
“Aku yakin Liona pelakunya! Dia pasti menyuruh seseorang untuk mempermalukan aku seperti tadi, percayalah tuan.” ucap Aurora memasang wajah memelas.
“Sekarang katakan padaku, apa alasan Liona melakukan itu! Dia aktris yang baik dan tak pernah membuat masalah kecuali orang lain yang memulai dan sejauh ini, Liona tak pernah membalas.”
“Bisa saja dia menyuruh orang lain. Tuan tahu kan kalau aku dan Liona tidak akur. Dia begitu sombong dan angkuh, Tuan bisa tanyakan pada yang lain seperti apa sikap Liona padaku selama ini.” kata Aurora berusaha membela diri dengan menjelekkan Liona.
“Cukup! Aku yang lebih tahu seperti apa aktris-aktris ku. Kau renungkan kejadian hari ini dan jangan pernah lagi mencari masalah dengan Liona bahkan aktris lainnya. Kau tahu siapa Liona dan jika Tuan Reynard tahu ulahmu pada Liona, maka kau akan merasakan kemarahan Tuan Reynard.” ujar Reiki sambil mengibaskan tangannya mengusir Aurora dari ruangannya. Setelah kepergian Aurora, tampak sang sutradara menghela napas panjang sambil memijit pelipisnya. “Kenapa perempuan itu selalu saja buat sensasi dengan mencari masalah dengan aktris pendatang baru. Arrrgggg….” geram Reiki mengacak-acak rambutnya.
Aurora yang sudah kembali ke lokasi syuting mendapat tatapan tajam dan senyum menggoda dari para pria yang bekerja di serial itu. Bagaimana tidak? Mereka sudah disuguhkan pemandangan tubuh polos Aurora selama beberapa menit. Aurora berjalan dengan wajah merona merah penuh amarah dan menatap kearah Liona yang sedang bercanda dengan dua bocah yang sedang memandangnya dengan tatapan aneh.
“Mama, kenapa wanita itu tadi telanjang? Apa itu bagian dari akting?” tanya Felicia menatap wajah Liona, tangan mungilnya menyentuh pipi wajah cantik Liona.
“Hmm…..sepertinya tidak ada adegan itu di naskah.” jawab Liona yang juga tadi heran melihat akting Aurora yang sangat berani.
“Oh begitu. Wanita itu sangat memalukan, aku senang bisa membalasnya.” ucap Felicia tanpa sadar.
“Maksudnya apa? Jangan bilang kalau kamu ada hubungannya dengan kejadian tadi.” tanya Liona cemas melihat kedua bocah itu bergantian. Dia tahu betul jika kedua anak itu punya kemampuan usil yang tak terduga. Mereka bisa memiliki ide cemerlang, seperti apa yang mereka lakukan pada Reynard dan Liona.
“Tidak!” jawab mereka serempak.
“Kami tidak melakukan apa-apa, ma.” kata Elvano.
“Aku senang wanita itu mempermalukan dirinya. Dia sudah jahat sama mama Liona jadi anggap saja kejadian tadi adalah balasannya.” kata Felicia dengan bijak, dia tak mau jika Liona tahu apa yang dia dan Elvano sudah lakukan tadi dengan bantuan dua pengawal Felicia.
“Mama mau kalian berdua berjanji tidak akan usil, tidak mengganggu syuting ya.” kata Liona.
“Janji!” seru keduanya kompak dengan senyum menampakkan gigi mereka.
__ADS_1
“Tapi mama kok ngak yakin ya sama kalian berdua.” kata Liona memegang dagunya sambil berpikir. Entah kenapa firasatnya mengatakan kedua bocah itu pasti sedang merencanakan sesuatu tapi dia tak tahu apa. ‘Tidak mungkin mereka mengerjai Aurora, pikirnya.’
“Kenapa ma?” tanya Felicia dengan wajah sedih. “Feli dan Kak El anak baik, kami hanya mau lihat mama Liona bahagia.”
“Iya, sayang. Ya sudah kalian duduk manis disana dan tunggu mama selesai syuting ya.”
“Okay bos.” jawab keduanya serempak. Lalu berjalan menuju kursi yang berada dibawah pohon rindang tak jauh dari tempat pengambilang gambar sehingga mereka bisa melihat proses syuting.
“Kak El, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Felicia.
