CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 133. ELVANO DICULIK


__ADS_3

Mata Liona berubah menjadi merah. “Elvano!” saat dia memanggil nama putranya, Liona segera memanggil taksi tanpa ragu-ragu dan mencoba mengejar van itu.


“Mama Liona!” teriak Felicia yang hendak mengejar Liona tetapi salah satu pengawal pribadinya dengan cepat menarik tubuh kecilnya dan berkata.


“Nona Muda, anda tidak bisa pergi. Itu sangat berbahaya sekali.”


“Lepaskan aku! Biarkan aku pergi sekarang juga! Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa kalian tidak segera membantu saat melihat orang-orang jahat itu? Kalian membiarkan mereka menculik Kak El! Huaaa…...huaaaa…..! Ini semua salahku!”


“Mama Liona melindungiku dan melepaskan tangan Kak El. Huaa…..huaaa….sekarang Kak El dibawa pergi orang jahat!” Felicia menangis tersedu-sedu. Gadis kecil itu dengan cepat melepas ranselnya lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.


Begitu orang di ujung telepon menjawab panggilannya, gadis itu langsung berteriak, “Papa!”


Pada saat itu Reynard sedang berada di ruang konferensi dan mendengarkan laporan manajer perusahaan. Ketika ponsel pribadinya tiba-tiba berdering dia melihat ke bawah sedikit terkejut melihat Felicia sedang meneleponnya.


Gadis kecil itu jarang sekali menelepon kecuali ada keadaan darurat ataupun sesuatu yang sangat penting. Karena dia berpikir kalau itu mungkin hal mendesak, Reynard mengangkat tangannya untuk menghentikan laporan manajer itu. Kemudian dia menekan tombol jawab untuk menerima panggilan putrinya.


“Felicia?”


“Papa! Papa!” Felicia menangis tersedu-sedu ditelepon. “Papa! Cepatlah kesini. Kak El diculik. Mama Liona sedang mengejar mereka sendirian sekarang. Tolong datang kesini papa.”


Setelah mendengar laporan putrinya, ekspresi wajah Reynard berubah drastis, dia segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruang konferensi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Semua orang diruangan itu saling bertukar pandang dengan bingung. Reynard selalu bersikap dingin dan tanpa emosi di perusahaan. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat bos mereka itu menunjukkan ekspresi khawatir seperti itu. Para eksekutif senior saling memandang tetapi tidak ada satupun yang berani bertanya.


Melihat ada yang tidak beres, Delvin buru-buru berkata, “Rapat hari ini ditunda.” kemudian dia berjalan keluar untuk mengejar Reynard.


“Kamu ada dimana sekarang?” Reyanrd bertanya pada Felicia ditelepon. Felicia segera memberitahu lokasinya pada ayahnya.

__ADS_1


“Aku sedang diluar mall sekarang. Mama Liona sedang mengejar van yang menuju kearah barat.” jawab Felicia dengan terisak. Dia sangat sedih dan merasa bersalah.


“Papa, mengerti. Sayang kamu jangan khawatir. Sekarang kamu pulang kerumah bersama pengawal pribadimu ya.”


“Papa, cepat selamatkan Kak El dan Mama Liona! Aku tidak mau mereka kenapa-napa.”


Reynard melangkah ke tempat parkir dengan tatapan garang sambil menghibur Felicia dengan suara lembut. “Jangan khawatir, papa akan membawa mereka pulang dengan selamat.”


Setelah menutup telepon, ekspresi wajah Reynard langsung berubah dingin.


“Delvin!”


“Ya kak Reynard! Ada apa?”


“Segera kumpulkan video pengawasan seluruh jalan menuju ke barat dari pintu masuk Mall Prime! Mintalah pihak yang berwajib untuk membantumu. Katakan pada mereka untuk melihat semua van yang mereka lihat.”


Setelah memberikan instruksi kepada adiknya, mereka berdua memasuki lift dan langsung turun ke tempat parkir. Delvin sudah menghubungi polisi dan menjelaskan situasi yang sedang berlaku. “Kak Reynard apa yang telah terjadi?”


“Elvano diculik saat mereka keluar dari mall. Liona sedang mengejar para penculik itu.”


Delvin langsung terkejut dan bertanya, “Lalu bagaimana dengan Felicia? Dimana dia sekarang? Apakah Felicia baik-baik saja?”


