
Syuting dilanjutkan kembali, Vena dan Liona kini berada di atas jembatan sebuah sungai kecil, pengambilan gambar berjalan dengan lancar. Untuk adegan keduanya pun selesai tanpa ada drama lagi. Untuk adegan selanjutnya mereka menunggu sampai pengambilan adegan artis lain selesai. Liona duduk sambil membaca naskah, tak lama dia mengeluarkan ponsel dari tas lalu menghubungi Reynard.
“Halo.”
“Hei Rey! Hem….makasih ya sudah kirimin makan siang untukku.”
“Apa kau menyukai makan siangmu, sayang?”
“Ya, aku sangat suka. Rey, aku sudah dapat jatah makan siang di lokasi syuting. Besok tidak usah menyuruh pelayan mengantarkan makan siangku, ya.” kata Liona merasa tak enak hati.
“Kau harus makan makanan sehat, makananmu khusus dibuatkan oleh chef dirumahku. Kau bekerja keras dan aku tidak mau kalau kau sakit.” ujar Reynard.
“Jangan khawatirkan aku Rey. Aku bisa makan jatah makan siangku disini, mereka juga menyiapkan makanan sehat untuk semua kru. Aku hanya merasa tidak enak hati mendapat perlakuan istimewa.”
“Kau layak mendapatkannya Liona! Kau adalah calon nyonya Wilfred. Ada dua anak yang membutuhkanmu dirumah. Jangan membantah ok. Semua kulakukan untukmu.”
“Baiklah, Rey. Terserah kau saja.” Liona tahu betul karakter Reynard yang tidak bisa dibantah dan suka memerintah. Keduanya berbincang sejenak dan setelah Reynard mengakhiri pembicaraan entah kenapa hati Liona merasa resah.
Proses syuting kembali berlangsung dengan adegan perkelahian Vena dan Liona ditepi sungai. Liona lebih berhati-hati lagi karena dalam adegan ini mereka berdua akan melakukan kontak fisik.
Pengambilan gambar adegan Vena yang datang dengan pelayannya menghampiri Liona yang sedang duduk ditepi sungai sambil membaca sebuah buku. Akal licik Vena pun kembali muncul untuk menyakiti Liona di sesi ini. Saat terjadi adegan keduanya bertengkar hebat, tangan Vena menarik Liona namun jika dilihat dari sisi lain terlihat seakan-akan Liona yang menarik tangan Vena. Sontak Vena tercebur kedalam sungai, namun naas bagi Vena rencananya tak semulus itu. Saat jatuh dia tidak bisa menghindar dari sebuah batu besar hingga kepalanya menghantam batu itu lalu tubuhnya perlahan masuk kedalam sungai.
“Cut! Tolong dia! Cepat selamatkan dia!” teriak para kru yang berlari dan melompat kedalam sungai untuk menolong Vena. Liona yang kaget menutup mulutnya dengan tangan dan matanya melotot. Dia tidak menyangka Vena akan bertindak sebodoh itu namun Liona mengingat bagaimana Vena menusuk perutnya sendiri untuk memfitnah Liona di masa lalu membuat gadis itu mendengus.
Air sungai itupun bercampur dengan darah dan tubuh Vena perlahan tenggelam. Seorang kru yang dengan cepat melompat kedalam sungai, mengangkat Vena yang sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Cepat bawa dia kerumah sakit.” teriak sutradara Reiki. “Liona…..kenapa bisa terjadi seperti ini?”
“Aku tidak tahu, tiba-tiba dia terjatuh sendiri.” jawab Liona acuh. Wajah Liona memucat melihat luka di kepala Vena.
Lokasi syuting mendadak heboh dengan jatuhnya Vena kedalam sungai dan kepalanya terbentur batu besar hingga berdarah dan pingsan. Salah seorang kru pun menghubungi orang terdekat Vena yaitu kekasihnya. Seth yang mendapat kabar tentang Vena langsung emosi, kedua tangannya mengepal dan tergesa-gesa meninggalkan kantornya menuju lokasi syuting.
...***...
Sementara di gedung kantor Wilfred Group, tepatnya diruang kerja Reynard terlihat dia sedang fokus dengan berkas-berkas yang bertumpuk diatas mejanya. Saat Bastian masuk kedalam ruangannya, pria itu bahkan tidak menyadari.
