CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 41. PERANG DIMULAI


__ADS_3

Sudah satu jam berlalu sejak Delvin menghubungi Reynard.  Pria itu menunda meeting dan kembali ke Wilfred Media, cuaca hari itu sedikit panas dari kemarin namun Reynard memasuki ruangan dengan tatapan sedingin es dan penuh permusuhan.  Dia menatap sepuluh kardus dilantai dengan raut wajahnya yang sedingin es.  Dia membaca informasi pengirimnya, wajahnya langsung cemberut.


“Apakah Liona punya penggemar pria, kak atau mungkin mantan pacar?” tanya Delvin sambil mengikuti langkah kakaknya. “Maaf, Kak. Ucapanku hanya omong kosong, tak usah kakak pedulikan, ya. Tapi Liona adalah kekasihmu bagaimana mungkin dia masih bisa menerima hadiah dari pria lain.”


Reynard tak mengindahkan ucapan Delvin, wajahnya makin muram dan ia ingat percakapannya dengan Liona beberapa hari yang lalu. Liona mengatakan jika ia mencintai Reynard dan resmi jadi kekasihnya tapi meminta untuk tidak buru-buru menikah. Hal itu membuat raut wajah Reynard berubah.  Dia cemberut dan berjalan meninggalkan tempat itu.  Delvin berusaha berlari mengejar kakaknya. “Kakak mau pergi kemana?”


“Ketempat syuting!” sahut Reynard ketus.


Sementara dilokasi syuting, Liona sedang berada diruang ganti untuk mengganti kostum dan merias wajahnya.  Ada beberapa kursi diruang itu dan semua sudah terisi kecuali kursi paling ujung.  Semua pemeran utama sedang berada didalam untuk dirias, sedangkan pemeran pendukung mengantri menunggu giliran.  Melihat ada kursi yang masih kosong Liona berjalan dan hendak duduk, hingga satu suara menghentikannya. “Berhenti!”


Pintu ruang ganti dibuka dengan kasar.  Aurora dan asistennya berjalan masuk.  Dia menggenakan dress putih pendek diatas lutut, menampilkan lekuk tubuhnya, sepatu berhak tinggi 7cm membuatnya terlihat menjulang.  Aurora mengangkat alisnya lalu duduk dikursi yang tersisa itu.  Kedua tangannya dilipat didepan dada dengan tatapan tajam pada Liona “Kau pendatang baru disini, harusnya kau hormat pada senior sepertiku. Senior harus selalu diutamakan, jadi kamu harus berdiri disudut sana menunggu giliranmu.” ujarnya sembari jari telunjuknya mengarah kesudut ruangan.


Aurora adalah artis cantik dan ternama.  Tidak ada orang yang berani melawannya karena berimbas buruk pada mereka. Baru Kiara yang pertama kali berani menantangnya. Semua orang terdiam tak ada yang berani bicara.  “Kenapa kau masih berdiri disana? Pergi jauh-jauh! Aku muak melihat mukamu disini!”


Liona sudah banyak melihat drama diantara para aktris, ia ingat tentang hal apa yang membuat Aurora marah padanya, tapi Liona tidak akan membiarkan siapapun menindasnya tanpa alasan jelas. Liona seorang wanita yang mudah diajak bicara baik-baik tapi tidak bisa ditindas.  Mendengar semua ocehan Aurora, membuat Liona semakin jijik dan tak acuh.


“Maaf, kau memintaku keluar? Aku tidak mau! Ini ruangan untuk semua orang, bukan hanya untukmu jadi kau tidak berhak mengusir siapapun dari sini! Atau kau mau menunjukkan padaku bagaiman sikap senior yang seharusnya?” ejek Liona.  Aurora marah dan memukulkan tangannya ke meja sambil mengutuki Liona.


“Mati saja kau perempuan murahan! Perig ke neraka! Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau bicara seperti itu padaku! Kau tak pantas ada disini, kau pikir karena kecantikanmu maka kau bisa menjadi idola dan menguasai semua orang? Ingat! Kau akan cepat tergantikan dengan aktris lain yang lebih cantik dalam hitungan jam.”


Liona tersenyum elegan dan berkata “Terimakasih sudah memuji kecantikanku, mungkin karena aku cantik kau merasa terintimidasi! Kalau kau artis yang baik dan punya moral maka kau tidak akan menindas artis lain.  Dan aku tidak suka tipe orang seperti itu. Jaga sikapmu karena saat kau tahu siapa diriku, maka kau akan memohon dikakiku untuk tidak menendangmu.” ujar Liona ketus, mungkin sudah saatnya orang tahu tentang hubunganku dengan Reynard, mungkin dengan begitu aku akan aman, pikirnya.


Mata Aurora membelalak mendengar ucapan Liona yang datar dan tegas penuh penekanan. Aurora bangkit dan memelototi Liona “Perempuan murahan beraninya kau berbicara seperti itu kau! Kau pikir kau siapa, hu?”

__ADS_1


“Kau benar-benar ingin tahu siapa aku? Sabar ya, segera kau akan tahu dan jika saat itu tiba jangan salahkan aku jika karirmu sebagai artis akan berakhir,” kata Liona sambil menjentikkan jarinya didepan wajah Aurora.


