CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 135. BUKAN WANITA BIASA


__ADS_3

Liona segera kembali kerumah untuk mengambil sesuatu dan saat itulah dia menerima sms dari Elvano berisi lokasi dia ditahan. “Katakan padaku, apa yang sebenarnya kamu inginkan?”


“Anak pintarmu ada disini bersamaku.” ujar Adam menatap Elvano.


Liona tidak mengatakan apa-apa tetapi matanya memerah karena amarah. Pria tua ini semakin berani menculik putra kesayangannya.


“Jika kamu ingin keselamatan putramu tetap terjaga maka kamu harus segera tiba disini secepat mungkin. Sendirian! Dan jangan membuat kesalahan dengan menghubungi polisi. Kamu tahu seperti apa kemampuanku. Jika kamu melibatkan polisi maka aku akan melakukan sesuatu yang kejam.”


“Saat ini putramu ada didalam tanganku. Kamu akan kehilangannya selamanya jika kamu melakukan tindakan bodoh! Bawa uang tunai sebesar sepuluh milyar! Itu jumlah kecil bagimu.”


“Aku ingin mendengar suara anakku terlebih dulu. Untuk memastikan dia baik-baik saja.”


“Tidak masalah!” Adam meletakkan ponsel didepan mulut Elvano. “Ayolah cucuku. Bicaralah pada ibumu. Dia ingin mendengar suaramu.”


“Mama….jangan….” sebelum Elvano bisa menyelesaikan kalimatnya, Adam segera mengambil ponselnya. “Baiklah! Itu sudah cukup. Kamu sudah mendengar suara putramu! Dia masih aman saat ini dan sehat bersama dengan kakek tersayangnya.”


Liona mencengkeram kemudi dengan erat dan berkata, “Beritahu aku alamatnya.”


Adam segera memberitahukan alamat mereka dan Liona bergegas pergi menuju lokasi itu. “Aku akan sampai disana dalam waktu lima belas menit!” ucap Liona.


Adam menutup teleponnya dan menoleh kesalah satu anak buahnya. “Pergilah ke gerbang hotel dan awasi Liona! Jika kamu melihat polisi, segera beritahu aku agar dapat segera pergi dari tempat ini.”


“Baik bos!” kata pria itu lalu pergi.


Lalu dia menoleh kearah pria yang sedang menggendong Elvano dan berkata, “Kamu bisa menurunkan anak itu sekarang. Ambilkan aku sebotol minuman yang biasa.”


“Baik pak.” tak berapa lama pria itu kembali dengan sebotol minuman. Sekitar sepuluh menit kemudian, Liona masih belum datang.


Adam sudah memasukkan obat kedalam minuman itu. Dia berencana akan memberikan minuman itu pada Liona. Adam tersenyum puas, dia membayangkan putri angkatnya itu akan menuruti semua perintahnya di masa depan. Dia seolah-olah bisa melihat semua uang yang akan dia dapatkan dengan menjual Liona.

__ADS_1


‘Kupikir Liona sudah mati empat tahun yang lalu. Ketika aku tahu dia masih hidup dan memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang seksi, aku tahu Tuhan pasti sayang padaku.’ gumamnya.


Suara ketukan di pintu mengagetkannya. Ketika pintu terbuka, salah satu anak buahnya menjulurkan kepala, “Bos, Tuan Anjas sudah ada disini.”


Mata Adam langsung berbinar. “Dimana dia?”


“Tuan Anjas sudah ada dikamar yang anda pesankan untuknya.”


“Bagus sekali!” Adam tersenyum sinis. “Katakan padanya untuk menunggu sebentar lagi.”


Pria itu pergi tapi tak berapa lama setelah dia pergi, anak buah Adam kembali lagi. “Tuan, Liona sudah ada disini.”


...******...


Sementara itu, Reynard telah menerima informasi mengenai lokasi dimana Elvano disekap. Mereka bergegas untuk menyelamatkan anak itu.


“Aku butuh video pengawasan ruangan tersebut sekarang juga.” perintah Reynard.


“Tunggu sebentar kak.” Delvin mengambil laptop dan mulai mengambil video pengawasan kamar hotel. Tidak lama kemudian siaran langsung dari kamar yang dipesan Adam muncul dilayar laptop.


