CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 140. AYAHMU HILANG


__ADS_3

Mereka berdua dari kamar sambil bergandengan tangan. Saat mereka melewati kamar Felicia, pintu kamar tidak tertutup sepenuhnya, mereka melihat Elvano sedang berbaring ditempat tidur gadis kecil itu.


Sedangkan Felicia duduk disebuah bangku kecil dengan sabar menunggu Elvano bangun tidur. Bulu mata panjang Elvano mulai bergerak membuat jantung Felicia seolah berhenti berdetak.


 


“Kak El! Kakak sudah bangun? Apakah kakak merasa haus? Apakah kakak lapar? Aku akan meminta pelayan membawakan makanan untuk kakak ya. Tunggu disini sebentar.” suara imut Feluvua terdengar.


Elvano duduk ditempat tidur dan melihat ke sekeliling kamar tidur. Ketika dia tidak melihat sosok Liona, dengan cepat dia melompat dari tempat tidur dan bertanya. Rasa takut menenuhi hati dan pikirannya, dia kembali teringat perihal penculikannya.


 


“Mama ada dimana? Mama dimana?” tanyanya dengan wajah pucat. Karena mendengar suara ketakutan dari putranya, Liona mendorong pintu kamar hingga terbuka dan melangkah masuk.


“Mama!” Elvano membuka tangannya lebar-lebar dan Liona langsung memeluk tubuh mungil.


“Mama! Mama!” panggilnya seolah dia merasa lega sudah melihat ibunya.


 


Elvano memeluk tubuh Liona erat-erat seolah dia takut ibunya akan menghilang dalam sekejap mata. Liona dipenuhi oleh rasa bersalah. Dia tahu bahwa putranya mengalami trauma karena insiden hari ini. Elvano memang anak yang sangat pintar. Tapi bagaimanapun, dia masih berusia empat tahun.


“Elvano, maafkan mama.” ucap Liona. Tubuh kecil Elvano yang tegang akhirnya rileks.


 


“Mama mau turun kebawah untuk makan malam. Apakah kamu mau ikut?”


Elvano langsung mengangguk, “Iya mama.”


“Aku juga mau makan dengan kalian.” Felicia memohon dengan suara imutnya padahal tadi dia sudah makan banyak tapi sekarang dia masih mau makan lagi.


 


“Baiklah. Kita makan sama-sama.”


Saat mereka sudah berada diruang makan, tampak berbagai hidangan sudah tertata di meja makan. Liona pun mulai mengambil makanan untuk kedua anak itu lalu mengisi piringnya. Mereka makan dengan lahap tanpa banyak bicara.


 


Setelah selesai makan, Liona mengantarkan kembali kedua anak ke kamar mereka. Karena khawatir pada Elvano maka bocah laki-laki itu akan tidur di kamar Felicia. Setelah itu Liona keluar dan menutup pintu kamar anak. Dia dan Reynard kembali ke kamar mereka dan duduk diatas sofa sambil berbincang ringan.

__ADS_1


 


Liona mengingat Adam! Dia tidak memiliki rasa kasih sayang pada Adam, ayah angkat yang selama ini menyiksanya. Dia akan tetap membalas dendamnya pada pria itu! Dulu Adam pernah mau menjualnya dan sekarang pun pria itu tanpa belas kasihan juga ingin menjualnya. Untungnya Liona selalu selamat dan berhasil melarikan diri.


 


“Tidurlah. Aku mau menemui Delvin sebentar. Aku tidak akan lama. Jadi kamu jangan tunggu aku oke? Akmu harus istirahat.” ucap Reynard membaringkan Liona diatas ranjang mereka lalu dia meninggalkan kamar itu.


 


“Apakah kamu sudah menyelesaikan masalah ini?” tanya Reynard saat sudah berada di kamar adiknya itu.


Delvin menepuk dadanya dan berjanji, “Tidak perlu khawatir, kak. Aku sudah menangani semuanya dengan baik. Tidak akan ada orang yang akan tahu apa yang telah dlakukan oleh Liona hari ini.”


 


“Baguslah.” kata Reynard menghela napas lega.


“Kak, hal lain sangat mudah untuk ditangani. Tapi Adam….bagaimanapun dia ayah angkat Liona….apakah kita perlu...”


