
“Apa yang ada didalam mangkuk itu?” tanya Liona mengeryitkan dahinya. Matanya menatap sup yang masih mengepul itu.
“Ini adalah sup yang bisa membantu anda mengurangi gejalan hangover. Tuan Reynard telah memerintahkan koki untuk membuatnya untuk anda. Nona Liona, silahkan diminum sekarang. Sup inilebih efektif saat masih hangat.”
Liona merasa hangat dihatinya. Jika berpikir dengan hati-hati dia menyadari bahwa Reynard memperlakukannya dengan sangat baik. Ketika pelayan itu pergi, Liona segera meminum sup itu sambil duduk ditempat tidur.
Dia menunggu Reynard kembali kekamar. Tetapi setelah menunggu cukup lama, Reynard tidak kunjung kembali ke kamar. Dia heran dan merasa tak enak hati karena Reynard pergi dari kamar.
Jadi Liona memutuskan untuk bangun dari tempat tidur. Ketika dia berdiri dari tempat tidur, Liona merasa sedikit pusing. Tapi kepalanya sudah tidak terlalu sakit sekarang.
Dia tidak yakin apakah itu efek dari sup yang sangat berkhasiat. Ketika Liona menundukkan kepalanya, dia terkejut dengan apa yang dia lihat.
Celana pendeknya dilempar begitu saja ke karpet disamping tempat tidur. Baru pada saat itulah dia memeriksa dirinya. Dan yang paling mengejutkan adalah dia hanya mengenakan pakaian dalam saja.
“Aaaahhhh!” Liona berteriak sekuat tenaga. Mendengar teriakan wanita itu, Reynard segera masuk kekamar.
Namun begitu dia memasuki ruangan ada sebuah bantal melayang kearah wajahnya. Untungnya Reynard cukup gesit untuk meraih bantal itu. “Reynard Wilfred!!!! Bajingan! Dasar mesum. Lihat ini semua badanku banyak stempelnya!”
“Ada apa?” Reynard bertanya dengan polosnya. Hanya dia yang tahu apa yang terjadi tadi malam saat Liona mabuk dan terus menggodanya.
“Kamu bilang ‘ada apa’ beraninya kamu memanfaatkanku saat aku sedang mabuk?”
Reynard tak bisa berkata-kata. Dia melangkah mendekati tempat tidur dan melihat Liona meringkuk didalam selimut dengan pipi memerah. Kemudian Reynard melihat celana Liona yang seharusnya dilantai sekarang sudah ada diatas tempat tidur.
Pria itu akhirnya mengerti mengapa Liona berteriak histeris.
“Kamu benar-benar…...aku sudah mempercayaimu dengan sepenuh hati. Beraninya kamu…...”
“Aku berani apa?” Reynard menyela sambil tersenyum.
“Kamu masih bisa tersenyum? Dasar mesum!”
__ADS_1
“Kamu yang melepas celanamu sendiri. Kamu yang terus menggodaku dan menempel padaku seperti gurita. Liona, katakan padaku apakah aku bukan pria normal? Kita sudah melakukannya sebelumnya dan apa salahnya jika kita melakukannya lagi? Apa kamu pikir aku ini biksu yang bisa menahan semua godaanmu tadi malam?”
Reynard meletakkan kembali bantal diatas tempat tidur. “Hah? Apa kamu bilang?” Liona tertegun sejenak. Kemudian wanita itu menggelengkan kepalanya dan segera berkata, “Tidak….tidak….itu tidak mungkin terjadi.”
Reynard melanjutkan dengan tenang dan masih tersenyum melihat tingkah Liona yang menurutnya sangat lucu.
“Kamu bilang kamu merasa panas jika tadi malam aku tidak menghentikanmu, kamu tidak hanya akan melepaskan celanamu.”
Liona terlalu malu untuk membahas perkataan Reynard. Dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya pada dirinya sendiri. ‘Aduh, apakah benar seperti itu kejadiannya?’
Tadi malam dia memang merasa seluruh tubuhnya panas, ternyata semua itu bukan mimpi. ‘Apakah aku benar-benar melakukan tindakan memalukan itu?’ Liona bertanya pada dirinya sendiri lagi.
“Tidak hanya itu….”