“Oh, iya. Jangan sering-sering marah. Nanti keriput diwajahmu makin terlihat, kau tidak akan laku lagi jadi artis.  Mendinga kau pergi ke Korea operasi plastik.  Kalau plastiknya kurang, dirumahku banyak plastik sampah cocok dengan muka sampahmu!” teriak Liona membuat Aurora menganga tak percaya jika wanita itu berlidah tajam. “Kalau kau mau, aku bisa merekomendasikan krim anti keriput, pasti membantu agar kau terlihat muda!”


Liona mengolok-olok Aurora yang terlihat lebih tua.  Dia merasa dipermalukan dan Aurora merasa tak terima. Bukannya berhenti, Liona malah semakin menggebu


“Ck...ck….seorang artis senior harusnya punya uang banyak untuk merawat dirinya. Coba perhatikan pori-porimu besar dan banyak komedi, perlahan wajahmu yang cantik pasti akan hancur, itu sebabnya kau iri pada kecantikan paripurnaku.” dengusnya menatap sinis Aurora. “Umurmu masih duapuluh delapa tahun, tapi sudah teerlihat seperti empat puluh tahun!”


“Kurang ajar kau!” Aurora mengamuk dan menyerang Liona. Wanita itu sudah memprediksi hal ini, dia pun menghindar, akhirnya tangan Aurora memukul dinding membuatnya meringis kesakitan.


“Ups! Sakit ya?


“Sialan kau Liona! Aku berumur dua puluh delapan tahun, seenaknya kamu bilang aku berumur empat puluh tahun!”


“Liona j*lang! Aku akan menghajarmu!” Aurora hendak menyerang Liona yang berdiri dekat pintu bertepatan dengan pintu itu terbuka.


“Berani sekali kamu bicara seperti itu pada kekasihku!” teriakan suara bariton terdengar dari pintu. Seketika semua mata memandang dan terkejut, rona ketakutan muncul diwajah semua orang diruangan itu. Reynard masuk kedalam ruangan dan langsung memeluk Liona. “Wanita ini adalah calon istriku! Jika ada yang berani menghina atau menggosipkannya, aku pastikan orang itu akan hancur!” Tangan Reynard memeluk pinggang Liona sambil menatapnya penuh cinta. Liona tersenyum lalu tangannya menyentuh wajah Reynard.


“Apa yang kamu lakukan disini, sayang?” tanya Liona lembut sambil berpura-pura mesra. Tingkah Liona membuat Reynard senang dan memeluknya.


“Aku hanya ingin melihat apakah kamu baik-baik saja, sayang. Aku akan minta mereka buatkan ruangan khusus untukmu.”


Liona hanya mengangguk, senyum manis tak lepas dari wajahnya. Ruangan itu hening tak seorangpun berani bersuara dan Aurora semakin tak terima karena Liona mendapatkan pria kaya raya seperti Reynard tapi dia pun tak bisa bertindak gegabah karena Reynard adalah orang yang berkuasa yang bisa menghancurkan siapa saja.

__ADS_1


“Ayo keluar sebentar. Aku mau bicara denganmu.” kata Reynard memeluk pinggang Liona dan menariknya keluar dari ruang rias itu.  Sepeninggal mereka, helaan napas lega pun terdengar diruangan itu.


“Oh….syukurlah Tuan Reynard sudah pergi. Beruntung sekali Liona jadi kekasihnya.”


“Alaaa…..paling dia jual tubuh!”sambar Aurora masih iri.


“Setahuku selama ini Tuan Reynard tak pernah dekat dengan siapapun. Apa kalian dengar kabar kalau besok mereka akan mengadakan konferensi pers? Pasti Tuan Reynard ingin mengumumkan soal hubungan cinta mereka.” sahut salah satu penata rias.


Aurora menghentakkan kakinya penuh amarah. Dia kalah telak dengan Liona sang pendatang baru. Dari dulu Aurora sudah mengincar pria-pria kaya untuk jadi kekasihnya tapi tak pernah beruntung, dia hanya bisa jadi wanita simpanan saja sampai hari ini.


“Rey! Ada apa kamu datang tiba-tiba?” tanya Liona setelah mereka berada disalah satu ruangan kosong tak jauh dari ruang rias.


“Aku hanya ingin menemuimu. Boleh aku tahu siapa yang mengirimkan hadiah-hadiah itu padamu?” tanya Reynard berusaha bicara selembut mungkin agar tak menyinggung Liona.


“Jangan hiraukan soal hadiah-hadiah itu. Aku akan kembalikan pada pengirimnya setelah aku tahu siapa orangnya. Aku tidak punya hubungan dengan siapa-siapa.” ucapnya menjelaskan.


“Apakah kamu bicara seperti ini karena takut bayar denda ya?” Reynard tersenyum menatap wajah Liona yang gelisah seperti anak kecil yang kedapatan mencuri makanan saja.


“Tidak! Bukan begitu Rey! Aku memang tidak tahu siapa pengirimnya.”


“Baiklah, sayang. Ruangan ini kosong, aku akan minta mereka menyiapkan ruangan ini untukmu. Aku tidak mau ada orang lain lagi menghinamu.”


“Ta---tapi.”

__ADS_1


“Ssssstttt……..aku tidak mau dengar apapun. Jangan menolakku, ok?” tangan Reynard mengusap pipi mulus Liona yang menjawabnya dengan anggukan kepala.


__ADS_2