
Orang lain yang mendengarkan percakapan mereka pun pasti memikirkan hal yang sama. Tapi bagaimana mungkin seperti itu jadinya? Apa-apaan ini? Saat Reynard bilang kalai dia akan pergi kerumah Liona untuk makan malam, wanita itu terlihat sangat tenang seolah hal yang biasa baginya jika Reynard makan dirumahnya. Sialan! Aku telah mengatakan bahwa paman Reynrad memiliki niat terselubung, tapi dia tidak mempercayaiku.
Tidak…..ini tidak mungkin terjadi. Aku harus membuat Liona melihat niat paman Reynard yang sebenarnya. Dai harus melihat pamanku itu bukan pria baik. Setelah mendapat ide, akhirnya Miko berdiri. “Aku juga merasa lapar. Aku akan membantumu memasak.”
Mereka pun pergi ke vila nomor dua, didapur tampak Reynard dan Liona yang sibuk. Reynard sedang mencuci sayuran yang akan dimasak Liona.
Dia menyerahkan sayuran yang sudah bersih dicuci pada Liona. Wanita itu mengambilnya lalu memotong sayur dengan rapi lalu meletakkannya dipiring. Kedua orang itu bergerak begitu serasi dan alami, mereka bekerjasama dengan lancar. Miko tercengang melihat pemandangan menakjubkan itu, dia hanya melihat Reynard dan Liona dengan mata terbelalak. “Lelucon apa ini?’
‘Paman Reynard seorang pengusaha sukses pemili bisnis bernilai triliunan tapi lihatlah dia sekarang sedang mencuci sayuran didapur dengan terampil.
‘Apakah mereka selalu harmonis seperti ini?” tanya Miko dengan nada heran pada Delvin.
“Iya. Mereka memang selalu begitu.” jawab Delvin memprovokasi.
Miko semakin frustasi setelah mendengar jawaban Delvin, dia merasakan sakit hati bak anak panah yang menembus jantungnya.
“Liona adalah milikku.” katanya dnegan suara tak senang.
Delvin tersenyum sinis sambil menepuk bahu keponakannya seraya menghibur, “Anak malang, hadapi saja kenyataan yang ada didepan matamu. Liona sudah mengatakan padamu kalau kalian berdua sudah putus.”
“Ya dia memang minta putus tapi aku tidak setuju. Jadi dia masih pacarku sekarang.”
“Ckckckck…..biar pamanmu ini kasi tahu ya. Sekalipun kalian berdua belum putus, Reyard adalah sainganmu sekarang. Saingan paling berat. Apakah kau yakin bisa menang bersaing dalam hal cinta dengan pamanmu?”
“Ya aku yakin. Aku tidak akan pernah menyerah.” jawab Miko dengan kesal.
__ADS_1
Delvin mendesah merasa kasihan pada keponakannya.’Dasar bocah konyol! Kau tunggu dan lihat saja nanti. Kau bakal kalah telak!’
Karena Miko tidak mau menyerah, dia bergegas kedapur untuk membantu Liona. “Liona, biarkan aku ikut membantumu.”
“Baiklah.”
“Apa yang harus aku lakukan?”tanya Miko.
“Ambilkan daun bawang di kulkas lalu bersihkan dan potong-potong.”
“Baiklah.’ ujar Miko. ‘Ah hanya memotong daun bawang kan gampang.’ pikirnya.
Seolah-olah sedang menerima tugas negara yang sangat penting, Miko membuka pintu kulkas dengan wajah serius. Sejenak dia tercengang karena tidak tahu bentuk daun bawang seperti apa. Kulkas itu penuh berisi berbagai macam sayuran dan buah-buahan. Ada segenggam daun bawang, daun prei dan kucai.Miko melihat sayuran didepan matanya dan mencoba mempelajari cukup lama. Tapi dia tetap tidak bisa mengidentifikasi daun bawang.
Miko ingin bertanya pada Liona tapi dia takut ditertawakan, diam-diam dia mengeluarkan ponsel dan mencari gambar daun bawang di internet. Akhirnya dia menemukan informasi mengenai daun bawang. Miko menghela napas lega lalu dengan cepat dia mengambil daun bawang dari kulkas. Tapi dia juga bingung. ‘Apa-apaan ini? Bagaimana caranya membersihkan daun bawang ini?’ Apakah aku harus memotong daunnya dan menyimpan bagian putih? Atau seballiknya?’
