
Mereka pun berhenti ditempat. Davina melangkah mendekat, wajahnya sangat merah karena marah. Dia sangat marah sehingga menunjuk kearah Reynard dengan tangan gemetar. Namun dia tidak tega memarahi Reynard saat dia menggendong Felicia, jadi Davina malah memarahi Delvin. Dengan jari telunjuknya dia menunjuk kehidung putra bungsunya, Davina mengomel.
“Delvin! Kau sengaja membuat masalah kan? Kau membujuk kakakmu untuk pergi sebelum waktu makan siang! Kenapa aku bisa melahirkan anak kurang ajar sepertimu? Aku sangat tidak beruntung menjadi ibumu!” ujar Davina dengan wajah sangat sedih dan muram.
Delvin tidak mengatakan apapun, dia merasa sakit hati. ‘Sialan! Aku tahu pada akhirnya aku yang menjadi korban.’ gerutunya didalam hati. Delvin menatap wajah ibunya dengan sendu, dia tidak pernah mengerti kenapa ibunya selalu beesikap keras kepala dan kasar padanya.
Sambil mengeluh didalam hatinya, Delvin mengacak-acak bagian belakang kepalanya dengan putus asa dan berseru, “Bu! Kak Reynard yang memutuskan untuk pergi! Ibu tidak bisa memaksanya tinggal!"
“Kalau begitu, kau seharusnya menghentikan niat kakakmu!” ujar Davina tak mau kalah.
Mulut delvin terbuka lebar. Dia tidak tahu apalagi yang bisa dia lakukan untuk membela diri. Dari cara ibunya sendiri memperlakukannya, Delvin berpikir apakah dia adalah anak adopsi. Ibunya selalu memperlakukan mereka berdua dengan berbeda sejak dulu.
Davina kemudian mengalihkan pandangannya ke Reynard dan mengingatkan putranya, “Kita sudah sepakat untuk makan siang dirumah hari ini. Sekarang sudah hampir waktu makan siang. Kalian mau kemana?”
Reynard hanya menatap ibunya sebagai jawaban. Tatapan itu seperti pedang tajam, menembus jantung Davina. Dia merasakan intensitas tatapannya, Davina bertanya dengan suara gemetar, “Kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Ibu tahu kenapa aku pergi!” jawab Reynard dingin.
Davina marah lagi, dia sangat kesal dengan sikap putranya yang keras kepala. “Reynard! Luisa adalah wanita yang luar biasa. Dia berasal dari keluarga kalangan kelas atas yang terpandang. Dia juga memiliki latar belakang pendidikan yang mengesankan. Luisa sangat berbakat dan cantik! Mungkin kau merasa dia tidak cukup baik untukmu tapi aku yakin Luisa itu jauh lebih baik dari Liona! Coba lihat penampilan Luisa, dia terlihat anggun, sopan dan elegan. Yang lebih penting adalah dia memiliki reputasi yang terhormat dan tidak ternoda. Luisa tidak bisa dibandingkan dengan Liona yang bertingkah seperti pelacur!”
__ADS_1
Davina semakin marah ketika dia menyebutkan semua kelebihan Luisa. “Aku tidak peduli dengan apa yang ada dalam pikiranmu! Kau harus putus dengan Liona sekarang! Ini adalah perintah! Luisa adalah wanita yang baik, dia lebih pantas untuk jadi istrimu! Mulai saat ini kalian bisa lebih sering bertemu dan saling mengenal satu sama lain. Jika kau menyadari bahwa dia pasangan yang cocok, kalian bisa segera menikah.”
Reynard tidak bergeming setelah davina selesai bicara panjang lebar. Sambil menggendong Felicia, dia berjalan pergi melewati Davina. “Jika ibu menyukainya, silahkan nikahi dia sendiri. Aku tidak mau!” jawabnya dingin sambil pergi.
“Kak Reynard, apakah kakak tidak takut membuat ibu marah besar? Ibu tidak akan melepaskan kakak dengan mudah!” Delvin bertanya dalam perjalan kembali ke LeGarden Residence.
Delvin sedikit menggigil ketika memikirkan temperamen Davina. “Kak, ibu tidak akan tinggal diam. Karena kakak sudah membuatnya kesal kali ini, langkah selanjutnya pasti akan lebih menakutkan. Sebaiknya kakak berhati-hati.”
