CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 137. APA ALASANNYA


__ADS_3

“Pada saat itu aku berpikir mungkin Hiro yang sudah membantunya untuk menyembunyikan semua informasi tentangnya. Tapi setelah melihat video tadi, sepertinya Liona menyembunyikan sesuatu tentang dirinya.”


Reynard hanya diam saja tak menanggapi perkataan adiknya dan fokus dalam pikirannya. Sebuah pertanyaan melintas di kepalanya. Reynard tanpa sadar mengetukkan jarinya ke jendela dan mengingat sesuatu. Ketika Liona sedang mabuk berat kemarin malam dia banyak bertanya apakah wanita itu menyukainya atau tidak.


Liona menjawab bahwa dia tidak bisa meskipun dia mau. Reynard sedikit terganggu dengan jawaban itu. Kenapa wanita itu tidak bisa menjawab dengan tegas? Apa alasan Liona yang sebenarnya? Mengapa wanita itu tidak bisa menyakinkan dirinya sendiri untuk mencintai Reynard padahal mereka sudah tinggal bersama?


‘Apakah ini alasannya? Ada yang dia sembunyikan dariku tentang masa lalunya? Tapi apa itu? Dia seperti ketakutan akan sesuatu saat bercerita waktu itu tapi dia tidak mengatakan apapun tentang itu.’ Reynard bertanya-tanya didalam hatinya.


“Kak Reynard, kukira Liona bukanlah wanita sederhana seperti yang kita pikirkan selama ini.” kata Delvin secara tiba-tiba. "Banyak hal tentangnya yang seperti rahasia."


Reynard menggigit bibirnya dan menatap dingin adiknya lalu berkata, “Bukankah dia sama seperti diriku, kami sama-sama tidak sederhana.” balasnya. Perkataan Reynard itu membungkam Delvin. "Kami tidak banyak berinteraksi dengan orang lain."


‘Lupakan saja! Lupakan saja. Kakak memang lebih berkuasa tidak ada yang bisa mengalahkan kak Reynard dalam hal apapun.” bisik hati Delvin. 'Apapun itu yang menyangkut Liona tidak akan artinya jika kubahas dengannya.'


Pada saat itu supir segera menghidupkan mesin mobil dan melesat pergi. “Apakah kakak ingin aku menghubungi koneksi kita diluar negeri untuk menyelidiki tentang masa lalu Liona saat dia tinggal disana?” tanya Delvin dengan penuh perhatian.


“Tidak perlu!” jawab Reynard tegas.


“Kenapa kak?” Delvin bertanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan bingung.


“Liona pasti akan memberitahuku jika dia sudah siap.” jawab Reynard. "Biarkan saja. Aku tidak mau mengusik dan membuatnya tak nyaman jika aku mencari tahu tentang masa lalunya."


Sementara itu didalam sebuah kamar lain di hotel yang sama. Adam yang sudah membooking kamar bulan madu itu yang rencananya akan dipakai oleh Tuan Anjas untuk bersenang-senang dengan Liona tapi sepertinya rencananya itu gagal kali ini.

__ADS_1


Tapi Liona yang tahu apa yang sudah direncanakan oleh orang-orang itu tidak akan pergi begitu saja. Dulu Adam pernah menggunakan trik ini untuk menjebaknya. Dan saat itu Adam berniat menjual Liona pada Tuan Anjas juga.


Dia ingat dulu Tuan Anjas juga hampir melecehkannya tapi dia berhasil melarikan diri. Saat itu Adam ingin menjual Liona kepada Tuan Anjas. Kini Adam ingin melakukan hal yang sama karena dia mengira Liona masih gadis lemah. Apalagi sekarang putrinya itu semakin cantik dan seksi sehingga membuat Adam berpikir bisa menghasilkan uang yang banyak.


BRAAAKKK


Liona menendang pintu kamar itu dengan kekuatan penuh dan dirinya disambut pemandangan Tuan Anjas yang bertelanjang dada menatapnya dengan seringai mesum. Ada dua orang pria berotot lainnya didalam kamar itu. Kedua pria itu adalah orang bayaran Adam.


Liona berteriak menatap Tuan Anjas, “Binatang! Dasar bajingan!”


