CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 82. MEMBUAT PILIHAN


__ADS_3

Tubuh Reno pun membeku mendengar pengakuan Aurora, kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya. “Apa kau bilang barusan? Jangan coba-coba membohongiku!”


“Aku hamil! Aku benar-benar hamil dan anak ini adalah anakmu!” ujar Aurora dengan tenang, dia merasa kini gilirannya untuk membalaskan. “Ayo pukul saja aku, ayo bunuh kami berdua jika kamu berani!”


Reno terdiam karena terkejut, dia sudah menikah dengan Marsya selama bertahun-tahun dan bersumpah akan menghabiskan sisa hidupnya bersama wanita yang dia cintai.


Selama ini pernikahan mereka bahagia tanpa masalah, hanya sejak Marsya mulai sakit-sakitan dan tubuhnya tidak ramping lagi Reno mulai mencari pelampiasan diluar. Meskipun Marsya berasal dari keluarga kaya tapi dia tidak manja dan sombong malah sebaliknya dia sangat baik  hati dan menjaga perasaanya.


Mereka sudah memiliki seorang putra dan mereka sangat menyayanginya. Walaupun begitu, Reno tidak pernah ingin menghancurkan keluarganya dia hanya ingin sedikit bersenang-senang diluar. Tapi Reno malah semakin larut dalam perselingkuhan dan mulai jarang pulang dengan alasan banyak pekerjaan dan lebih sering bermalam dikantor.


Sementara di Sky Media setiap harinya ada saja gadis muda dan cantik yang datang dan pergi yang akhirnya membuatnya melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Dia bahkan menikmatinya dan tidak pernah menyesalinya sehingga dia berselingkuh berkali-kali dengan para aktris dibawah naungan Sky Media.


Tapi Reno tidak pernah berniat menceraikan istrinya karena jika mereka bercerai, Reno sadar kalau dia akan kembali hidup melarat. Tapi hari ini dia malah mendengar kabar Aurora mengandung bayinya! Membuat suasana hati Reno semakin gundah dan membayangkan kehancuran hidupnya sudah didepan mata.


“Huh!’ sinisnya mencibir pada Aurora.


“Apa kamu pikir aku bohong?” ujar Aurora lalu berdiri dari lantai dan berjalan kedalam kamarnya. Tak lama dia kembali memegang selembar kertas ditangannya lalu menyodorkan kertas itu pada Reno. “Ini buktinya, lihat saja sendiri!”


Reno mengambil kertas itu dan membacanya, tangannya gemetar saat melihat isi kertas itu adalah hasil momogram. Tatapannya semakin tajam membaca keterangan disurat itu. “Aku tidak percaya surat ini asli! Bisa saja kau mengarang surat ini.”

__ADS_1


“Beberapa hari yang lalu aku sadar kalau aku sudah terlambat datang bulan dan pergi ke dokter kandungan memeriksakan diri. Setelah melakukan beberapa tes dokter bilang kalau aku hamil. Jika kamu tidak percaya silahkan saja hubungi rumah sakit yang mengeluarkan surat itu.”


“Berapa usia kandunganmu?” tanya Marsya sambil menatap tajam Aurora.


“Sudah tujuh minggu, Reno bisa menghitungnya sendiri karena saat itu aku bersamanya. Reno ini anakmu kamu akan menjadi ayah.” ujar Aurora.


“Aku akan menjadi seorang ayah?” wajah Reno mendadak berubah bahagia. Sudah sangat lama dia menginginkan mempunyai anak lagi tapi karena kondisi Marsya tidak memungkinkan untuk hamil lagi. Tubuh Reno bergetar karena rasa bahagia, sepertinya keinginannya kini terwujud.


Dia berbalik menatap istrinya dengan wajah memohon sambil memegang hasil sonogram ditangannya. Marsya yang melihat itu menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Dia berusaha tetap tenang meskipun hatinya sangat kecewa dengan perbuatan suaminya.


“Reno, aku beri kamu pilihan. Pertama kamu harus menyuruh wanita itu untuk menggugurkan kandungannya dan berjanji padaku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya di masa depan. Pilihan kedua, kita bercerai dan kamu tidak akan mendapat sepeserpun. Kamu bisa pergi membawa dirimu seperti dulu saat kamu datang.”