Reynard menekan bibir tipisnya erat-erat. Dia kembali ke kediaman Wilfred untuk menegaskan sikapnya. Sedangkan di vila kediaman keluarga Wilfred. “Huaa…..huaaa…...huaaa…...huaaaa..! Luisa menangis dengan keras.
“Luisa berhenti menangis sekarang oke?” Davina berusaha menghiburnya. Luisa menggosok matanya yang sangat merah.
Kali ini kepala Davina mulai terasa sakit. Tapi dia tidak menghentikan usahanya untuk membujuk Luisa, setelah beberapa saat berlalu, Luisa akhirnya tenang. Meskipun Reynard dan yang lainnya telah pergi, Davina harus tetap tinggal untuk makan siang, lagipula dialah yang mengundang Luisa untuk makan siang bersama mereka.
Ketika mereka selesai makan, Luisa berniat untuk segera pulang. Davina menyiapkan hadiah untuknya dan meminta supir untuk mengantarnya pulang. Begitu Luisa hilang dari pandangan, baru pada saat itulah Davina menarik napas lega. Suaminya datang dengan segelas air dan menyerahkan pada istrinya. Ketika Davina melihat suaminya,mata wanita paruh baya itu menjadi merah karena sedih.
“Sayangku, apa kesalahan yang telah aku lakukan? Aku telah melahirkan dua orang putra tetapi mereka terus membuatku khawatir setiap hari. Sikap Reynard sangat dingin padaku, sedangkan Delvin selalu membuat onar.”
“Sayang, aku sudah memberitahumu kalau mereka berdua sudah dewasa sekarang. Mereka memiliki kehidupan mereka sendiri. Reynard adalah orang yang mandiri sejak kecil. Sekarang dia menemukan wanita yang sangat dia cintai tapi kau malah bersikeras untuk memaksanya bertemu dengan wanita lain. Kalau kau berada diposisinya, apakah kau tidak marah?”
__ADS_1
“Jadi kau menyalahkanku?” tanya Davina terisak.
“Tidak, sayangku. Tentu saja aku tidak menyalahkanmu.”Abraham tersenyum. “Kau adalah wanita paling cerdas dna kuat didunia ini, tetapi sebaiknya jangan ikut campur urusan pribadi Reynard.”
“Tidak mungkin! Dia adalah putraku!” Davina menegakkan tubuh dan berkata dengan semangat juang yang tinggi, “Aku masih tidak percaya Reynard tidak luluh. Jika Reynard tidak menyukai Luisa, maka lain kali aku akan mencari informasi tentang semua putri keluarga kaya dan terpandang diseluruh kota. Aku percaya dia pasti akan menemukan seseorang yang dia suka. Jadi dia bisa melupakan Liona si pelacur murahan itu!”
Abraham terdiam oleh perkataan istrinya.
Di rumah Reynard, lengan Liona yang masih terluka sedang berbaring disofa dengan santai. Tak lama seorang pelayan datang karena makan siang sudah tersedia diatas meja makan. Liona dan Elvano baru akan mulai makan ketika mereka mendengar suara mesin mobil memasuki halaman. Liona segera berlari untuk melihat siapa yang datang. Ketika dia melihat bahwa Reynard dan yang lainnya telah kembali, dia terkejut.
“Ada apa? Kenapa kalian sudah kembali? Apakah kalian sudah makan siang?”
“Sudah.”
Dalam perjalanan pulang, mereka kebetulan melewati sebuah restoran cepat saji yang sangat terkenal. Felicia ingin makan disana jadi mereka berhenti sebentar untuk makan. Begitu Felicia turun dari mobilm dia berlari menuju ruang tamu. “Kak El! Kak El dimana? Aku punya es krim untuk kakak. Es krim akan cair. Ayo kesini dan cepat makan es krimnya.”
“Es krimnya sudah meleleh, gadis bodoh.” kata Elvano.
Melihat es krim yang melelh ditangannya, Felicia merasa sedih. “Aduh, sayang sekali. Kakak tidak bisa makan es krim ini.”
__ADS_1
“Siapa bilang aku tidak bisa memakannya?” Elvano mengambil es krim dari tangan felicia lalu memakannya dengan gembiar. “Hemmm…..enak sekali!”