Liona mendorong tubuh Elvano kebelakang dan dia bergerak masuk kedalam kamar lalu dalam sekejap mata pisau bedah itu terbang seperti anak panah lepas dari tali busurnya dan tepat mengenai sasarannya.


Kemudian terdengar jeritan kesakitan Tuan Anjas yang memekakkan telinga semua orang. Darah menyembur keluar tak terkendali dari luka menganga ditubuh pria itu. Adam menatap geri kearah Tuan Anjas yang mengalami pendarahan hebat sambil gemetar ketakutan.


‘Kenapa bisa begini? Mampus aku! Kalau sampai Liona membunuh Tuan Anjas maka aku akan mendapat masalah besar! Aku tidak mau masuk penjara! Liona sangat kejam, dia bisa membunuh siapa saja dalam kedipan mata dan dia tidak takut sama sekali.’ bisik hati Adam.


Sontak tubuh salah satu pria berotot itu langsung lemas dan dia berlutut dilantai. Dia bersujud dan memohon belas kasihan pada Liona, “Dulu Tuan Anjas yang memintaku untuk menculikmu. Aku hanya mengikuti perintahnya saja. Tolong maafkan aku. Aku mohon maafkan aku.”


Liona sudah kehilangan akal sehatnya, semua rasa sakit yang dirasakannya di masa lalu seakan terbuka kembali setelah melihat manusia-manusia menjijikkan didepan matanya ini. Hanya ada satu pikiran dibenaknya saat ini, membunuh semua pria bajingan ini! Dia meletakkan pisau yang sangat tajam itu di leher Tuan Anjas.


Pria itu membelalakkan matanya ketakutan, dia merasakan saat kematian sangat dekat dengannya. Seolah-olah dengan sengaja menyiksa pria itu, Liona mengangkat pisau dan bergerak perlahan. Begitu Liona hendak menggorok leher Tuan Anjas, sebuah tangan memegangi tangan Liona dengan erat.


Tangan Liona yang sedang memegang pisau itu pun meleset dari targetnya. Kemudian pergelangan tangannya dipelintir kearah belakang tubuhnya.

__ADS_1


“Clang!” pisau ditangannya terjatuh ke lantai dan pria pengecut itu tersungkur ke lantai. Liona berbalik dan berhadapan dengan Reynard yang sedang memegang tangannya dan menatapnya lembut.


“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku harus membunuh bajingan itu!” Liona menatap Reynard dengan tatapan dingin. Dia tidak terlihat seperti dirinya. Rahang Reynard terkatup rapat dan bibirnya membentuk garis tipis.


Dia menarik tangan wanita itu kearah tubuhnya. Liona mengerang dan jatuh kedalam pelukan hangat Reynard. Dia memegang pinggang Liona dan menendang pisau yang ada dilantai.


“Delvin!” panggil Reynard saat dia hendak membawa Liona keluar ruangan. “Tangani mereka semua!” perintahnya pada adiknya itu.


“Baik kak. Jangan khawatir! Semua akan kubereskan!”


Liona masih berusaha keras untuk melepaskan dirinya dari pelukan Reynard. Wanita itu menggoyangkan lengannya dan berteriak.


“Mereka pantas mati! Mereka semua pantas mati! Jika dulu aku tidak bisa membalas mereka tapi sekarang aku akan membunuh mereka semua!”


Reynard tak mempedulikan teriakan wanita itu, dia memeluk tubuh Liona dan berbisik ditelinganya. “Sssttt…..sayang…..sayang…...kamu tenang dulu.”


Liona tertegun sejenak setelah mendengar suara Reynard yang menenangkan dan pria itu dengan cepat membawanya keluar dari kamar itu. Ketika mereka melewati pintu, Liona melihat Elvano yang sedang berdiri disana dan anak itu terlihat melamun dengan tatapan kosong.


“Elvano…..”


“Mama…..”


Anak itu berlari kearah Liona dan memeluk kakinya erat-erat. Kemudian Liona membungkuk dan menggendong Elvano. Dia menatap wajah kecilnya dengan penuh perhatian. Saat dia memeluk tubuh putranya, kemarahan Liona pun perlahan mereda. “Apakah kamu takut sayang?”

__ADS_1


Elvano melingkarkan lengan kecilnya di leher Liona dan membenamkan wajahnya di leher ibunya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


 


__ADS_2