“Istriku sayang, aku mohon padamu. Tolong jangan lakukan ini.” Reno memohon sambil berlutut dihadapan istrinya sambil memasang wajah memelas.


“Ijinkan dia melahirkan bayi itu dan kita bisa mengambil bayi itu dan merawatnya bersama. Setelah melahirkan wanita itu harus pergi dari negara ini selamanya. Kita bisa berikan dia uang.”


Tiba-tiba wajah Marsya berubah, dia tidak menyangka sikap suaminya akan seperti itu. Dia mencengkeram kerah baju suaminya, “Kenapa aku harus setuju? Berikan satu alasan yang bagus.” ujar Marsya. Dia merasa terbangun dari mimpi dan mengguncang keras tubuh pria itu.


“Dasar kau bajingan! Tidak tahu berterimakasih! Binatang kurang ajar, dasar egois! Bahkan seekor anjing masih mengenal balas budi pada pemiliknya tapi kamu? Inikah caramu membalas semua kebaikanku padamu selama ini, ha?” Marsya berteriak dengan suara melingking.

__ADS_1


“Sayangku, aku mohon padamu aku mohon pengertianmu. Bayi itu adalah anakku, anakku adalah anakmu juga, bukan? Aku mohon padamu sekali ini saja.”


“Aku sudah memberimu pilihan dan kuberi kamu waktu untuk menentukan pilihanmu. Sementara kamu tidak usah pulang kerumah. Aku tunggu keputusanmu besok!” ujar Marsya sudah tidak peduli lagi pada pria yang sudah menjadi suaminya selama beberapa tahun ini.


“Sayang….ayolah jangan begini. Maafkan aku, tolong jangan meminta untuk menggugurkan anak itu karena itu anakku. Semua akan baik-baik saja dengan kita berdua.”


“Baik-baik saja kau bilang? Memiliki anak haram dengan salah satu wanita simpananmu adalah solusi yang terbaik yang bisa kau pikirkan? Semua tidak baik-baik saja! Kau sudah membuat pilihan, begitu juga denganku.”


“Sayang, dengarkan dulu penjelasanku. Setelah Aurora melahirkan bayi itu, kita beri saja dia uang dan menyuruhnya meninggalkan negara ini. Dia pasti mau, semua wanita itu hanya menginginkan uangku, bukan? Kita bisa mengadopsi anak itu dan mengurusnya bersama-sama sebagai anak kita sendiri.” ujar Reno.


“Cukup! Berhenti bicara, aku sudah tidak mau mendengar apapun lagi.”


“Tapi sayang….”


“Kau benar-benar menyedihkan! Dasar tidak tahu malu! Kau ingin aku mengurus anak haram ini, ha? Jangan mimpi kau! Apakah kau ingin agar aku mengingat setiap hari bagaimana kau mengkhianatiku setiap kali aku akan melihat wajah anak itu? Bagaimana bisa kau setega itu menyiksaku, apa salahku? Kau membuatku sangat jijik padamu!”


Marsya mengepalkan kedua tangannya sambil menghela napas dalam-dalam. “Aku tidak pernah tahu mengapa aku bisa jatuh cinta padamu seorang pria brengsek! Aku tidak akan pernah membiarkan anak haram itu kelak mewarisi harta kekayaan milik keluargaku! Langkahi dulu mayatku! Hartaku hanya milik anakku dan dia tidak akan berbagi dengan anak haram ini.”


Reno tidak mau mengalah dan terus memohon pada istrinya dengan harapan hati istrinya akan luluh dan menyetujui permintaannya. Marsya menarik napas dalam-dalam lalu berjongkok dihadapan suaminya sehinga mereka berdua saling tatap.

__ADS_1


“Sudah waktunya kau untuk memilih, kau pilih aku atau wanita ****** itu dan bayinya. Pilih yang mana? Cepat katakan!” ujar Marsya seolah merasa sakit yang amat sangat. Reno tak mampu berkata apapun, dia menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Marsya.


Melihat sikap suaminya itu membuat Marsya merasa sangat kecewa. Kecewa dengan suaminya dan kecewa juga dengan dirinya sendiri yang terlalu percaya pada pria itu. Cinta yang sudah membutakannya selama dua puluh tahun.


__ADS_2