“Felicia bukanlah target mereka.” jika target gerombolan itu adalah Felicia maka mereka akan fokus pada dirinya. Mereka seharusnya berusaha kerasa untuk mendapatkan Felicia.


Bukannya malah menculik Elvano yang tidak ada hubungannya dengan Reynard. Sambil berbicara, mereka sudah sampai di tempat parkir dimana mobil sport Reynard berada. Reynard duduk di kursi pengemudi dan Delvin di kursi penumpang. Reynard segera melajukan mobil itu seperti anak panah yang lepas dari busurnya.


Melihat urat biru yang menonjol di dahi Reynard dan buku-buku jarinya yang memutih karena mencengkeram kemudi dengan erat, Delvin diam-diam berkeringat dingin. Dia memikirkan akhir tragis yang akan dialami oleh para penculik itu.

__ADS_1


Sementara, van yang membawa Elvano melewati banyak jalan dan gang sebelum akhirnya berhenti didepan sebuah hotel mewah. Para penculik turun dari van sambil menutup mulut Elvano. Mereka masuk kedalam hotal melalui pintu samping dan segera naik lift menuju ke lantai delapan.


Mereka tiba didepan sebuah kamar, pria itu membuka pintu dengan kartu kamar lalu menyeret Elvano untuk masuk kedalam. “AAHHHH.” teriak Elvano jatuh keras kelantai. Untungnya lantai kamar itu dilapisi karpet tebal. Jadi dia tidak terluka lalu pintu kamar itu dikunci dari luar.


Elvano tampak tenang tanpa ekspresi dan tidak ada tanda-tanda ketakutan sama sekali. Tidak ada orang lain dikamar itu kecuali dia sendiri. Elvano berdiri dan berusaha membuka pintu tetapi gagal.


Dia memeriksa seluruh ruangan tetapi tidak berhasul menemukan jalan untuk melarikan diri. Elvano menghela napa panjang lalu mencoba memikirkan sesuatu.


‘Mereka membawaku ke hotel sebagus ini. Itu berarti siapapun yang menculikku tidak berniat untuk membunuhku. Mereka pasti punya niatan lain.’ pikir Elvano membuat analisanya sendiri.


Elvano duduk dengan tenang diatas sofa, tak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dari luar. Elvano tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berkata, “Itu pasti orang yang merencanakan semua ini.”


Anak kecil itu mengeryitkan dahinya saat melihat siapa yang datang. Dia memperhatikan pria itu dengan seksama. Pria pendek dan gemuk itu adalah ayah mama? Bukankah itu kakeknya? Dia pernah melihat pria itu di foto jadi Elvano mengingat wajahnya. Kenapa kakeknya malah menculiknya? Apa yang di inginkannya?


Liona tidak pernah membicarakan masa lalunya dengan Elvano tapi dia pernah menunjukkan foto Ayah dan ibu angkatnya serta saudari tirinya Vena.


Bocah laki-laki itu mengingat ekspresi ibunya saat memperlihatkan foto itu. Dia anak yang pintar dan langsung mengerti bahwa orang-orang itu pasti telah melukai ibunya.


Mereka sudah berbulan-bulan kembali ke negara ini tetapi ibunya tidak pernah membawanya untuk mengunjungi kakeknya. Dan Adam juga tidak pernah peduli pada mereka, hanya sekali dia mengunjungi Liona dirumah Reynard tapi saat itu Elvano tidak melihatnya.


Jadi bocah kecil itu menyimpulkan hubungan ayah dan anak itu pasti tidak harmonis. Setelah berpikir selama beberapa waktu, Elvano pun membuat sebuah keputusan. Dengan tatapan serius bocah kecil itu menghadap pria yang sedang berdiri didepannya, “Apa yang kamu inginkan dariku?”


Pria paruh baya itu menyipitkan matanya menatap Elvano dan beberapa saat kemudian matanya bersinar seolah memahami sesuatu. “Mereka bilang kamu anaknya Liona. Aku tidak pernah menyangka nasibmu sangat beruntung. Aku selalu berpikir bahwa Liona telah menyingkirkanmu atau mungkin menjualmu.”


“Sekarang Liona tidak ada disini, setidaknya dia belum datang tapi setelah kamu jatuh kedalam tanganku, aku yakin ibumu pasti akan segera datang menemuiku pria kecil.”


“Apa yang kamu inginkan dari kami? Apa salah ibuku sehingga kamu menculikku?” Elvano terlihat sangat marah.

__ADS_1


 


__ADS_2