
Beberapa hari terakhir cuaca kota itu sangat panas namun Adam tidak mandi atau berganti pakaian selama tiga hari. Akibatnya dia berbau tidak sedap. Vena merasa jijik melihat kondisi ayahnya dan meminta asistennya membantu Hesty. “Saskia, kamu tolong ibu. Aku akan membereskan tempat tidur untuk ayah.”
“Baiklah.”
Vena menyalakan Ac dan menarik selimut sementara Hesty dan Saskia membantu Adam untuk berbaring diranjang. Pria itu bersandar di tempat tidur dengan lemah berkata, “Hesty…...”
“Aku disini sayang. Ada apa sayang? Apakah Liona telah menyakitimu? Kamu jangan khawatir ya, aku tidak akan membiarkan wanita ****** itu hidup dengan damai!”
Entah kenapa tubuh Adam merinding saat Hesty menyebut nama Liona. Pria itu berusaha untuk menenangkan dirinya dan sambil memegang tangan Hesty, dia berkata, “Tidak…...tidak...”
“Sayang…..” Hesty menatap suaminya dengan bingung.
“Mulai sekarang kalian tidak boleh mencari masalah dengan Liona lagi. Anggap saja kita tidak pernah mengenalnya. Apakah kalian berdua mengerti?” ujar Adam dengan wajah ketakutan. ‘Liona….wanita itu sangat mengerikan! Dia sudah gila. Tidak….tidak….dia adalah iblis dari neraka.’ pikir Adam.
Darah Adam terasa dingin saat dia mengingat bagaimana Liona menikamnya tanpa ragu. ‘Dan pria bernama Delvin itu…..’ memikirkan namanya saja sudah membuat tubuh Adam gemetar lagi. Adam menelan salivanya dengan susah payah dan berjuang untuk bangkit dari tempat tidur. Dia kemudian memegang tangan Hesty dan Vena.
Dia memperingatkan mereka berdua, “Ingat ya, kalian tidak boleh menyinggung Liona lagi! Apakah kalian mendengarku?”
“Papa…..” Vena membuka mulutnya untuk memprotes tapi Adam memotongnya.
“Kalian harus berjanji padaku!”
Vena menatap ibunya dan wanita itu segera menusuk bahu Vena. “Lakukan seperti yang papamu minta!” Hesty mendesak putrinya.
__ADS_1
“Aku berjanji papa.” Vena menuruti perintah ayahnya dengan perasaan enggan. Adam pun menghela napas lega, setelah apa yang dilaluinya selama beberapa hari dia semakin takut pada Liona. Setelahnya dia langsung ambruk di tempat tidur. Adam merasa sangat lelah dan tidak bisa bergerak lagi.
“Papa!”
“Vena! Kamu tunggu diluar. Aku akan menyeka tubuh papamu.”
“Baiklah.” ujar Vena lalu keluar dari kamar dan menunggu diruang tamu. Setelah beberapa saat menunggu, Vena yang sedang duduk diruang tamu sudah lama menunggu Hesty keluar dari kamar. Ketika akhirnya Hesty menuju ke ruang tamu, Vena langsung berjalan menghampiri ibunya.
“Ma, apa sebenarnya yang terjadi pada papa? Apakah papa mengatakan sesuatu?”
Hesty menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ibu dan anak itu menuju ke sofa lalu duduk saling berdampingan. Entah mengapa raut wajah Hesty dipenuhi dengan kebencian. “Papamu sedang tidak sehat dan keadaannya pasti ada hubungannya dengan Liona.”
Setelah bertahun-tahun menikah, ini pertama kalinya Hesty melihat Adam begitu ketakutan.
Tidak! Adam tampak sangat ketakutan. Dulu mereka pernah berhutang banyak uang kepada penagih utang karena Ada, senang berjudi. Suatu hari penagih datang dan memutuskan menunggu didepan pintu rumah sambil membawa parang untuk mendapatkan uang mereka kembali. Saat itu Adam sama sekali tidak merasa ketakutan.
“Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menanyakan pada papamu lagi nanti saat keadaannya sudah agak membaik.” ujar Hesty.
“Bagaimana dengan yang dikatakan papa tentang---”
“Tidak mungkin terjadi!” Hesty segera menyela. Sikap tenang yang ditunjukkan oleh wanita itu beberapa waktu lalu langsung digantikan oleh sikap dingin dan kejam.