“Baiklah, aku sudah menyambungkan laptop kita dengan koneksi hotel.”


Saat itu mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi. Begitu Delvin melihat siaran langsung dia tersentak kaget. “Kak Reynard! Kita sedikit terlambat. Liona sudah sampai disana.” katanya dengan khawatir.


Ciiiitttttt….mobil sport itu segera berhenti disisi jalan. Reynard segera mengambil laptop itu dari tangan Delvin. Dia bisa melihat Liona sedang memasuki kamar hotel.


Didalam kamar hotel itu Adam sedang duduk di sofa dan ada dua orang pria berorot di kedua sisinya. Sedangkan Elvano berada di pangkuan pria paruh baya itu.


Mereka terlihat sangat akrab tetapi jika diamati dengan seksama, tangan Adam sedang memegang Elvano dengan erat. Ketika melihat Liona memasuki ruangan, Adam tersenyum lebar memamerkan giginya yang besar dan kuning. “Putriku yang baik, akhirnya kamu datang juga. Aku sudah lama menunggumu.”

__ADS_1


“Mama, jangan lengah! Dia mengundang pria lain dikamar sebelah. Dia ingin menjual mama pada pria itu.” Elvano segera melapor pada ibunya. Setelah mendengar perkataan putranya, wajah Liona berubah dalam sekejap.


“Adam! Apa yang kamu inginkan dariku?”


Sebagai tanggapan, Adam melemparkan botol minuman ke arah Liona dan berkata, “Minumlah dan aku akan melepaskan putramu.”


Liona melihat sekilas dan segera melemparkan botol itu ke kaki Adam tanpa berpikir dua kali. Adam tercengang melihat sikap Liona itu. Pada awalnya dia menyangka Liona akan ketakutan dan akan segera meminum ramuan itu tanpa banyak bertanya.


Tatapan sombong muncul diwajah Adam ketika dia bertanya, “Apakah kamu tidak ingin menyelamatkan putramu?” tanya,Adam lagi.


Tentu saja Liona ingin menyelamatkan putranya tetapi dia ingin memberikan pelajaran pada mereka karena sudah berani menculik putranya. Itulah sebabnya dia tidak ingin membuang waktu. “Pergilah ke neraka pria tua!”


Tiba-tiba Liona mengeluarkan sebuah pisau bedah dari dalam sakunya dan menghunuskan pisau bedah itu kearah Adam. Dalam sepersekiand etik, mata Adma melebar ketakutan, namun pria itu segera pulih dari rasa terkejutnya dan bahkan tertawa geli saat menatap wajah Liona.


“Apakah kamu mencoba untuk mengancamku dengan pisau kecil tidak berguna itu? Apakah kamu sedang bercanda?” ujar Adam terkekeh.


“Kenapa? Apa aku membuatmu ketakutan setengah mati sekarang?” Liona membalas dengan senyum mengejek. Yang membuat Adam terkejut, putrinya itu tiba-tiba menikam seorang pria yang berdiri disampingnya.


“Aaaahhhhh!” pria itu mengerang kesakitan saat pisau bedah itu mengenao bahunya. Dia secara spontan langsung mencengkeram bagian yang tertusuk pisau itu dan jatuh ke lantai sambil mengerang kesakitan. Melihat anak buahnya sedang terkapar dilantai, sikap  sombong Adam langsung hilang lenyap entah kemana.


Pria paruh baya itu merasa kakinya menjadi lemah sehingga dia hampir jatuh kelantai. Untuk membuat Liona menyerah. Adam pun memutuskan untuk mencekik leher Elvano dan mengeratkan cengkeraman tangannya di leher bocah itu.


Adam sudah tidak mempedulikan apapun lagi. Saat dia melihat apa yang dilakukan Liona, sebenarnya dia mulai merasa takut. Dia tidak menyangka jika Liona akan bertindak sekejam itu.


"Liona! Lihatlah, aku memiliki putramu ditanganku! Aku bisa membunuh anak haram ini jika kamu tidak menyerah. Aku bersumpah akan mengirimmu ke penjara!" Adam tertawa mengejek Liona.


Liona menatapnya dengan dingin dan berkata, "Lepaskan anakku!"


 

__ADS_1


__ADS_2