CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 52.TOLONG TEMANI AKU


__ADS_3

Setelah sekian lama, Reynard masih tidak tertidur. Ardana dan Delvin melirik Liona, seakan paham Liona pun bertanya “Apa yang bisa kulakukan?”


Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Felicia berlari memasuki kamar Reynard “Papa! Papa!” airmatanya megalir deras membasahi pipi.  Semua yang melihat merasa sedih dan kasihan pada gadis kecil itu.  Bahkan Liona pun meneteskan airmata.  Reynard mungkin terlihat dingin dan menakutkan tapi dia tak pernah memberi masalah pada Liona, justru pria itu banyak membantunya, memberi kontrak yang menguntungkan Liona dan menajag Elvano saat Liona sedang syuting.  Meskipun sikap Liona seperti tidak suka pada Reynard namun dia tidak bisa membohongi dirinya, jika dia tertarik pada duda anak satu itu.


“Liona.” lirih Delvin memanggilnya.


“Iya. Ada apa?”


“Aku mohon bantuanmu, tolong temani kakakku malam ini saja.”


“A—apa? Maksudmu a—aku?” dia gugup seakan tak percaya Delvin memintanya menemani Reynard.  Bukankah itu berarti dia harus tidur seranjang dengan pria itu?


“Bu—bukan begitu.  Kamu ingat terakhir kali kakakku tertidur nyenyak dirumah lamamu? Hal itu tak pernah terjadi sebelumnya.  Waktu itu kakak bahkan tidur seharian full.  Jadi aku mohon tolong kakakku, mungkin dengan adanya dirimu disampingnya bisa membantunya tertidur.”


“Tidak mungkin. Saat itu dia tertidur karena kelelahan.” kilah Liona.


“Liona...please aku mohon! Coba saja dulu. Aku janji aku tidak akan memintamu melakukan hal aneh kedepannya.”


“Nona Liona, jika kelelahan bisa me,bantu Reynard tidur, kami tidak akan menghabiskan waktu dan uang untuk berbagai macam pengobatan dan terapi. Kamu ingat bagaimana dia langsung tertidur di pangkuanmu? Aku melihatnya sendiri waktu itu, bahkan suara bisingpun tak mengganggu tidurnya sama sekali. Jadi aku mohon tolonglah.”


Felicia yang mendengar pembicaraan mereka bergegas mendekat dan menarik ujung baju Liona. “Mama Liona, tolong papa ya. Apakah mama Ilona menyayangiku?”


Deg!


‘Bagaimana mungkin aku menolak gadis kecil ini? Dia sangat menggemaskan dengan matanya yang bulat.’


“Liona….kesehatan Kak Reynard juga semakin memburuk akibat insomnia akutnya. Jika terus menerus begitu dia tidak akan bertahan lama.  Dia bisa mengalami kematian mendadak.” Delvin menjelaskan kondisi Reynard. Jantung Liona terasa mau lompat,wajahnya menjadi pucat membayangkan pria yang dia sukai akan pergi meninggalkan gadis kecil itu sendirian.  Rasa kasihan dan khawatirnya semakin membuatnya merasa bersalah jika menolak.

__ADS_1


“Kami paham bagaimana perasaanmu, harus seranjang dengan pria yang belum lama dikenalnya.  Tapi, bukankah hal mulia jika menyelamatkan nyawa orang lain?”


“Baiklah.  Aku akan coba.”


“Terimakasih mama Liona. I love you mama.” ucap Felicia memeluk Liona.


“I love you too baby girl,” balasnya memeluk gadis kecil itu.


Perlahan Liona mendekat ke ranjang, dia menoleh sebentar kearah kedua pria dan gadis kecil dan Elvano.  Elvano yang memahami jika ibunya harus menolong Reynard, dia hanya menggangguk seakan memberi ijin pada ibunya.  Mereka keluar dari kamar dan menutup pintunya. Elvano dan Felicia tidur dikamar yang sama.


Liona mandi di kamar tamu lalu mengenakan piyama, menghela napas dalam-dalam lalu masuk kedalam kamar Reynard. Kamar itu gelap hanya sedikit cahaya dari jendela yang memberi pencahayaan. Perlahan Liona duduk ditepi ranjang berukuran besar  dan lembut itu.  Reynard menyalakan lampu disamping tempat tidur. Tampak dia sangat lelah dengan mata tertutup.  Wanita itu membeku menatap wajah dan tubuh pria idamannya yang mengenakan kaos tipis melekat ditubuhnya yang kekar, memperlihatkan perutnya yang datar dan berotot.  Liona menelan ludahnya, untuk pertama kalinya dia melihat Reynard tak berpakaian formal. Matanya terbuka dan melihat Liona ada disana. “Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Reynard menatap wanita itu tanpa berkedip.


