CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 119. AKU MENJEBAKMU


__ADS_3

Kedua anak kecil itu langsung tertawa bersama. Delvin sangat tersentuh oleh pemandangan yang hangat didepannya. ‘Keluarga normal harusnya seperti ini.’ Setelah makan siang Delvin kembali untuk istirahat siang. Reynard memiliki jadwal konferensi video di sore hari jadi dia juga beristirahat. Felicia tetap bermain dengan Elvano sebentar dan kedua anak itu mulai mengantuk.


Liona sedang bersandar di sofa, kedua anak kecil itu berbaring di sofa, masing-masing menggunakan paha Liona sebagai bantal. Liona mengelus kepala Felicia dengan lembut, “Sayang, kalau sudah mengantuk, ayo tidur dikamar saja ya.”


“Tidak mau.” Felicia sangat mengantuk sehingga tidak bisa membuka matanya tapi dia memeluk paha Liona dan berkata dengan linglung, “Aku takut mama Liona dan Kak El akan menghilang saat aku bangun. Aku tidak mai mama Liona pergi."


Kata-kata gadis kecil itu menghangatkan hati Liona. Dia terus membelai kepala Felicia dengan lembut dan berkata, “Gadis bodoh, kami tidak akan pernah menghilang. Memangnya kami mau kemana lagi? Kami sudah memutuskan akan tinggal di sini selamanya."


Dengan wajah sedih, Felicia mengangkat kepalanya dan berkata, “Mama Liona, aku sangat menyukaimu dan kak El.”


“Aku juga menyukaimu. Elvano dan aku sama-sama menyukaimu.”


“Kalau begitu bisakah Mama Liona dan Kak El tinggal denganku selamanya?”


Liona terdiam dan bingung bagaimana menjawab pertanyaan ini. Dia dan Reynard sudah memiliki perjanjian tapi dia tidak tahu bagaimana mengatakannya pada Felicia. Saat berpikir jika dia tidak bisa melihat gadis gecil itu, dia merasa sangat sedih.


“Felicia…..”


“Aku mengerti, mama Liona tidak akan berjanji padaku.” Saat berbiara, Felicia mengusap wajahnya di paha Liona. Kemudian dia menambahkan dengan suara mengantuk, “Ketika kami pulang hari ini kerumah nenek, nenek meminta papa untuk kencan buta lagi. Tetapi…...wanita itu sangat jahat. Terakhir kali kami bertemu dia memperlakukanku dengan kasar, papa dan aku benar-benar tidak beruntung.”

__ADS_1


Setelah mengeluh, Felicia tertidur. Liona terkejut mendengar cerita gadis kecil itu. ‘Apakah benar? Reynard hari ini pulang ke kediaman Wilfred untuk kencan buta? Baguslah. Ini mungkin adalah hal baik untuknya karena tidak mungkin keluarganya akan menyukaiku. Untung saja tadi aku tidak ikut dengan mereka. Ah, tidak bisa kubayangkan bagaimana jadinya kalau tadi aku ikut mereka.'


‘Jika kencan buta itu berhasil maka kami dapat membatalkan perjanjian yang sudah kami buat. Kemudian aku bebas dan dapat fokus pada karir aktingku. Apalagi Felicia akan memiliki seorang ibu yang dapat memanjakannya. Dan akan ada orang yang bisa menjaga Reynard dan orang itu adalah seseorang yang disukai oleh keluarganya. Semuanya akan berjalan dengan baik.’ pikir Liona meskipun didalam hatinya berkata lain. Dia merasa sangat sedih dan hatinya sakit.


Malam itu Miko datang kerumah Reynard untuk makan malam bersama. Setelah mereka selesai makan malam, Liona membujuk Miko tanpa henti untuk mengambil semua perhiasan emas yang diberikan pria itu sebelumnya. Akhirnya Miko pun menyerah. Setelah Miko membawa pulang semua perhiasan mahal itu, Liona baru bisa menghela napas lega.


Setelah kedua anak sudah tidur lalu Liona masuk ke kamar utama untuk mencuci muka dan menggosok gigi dia pun segera pergi tidur. Reynard tidak ada dikamar, dia pergi bersama Delvin setelah makan malam dan Liona tidak tahu kemana mereka pergi.


