CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 129. MALAM PANJANG


__ADS_3

Dalam keadaan tidak sadar, Liona menggeliat dengan gelisah seperti seekor ular, mencoba melepas celananya. Akhirnya berhasil dan menendang celana itu ke lantai.


Tindakannya sangat cepat dan hanya perlu beberapa detik saja sebelum Reynard bisa bereaksi, Liona sudah membuang semua pakaiannya ke lantai.


Melihat kakinya yang panjang dan indah memberikan pria itu dorongan adenalin. Reynard mengambil napas dalam-dalam lalu menutup matanya dan dengan cepat menutupi tubuh Liona yang hampir telanjang dengan selimut.


“Hmmm...rasanya panas sekali disini.” Liona malah menendang selimut itu kesamping. "Reynard sayang.....kemarilah."


Tidak sengaja memperlihatkan kakinya yang indah. Dia kemudian melanjutkan melepaskan ********** yang dia kenakan dengan mata tertutup.


Tindakan Liona ini benar-benar menguji Reynard! Lapisan tipis keringat muncul didahi pria itu. Reynard dengan cepar menekan pergelangan tangan Liona dan berkata, “Jangan lepaskan.”


“Tapi disini panas sekali…..”


“Kamu tidak boleh melepaskannya bahkan jika kamu merasa panas.” kata Reynard mencegah wanita itu melepaskan **********.


Reynard menderita dibawah situasi yang penuh tekanan ini. Dia tidak ingin melakukan itu saat Liona dalam keadaan mabuk. Pria itu berusaha keras menahan hasratnya yang sudah meledak-ledak.


“Hmmm dingin.”


Meskipun salah satu tangan Liona tidak bisa digerakkan, dia masih bisa menyentuh punggung tangan Reynard dengan tangan lainnya. Membelainya dengan lembut merasakan tubuh Reynard yang dingin wanita itu segera melingkari tubuh Reynard seperti seekor gurita.


“Rasanya sangat dingin!” lirihnya.


Reynard terdiam, tubuhnya sudah menegang seperti seorang pencuri yang sedang menghadapi polisi.


“Liona, jika kamu bergerak terus maka kamu harus siap menghadapi konsekuensi dari tindakanmu.” ujar reynard dengan suara lirih menahan gairah,


Meskipun Liona setengah sadar sekarang, dia dapat merasakan bahaya yang akan menimpanya. Tubuhnya sedikit gemetar dan dia memeluk Reynard, menemukan posturnya yang nyaman di lengan pria itu dan tetap diam seperti sebuah patung.


Satu menit…..dua menit…..lima menit berlalu. Kemudian napas Liona terdengar stabil. Reynard akhirnya bisa menghela napas lega. ‘Brengsek! Liona sedang tidur tapi apa yang harus kulakukan sekarang?’

__ADS_1


Rasa panas ditubuh Reynard masih belum hilang. Sambil menggertakkkan giginya dia mencoba mendorong tubuh Liona menjauh. Tetapi wanita itu malah memeluknya dengan lebih erat lagi.


Tepat saat Reynard berusaha memundahkan tangan Liona, wanita itu bergumam dan memegangnya lagi dengan ekspresi cemberut.


"Jangan tinggalkan aku sayang. Temani aku disini."


Liona hampir menangis setelah reynard mencoba untuk mendorongnya menjauh beberapa kali. Akhirnya Liona hanya menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk memeluk Reynard.


Liona tidur sambil tersenyum lebar ketika dia menyadari bahwa Reynard tidak lagi menolaknya. Reynard sudah tidak punya pilihan lain lagi.


Dia ingin menjauhkan diri dari Liona tetapi dia tidak tega. Reynard yakin saat Liona sadar nanti dia tidak akan pernah berperilaku seperti ini. Pria itu menghela napas dan tidak bergerak lagi.


Namun kedekatan intim seperti itu adala siksaan berat baginya! Akhirnya Liona tidur dengan lelap sepanjang malam. Sementara Reynard tidak bisa tidur semalaman. ada lingkaran gelap dimatanya.


Keesokan harinya, Liona bangun dengan sakit kepala hebat. Dia duduk ditempat tidur sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing dan linglung. “Aduh…..” ringisnya kesakitan.


Liona sama sekali tidak ingat dimana dia berada dan apa yang telah dia lakukan tadi malam.


