CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 72. PERKELAHIAN


__ADS_3

Seth berusaha bangkit dari lantai, pria itu memegang botol kaca dan sepertinya dia akan melemparkan botol itu kearah Liona. Tatapan mata liona tiba-tiba berubah menjadi dingin. Dia menggerakkan tubuhnya dengan mahir. Sebelum botol itu sempat mengenai dirinya, Liona menendang botol itu.


Melihat bahwa Liona bisa mengelak, Seth bergegas mendekat dan berteriak “Dasar wanita ******, aku akan membunuhmu. Tidak...tidak….aku akan membuatmu lumpuh dan merusak wajahmu hingga kau tidak akan laku lagi seumur hidupmu!”


Saat sibuk berbicara, Seth melemparkan pukulan pada Liona, berharap untuk membuat wanita itu lengah. Tapi Liona malah menggenggam tinju Seth tepat pada waktunya. Seth mencoba menarik tinjunya, tetapi Liona mencengkeram tangannya erat-erat. Pria itu mencoba lagi, tetap saja Liona tidak bergeming.  Dengan mata terbelalak karena kaget, Seth bergumam, “Tidak mungkin.”


“Oh iya. Aku sampai lupa memberitahumu sesuatu, saat aku pergi dari kota ini selama beberapa tahun, aku telah belajar ilmu bela diri yang ekstrim.  Apakah kau pernah mendengar Krav Maga? Ilmu bela diri ekstrim paling menakutkan didunia? Ilmu bela diri yang paling mematikan yang berasal dari Israel dan sangat ditakuti seluruh dunia?”  Bukannya melepaskan pria itu, Liona malah menarik tinju Seth dengan keras.  Ketika tubuh pria itu terhuyung-huyung, Liona segera menyapu kakinya dan membuat Seth terjatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk keras.


Karena takut jika Liona akan memukulnya lagi, Seth bangkit secepat mungkin dan bergegas berlari meninggalkan tempat itu.  Dia masih sempat berbalik dan memelototi Liona dengan mata tajam tapi penuh ketakutan.


“Tunggu dan lihat saja pembalasanku nanti. Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu!” teriak Seth penuh amarah, dia benar-benar tidak menyangka kalau Liona banyak berubah, dia bahkan menguasai ilmu bela diri. Liona sebenarnya berniat untuk mengejar pria itu dan menghajarnya, namun dia pikir akan lebih baik jika dia akan memberitahu Reynard apa yang terjadi.


Liona yang sekarang bukan lagi Liona yang dulu, dia sudah banyak berubah.  Selama tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun, Liona harus bersikap tegar untuk melindungi dan menjaga dirinya dan Elvano.


Dan saat ini setelah dia kembali dan keluarga angkatnya mengetahui dia masih hidup dan bahkan berada satu kru dengan Vena dalam serial TV. Orang-orang itu yang pernah mencoba membunuh dan menyingkirkannya mungkin akan berusaha menyelesaikan apa yang telah mereka mulai beberapa tahun yang lalu. 


Saatnya Liona membalaskan dendamnya pada mereka semua. Tanpa disadarinya Reynard sudah bangun saat melihat Liona masuk keruang rawat inapnya.


“Kemarilah! Sini!”


“Aku pergi sebentar membeli makanan, aku lupa kalau aku belum makan.”


“Aku sudah menyuruh Delvin untuk membeli makanan untuk kita semua. Sebentar lagi dia akan datang bersama anak-anak. Tunggu saja disini.”


“Baiklah kalau begitu.” Liona menjawab sambil menghindari kontak mata dengannya. Liona menyadari jika mata Reynard curiga melihatnya.

__ADS_1


“Sayang, tolong kemari sebentar saja.” kata Reynard lagi.


“Ada apa?” Liona bertanya sambil mendekatinya.  Saat dia sampai ditepi tempat tidurnya, Reynard meraih tangannya lalu membaliknya untuk memeriksa dan menyadari bahwa tangan liona merah dan bengkak.


“Apa yang telah terjadi padamu, sayang?” Reynard bertanya sambil mengerutkan dahinya.


“Aku juga tidak tahu. Sepertinya ini gara-gara aku meninju bajingan itu tadi.” Liona berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan tangannya dari pandangan orang tetapi usahanya tidak bisa menipu kekasihnya Reynard.


“Apakah tanganmu terasa sakit?”


“Tidak sama sekali! Yah, mungkin hanya sakit sedikit saja. Itu hal biasa, bukan?”


Reynard menatapnya curiga dan tiba-tiba meremas telapak tangannya.