Ketika Liona mendengar Reynard berbicara lagi, dia menjadi bingung sehingga menyela. “Apa lagi yang telah aku lakukan?” Liona merasa seperti hatinya telah tenggelam.
“Tadi malam jika aku tidak melawan sepenuh tenaga, maka saat ini aku pasti sudah kamu telanjangi.” jawab Reynard menggodanya.
Melihat pakaian Reynard yang saat itu memang berantakan, dia berharap bisa menemukan lubang untuk bersembunyi. Apalagi dia melihat ada tanda merah didada pria itu yang bisa dilihatnya karena kancing kemeja bagian atas terbuka.
“Tidak….itu tidak mungkin. Kamu pasti hanya menggodaku saja.” ujar Liona malu.
“Ya terserah kamu mau percaya tau tidak. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya setidaknya aku sudah jujur padamu. Kita melakukannya sekali tadi malam dan kamu benar-benar puas.”
Reynard pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri meninggalkan Liona yang masih tercengang. ‘Apakah semua itu benar terjadi? Aduh….memalukan sekali kalau aku melakukan itu pada Reynard? Apakah dia akan menilaiku sebagai wanita murahan karena sudah melakukan itu padanya?’
Tidak….tidak...Reynard pasti sengaja membodohiku karena aku mabuk dan tidak ingat apa-apa. Aku sama sekali tidak percaya pada perkataannya. Liona segera berpakaian dan memakai sepatunya. Setelah memastikan penampilannya terlihat pantas, dia memutuskan untuk keluar dari kamar Reynard.
Tapi begitu dia membuka pintu kamar, dia langsung menabrak Delvin yang sedang lewat, Liona hendak menyapa pria itu tapi Delvin malah berteriak histeris lalu berbalik dan lari meninggalkan Liona sendiri disana. Pria itu bertingkah seolah-olah dia melihat hantu.
“Hei, kamu mau pergi kemana Delvin?”
__ADS_1
Sebelum Delvin berlari lebih jauh, Liona berhasil mengejar lalu meraih kerah bajunya dan berteriak, “Kamu mau kemana?”
“Aku adalah pria gay. Liona jangan mendekati aku, silahkan pergi saja ke kak Reynard.”
Liona semakin bingung melihat tingkah Delvin yang menurutnya tidak masuk akal. ‘Apa yang sedang dia bicarakan?’ Liona bertanya dalam hatinya.
“Delvin Wilfred!” Liona segera berteriak memanggilnya.
“Sebenarnya aku merasa diriku ini sangat jelek. Liona, aku rasa wajah kak Reynard sangat tampam. Kamu pergi saja ke kak Reynard ya. Aku….aku hanyalah orang miskin disini. Tolong kasihanilah aku. Jangan dekat-dekat.”
Liona tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa malu sekali dan marah pada saat yang bersamaan. “Delvin, kamu ini bicara apa?”
‘Apakah kamu juga mencoba mengatakan bahwa aku wanita nakal?’ pikir Liona.
“Liona, kamu sudah sadar sekarang kan? Apakah kamu mengenali siapa aku?” tanya Delvin.
Ketika Delvin menoleh dan melihat bahwa Liona menatapnya dengan mata jernih, dia menarik napas dalam-dalam dengan berlebihan dan berkata. “Ya Tuhan! Kamu membuatku ketakutan setengah matu. Aku pikir kamu masih mabuk sekarang.”
Liona batuk ringan dan berkata, “Tadi malam….apa aku melakukan sesuatu yang gila?”
Ketakutan tertulis diwajah Delvin. “Ya benar. Kamu telah melakukan sesuatu yang sangat menakutkan.” jawabnya.
“Coba katakan apa yang telah aku lakukan?”
Delvin ingin mengatakan sesuatu tapi setelah berpikir selama beberapa detik, dia tidak jadi bicara. Dia memilih diam karena takut akan salah bicara dan membuat Liona malu.
“Ayo, cepat katakan padaku apa yang telah terjadi tadi malam. Kalau tidak aku akan melapor pada Reynard bahwa kamu telah melecehkan aku.”
‘Aduh sialan! Kamu kejam sekali padaku, kakak ipar!’ keluh Delvin mengeluh dalam hatinya.
Delvin tidak berani menyembunyikan kebenaran jadi dia dengan cepat mengakui.
__ADS_1