
Hari ini syuting lagi, banyak adegan yang mempertemukan Liona dan Vena karena pengambilan gambar untuk episode kali ini memang banyak interaksi antara kedua artis itu. Seperti yang terjadi sebelumnya, kali inipun kejadian yang sama terulang kembali. Vena membuat kesalahan berulang kali yang membuat para kru jemu dan bosan harus mengulang-ulang sampai beberapa kali. Untungnya hari ini sutradara datang agak siangan karena ada urusan penting jadi proses syuting pagi ini tidak dilihatnya langsung.
Tapi dia menerima laporan dari asistennya di lokasi syuting jika Vena kembali berakting jelek dan lupa dialog. Hal itu jelas membuat Reiki sang sutradara heran, karena tak biasanya seorang pemeran utama akan melakukan kesalahan sefatal itu. Akhirnya proses syuting untuk adegan yang sama berakhir tepat pada saat makan siang. Semua kru menghela napas lega, akhirnya mereka dapat merekam gambar setelah bekerja keras mengulang-ulang.
“Liona Sarabella Gantari! Ku peringatkan sekali lagi padamu. Berhentilah dari acara ini!” Vena memandang Liona dengan tatapan menjijikkan “Jangan pikir kamu bisa melawanku hanya karena apa yang kamu miliki sekarang. Wajah cantik tidak bisa bertahan lama.”
“Ohooo…..jadi kamu mengakui kecantikanku ya? Wah...terimakasih atas pujianmu.”
“Setelah empat tahun kita tak bertemu, kamu pandai bicara sekarang ya.” kata Vena mengejek.
Vena semakin merasa frustasi atas sikap dan perkataan Liona, setiap kali Vena menyerangnya dengan kata-kata maka Liona selalu saja membalasnya dengan kata-kata mengejek. Ini bukan Liona yang dikenalnya dulu. “Kalau kamu masih keras kepala dan menolak untuk berhenti dari serial ini maka akan kubuka semua kebusukanmu bahwa kamu punya anak dan hamil diluar nikah. Tidak ada yang tahu siapa ayah dari anak itu.”
“Baiklah jika itu maumu.” kata Liona menggangguk “Rasanya ucapanmu masuk akal juga. Aku memang punya seorang putra yang sangat tampan dan aku memang tidak punya suami tapi untuk sekarang, mungkin besok aku sudah punya suami. Who know’s?”
Melihat reaksi Liona yang tak seperti dugaan Vena membuatnya heran. Dia mengira dengan ancamannnya maka Liona akan memohon-mohon padanya dan menangis ketakutan. Tapi tidak!
“Liona Gantari! Aku sedang tidak bercanda denganmu. Jika sampai besok kamu belum berhenti dari syuting serial ini, maka kamu akan rasakan akibatnya. Aku akan beritahu semua orang tentangmu yang punya anak diluar nikah saat usia muda dan bahkan tidak tahu siapa ayah dari anak itu.”
“Lihat saja banti bagaimana reaksi semua orang saat mendengarnya. Aku yakin, semua orang akan membencimu.”
__ADS_1
“Ha...ha...ha….besar sekali rasa percaya dirimu Vena. Begitu yakinnya kamu jika aku akan dibenci smeua orang. Apakah kamu tidak berpikir justru kamu yang akan dibenci semua orang karena sudah membully seorang ibu tunggal? Ha...ha….ha…..aku sangat yakin banyak perempuan diluar sana yang akan membenci sikapmu!”
Vena mengeryitkan keningnya mendengar perkataan Liona. Wanita itu tetap tersenyum manis dan bersikap tenang tak merasa terusik sedikitpun dengan ancaman Vena. Lalu dia meraih sesuatu dari dalam tasnya, sebuah amplop warna coklat dan menyerahkannya pada Vena.
Vena memandangnya dengan curiga dan mengambil amplop itu lalu membukanya. Amplop itu berisi foto-foto dirinya yang tak layak untuk dilihat masyarakat umum, wajahnya langsung pucat pasi dan terkejut. Rianti yang berdiri dibelakangnya mencondongkan kepala ingin melihat apa yang dipegang oleh Vena. Mata asisten itupun terbelalak seakan tak percaya apa yang dilihatnya.
