aku dengar rumor yang mengatakan kalau dewan perusahaan telah memerintahkan untuk menjaga dan melindungi Liona agar tidak terlibat skandal dengan cara apapun.Wilfred Media memiliki artis dan selebritis dibawah naungannya termasuk beberapa superstar terkenal. Banyak orang yang bertanya-tanya kenapa Liona bisa mendapat perlakuan khususu. Bukankah itu hal mencurigakan? Terlepas dia adalah tunangan Tuan Reynard tapi dalam pekerjaan seharusnya bersikap profesional.”


Otak Vena pun langsung berputar memikirkan berbagai kemungkinan. Kemudian dia menemukan sebuah ide cemerlang dan tersenyum sinis.


“Vena...”


“Ssst….” Vena mengangkat jari kedepan bibirnya membuat Shima terdiam. “Aurora sudah hancur, aku harus mencari orang lain untuk mengalahkan Liona. Dan kali ini akan kupastikan si wanita ****** itu benar-benar hancur dan takkan bisa bangkit lagi.”


...******...


Suatu siang di rumah kediaman Reynard. “Wah rumah ini memang tempat yang paling nyaman. Akhirnya aku bisa pulang.” ujar Delvin lalu duduk di sofa dengan menyilangkan kaki. Seorang pelayan datang membawakan satu teko jus jeruk peras dan meletakkan diatas meja. Delvin lalu menuangkan jus ke dua gelas dan memanggil anak-anak yang sedang berkeliaran diruang tamu. “Felicia1 Elvano! Ayo kemari ada jus jeruk peras ini.”


“Aku datang!” teriak kedua anak itu serempak.


Felicia berlari keruang keluarga, wajahnya merona merah dan keringat menetes kemana-mana. Sedangkan Elvano berjalan masuk keruang keluarga dengan langkah pelan seperti layaknya seorang pangeran kecil yang elegan.


Delvin menggelengkan kepalanya berulang kali, dia tak habis pikir bagaimana bisa kedua anak itu memiliki kepribadian yang berbeda tapi bisa berteman dengan baik.


Reynard dan Liona pun memasuki ruang keluarga dan berdiri dibelakang anak-anak. Ruangan itu memiliki pintu dorong yang lebar yang langsung terhubung ketaman bunga dan kolam ikan membuat udara sejuk sepanjang hari. Begitu masuk kesana Liona merasa lebih nyaman.  Dia meminum jus jeruk yang diberikan oleh pelayan. “Ahhhh….segara sekali minuman ini.”

__ADS_1


“Apakah sudah selesai?” tanya Reynard pada Delvin sambil memegang gelas berisi jus jeruk ditangannya. Delvin hanya memberikan kode dengan jari tangannya pada kakaknya. Liona sedikit bingung melihat interaksi kedua kakak beradik itu.


“Ikut aku keatas.” kata Reynard.


“Eh…?” Liona heran.


Reynard meletakkan gelasnya dimeja lalu menarik tangan Liona menuju ke kamar nya. Liona semakin bingung menyadari jika Reynard membawanya kekamar pria itu. “Kenapa kau membawaku ke kamarmu? Kau mau apa? Ada ramai orang dirumah.”


Melihat reaksinya, tubuh Reynard menegang. “Masuklah dan lihat sendiri.”bujuknya pada Liona.


Reynard mendorong pintu lalu Liona masuk kedalam kamar itu dengan tatapan kagum. Sebelumnya kamar Reynard itu meninggalkan kesan mendalam baginya, saat itu kamar itu hanya memiliki tiga warna yaitu hitam, putih dan abu-abu.


Liona masih mengingat jelas warna gorden hitam yang tebal dan tempat tidur king size bergaya Eropa berwarna putih. Namun kamar itu kini telah berubah total.


Tirai hitam tebal juga telah diganti menjadi warna biru muda senada dengan warna seprai. Wallpaper hitam digantikan dengan warna putih tulang dan sofa kusam juga sudah diganti dengan sofa baru berwarna biru tua.


Suasana gelap dikamar itu kini berubah menjadi cerah dan lembut, penuh vitalitas. Didominasi dengan warna putih tulang, biru muda dan ornamen warna emas. Membuat kamar itu menjadi sangat mewah.


Reynard mengamati reaksi wanita itu dengan seksama, dia memang sengaja mengubah design kamar tidurnya untuk kenyamanan Liona. Saat dia melihat ekspresi Liona yang kaget tatapan matanya berubah menjadi lembut dan senyum tersungging dibibirnya. Dia merasa puas hasilnya akan membuat wanita itu senang.


“Apakah kau menyukai dekorasi ruangan ini? Bagaimana menurutmu pemilihan warnanya?”


“Apa?” Liona yang masih takjub memandang seluruh kamar tak fokus.

__ADS_1


Reynard lalu menarik Liona berjalan ke kompartemen kamar tidur, sebuah pintu kamar tidur yang langsung terhubung keruang pakaian Reynard.


Didalam walk in closet seluas empat puluh persegi itu terdapat beberapa deretan lemari. Reynard membuka pintu lemari dan memperlihatkan deretan jas dan kemeja desainer mahalnya yang tersusun rapi. Setelan celana terlipat dengan rapi dan barang-barang kecil juga diletakkan didalam laci dengan teratur.


Deretan kabinet kaca berisikan jam tangan mewah milik Reynard dan aksesoris lainnya seperti dasi, manset. Sedangkan disisi lemari lainnya khusus diisi dengan kaus kaki dan ****** *****.


Semuanya diatur dengan rapi sehingga mudah untuk menemukan barang. Mata Liona terbelalak melihat isi ruang pakaian Reynard. Nilai total dari semua barang-barang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup beberapa orang tanpa perlu bekerja keras.


Liona berpikir harga satu pakaian Reynard mungkin berkisar puluhan juta, dia langsung merasa duni ini tidak adil karena dirinya ataupun orang lain bekerja sejak pagi hingga malam tapi hingga saat ini belum bisa mendapatkan status ekonomi yang sama dengan pria ini.  “Dasar pria boros! Buat apa menghabiskan uang sebanyak ini? Kau suka ya membuang uang sembarangan!” ujar Liona marah.


“Kenapa kau bilang begitu? Apa kau marah karena merasa tak adil?”


“Ya tentu saja! Kau sedang memamerkan kekayaanmu. Apakah kau tidak tahu jika semua ini bisa membuat orang lain iri?”


“Ha ha ha tidak perlu merasa iri padaku.” kata Reynard terkekeh merasa lucu melihat tingkah Liona.


Liona memang merasa iri tapi dia tak mungkin mengakuinya. Ketika Reynard berjalan ke sisi lain ruang ganti itu, Liona melihat sebuah tirai yang memisahkan ruang ganti dengan sebuah ruangan kecil. “Ruang apa itu?”


Reynard tidak menjawab, dia membuka tirai dan membuat mata Liona hampir meloncat keluar.


Ruangan itu adalah walk in closet yang sama luas dan indahnya dengan walk in closet Reynard tapi ruangan ini dipenuhi dengan deretan pakaian wanita. Lemari diruangan itu berisi T-shirt, kemeja, gaun, jeans dan celana kasual terbaru musim ini dari beberapa merek terkenal.


Ada juga deretan tas, jam tangan, sepatu dan aksesoris branded. Mulut Liona menganga apalagi saat dia melihat lemari berisi deretan sepatu yang jumlahnya ratusan

__ADS_1


__ADS_2