CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 54. MENGUNGKAPKAN RASA


__ADS_3

Lidah pria itu seperti jerat yang sulit ditolak, tubuh Liona jadi gelisah saat lidah Reynard bermain-main didalam mulut Liona.  Liona ingin menjerit namun bibirnya sedang dihisap dengan kuat oleh Reynard untuk meredam teriakannya. Kedua tangan Liona meremas rambut Reynard sangat kuat.


“Liona...oh.. apa yang kamu lakukan, sayang?”


Wanita itu membuka matanya perlahan dan melihat Reynard yang masih menaunginya dengan takjub,  Reynard bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi, dia masih bisa mengontrol dirinya agar tak melewati batasan.  Tak lama dia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk melilit di pinggangnya.  Dia duduk ditepi ranjang membelai pipi Liona, wanita itu membalikkan badannya dan memegang tangan Reynard.  Perlahan dia duduk dan melingkarkan tangan dipinggang Reynard, tersadar jika pria itu hanya memakai handuk melilitkan dipinggang, Liona melepas pelukannya.  Dengan wajah merona dia lalu berlari masuk ke kamar mandi.  Guyuran air membasahi tubuhnya membuatnya segar,  sudut bibirnya terangkat mengingat betapa hangatnya sentuhan bibir Reynard yang tak mampu ditolaknya.


Saat keduanya turun kelantai bawah, Delvin dan Ardana duduk bersama Elvano dan Felicia dimeja makan. Semua mata memandang Reynard dan Liona yang berjalan mengikuti di belakang. “Bagaimana kak, apakah kamu bisa tidur tadi malam?” Tanya Delvin, Felicia memiringkan kepalanya sambil mengerjapkan mata menatap wajah Liona yang berseri pagi itu.


“Ya. Aku tidur nyenyak,” jawab Reynard sambil mengambil sepotong sandwich.


“Papa tidur dengan mama Liona, ya? Berarti papa akan menikah!” sela Felicia girang


“Husss….berisik!” kata Elvano melirik Felicia.


“Kakak, kita akan jadi saudara kalau papa dan mama Liona menikah,” seru gadis gendut itu seraya memeluk Elvano.  Bocah laki-laki itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, dia tidak pernah merasa risih dengan tingkah Felicia yang lucu.


“Paman, kapan papa akan menikah?” tanya Felicia pada Delvin.

__ADS_1


“Kenapa kamu nanya paman? Tanya saja sama papamu dan Liona.” Delvin yang sedari tadi berusaha menahan senyum karena dipikirannya dia tahu apa yang terjadi semalam, apalagi pagi ini dia melihat leher Liona yang banyak tanda stempel.’Ah, kakak memang paling top.  Kamu memang tak menyiakan kesempatan.  Sepertinya Liona sudah mulai bisa menerimamu.’ monolog Delvin dalam hati.  Dia senang jika hubungan Reynard dan Liona akan lebih baik lagi dan bisa berlanjut ke pernikahan.


Dia memandang kedua bocah yang sibuk berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan dari tadi.  Kedua bocah itu terlihat lucu layaknya sepasang detektif yang sedang merencanakan sesuatu. Delvin berusaha untuk menguping pembicaraan kedua bocah nakal itu.


“Jika kamu lelah, tidak usah pergi syuting hari ini,” kata Reynard pada Liona.


“Aku baik-baik saja, tak perlu khawatir.” ujar Liona merona, pikirannya masih mengulang semua kejadian tadi malam dan pagi ini. Dia tidur seranjang dan berciuman dengan bos nya, meskipun hanya sebatas ciuman tapi membayangkannya saja sudah membuat pipi Liona merona.


‘Aku salut juga sama dia, padahal kami sangat dekat dan seranjang tapi kontrol dirinya sangat bagus. Dia menghargaiku dan tak mau mengambil kesempatan. Dia hanya menciumku dan tak lebih.’ Gumam Liona sambil memandang Reynard yang saat itu juga sedang memandang Liona.  Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Pernyataan Liona tadi malam bahwa dia masih perawan membuat Reynard sangat senang. Dia bahkan jadi lelaki pertama yang mencium wanita itu.  Satu sisi, Reynard sangat salut pada Liona dimana sudah sangat jarang seorang wanita yang mampu menjaga kehormatannya.  Oleh karena itulah Reynard tak ingin melewati batasan tadi malam.  Dia ingin menjaga kehormatan Liona hingga saatnya tiba.


Selama tiga puluh tahun hidupnya, dia tak pernah membayangkan bahwa dia akan jatuh cinta pada wanita seperti Liona. Pria itu pernah berkata bahwa dia tidak percaya pada istilah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia selalu berpikir itu hanyalah sebuah alasan yang dibuat-buat dengan tujuan agar bisa berhubungan badan dengan pasangan. Selama tiga puluh tahun terakhir, dia tidak pernah jatuh cinta dengan wanita manapun atau memiliki hubungan romantis. Dengan ibu Felicia saja pun dia tak pernah bersikap romantis dan menikah tanpa ada cinta, hanya pernikahan bisnis saja. Dia bahkan tidak pernah mencoba untuk mengenali almarhum istrinya dulu. Oleh sebab itu, desas desus mengatakan kalau dia tidak menyukai wanita dan menikah hanya untuk menutupi aib.


Kecemburuan!


Kemarahan!


Nafsu!

__ADS_1


Mengingat interaksi Liona saat mereka tidur seranjang membuat Reynard kalang kabut menahan gairahnya. Erangan, ******* dan sentuhan tangan wanita itu yang mampu membangkitkan sesuatu dalam dirinya, membuatnya mati menahan nafsu. Reynard yang sedang berada dirunag rapat tak bisa fokus, bayangan Liona dan dirinya tadi malam terus bermain-main diwajahnya seperti film yang diputar berulang-ulang.


...*...


Di lokasi syuting, tepatnya diruang ganti. Aurora memperhatikan ruang ganti pribadi Liona yang berada paling ujung. Ada dua orang pengawal yang berdiri di depan pintu berjaga-jaga.


"Issss.....sialan. Kenapa harus ada pengawal disana? Sudah macam putri kerajaan saja dijaga-jaga. Kalau begini, bagaimana caranya aku bisa mencelakai perempuan itu kalau pengawalnya setia disampingnya. Aku harus pikirkan cara untuk balas dendam." gumam Aurora penuh kekesalan.


Dia masuk kedalam ruang ganti, sang asisten memberikannya setelan celana panjang. Kini dia duduk dengan kesal saat MUA sedang memulai merias wajahnya. Tamoilannya hari ini dengan riasan tegas dan agak mencolok. Setelah semua selesai, Aurora pergi ke lokasi pengambilan gambar.


Action!


Tampak Aurora yang berperan sebagai Joana di serial itu, terlihat mendatangi Rosalind yang diperankan Liona. Ada adegan dimana dia harus menampar Liona. Seringai licik muncul di wajahnya. 'Ini kesempatan bagus untuk membalaskan dendamku. Aku akan menamparnya sangat kuat. Saat tangannya terangkat keatas, tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa gatal. Aurora menutinkan tangan dan mulai menggaruk tubuhnya.


Melihat itu, sutradara Reiki merasa marah dengan akting buruk Aurora, terlebih lagi apa yang dilakukannya saat ini tidak sesuai dengan naskah.


CUT!

__ADS_1


"Aduh.....gatal...gatal" ujarnya semakin menggaruk tubuhnya tak karuan. Hingga tanpa dia sabari dia sudah melepaskan baju yang dipakainya dan menggaruk kasar dengan kuku.


__ADS_2