Begitu dia menoleh, dia melihat Reynard yang setengah berbaring ditempat tidur sedang mengenakan setelan biru safir yang mereka beli bersama. Ini adalah pertama kalinya Liona melihat Reynard dalam keadaan acak-acakan seperti saat ini. Jas pria itu terlihat kusut dan rambutnya berantakan sekali.


Ada dua lingkaran hitam yang jelas dibawah matanya yang merah. Dia terlihat seperti panda. Wajahnya juga sangat pucat. “Eh, Reyanrd kamu kenapa? Kamu terlihat seperti semua enegrimu telah disedot oleh setan. Kamu terlihat sangat kelelahan pagi ini.”


‘Setan? Kamu bilang setan? Ya, kamu mmang benar energiku tersedot oleh setan tadi malam. Dan setan itu adalah kamu.’ pikir Reynard dalam hati.


“Kenapa kamu bisa ada disini? Seharusnya kamu berada di kamarmu iyakan?” tanya Liona yang tak sadar dimana dia berada sekarang.


"Ini adalah kamarku Liona. Kamar kita bersama, apa kau lupa? Mengenai apa yang terjadi tadi malam. Apakah kamu ingat sesuatu?” tanya Reynard mengalihkan topik.


Kepala Liona masih terasa berat, dia mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam dalam keadaan mabuk. Delvin tiba-tiba muncul mengirim pesan yang berisi permintaan tolong.


Kemudian dia pergi ke ruang kerja pria itu untuk menyelamatkannya. Dia dan Reynard berbincang sebentar kemudian dia bergegas membuka sebotol besar anggur Lafite lalu mereka minum bersama.

__ADS_1


Anggur itu terasa sangat lezat sehingga dia hampir minum seluruh isi botol itu saat mengobrol dengan Reynard. Lalu apa? Apa yang terjadi setelah itu? Liona mengerutkan dahinya ketika dia tidak bisa mengingat apa-apa lagi.


Dia hanya ingat bermimpi tadi malam. Dalam mimpinya tadi malam dia berlari kesebuah padang pasair. Di padang pasir itu temperaturnya sangat panas dan tubuhnya mulai dehidrasi.


Kemudian ada sebuah balok es itu dan tidak melepaskannya sepanjang malam. Kemudian…...dia tertidur lelap. Dalam tidurnya dia masih ingat kalau sesuatu yang lembut menyentuh bibir dan tubuhnya


“Oh….aku tidak bisa mengingat apa-apa.”


“Kau sangat mabuk tadi malam.” Reynard mengingatkannya.


‘Tadi malam aku mabuk?’ Liona bertanya-tanya dalam hatinya. Wanita itu benar-benar tidak bisa mengingatnya sama sekali.


“Oh benarkah?” hanya itu yang bisa dia katakan saat ini. Reynard terdiam melihat sikap Liona. “Kenapa kamu menatapku seperti itu? Memangnya kenapa kalau aku mabuk? Itu bukanlah masalah besar. Lagipula aku selalu berperilaku baik bahkan ketika aku mabuk.”


Reynard benar-benar menunjukkan raut wajah bodoh saat mendengar pembelaan Liona. ‘Kamu merayu Delvin dan aku ketika kamu mabuk tadi malam. Beraninya kamu mengatakan kamu berperilaku baik ketika kamu mabuk?’ bisiknya dalam hati.


Reynard mengeryitkan keningnya dan bertanya, “Siapa yang memberitahumu kalau kamu berperilaku baik saat sedang mabuk?”


“Elvano yang bilang. Siapa lagi?” Liona mengangkat dagunya dan berkata dengan bangga, “Dulu ketika kami masih di Amerika, aku kadang-kadang menghadiri acara sosial dan harus minum anggur. Elvano bilang aku akan segera tertidur setelah minum.”


Kerutan diwajah Reynard semakin dalam setelah mendengar penjelasn Liona.


“Tapi Elvano sungguh mengesalkan. Keesokan harinya dia akan mengejekku."


Reynard tidak bisa berkata-kata lagi.


“Ugh….kepalaku rasanya berdenyut-denyut.” ujar Liona memegangi kepalanya.


Reynard turun dari ranjang. “Tunggu sebentar.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Reynard keluar dari kamar tidur setelah beberapa menit seorang pelayan datang membawakan semangkuk hidangan dan meletakkannya diatas nakas.


__ADS_2