“Menemanimu tidur...eh….tidak...maksudku, mungkin aku bisa membantumu tidur. Ini ide konyol tapi mereka bilang bisa saja berhasil, a—aku hanya ingin membantumu.”


Reynard tersenyum dan matanya menyiratkan kemenangan.  Dia senang akhirnya wanita itu bersedia membantunya.  Liona merasa aneh pada dirinya, niatnya yang ingin membnatu Reynard untuk mengatasi insomnia malah dia merasa tak sabar ingin tidur dengan pria itu.  Persetan! Aku sudah disini, diatas ranjangnya, pria itu ada disampingku.  Semoga saja benar, aku ada disini bisa membantunya tidur.


“Oh, Baiklah.” perlahan dia bergeser semakin dekat dengan Reynard.  Keduanya duduk bersandar di keheningan.  Tak ada yang berusaha memecah rasa canggung diantara mereka. Kamar tidur itu sangat besar dan luas dilengkapi dengan kamar mandi, walk in closet dan satu set sofa didekat jendela. Liona mengedarkan pandangannya memindai setiap sudut kamar itu. Kamar tidur itu terlihat sangat berkelas dan di desain dengan gaya Mediterania. Warna maskulin yang mencolok didominasi hitam, abu-abu dan putih.


“Apakah kamu baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu sekarang?” Liona berpaling memandang Reynard yang terlihat makin pucat. Liona merasa khawatir melihatnya.


“Aku tidak bisa tidur padahal aku mengantuk sekali. Kepalaku mulai terasa sangat berat.”


Pantas saja dari tadi matanya terpejam dan keningnya mengeryit, mungkin dia menahan rasa sakit kepala akibat kurang tidur.  Insomnia benar-benar menyiksa pria ini.  Liona pun menggeserkan badanya semakin dekat disamping Reynard. ‘Waktu dirumahku dia tertidur dipangkuanku, mungkin aku bisa memintanya berbaring dipangkuanku.’


“Ehm...maukah kau meletakkan kepalamu di pangkuanku?’


“Mau! Tentu saja.” jawab reynard cepat.  Liona memperbaiki posisi duduknya agar nyaman.  Lalu tangannya menepuk pahanya, Reynard memandang wajahnya sebentar lalu perlahan merebahkan kepalanya di pangkuan Liona.

__ADS_1


“Apakah kau tidak keberatan aku tidur dipangkuanmu? Bagaimana kau bisa tidur jika aku dalam posisi seperti ini?” tanya Reynard.


“Betul juga,” desisnya terkekeh.  Tidak mungkin Reynard tidur dipangkuannya sampai pagi.  “Bagaimana kalau kamu berbaring disampingku sambil memeluk tanganku? Apa menurutmu itu bisa berhasil?”


“Boleh saja. Kita bisa coba.” Reynard pun duduk lalu berbaring disamping Liona.  Wanita itu memiringkan tubuhnya kesamping lalu meletakkan tangannya diwajah Reynard. Pria itu menatap wajah Liona dengan mata berbinar dan tersenyum.


“Apakah kau mau mengobrol?”


“Tentu saja.”


“Bagaimana kau bisa kena insomnia?” tanya Liona.


Mata Reynard berkaca-kaca.


“Hei...tidak apa-apa. Aku hanya bertanya, maaf jika pertanyaanku membuatmu tak nyaman. Maafkan aku sudah bertanya tentang hal yang membuatmu tak nyaman.” ucapnya mengelus wajah Reynard. Matanya memandang netra hitam pria itu dengan penuh kelembutan.  Seolah seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya.


“Empat tahun lalu, ada kejadian mengenaskan yang membuatku jadi susah tidur selama bertahun-tahun.  Aku mengalami kecelakaan dan istriku meninggal ditempat.  Felicia baru berumur beberapa beberapa hari. Sejak itu aku sulit tidur.”


“Maaf, aku tidak tahu.  Terimakasih kau mau berbagi denganku. Pasti kau merasa lelah selama ini. Aku janji akan membantumu.”


‘Sebaiknya aku berhenti bertanya lebih detail, kasihan dia harus mengingat kejadian tragis itu.’


“Oh iya. Felicia pernah bilang bahwa kau tidak pernah menjali hubungan dengan siapapun setelah itu. Bahkan kau tidak pernah kencan buta akhir-akhir ini.”


“Tidak. Aku tidak terlibat dengan kencan buta. Bukankah sekarang kau adalah kekasihku?” tatapan Reynard tepat bertemu dengan Liona yang juga menatapnya. Keduanya saling diam, hanya mata yang bicara.  Rasa nyaman itu muncul, tangan Reynard menyentuh pipi Liona yang perlahan memejamkan mata menikmati sentuhan tangan Reynard.


 

__ADS_1


__ADS_2