“Tadi kau yang bilang sendiri kalau tanganmu tidak sakit. Mana aku tahu?” dia mengangkat bahunya terlihat seakan mengolok-oloknya.  Liona tercengang dan kehilangan kata-kata. Sialan! Reynard pintar sekali membalikkan kata-kata,’ Liona mengeluh dalam hati.


Ada sedikit airmata yang menggenang disudut matanya.  Remasan tangan Reynard tadi benar-benar terasa sakit, dia mencoba menarik tangannya dari genggaman Reynard tetapi dia memegangnya dengan erat.


“Diam! Tunggu disini, sayang.”  Reynard hendak turun dari ranjang.


"Apa yang ingin kau lakukan? Kamu mau kemana?" tanya Liona saat melihat Reynard hendak bergerak.


"Aku ingin mengambilkan es dikulkas untuk mengompres tanganmu."


"Apa kamu lupa kalau kakimu masih di gips?" kata Liona "Biar aku ambilkan esnya."

__ADS_1


Liona pun berdiri lalu berjalan menuju dapur dan mengambil es dari kulkas dan handuk untuk membungkus. 


Dia memberikan es dan handuk kecil pada Reynard. Kemudian dengan hati-hati Reynard meletakkan kompres es di telapak tangan Liona dan rasa sakitnya langsung berkurang.  Liona menatap kagum sang kekasih.  Pria itu semakin menarik perhatiannya bahkan tanpa perlu susah payah berusaha sejak awal, diakui Liona jika Reynard selalu mampu membuatnya kagum dengan hal-hal yang dilakukannya.


Liona tiba-tiba menyadari ternyata jarak mereka sangat dekat dan dia bisa merasakan hembusan napas Reynard. Wangi parfum yang dipakai pria itu membuat Liona memejamkan mata dan menghirup udara, aroma tubuh Reynard yang sangat dia sukai.


Saat dia membuka matanya dia bisa melihat dengan jelas tatapan serius yang terpancar dari wajahnya. Reynard mengerutkan bibirnya dan rahangnya terlihat lebih jelas, pria tampan itu tampak seperti sebuah pahatan sempurna.


Saking asyiknya Liona mengamati wajah tampannya, terasa jantungnya mulai berdetak kencang dan dia merasakan gairah yang mengingatkannya pada malam saat mereka bersama dan bercinta, tanpa dia sadari pipinya merona ‘Sial! Kenapa aku jadi terbayang-bayang?


Liona menyadari tangannya masih berada dalam genggaman, dia merasakan kehangatan dari telapak tangan yang sedang memegangi punggung tangannya tapi disaat yang sama dia telapak tangannya kedinginan karena dikompres es. Perasaan aneh menyelubungi sekujur tubuhnya, sentuhan tangan Reynard membawanya kembali ke malam itu, perasaan menyenangkan dan getar-getar aneh disekujur tubuhnya.


“Bagaimana? Apakah masih terasa sakit?” Reynard bertanya. Liona ingat ketika dia mengatakan kalau tangannya tidak sakit, kali ini dia menggangguk dan menjawab dengan jujur “Iya, masih sakit sedikit.” Mata Reynard berbinar mendengar jawaban Liona.


“Kalau begitu, aku akan kompres tanganmu lebih lama, ini bisa mengurangi bengkaknya.” Reynard meraih tangan itu dengan lembut lalu mengecup bibir Liona, wajahnya merona karena terkejut. Dia memejamkan mata merasakan lembutnya kecupan bibir Reynard.


“Papa! Kenapa papa gigit bibir mama?” teriak Elvano yang datang tiba-tiba saat Reynard sedang meraup bibir Liona dengan ganasnya mereka saling *******. Sontak mereka melepaskan lumatannya dan salah tingkah.


“Eh….tidak apa-apa. Aku tidak menggigit mamamu.” ujar Reynard kaku tak tahu harus bilang apa karena tertangkap basah sedang berciuman.


“Hemmm…..” Elvano menatap tajam Reynard lalu mengalihkan tatapan ke Liona seolah meminta penjelasan.


“Sayang, apakah tadi kamu bertemu adikmu disekolah?” tanya Liona mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Tidak. Sudah dua hari Felicia tidak masuk sekolah. Kata ibu guru kalau dia belajar dirumah, neneknya memanggil guru kerumah.” ujar Elvano dengan wajah sedih. Bagaimanapun dia merasa kesepian sejak Felicia dibawa kerumah neneknya. Dia merindukan gadis kecil itu.

__ADS_1


__ADS_2