Foto-foto itu adalah foto mesra Vena Obelia bersama dengan seorang pria paruh baya yang juga punya pengaruh didunia hiburan. Setiap foto itu ada tanggal dan waktu pengambilan. Foto-foto itu bisa jadi bukti bahwa Vena berselingkuh dengan suami orang.
Jika foto itu bocor ke publik bisa dipastikan apa yang terjadi. “Ya..Tuhan!” Vena menutup mulutnya dengan satu tangan, tubuhnya bergetar ketakutan, karena merasa takut dan frustasi dia merobek foto-foto itu dengan marah sambil berteriak pada Liona.
“Ha...ha….ha….aku masih punya banyak stok jadi tak masalah jika kamu merobeknya.” Liona tersenyum licik. “Kita lihat saja nanti berita mana yang lebih menarik, apakah berita tentang artis yang punya anak tanpa tahu siapa ayahnya atau berita tentang artis yang jadi pelakor?Kenapa kamu khawatir Vena? Aku yakin pihak manajemenmu pasti akan membantumu untuk membuat pembelaan pada publik. Mendengar itu, Vena semakin marah dan maju ingin mencakar wajah Liona “Liona Gantari!” kedua tangannya berusaha meraih wajah Liona. Kuku-kuku panjang miliknya siap melukai wajah cantik Liona.
“Silahkan berpikir baik-baik sebelum mengancamku. Masih banyak bukti kejahatanmu yang kupunya.: kata Liona berlari menjauhi Vena yang seperti orang kesetanan.
“Liona! Kamu wanita j*lang! Perempuan murahan! Awas saja kamu ya lihat pembalasanku.” racau Vena dengan rambut yang sudah berantakan dan riasan wajah luntur karena airmata.
Vena sangat marah, dia melemparkan semua barang-barang yang ada didekatnya. Asistennya hanya bisa melongo melihat kemarahan Vena. Dia terengah-engah setelah lelah mengamuk “Liona Gantari! Aahhh…..kenapa kamu mesti muncul lagi sih?”
Sejak kecil Liona selalu menarik perhatian banyak orang karena keramahannya dan suka menolong orang lain. Sedangkan Vena adalah saudara tiri yang tak pernah dipedulikan orang lain. Kenapa bisa begitu? Apakah karena wajah Liona lebih cantik? Tidak, dulu Vena lebih cantik karena dia rajin perawatan dan dandan.
__ADS_1
Saat Liona sudah jauh dari Vena dan hendak menghentikan taksi, tiba-tiba seseorang menghalangi jalanya. “Apakah anda Liona Gantari?”
Liona menghentikan langkahnya dan melambaikan tangan pada taksi agar pergi. Didepannya berdiri seorang wanita cantik memakai setelan bisnis formal.
“Maaf, anda ini siapa ya? Ada apa mencari saya?” tanya Liona heran karena dia tak mengenali wanita itu.
“Kenalkan nama saya Mona Kishara, sekretaris Tuan Bastian. Apakah anda punya waktu sekarang? CEO kami ingin bicara denganmu.”
“Tuan Bastian? Maksud anda Bastian Soedibjo?”
“Iya benar sekali.” jawab wanita itu tersenyum.
“Baiklah kalau begitu.”
Liona pun mengikuti Mona. Matahri sudah terbenam dan lampu jalanan sudah menyala menerangi jalanan. Tak lama sebuah mobil hitam berhenti didepan studio dan jendela mobil diturunkan, seseorang yang duduk di jok belakang menyapa Liona dengan senyum.
“Tuan Bastian.” panggil Liona dengan wajah kaget.
“Silahkan masuk, Nona.” kata Bastian mengundang Liona masuk kedalam mobilnya. Sebagai seorang CEO di Wilfred Media, Bastian Soedibjo adalah seorang yang sangat dihormati. Liona masuk kedalam mobil dengan tenang dan sekretaris itu juga masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang.
__ADS_1