“Apakah kamu membawa pulang barang yang dibawa Elvano dari hotel?” tanya Reynard mengeryitkan keningnya.


 


 


“Cari Adam dan tangkap dia! Bawa dia sejauh mungkin dan berikan minuman ini kepadanya agar dia bisa merasakan sendiri minumannya.”


“Baiklah. Aku mengerti. Aku akan segera mengurus semuanya.” jawab Delvin.


...*******...


Tiga hari kemudian. Hesti yang sedang beraa di apartemen milik keluarga Gantari terlihat sangat gelisah. Vena yang baru tiba pun menatap ibunya dengan tatapan heran.


“Bu, apa yang terjadi? Kenapa ibu begitu cemas sampai-sampai memintaku meninggalkan lokasi syuting dan segera pulang ke rumah?”


 


Vena menggenakan pakaian yang sederhana dan mengenakan masker serta kacamata hitam besar, dia datang dengan asistennya Farah.


“Vena, syukurlah kamu sudah ada disini.” Hesti menghela napas lega.

__ADS_1


“Apa yang terjadi bu?”


 


Hesti memandang wajah Farah dan tersenyum pada wanita muda itu, “Farah, kamu terlihat sedikit lelah. Sebaiknya kamu beristirahat saja disini. Aku ingin berdiskusi mengenai hal penting dengan Vena.”


“Baik, Nyonya Hesti. Terima kasih.”


Hesti kemudian segera menarik Vena ke kamarnya. Vena melepaskan kacamata hitam dan maskernya lalu dengan wajah cemberut dia bertanya, “Kenapa ibu memintaku segera pulang kerumah? Apakah ada hal yang penting? Akhir-akhir ini aku sibuk syuting di studio.”


 


“Aku stress Bu! Sutradara meminta semua staf untuk bekerja lembur karena ingin mengejar jadwal tayang serial TV kami bisa tayang saat liburan. Sutradara selalu merasa tidak puas dengan hasil kerjaku. Ketika aku meminta cuti tadi, dia langsung marah besar padaku.” ucap Vena dengan kesal.


 


Liona mendapat hari libur selama beberapa hari tidak masalah. Kenapa dia mendapat masalah besar ketika dia meminta cuti satu hari saja? Sayangnya Reiki Savian adalah sutradara serial TV yang paling disegani, jadi Vena tidak berani mencari masalah dengan pria itu. Jika Reiki adalah sutradara kelas bawah, Vena sudah menghancurkan pria itu sejak lama.


 


“Ibu…..”


“Ayahmu hilang!”


“Apa? Ibu bilang apa? Apakah aku tidak salah dengar?”


Hesti menggosok tangannya dengan gugup dan menambahkan, “Ayahmu sudah tiga hari tidak pulang. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi! Aku sudah mencoba mencarinya kemana-mana.”


 


“Apa yang sedang terjadi?”


Lalu Hesti segera menceritakan peristiwa yang terjadi sebelum Adam menghilang. “Tuan Anjas telah menekan ayahmu. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Adam berpikir mungkin Liona  bisa menyelesaikan semua permasalahan yang dia hadapi dengan Tuan Anjas. Jadi dia ingin menangani Liona dulu.”


 


“Tapi ayahmu telah membuat kesalahan, Adam mengirim anak buahnya untuk mengikuti mereka. Tapi mobil yang membawa Liona berhasil lolos dari kejaran. Jadi ayahmu meminta anak buahnya untuk terus menunggui Liona disekitaran tempat tinggalnya.”


“Akhirnya tiga hari yang lalu anak buah ayahmu melihat Liona bersama dua orang anak sedang shopping. Lalu ayahmu menyuruh anak buahnya untuk menculik anak Liona. Tapi sejak saat itu, aku tidak bisa menghubungi ayahmu sampai sekarang.” Hesti berhenti sejenak lalu menghapus airmatanya yang meleleh.


 

__ADS_1


“Dia tidak membalas pesanku dan tidak menjawab teleponnya juga. Aku tidak berani menghubungi polisi untuk meminta bantuan. Aku sudah tidak punya pilihan lain selain meneleponmu untuk mencari jalan keluar.”


Setelah mendengar penjelasan ibunya, Vena pun merasa gugup. Dia duduk ditepi ranjang dengan keadaan linglung.


__ADS_2