Sambil bersenandung dia mulai memisahkan bagian hijau daun bawang dari bagian putihnya. Tapi dia tidak membuang bagian kering diujung daun. Dia melemparkan semua bagian putih ke tempat sampah lalu bergegas memberikan daun bawang yang sudah dipotongnya pada Liona dengan gembira. Dia bertingkah seolah-olah menawarkan harta karun pada Liona. “Aku sudah selesai.”
Dia merasa puas hati dan menunggu pujian dari wanita itu. ‘Aku sudah melakukan pekerjaan hebat. Ayolah Liona puji aku, pujilah aku.’ gumamnya pada diri sendiri.
“Apa ini? Mana bagian putihnya?” tanya Liona bingung.
Miko menunjuk kearah tempat sampah. Liona melihat batang daun bawang ditempat sampah lalu melihat bagian daun bawang yang dicincang berantakan ditangan Miko. Liona hanya bisa mengeluh kesal dalam hatinya.
Reynard yang melihat pemandangan mengelikan itu segera mengambil daun bawang dari tangan Miko lalu membuang daun yang kering, mencucinya dibawah keran. Miko terdiam melihat apa yang dilakukan pamannya. Dia kalah telak dengan pamannya di ronde pertama. Setelah merusah beberapa bahan makanan dan memecahkan dua piring didpaur, Liona sudah tidak tahan lagi langsung menendang Miko keluar dari dapur.
__ADS_1
“Liona! Berikan aku satu kesempatan lagi. Aku bisa belajar.”
“Sebelum kau bisa belajar memasak, dapur ini sudah hancur duluan olehmu. Pergi keluar sana! Tunggu saja sampai makan malam disajikan.”
Karena tidak punya pilihan lain, Miko berjalan keluar dapur dengan wajah cemberut. Delvin yang duduk diruang tamu menepuk pahanya dan tertawa terbahak-bahak.
Miko yang kesal melihat reaksi pamannya yang seakan mengejeknya pun hanya terdiam/ Dia berbalik melihat Elvano dan Felicia yang sedang bermain disalah satu sudut ruangan. Kedua anak itu bermain dengan serius, Miko melangkah mendekat dan jongkok disamping mereka. Dia melemparkan senyum manis, “Felicia, Elvano sedang apa?”
“Kami lagi main kubus rubik.” jawab Felicia sambil mengangkat kepalanya. “Kak Miko, apa kau mau bermain bersama kami?”
“Ya, tentu saja.” jawab Miko senang. Miko mengambil kubus rubik dari tangan Felicia,”Kubus rubik ini terlihat sangat sulit. Coba lihat ini, warna setiap sisi tercampur. Tapi aku akan memperbaiki dan mengembalikan setiap sisi kubusnua hanya satu warna.”
Felicia menatap sepupunya dengan pandangan penuh harap. Sedangkan Elvano hanya melirik Miko acuh tak acuh, baginya pria itu terlihat bodoh. Ha ha ha!
Miko mulai memutar kubus, satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit. Tatapan penuh harap diwajah Felicia pun pudar, “Kak Miko apa kau bisa melakukannya?”
“Ya pasti bisa. Beri aku sedikit waktu lagi.” Miko mulai berkeringat dingin dan tersenyum canggung mencoba mengatur ulang kubus rubik. Tapi tampaknya dia masih belum berhasil. “Sialan! Siapa manusia yang menciptakan mainan ini? Mainan ini tidak logis! Kenapa kubus rubik ini sulit sekali?’ Miko mengumpat dalam hati.
Setelah lima belas menit mencoba akhirnya dia menyerah. “Mainan macam apa ini, tidak cocok untuk dimainkan anak-anak. Felicia, aku akan membelikanmu boneka.”
“Berikan padaku,” ujar Elvano.
“Apa El?” tanya Miko.
“Berikan kubus rubiknya.”
__ADS_1
“Oh ini ambillah.” Miko menyerhakan kubus rubik pada Elvano. Dibawah tatapan terkejutnya, Miko melihat kubus rubik yang dengan susah payah dimainkannya tapi gagal berhasil ditata ulang oleh Elvano dalam beberapa detik.