Namun sebelum dia bisa memejamkan matanya, ponselnya berdering keras. Ketika Liona memeriksa ponselnya, ada pesan masuk dari Delvin. Pria itu mengirimkan sinyal SOS untuk meminta bantuan.


“Ya Tuhan! Tolong aku Liona! Apakah kau ada disana? Kau belum tidur, kan?"


"Liona, tolong bantu aku! Kak Reynard menyeretku untuk berlatih krav maga lagi. Aku takut tidak bisa melihat matahari terbit jika aku terus berlatih dengan kakak.”


“Tolong akuuuuuu.”


Setelah membaca pesan terakhir, tidak ada pesan masuk lagi. ‘Tidak mungkin Reynard sekejam itu! Apakah delvin benar-benar serius?’ Memikirkan bagaimana Delvin selalu memperlakukannya dengan baik, Liona pun melompat dari tempat tidur. Dia membuka tirai dan melihat kearah kamar tidur dilantai dua di seberangnya. Kamar itu terlihat benar-benar gelap, jadi dia merasa cemas. “Apa-apaan ini!”


Liona turun ke lantai bawah dengan perlahan. Ruang tamu di lantai bawah sudah gelap, dia dengan hati-hati berjalan ke pintu berjinjit, membuka pintu dan langsung menuju ke villa nomor dua. Rumah milik Delvin yang dulu ditempatinya. Gerbang villa terbuka lebar, sebelum dia bisa memasuki villa, dia mendengar teriakan dari kamar Delvin dilantai atas jadi dia segera bergegas kesana.

__ADS_1


“Braaakkkkk!”


Liona dengan kejam menendang pintu kamar hingga terbuka. Namun tidak ada siapa-siapa disana, lalu Liona menyusuri seluruh villa tapi tidak ada seorangpun disana. Villa itu kosong, dengan rasa cemas Liona kembali kerumah Reynard dan mencari ke kamar yang biasa ditempati Delvin jika dia menginap dirumah Reynard. Liona menendang pintu itu.


Namun dia bingung ketika melihat pemandangan didalam kamar itu. Hanya ada Delvin seorang diri disana. Dia sedang duduk bersila diujung tempat tidur besar, dengan gamepad di tangannya. Tampaknya Delvin sedang bermain game di TV LCD. Pria itu berteriak kegirangan, Liona terperanjat. Wajahnya menjadi gelap dan dia berbalik untuk meninggalkan ruangan.


“Hei!”


Delvin buru-buru membuang gamepad, lalu berlari mengejar Liona tanpa alas kaki dan menghentikannya. “Jangan pergi dulu!” ujar Delvin mencengkeram pergelangan tangannya.


Liona mengutuk, “Delvin! Apakah kau gila? Tadi kau bilang Reynard sedang memukulimu. Kau memang layak untuk dipukuli hingga babak belur!”


Delvin dengan gugup menggosok hidungnya dan berkata, “Liona, bagaimanapun juga, aku bosmu…..” Delvin memasang wajah tidak bersalah sambil menatap Liona yang tampak marah.


“Omong kosong apa yang kau bicarakan! Sekarang sudah lewat jam kerja kantor!” ujar Lioba dengan nada kesal karena merasa dipermainkan oleh Delvin.


Delvin tahu dia telah berbuat kesalahan yang sedikit keterlaluan. Dia meraih tangan Liona lalu memberinya sebotol air es. Sambil tersenyum dia memohon, “Ini minum air es dulu. Air dingin akan mendinginkan amarahmu.” dia mencoba menyunggingkan senyum diwajahnya.


“Pergilah ke neraka!” teriak Liona marah. Kedua tangannya mengepal erat.

__ADS_1


“Sungguh Liona! Aku sama sekali tidak berniat untuk membohongimu.” Delvin menjelaskan “Sejak makan malam, karena kau langsung pergi menidurkan anak-anak dan tak menemui kakak lagi diruang keluarga. Dia mengurung dirinya di ruang kerjanya. Aku takut malam ini kak Reynard akan memintaku untuk berlatih krav maga lagi. Jadi untuk mencegah niat kak Reynard, aku menjebakmu.”


"Aku sama sekali tidak berniat mempermainkanmu. Selama ini aku memperlakulanmu dengan baik, iyakan?"


__ADS_2