
Dengan terburu-buru dia berganti pakaian dan turun kebawah untuk sarapan. “Selamat pagi mama.” dua anak kecil itu bahkan sudah rapi dan duduk menunggunya dengan senyum lebar diwajah mereka.
“Selamat pagi sayangku.” Liona membalas sapaan Elvano dan Felicia. Saat mereka sedang sarapan, dia memperhatikan kedua anak itu makan dengan lahap sambil berbisik-bisik dan tertawa.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan sehingga membuat mereka tertawa. Pemandangan didepannya ini sangat menyenangkan hati Liona.
“Apa rencana kalian hari ini?” tanya Liona pada kedua anak itu. Mereka menjawab dengan gelengan kepalanya. “Mama, hari ini tidak pergi syuting kan?”
“Tidak, hari ini mama tidak kemana-mana. Ehm...bagaimana kalau kita pergi shoping? Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita pergi belanja bersama.”
“Ah, Mama Liona! Aku suka sekali shopping. Kita bisa beli pakaian dengan model yang sama terus kita buat foto bersama. Pasti bagus sekali!” ujar Felicia. “Benar kan kak El?”
“Ya, kita pergi jalan-jalan saja Ma!” sru Elvano menyetujui pendapat adiknya itu.
“Baiklah. Setelah selesai makan, kalian siap-siap ya! Kita pergi jalan-jalan seharisn sepuasnya.”
Saat mereka sudah berada di pusat perbelanjaan, mereka langsung menuju ke toko pakaian.
Liona memilih beberapa gaun model terbaru dengan motif polos untuk dirinya. Saat dia mencoba pakian-pakaian itu, Felicia yang paling bersemangat memujinya.
“Mama Liona cantik sekali! Seperti bidadari yang turun dari kayangan! Mama harus pakai baju ini nanti malam. Pasti papa suka sekali.” Felicia berkata sambil mengerjapkan mata bulatnya.
Melihat tingkah anak perempuan itu, Liona sudah mengerti apa maksud Felicia. Anak ini benar-benar ya, dia ingin Liona merayu ayahnya malam ini. Penampilan Liona sangat cantik Elvano bahkan tercengang saat menatap ibunya yang terlihat fresh dan awet muda dengan gaya pakaian barunya.
Setelah selesai membeli beberapa pakaian untuk dirinya, ketiganya pun pergi ke toko pakaian anak untuk membeli beberapa pakaian baru untuk Felicia dan Elvano. Felicia yang mengingat semua baju-baju yang baru dibeli Liona, mencoba mencari pakaian dengan model dan warna yang sama agar terlihat kompak.
Sedangkan Elvano hanya menggelengkan kepala setiap kali dia memilih pakaian, Felicia meletakkan kembali pakaian pilihan Elvano lalu menyeretnya dan memilihkan baju dengan warna yang sama dengannya.
__ADS_1
“Kak El, kita harus pakai baju dengan warna yang sama dengan mama Liona! Nanti kita bilang ke mama supaya belikan juga buat papaku.”
“Memangnya kita mau pakai baju warna sama setiap hari?” tanya Elvano.
“Iya! Kita kan keluarga! Kalau kita bajunya sama, pasti kelihatan bagus kan untuk foto?”
“Feli! Apa papa-mu suka warna-warni ini? Dia kan selalu memakai warna gelap?”
“Pasti suka! Harus suka! Kalau papa tidak mau, kita ngambek saja seminggu jangan bicara dengannya, bagaimana?” ujar Felicia.
Elvano hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Felicia yang selalu saja ada ide aneh. Setelah selesai membeli pakaian untuk kedua anak itu, mereka pergi ke toko lain untuk membeli sepatu, tas dan aksesoris. Mereka juga membeli produk perawatan kulit dan juga kosmetik. Akhirnya mereka pergi ke salon untuk sentuhan akhir.