“Apakah kau akan menghadiri pertemuan sore ini dengan klien dari Swedia?” tanya Bastian.
“Ya. Tolong kau siapkan semua dokumen-dokumennya. Kau susul aku nanti setelah urusan pekerjaanmu sudah selesai.” kata Reynard.
“Baiklah. Lalu bagaimana dengan Felicia dan Elvano? Bukankah kau berjanji hari ini akan menjemput mereka di sekolah?” tanya Bastian lagi mengingatkan.
“Baik. Akan kusampaikan pada supir.” lalu Bastian pun keluar. Satu jam kemudian Reynard merapikan semua dokumen yang sudah ditandatanganinya, lalu pergi meninggalkan kantornya. Dia berencana akan menjemput Liona dan membawanya makan malam bersama. Saat Reynard berada didalam lift ponselnya berbunyi “Halo.”
“Maaf Tuan. Mobil Tuan ada sedikit masalah, mobilnya tidak bisa menyala. Sekarang masih diservis.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi? Saya sedang buru-buru untuk bertemu klien sekarang!” geram Reynard sambil melirik jam tangannya.
“Maafkan saya, Tuan. Tiba-tiba mobilnya mogok saat saya sedang menuju ke kantor Tuan.” ujar supir itu.
“Kau panggil supir Liona sekarang! Suruh datang secepatnya! Jangan lupa, kau harus menjemput anak-anak dari sekolah. Pulanglah kerumah dan pakai mobil lain untuk menjemput anak-anak."
__ADS_1
“Baiklah Tuan. Sekali lagi saya minta maaf.”
“Hem….!”
Supir yang ditugaskan untuk Liona pun segera menjemput Reynard ke kantornya. Mobil Maybach hitam itu meluncur namun situasi jalanan yang agak macet membuat sang supir mengambil jalur alternatif agar cepat sampai ditujuan.
Sementara itu Vena yang pingsan dilarikan kesebuah rumah sakit swasta, Vena masih berada didalam ruang operasi untuk mendapat penanganan dokter. Tak lama Seth sampai dirumah sakit dan berlari kearah ruangan operasi tempat Vena sedang ditangani. Terlihat beberapa kru dan sutradara berdiri didepan ruangan. Wajah Seth pun menggelap menahan kemarahan. “Bagaimana keadaan Vena?” tanya Seth pada sutradara Reiki.
“Dia masih didalam sedang menjalani operasi. Kepalanya terluka.” jawab Reiki.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa terluka?” tanya Seth marah.
“Maaf Tuan Seth. Tadi saat sedang syuting, tak sengaja Vena terpeleset lalu jatuh kedalam sungai dan kepalanya terbentur batu lalu dia pingsan.” kata sang sutradara menjelaskan.
“Tidak sengaja? Kau sungguh tidak bertanggung jawab!” geram Seth.
“Benar Tuan Seth. Ini hanya kecelakaan yang tidak disengaja, jika Tuan tidak percaya silahkan melihat cctv. Kejadian seperti ini tak bisa dielakkan, bukan. Terkadang terjadi kecelakaan di tempat kerja.” jelas seorang kru yang tidak senang melihat sikap Seth yang membentak sutradara Reiki.
Bagaimanapun semua kru tak ada yang menyukai Vena, apalagi mengingat kejadian penganiayaan yang sengaja dilakukan Vena saat syuting sebelumnya. Jika bukan karena dukungan Seth, tidak mungkin Vena bisa mendapat peran di film itu.
“Berani kau bicara? Ingat baik-baik, jika sampai Vena kenapa-kenapa maka kalian akan terima akibatnya!” teriak Seth.
“Tuan Seth, sebaiknya kita jangan bertengkar dirumah sakit, kita doakan saja Vena baik-baik saja. Kejadian ini bukan salah siapa-siapa. Tadi Vena sedang syuting bersama Liona tapi tak sengaja Vena terpeleset lalu jatuh ke sungai. Bagaimana bisa anda menyalahkan orang lain atas kejadian ini?” ujar sutradara lagi.
"Aku yakin ini pasti ulah perempuan itu. Dimana Liona sekarang?"
__ADS_1
"Dia masih ada dilokasi syuting. Dia juga tadi syok saat Vena jatuh ke sungai." ujar seorang kru.
"Alaaa....omong kosong! Kalian masih saja membela perempuan tak tahu diri itu!" teriak Seth sambil mengepalkan tangan.