CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 114. TIKUS OPORTUNITIS


__ADS_3

“Kau tidak ingin pulang kerumah kakek dan nenek?”


“Uhmm….iya dan tidak…..” Felicia cemberut dan mengeluh. “Aku juga merindukan nenek dan kakek tapi nenek sangat egois. Dia tidak ingin aku bertemu mama Liona dan kak El. Terakhir kali nenek mengunciku dikamar dan tidak mengizinkan aku pergi menemui mereka.”


Sambil bicara, gadis kecil itu menyandarkan kepalanya dipangkuan Reynard. Dia terlihat sama depresinya dengan kucing yang terdampar di tengah salju. Reynard membelai kepalanya dengan lembut dan berkata. “Tidak perlu khawatir. Papa akan mengurus semuanya.”


“Baiklah. Terimakasih papa.”


Setengah jam kemudian mereka tiba dikediaman Wilfred.


“Felicia!” begitu Davina melihat Felicia, dia memeluk gadis kecil itu dan tersenyum. “Oh, kelihatannya berat badanmu bertambah. Coba lihat! Kau adalah gadis kecil yang gemuk dan menggemaskan. Kau sangat berat sehingga nenek hampir tidak bisa menggendongmu.”


“Itu karena mama Liona memasak banyak makanan yang lezat untukku.” jawab Felicia dingin.


Sontak senyum diwajah Davina menghilang ketika dia mendengar jawaban cucunya. Dia segera merubah topik pembicaraan.


“Tidak baik bagi seorang gadis kecil terlalu gemuk. Nanti kau malah gampang sakit.”


Felicia segera melepaskan diri dari pelukan neneknya, masih merasa sedih dan melompat kepelukan kakeknya. “Ya Tuhanku! Jadi sekarang kau lebih sayang pada kakek?”


“Benar sekali! Aku telah memutuskan bahwa aku akan lebih mencintai kakek mulai sekarang.”


Abraham tertawa terbahak-bahak, sementara Davina merajuk seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.


Kemudian mereka berjalan menuju keruang tamu dengan perasaan gembira. Kedua putranya terlalu sibuk untuk mengunjungi mereka, jadi sekarang Davina berniat untuk sedikit memanjakan mereka. Hatinya menari kegirangan saat melihat wajah kedua putranya, dia memegang tangan Reynard dengan penuh kasih sayang. Dia sangat menyayangi putranya sehingga membuat Davina menjadi seorang ibu yang super protektif terhadap kedua putranya itu.

__ADS_1


“Sayangku, kenapa kau malah terlihat lebih kurus? Ibu mengerti bahwa pekerjaan itu penting. Tapi kau harus selalu ingat bahwa kesehatan jauh lebih penting. Kau harus makan tiga kali sehari tepat waktu. Sudahlah, lupakan saja ucapanku. Tidak ada gunanya bicara dengan kalian berdua. Lagipula kau tidak pernah menerima saran ibumu ini.” ujar Davina dengan wajah yang dibuat sedih agar putranya merasa kasihan.


“Uhm…..ngomong-ngomong, ibu sudah meminta koki untuk menyiapkan makan siang seafood yang sehat untuk kalian.” ujar davina lagi. Sengaja dia mengalihkan topik pembicaraan setelah melihat ekspresi wajah Reynard yang mengeryitkan dahi mendengar ucapannya tadi.


“Baik.” seperti biasa, Reynard tidak banyak bicara. Hal itu membuat sudut mulut Davina berkedut kencang.


“Reynard! Aku adalah ibumu! Kenapa kau selalu menjawab pertanyaan dengan satu kata saja? Apa susahnya berbicara lebih banyak?”


“Aku mengerti.”


Davina kembali tercengang. ‘Baiklah. Sepertinya Reynard benar-benar hanya akan mengatakan satu kata saja. Selalu saja dia bersikap begitu padaku.’ bisik hati Davina.


Delvin tidak bisa menahan tawa. Jika ibu mereka tahu bahwa Liona tidak menyukai sikap cerewet Reynard, pasti muka ibunya pasti akan menjadi hijau karena iri. Davina dengan senang hati pergi menyiapkan makan siang untuk kedua putranya. Abraham memanggil Reynard keruang kerja dan beberapa pelayan sedang bermain bersama Felicia. Hanya Delvin yang tersisa sendirian disana.


“Delvin! Ayo bantu ibu didapur.” pinta Davina.