“Aku punya ide yang bagus untuk wanita itu.” ujarnya sambil berbisik ke telinga Felicia yang tersenyum mendengar ide Elvano. Lalu dia memeluk Elvano sambil berkata “Kak El! Kamu memang pintar deh. Aku suka rencanamu, biar wanita itu berhenti mengganggu mama Liona.”
“Baru tahu ya kalau aku memang pintar.” ucap Elvano membanggakan diri.
“Ternyata Kak El lebih pintar dariku. Kita memang partner cocok untuk membela mama, iyakan? Tapi aku juga masih punya ide lain. Pokoknya kita harus beri pelajaran pada wanita itu sampai dia kapok dan ngak gangguin mama Liona lagi.” seru Felicia kesal menatap kearah Aurora yang berjalan ke lokasi pengambilan gambar. Kedua bocah itu bersidekap didada mereka lalu Felicia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menghubungi pengawalnya untuk melakukan ide berikutnya dalam balas dendam.
“Halo Nona Muda.”
“Tapi nona muda,bukankah itu sudah berlebihan? Bagaimana kalau nanti perempuan itu celaka?”
“Tidak akan celaka kalau kalian lakukan dengan benar.”
“Baiklah nona muda.” kata pengawal itu yang tidak bisa menolak apapun perintah dari nona muda felicia karena mereka memang bekerja untuk bocah perempuan itu.
Felicia memutuskan sambungan telepon lalu melirik pada Elvano.
“Kamu suruh mereka lakukan apa?” tanya Elvano penasaran.
__ADS_1
“Kak El lihat saja nanti, pasti pertunjukan yang meriah dan sangat menghibur.” kata Felicia melingkarkan tangan keleher Elvano “Kapan kakak akan jalankan rencana kakak tadi?”
“Besok! Kita harus cari cara supaya besok kita bisa kesini lagi.”
“Oh tidak! Lebih baik kita tidak datang kesini, pasti mereka nanti curiga apalagi mama Liona, tadi saja dia mulai curiga kalau kita yang usil sama Aurora.”
“Kalau kita tidak datang kesini bagaimana kita bisa kerjain wanita itu? Apa pengawalmu masih mau kalau disuruh besok datang kesini?”
“Yes! Pasti dan memang harus! Mereka kerja untukku dan harus turuti perintahku. Besok kita pergi saja jalan-jalan sama paman delvin, biarkan para pengawalku yang jalankan rencana kita jadi tidak ada yang akan curiga kalau semua ulah kita.” kata Felicia tersenyum bangga akan kepintarannya.
“Baiklah kalau begitu. Besok kita pergi ke toko buku ya.”
“Okay kakakku yang pintar dan tampan.”
“Kamu pasti ada maunya maka memujiku, iyakan? Ayo ngaku Feli.”
“Ihh Kak El geer ya. Aku cantik dan Kak El tampan, cocok jadi anaknya mama Liona dan papa Reynard.”
Elvano hanya geleng-geleng kepala melihat bocah perempuan gendut yang jadi partner in crime nya. Dia menyukai gadis kecil itu karena kelucuannya dan kepintarannya.
Syuting sudah selesai dan semua aktris kembali keruang ganti, Liona yang sudah mempunyai ruangan sendiri sesuai perintah Reynard pun tampak memasuki ruangannya namun tiba disana sudah ada Aurora yang menghadang.
“Eh perempuan murahan! Pasti kamu yang sudah bayar orang untuk mempermalukan aku, iyakan? Ayo mengaku saja. Berani sekali kamu mentang-mentang jadi simpanannya Tuan Reynard! Huh…..nanti juga kamu bakal dibuang sama dia.”
“Maaf ya aku tidak ada urusan denganmu. Silahkan minggir! Ini ruang pribadiku.”
“Sombong! Kalau bukan karena kamu simpanannya Tuan Reynard, kamu juga masih jadi keset kakiku.” ujarnya dengan angkuh menatap Liona dengan sinis.
__ADS_1
“Aku tidak tahu apa masalahmu Aurora. Kamu minggir atau aku panggilkan pengawalku untuk menyeretmu dari sini!” Liona berusaha tenang meskipun dia sangat kesal saat ini.
“Pengawal? Ha…..kamu dibayar berapa sama Tuan Reynard yang kaya raya itu sampai dia juga memberimu pengawal?”