CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 145. WANITA ANEH


__ADS_3

“Liona! Aku tidak peduli! Sejak awal sudah kukatakan, aku tidak peduli masa lalumu, pekerjaanmu! Aku menyukaimu, aku mencintaimu! Kita sudah bertunangan. Tapi kenapa kamu selalu saja bersikap seperti ini?” Reinhard yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Liona yang berubah dan sering membuatnya bingung pun meluapkan perasaannya.


Boooommmm! Pikiran Liona langsung kosong mendengar kata-kata Reinhard. “Kamu…..kamu.”


Pria itu selalu percaya diri dan terang-terangan mengatakannya. Dia mengungkapkan perasaannya dengan jelas.


Liona sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, dia menatap pria itu dengan bersinar dan bertanya, “Apakah kamu tidak takut kalau aku menolakmu? Apakah kamu tidak takut menghadapi keluargamu?”


“Aku yakin kalau akan banyak masalah dan rintangan yang harus kamu hadapi jika tetap bersamaku. Bukankah keluargamu sangat membenci wanita dari industri hiburan? Bagi mereka pekerjaan sebagai artis itu tidak pantas untuk menjadi bagian dari keluarga Wilfred.”


Reinhard tidak mengatakan apapun dan memilih diam. Dia berusaha menyampaikan perasaannya dengan lembut agar Liona semakin yakin dengan hubungan mereka.


“Liona, maukah kamu menjadi istriku?” tanya Reinhard dengan ekspresi serius.


“Uhukkk…uhukkk….uhukkkk….” Liona tersedak dan terbatuk-batuk tidak terkendali selama beberapa menit. Apa dia bilang? Dia baru saja melamarku? Kenapa tidak ada romantis-romantisnya sih jadi laki-laki? Keluhnya dalam hati.


Reinhard menepuk-nepuk punggung Liona dengan canggung.


“Oh…..uhuk…..uhuk……Reinhard! Apakah kamu benar-benar sadar apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Ini bukan cara yang benar untuk melamar seseorang.” ucapnya.


Dalam keadaan normal bahkan jika Reinhard menhabiskan sisa hidupnya bersama Liona dia seharusnya bisa bersikap sedikit romantis.


Kenapa pria ini langsung melamar begitu saja? Sedangkan kami baru berkencan pun masih bisa dihitung dengan jari? Ya Tuhan, lamaran yang tiba-tiba begini terlalu menakutkan.’


Reinhard menyodorkan segelas air pada Liona yang langsung meminumnya.


“Kalau aku mengikuti kebiasaan orang-orang pada umumnya, apakah kamu akan menjawab iya?” tanya Reinhard yang tidak mau menyerah begitu saja.


“Tidak! Sudah kubilang, akan sulit bagi kita untuk bersama. Keluargamu pasti tidak suka.”


“Lalu bagaimana caranya aku melamarmu? Keluargaku bukanlah masalah besar. Aku yang menikahimu bukan mereka.”

__ADS_1


Liona tercengang mendengar kata-kata Reinhard. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana membalas pernyataan pria itu. Dia menatap pria itu dengan tatapan ngeri dan juga lucu.


“Reinhard?”


“Katakan saja apa yang mau kamu katakan.”


Liona terdiam, apakah dia tidak diizinkan untuk menolak atau membantah setiap perkataan dan keinginan pria ini? Dasar pria sombong dan suka mendominasi! Liona menghela napas panjang sebelum menanggapi. Wanita itu menatap Reinhard dengan tatapan serius.


“Rei, apakah kamu benar-benar mengenali diriku?”


Setelah berpikir sejenak Reinhard mengangguk dan menjawab dengan mantap. “Ya.”


“Kalau begitu coba jelaskan padaku apa yang kamu tahu tentangku.” kata Liona.


“Kamu tampak cerdas tapi sebenarnya kadang-kadang kamu itu sedikit bodoh! Kamu tampaknya berpikiran terbuka tapi sebenarnya kamu sangat konservatif. Karena kamu berasal dari keluarga kurang harmonis kamu sulit untuk mempercayai orang lain. Tapi meskipun kamu banyak mengalami penderitaan tapi kamu masih memiliki hati yang polos. Hal yang sangat berharga!”


Liona merasa tersanjung dengan perkataan Reinhard. Aduh, baiklah kalau begitu! Liona harus mengakui bahwa apa yang dikatakan reinhard semuanya tepat sasaran.


Liona mengajukan rentetan pertanyaan untuk menguji Reinhard. “Kamu hanya melihat sisi baik yang aku miliki dan kamu hanya melihat sedikit saja sisi gelapku. Kamu sama sekali tidak mengenaliku, Reinhard.”