Davina menjulurkan kepalanya keluar dari dapur dan berkata. “Berhenti mencari alasan dan cepat kemari!”


‘Ah itu pasti alasan ibu saja. Dia ingin menanyakan sesuatu dibelakang Felicia. Aduh mati aku!’


Akhirnya Delvin pun menyerah pada nasib, lalu dia berjalan kedapur dengan enggan.


“Ibu….” Begitu dia memasuki dapur, Davina langsung menariknya mendekat.


“Delvin! Kau sudah tinggal bersama kakakmu begitu lama dan kau pasti sudah pernah bertemu dengan Liona kan? Sekarang bicara yang jujur pada ibu. Apa yang telah dilakukan oleh tikus oportunis itu untuk menarik perhatian kakakmu?”

__ADS_1


‘Tikus oportunis?’ Delvin tidak percaya mendengar ucapan kasar itu keluar dari mulut ibunya. Wajah pria itu langsung berubah menjadi gelap, dia tidak senang jika ibunya bicara kasar seperti itu apalagi orang yang dimaksud ibunya adalah Liona. Wanita yang dicintai oleh Reynard.


“Delvin?” panggil Davina.


“Ibu dengar ya. Jangan bilang aku tidak pernah memperingatkan ibu. Jika kak Reynard mendengar ibu berbicara kasar tentang Liona, aku yakin itu akan menjadi pertemuan kalian yang terakhir. Sebaiknya ibu ingat itu.” ujar Delvin mengeryitkan dahi tak senang.


Wajah Davina langsung sedih. Delvin meletakkan tangan dibahu ibunya untuk menghibur wanita paruh baya itu. “Tolong bu. Dengarkan aku dulu, oke?”


“Baik. Katakanlah apa yang ingin kau katakan.”


“Ibu tahu sendiri bagaimana kepribadian kak Reynard. Dia sangat sulit untuk jatuh cinta dan seharusnya ibu senang saat Kak Reynard akhirnya menemukan wanita yang dia cintai. Selain itu Liona adalah wanita yang luar biasa. Terlepas dari profesinya sebagai seorang aktris, dia itu baik, jujur dan peduli pada orang lain.”


Sebelum Delvin bahkan bisa menyelesaikan kalimatnya, Devina langsung menghentikannya dengan tatapan tajam. Delvin Wilfred! Aku tidak memintamu datang untuk memuji Liona setinggi langit. Wanita itu telah membodohi semua orang dan kelihatannya kau juga sudah terpengaruh olehnya.”


Delvin menatap ibunya dengan kaget. Selama ini ibunya selalu berpikir logis dalam menghadapi masalah. Sejak kapan ibunya berubah menjadi wanita yang keras kepala dan kejam?


“Baiklah kalau ibu keras kepala. Coba ibu beritahu aku, kenapa ibu kelihatannya sangat membenci Liona? Kalian berdua bahkan belum pernah bertemu satu sama lain. Mengapa ibu tidak mencoba untuk mengenalnya terlebih dahulu? Ibu mungkin akan berubah pikiran setelah mengenal Liona lebih jauh.”


“Tidak perlu membuang waktu untuk mengenal wanita ****** seperti dia!” ujar Davina.


“Ibu!” Delvin bersikeras untuk mencoba menyadarkan ibunya.


“Beberapa waktu lalu, aku melihat banyak skandal yang melibatkan wanita itu.” Davina memotong perkataan Delvin. “Bagaimana dia bertingkah tidak tahu malu dibelakang panggung dan juga bagaimana cara dia mendapatkan peran dalam serial TV itu. Wanita itu hanyalah seorang pelacur….”


“Ibu!” seru delvin. Dia segera menarik ibunya kesudut agar tidak terdengar. “Pelankan suara ibu! Ibu tahu bahwa dunia hiburan itu sangat brutal. Miko telah menjadi bagian dari lingkaran ni selama beberapa tahun?”

__ADS_1


Delvin menghela napas menatap ekspresi wajah ibunya. “Bukankah ada banyak rumor mengatakan bahwa dia suka berganti-ganti pacar? Namun berita itu tidak ada satupun yang benar. Ibu harus tahu semua berita tentang  Liona itu hanyalah berita bohong. Ada pihak tertetnu yang ingin mencoreng nama baik Liona. Jadi kenapa ibu percaya pada berita tidak berdasar itu?”


“Tidak ada asap tanpa api, Delvin!” ujar Davina ketus.


__ADS_2