Dia mengepalkan kedua tangannya dan berkata, “Kita tidak akan membiarkan Liona lepas begitu saja. Aku akan menyesal jika aku tidak memastikan dia benar-benar mati sebelum aku melemparkannya ke laut. Meski begitu bagaimana caranya wanita ****** itu bisa kembali dengan selamat?”
__ADS_1
“Apa yang akan mama lakukan padanya?”
“Ya, wanita ****** itu sudah mengetahui bahwa akulah yang membunuh kedua orang tuanya dan mengambil semua harta peninggalan mereka. Lalu pura-pura mengadopsinya dari panti asuhan. Dia juga sudah tahu kalau kamu yang membunuhnya. Meskipun kita tidak ingin mencari masalah dengan wanita ****** itu, dia tidak akan membiarkan kita hidup dengan tenang.”
Vena mengangguk setuju. Dia juga berpikiran sama dengan ibunya. Vena sangat yakin kalau Liona kembali ke kota ini untuk membalaskan dendam pada mereka. Jika tidak, mengapa dia ikut audisi di serial TV yang dia juga ada disana? Sudah jelas sekali kalau dia kembali dengan motif balas dendam! Dan mungkin dia sudah mempersiapkan dirinya untuk itu.
“Liona adalah wanita brengsek! Sebelumnya kita sudah membereskan semuanya dengan baik. Namun dia muncul tiba-tiba dan menghancurkan semua! Sekarang lihatlah apa yang dia lakukan pada papamu. Bagaimana mungkin aku bisa menahan amarahku? Aku tidak mungkin tinggal diam saja dan membiarkannya hidup senang diluar sana!”
Setelah mendengar perkataan ibunya, Vena menghela napas lega. Dia khawatir ibunya akan mendesaknya untuk melepaskan saudara tirinya itu seperti yang diminta oleh ayahnya. Jika dia mendapat bantuan dari ibunya maka Vena tidak perlu khawatir melakukan apapun pada Liona. Dia mungkin seorang wanita licik tapi ibunya bahkan lebih licik darinya.
Vena menyandarkan kepala dibahu ibunya dan berkata, “Ma, saat ini tidak mudah untuk berurusan dengan Liona. Mama sudah lihat sendiri bagaimana sikapnya terakhir kali bertemu dengannya di mall. Sepertinya Liona sudah banyak berubah apalagi dia sekarang adalah kekasih Tuan Reinhard.” ujar Vena sengaja mengatakan itu untuk memancing kebencian ibunya pada Liona lagi.
“Jangan khawatir sayang. Kita hampir membunuh wanita ****** itu tiga tahun lalu. Kita pasti bisa melakukannya lagi dan aku akan memastikan wanita ****** itu benar-benar mati kali ini. Wanita bodoh seperti dia bukanlah tandinganku.” ujar Hesty.
Mata Vena berbinar saat mendengar janji ibunya, “Ma, apa yang akan mama lakukan selanjutnya?”
Hesty membelai rambut Vena dan saat itu dia merasa bangga sekali pada putrinya. Di usianya yang masih muda, Vena sudah menjadi aktris terkenak didunia hiburan. Hesty yakin jika putrinya akan memiliki masa depan yang cerah. “Vena, sebaiknya kamu tidak ikut campur kali ini.”
“Kenapa ma?” Vena mengerutkan kening dan bertanya.
Dia juga ingin Liona mati ditangannya sendiri! Sejak bertemu dengan Liona, dia selalu mengalami banyak masalah terutama di lokasi syuting. Sutradara selalu mencari masalah dengannya. Dia bahkan meminta Liona untuk mengajari Vena bagaimana cara berakting yang benar! Ironis sekali! Dia adalah seorang aktris terkenal dan telah terlibat banyak film.
Sedangkan Liona hanyalah seorang pemula. Tapi yang membuat Vena kesal adalah Liona tidak meninggal karena kecelakaan yang telah dia rencanakan disaat mereka syuting beberapa hari lalu. Tiba-tiba Hesty berkata, “Aku tahu amu takut pada Liona.”
__ADS_1
Pernyataan ibunya sontak membuat Vena menjadi marah besar. “Ma! Apa yang mama bicarakan?”
“Kenapa kau harus takut pada wanita seperti Liona? Dia tidak pantas untuk ditakuti! Memangnya dia siapa? Selain wajahnya yang cantik, apa lagi yang bisa dibanggakan darinya? Seth bahkan tidak menyukai wanita itu. Aku adalah satu-satunya waita yang dia cintai!” kata Vena dengan bangga. Vena tidak pernah menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya didepan Hesty.