Felicia dan Liona memotong rambut mereka dengan model yang sama. Keduanya tampak serasi seperti ibu dan anak. Sedangkan Elvano juga memotong rambutnya dengan gaya terbaru. Penampilan ketiga orang itu sangat bagus. Lalu Liona memegang tangan kedua anak itu dan berkata sambil tersenyum.
“Ayo kita pergi! Kita harus menunjukkan kecantikan kita sebelum pulang kita naik keatas untuk makan siang. Ayo kita makan besar direstoran.”
Tapi saat mereka akan meninggalkan mall itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Ketika mereka sedang berjalan pulang dari mall, ada sebuah van yang berhenti didepan mereka. Pintu van terbuka dan beberapa pria tinggi dan kekar keluar.
“Siapa kalian! Apa yang kalian inginkan dari kami?” ujar Liona.
Liona langsung menempatkan kedua anak itu dibelakang tubuhnya untuk melindungi mereka. Dia berkata, “Felicia jangan takut, sayang, oke?” Liona berusaha menghibur gadis kecil itu.
“Tidak! Aku tidak takut mama. Kak El juga tidak takut.” jawab Felicia.
Liona memperhatikan keempat pria itu dengan waspada danketika sebuah kesempatan dia menendang wajah salah satu pria itu.
“Aduh!” pria itu menutupi wajahnya dengan tangan dan berteriak kesakitan. “Brengsek! Wanita ini bisa bela diri. Ayo kita serang bersama-sama.”
__ADS_1
Tiga orang pria yang tersisa segera mendekat. Lengan Liona masih terluka dan dia memiliki dua anak yang harus dilindungi jadi dia tahu kalau dirinya tidak akan mampu menghadapi ketiga orang pria itu secara bersamaan.
Pada saat itu, salah seorang pria bergegas kearahnya dan meraih lengan Liona. Sayangnya, yang diraih pria itu adalah lengan Liona yang sedang terluka. Luka Liona yang hampir sembuh langsung terbuka lagi. Darah mulai merembes melalui lengan baju wanita itu. “Wanita ini sedang terluka! Kita sangat beruntung sekali!”
Melihat noda darah di lengan baju Liona, pria itu mencengkeram lengan Liona lebih erat lagi dan meremasnya dengan kuat. Liona tersentak dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Wajahnya berubah menjadi pucat seketika.
Melihat situasi yang memburuk, Felicia berteriak, “Kamu orang jahat!” lalu dia memgang kaki pria itu dan menggigitnya dengan keras.
“Aduh! Kamu anak sialan! Aku akan membunuhmu sekarang!” saat pria itu berteriak, dia mencoba menendang tubuh Felicia.
Ekspresi wajah Liona langsung berubah, tanpa berpikir dua kali dia melepaskan Elvano lalu meraih kaki pria itu dan menendangnya. “Aduh! Aduh!” pria itu berteriak dengan keras dan jatuh ke tanah. Dia menutupi selangkangannya dengan kedua tangan dan kesakitan.
Liona tidak menyangka saat dia melepaskan tangan Elvano, salah seorang pria itu sedang menunggu kesempatan untuk segera membawa bocah kecil itu pergi.
Saat itulah pengawal pribadi Felicia yang tadinya mengamati dari jauh segera menyusul mereka dan segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Ketika mereka bergegas mendekati lokasi kejadian, pemimpin keenam pria itu melihat kedatangan mereka dan berteriak, “Ayo segera pergi!”
“Tapi wanita itu….”
“Tidak usah pedulikan dia. Ayo pergi sekarang juga!” teriak temannya yang lain.
Pria lainnya tidak punya pilihan lagi lalu masuk kedalam van dan salah satu dari mereka menggendong Elvano. Ekspresi wajah Liona langsung berubah drastis. “Elvano!”
“Mama!”
Liona berlari mengejar gerombolan pria itu. Namun mobil mereka sudah melaju dengan kencang. Bagaimana dia bisa mengejar kendaraan itu hanya dengan kedua kakinya? Liona berlari sekuat tenaga tetapi pada akhirnya dia hanya bisa melihat van itu menghilang dari pandangan matanya.
__ADS_1