Pria itu duduk dan mendengarkan penjelasan Liona dengan sabar.


“Aku bukanlah wanita polos dan tidak berdosa seperti yang kamu pikirkan. Aku memiliki begitu banyak kekurangan. Sebaiknya kamu mengurungkan niatmu.”


“Kekurangan katamu? Coba beritahu aku contoh kekuranganmu.”


“Misalnya, aku berkata kasar, aku suka pergi ke bar, balapan liar dan juga berkelahi. Jika aku bertemu dengan pria tampan dan genit di bar mungkin aku akan pulang bersamanya.” ujar Liona melihat tatapan mata Reinhard yang semakin dingin. Liona merentangkan tangannya lalu dia pun kembali bicara.


”Apakah kamu mengerti sekarang? Aku sudah memberitahumu dulu, kamu tidak bisa menerima kekuranganku. Akan sulit bagi kita bersama ditambah lagi dengan keluargamu.” Liona berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya. “Baiklah, cukup sampai disini. Anggap saja kita tidak pernah membicarakan masalah pernikahan.”


“Mulai saat ini kamu adalah bos dan pacarku. Itu saja cukup! Elvano dan Felicia pasti sedang menungguku. Sebaiknya kita kembali sekarang Reinhard.” Begitu Liona berbalik, dia merasakan tangannya dicengkeram erat oleh Reinhard. “Rei!”

__ADS_1


“Aku belum mengatakan apa-apa. Bagaimana kamu tahu bahwa aku tidak dapat menerima semua kekuranganmu?”


‘Apa-apaan pria ini? Kenapa dia keras kepala sekali? Aku masih menerimanya sebagai pacar, mungkin seiring berjalannya waktu keluarganya bisa menerimaku. Kenapa dia terlalu memaksakan pernikahan secepatnya? Kami bahkan baru memulai hubungan ini?’ keluhnya.


Apakah dia memang akan menerima semua kekuranganku? Liona semakin terperangah.


“Liona, kamu tidak perlu mengubah dirimu ketika kita bersama. Jika kamu ingin mengumpat maka mengumpatlah seperti seorang yang sedang marah. Jika kamu ingin pergi ke bar atau kelab malam maka kamu bisa pergi dengan bebas. Kalau kamu suka balapan juga tidak masalah. Aku akan membelikanmu mobil balap. Jika kamu ingin berkelahi dengan orang lain silahkan.”


“Tapi, kamu harus berjanji untuk tidak melukai dirimu. Dan ingatlah bahwa aku akan selalu mendukungmu! Aku tidak peduli dengan masa lalumu mau seburuk apapun itu. Karena masa lalu sudah berlalu dan tidak perlu diingat-ingat lagi. Kita hidup untuk masa sekarang dan masa depan.”


Liona mengerjapkan matanya, merasa tidak percaya mendengar pernyataan Reinhard.


‘Tidak mungkin! Telingaku pasti salah dengar. Bagaimana mungkin Reinhard bisa bersikap begitu toleran dan santai?’ Liona menelan salivanya dan menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya.


“Kamu…….kamu…..”


“Hanya ada satu hal yang aku minta darimu. Kamu boleh mengagumi pria tampan tapi tolong jaga jarak dengan mereka dan jaga aku dihatimu selalu.”


Liona terdiam sejenak, dia merasa genggaman tangan Reinhard semakin erat dan terasa menyakitkan. “Sayangnya aku tidak bisa melakukan semua permintaanmu. Apakah kamu tidak tau salah satu hobiku adalah menggoda pria tampan?” balas Liona dengan senyum mengejek. Setelah mendengar itu wajah reinhard langsung menjadi gelap.


Liona bahkan tidak berhenti disitu saja, “Bahkan jika kamu menerima seluruh kekuranganku, kita tidak akan pernah bisa bersama.”


“Lalu kamu mau menghabiskan sisa hidupmu dengan siapa?” tanya Reinhard.


“Siapa lagi memangnya? Masa kamu tidak tahu? Tentu saja dengan Elvano-ku.” jawab Liona.


Reinhard langsung kehilangan kata-kata. Dia menekan bahu Liona meminta wanita itu duduk di sofa. “Jangan bicara omong kosong Liona.” ujarnya dengan nada datar.


“Reinhard, kamu juga tidak sebaik yang kamu pikirkan. Kenapa kamu memintaku menghabiskan sisa hidupku bersamamu?”


“Baiklah. Jika kamu merasa aku memiliki kekurangan silahkan katakan apa kekuranganku. Aku akan memperbaikinya agar aku bisa menjadi pria terbaik untukmu.”

__ADS_1


__ADS_2