CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 127. KAU AYAH ELVANO


__ADS_3

“Eh….?” Liona mendorong tubuh Reynard menjauh dan menatapnya sejenak. Baru pada saat itulah dia menyadari sesuatu.”Aku ingat siapa kau.” Kembali Liona memandangi wajah Reynard dengan serius. Matanya bahkan tidak berkedip lalu berdecak.


Reynard menghela napas lega.


“Kau adalah ayah Elvano!” ujar Liona tiba-tiba.


Lagi-lagi Reynard kehilangan kata-kata. Tepat ketika dia berpikir bahwa Liona mengenalinya, wanita itu membuktikan bahwa dia salah. “Wah! Kau adalah ayah Elvano! Aku sangat yakin kalau kau adalah ayahnya! Aku sudah mencarimu bertahun-tahun tapi tidak ada hasilnya. Akhirnya aku menemukanmu!” Dengan kepala masih miring kesatu sisi Liona menatap Reynard.


“Ya, Tuhan! Aku tidak pernah membayangkan kau setampan ini. Tidak rugi aku merawat anakmu. Ha ha ha ha…...aku menemukan Elvano di tepi jurang tak jauh dari tempat kecelakaan. Waktu itu aku bangkit dari kematian.....ya ya....mati! Aku mati dibunuh Vena!"


Liona mengalihkan pandangannya sejenak dan menghela napas panjang. Kemudian dia menoleh dan menatap Reynard lagi masih dengan tatapan serius tapi binar matanya terlihat sedih.


"Kau tahu rasanya mati? Ya, aku berdarah....berjalan dihutan dengan berlumuran darah dan kedinginan. Aku pikir aku sudah berada didunia lain saat aku mendengar suara tangis bayi. Aku menemukan bayi laki-laki tampan terbungkus selimut tebal."


"Ah....kasihan sekali bayi itu, ada darah tapi bukan darahnya. Tidak ada orang disana jadi aku mengambil bayi itu dan menamainya Elvano! Aku terus mencari tahu siapa orangtua bayi itu tapi tidak menemukan apapun."


"Aku harus tetap hidup untuk membalas dendam. Aku pergi keluar negeri bersama pria yang menyelamatkanku malam itu. Tidak ada seorangpun yang tahu kalau Elvano bukan anak kandungku.....aku terus mencari orangtuanya."


"Aku membaca berita tentang kecelakaan mobil yang berada di jalan diatas bukit tak jauh dari tempat aku menemukan Elvano. Apa dia anakmu? Ah....kalian sangat mirip. Sama-sama tampan. Ha ha ha ha....aku merawatnya bertahun-tahun. Akhirnya aku menemukanmu."


Reynard tercengang, dia tidak pernah menyangka bahwa Liona bisa bicara melantur ketika mabuk. Tentu saja Reynard hanya mengabaikan perkataan Liona dan tidak menganggap serius. Tapi dia tidak percaya kalau Elvano adalah anak laki-lakinya yang dinyatakan meninggal dalam kecelakaan itu. Namun pria itu tiba-tiba teringat pepatah yang berbunyi, “Kejujuran akan terungkap saat kau mabuk.” Memikirkan kata pepatah itu, ada kilat melintas dimatanya.


“Liona?”

__ADS_1


“Iya?”


“Apakah saat ini kau memiliki seseorang yang spesial dihatimu?”


Setelah menanyakan pertanyaan penting itu, Reynard menahan napas dan menunggu jawaban Liona dengan tegang.


“Ya tentu saja.” jawab Liona.


“Siapa orang itu?”


Liona mengangkat tangannya dan mengacungkan satu jari untuk setiap nama yang dia sebut. “Sebenarnya ada banyak, anakku tersayang, Elvano, Felicia, ibuku dan nenekku. Tunggu dulu ada Miko dan Delvin juga. Aku menyukai semuanya.”


Liona mengucapkan semua nama kecuali Reynard. Pada saat itu Reynard menarik napas dalam-dalam dan menahan amarahnya. “Apakah ada yang lain?” tanyanya dengan penuh kesabaran.


Wajah Reynard langsung berubah muram, dia merasa sangat kecewa setelah mendengar bahwa dirinya tidak termasuk dalam daftar orang yang disukai leh Liona.


Tiba-tiba Liona sepertinya menyadari sesuatu, “Oh iya. Ngomong-ngomong aku baru menyadari bahwa jari-jariku tidak cukup!” setelah mengatakan itu Liona melepaskan sepatunya memperlihatkan kakinya yang indah. Dia menggeliat-geliatkan jari kakinya dengan manis dan menambahkan, “Dan Buddy juga!”


“Buddy?” Reynard bertanya dengan wajah bingung.


“Ya, benar! Elvano dan aku memelihara seekor anjing Pomeranian kecil sewaktu kami di Amerika. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Bulunya lembut dan matanya bulat, sangat besar dan berwarna hitam. Sayangnya suatu hari dia terpikat pada seekor anjing betina kecil. Akhirnya Buddy pergi dan tidak pernah kembali.”


Reynard tidak bisa menahan amarahnya lagi. “Ha! Kau pantas ditinggalkan oleh anjingmu, kau bisa mengingat seekor anjing kecil tetapi kau melupakan aku?’

__ADS_1


“Bagaimana dengan Reynard? Apakah kau tidak menyukai pria itu?” tanya Reynard iseng.


“Reynard?” Sssttt….” Liona tiba-tiba merendahkan suaranya seolah-olah dia tidak boleh menyebut nama Reynard dengan keras. Dia kemudian memegang tangan Reynard dan berbisik, “Jangan biarkan iblis menakutkan itu mendengarmu. Aku beritahu ya, dia itu sangat mengerikan!” ujar Liona yang mabuk dan tak sadar orang yang dibicarakannya ada didepannya.


“Iblis menakutkan?” tanya Reynard mengeryitkan dahinya.


“Iya, iblis menakutkan! Itu adalah Reynard!” Liona terlalu mabuk untuk menyadari rasa dingin yang meliputi wajah pria itu. Namun dia tidak berhenti bicara, malah menambahkan, “Reynard selalu saja berwajah dingin.  Wajahnya terlihat sangat menakutkan!” ujar Liona mengerucutkan bibirnya sehingga membuat Reynard tercengang mendengar ucapan wanita mabuk itu.


“Biarkan aku memberitahumu sesuatu tapi jangan bilang siapa-siapa. Suasana hati Reynard itu selalu berubah-ubah setiap hari. Dia bisa saja tiba-tiba marah dan kau bahkan tidak tahu apa yang telah kau lakukan hingga menyinggungnya.”


‘Dia bilang aku iblis mengerikan? Dan aku mudah marah?’ Reynard mengulangi kata-kata Liona didalam hatinya. Dia percaya bahwa dirinya telah bersikap lembut dan penuh perhatian pada wanita itu. Jadi dia sama sekali tidak menyangka dia ternyata memiliki citra seperti itu dihati Liona. Apa yang dikatakan wanita itu membuat Reynard mengatupkan rahangnya kuat-kuat.


“Apakah Reynard benar-benar jahat?” tanya Reynard lagi.


“Yah, tidak selalu jahat sih. Dia terkadang bersikap baik padaku. Jujur saja aku sedikit menyukainya.” Liona mengerutkan kening lalu tersenyum manis. “Bukankah dia sangat tampan?” ujar Liona. Mata Reynard terbelalak kaget. Kata-kata Liona membuat jantungnya berdebar kencang, seolah-olah dia sedang berada diatas roller coaster. “Jadi kau menyukainya?”


“Hem...tapi sayang sekali aku tidak bisa menyukai pria itu.” suara Liona terdengar sedih.


“Memangnya kenapa?” perasaan kecewa menyelimuti diri Reynard.


Liona bersendawa dan menjawab, “Aku punya masa lalu yang buruk jadi aku tidak bisa menyukai pria seperti dia. Lagipula keluarganya tidak menyukaiku dan dia sudah punya pacar yang disukai keluarganya. Hatiku sakit! Ehm...kepalaku sakit sekali, berhenti bicara. Aku tidak ingin bicara denganmu lagi.”


Setelah mengatakan itu Liona bangkit dan terhuyung-huyung di koridor. Dia kemudian membuka pintu setiap kamar seolah mencari sesuatu. Reynard tidak tahu apa yang sedang dicari wanita itu, dia hanya mengikuti Liona agar wanita itu tidak jatuh. Tidak lama kemudian, dia tiba didepan kamar Reynard.

__ADS_1


Liona membuka pintu dan melihat ke sekeliling ke perabotan yang familiar didalam kamar itu, “Ah kita sudah sampai rumah,” katanya dengan penuh rasa bahagia dan puas. Liona masuk kedalam kamar dan berjalan kesamping tempat tidur. Lalu dia menjatuhkan dirinya secara perlahan ke tempat tidur dengan senyum lebar diwajahnya. Tanpa dia sadari Reynard memperhatikan tingkahnya dengan takjub. Hati pria itu melunak ketika melihat Liona begitu bahagia dan nyaman tidur di tempat tidurnya.


__ADS_2