CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 22. SYUTING PERTAMA


__ADS_3

Liona merasa dia sudah cukup beristirahat.  Kini saatnya dia harus kembali bekerja.  Dia meraih ponselnya menghubungi Sutradari Reiki Savian dan memberitahunya jika dia ingin kembali bekerja.  Namun, Reiki malah menolak permintaannya.  Pria itu bersikeras agar Liona harus istirahat sampai benar-benar pulih. Liona terus menyakinkan Reiki bahwa dirinya sudah pulih dan siap bekerja lagi. Akhirnya Reiki pun mengalah dan meminta asistennya mengirimkan naskah kerumah Liona.


“Kamu tak usah khawatir tentang pekerjaanmu. Soal syuting, kamu bisa lakukan nanti saat kondisimu sudah pulih betul. Lagipula sekarang cuaca lagi panas, jika kamu masuk kerja dan mulai syuting lagi apa kamu yakin tahan berlama-lama diluar? Karena awal episode akan banyak syuting diluar ruangan.  Aku khawatir nanti lukamu infeksi jika belum sembuh sepenuhnya.  Aku kirimkan naskah untuk kamu baca dirumah jadi kamu tidak merasa bosan dan latihlah dialogmu.  Saat kamu kembali syuting nanti, kamu sudah menghapal semua dialogmu dan tidak akan ada masalah saat pengambilan gambar nanti.”


Reiki menasehati Liona seperti layaknya seorang sutradara yang peduli pada aktrisnya.


“Baiklah kalau begitu. Kurasa idemu masuk akal juga. Terimakasih ya.” kata Liona.


Dan siang itu, asisten Reiki datang kerumah Liona membawa naskah drama, naskahnya sangat tebal karena Reiki memberikan naskah lengkap padanya.  Biasanya hanya beberapa orang saja yang punya akses ke naskah lengkap, sedangkan naskah yang dimiliki para aktris dan aktor biasanya hanya berisi dialog mereka saja.  Biasanya hal itu dilakukan agar tidak ada cerita yang bocor sebelum serial ditampilkan di tv.


Dengan rasa senang, Liona mulai membaca naskah dan menghapal dialognya.  Ada 120 episode untuk kisah Pernikahan Ketiga dan karakter Rosalind istri ketiga baru akan muncul di episode ke lima puluh. Jadi wajar saja jika Liona dibayar mahal untuk itu. Dalam naskah alur cerita pemeran Rosalind karakternya lebih ditonjolkan dan lebih antagonis. Liona menjadi semakin bersemangat setelah membaca naskah itu.  Dia mulai praktek dialog dan gerakan tubuh untuk menyesuaikan dengan ekspresi wajahnya.


Rosalind adalah gadis cantik dan pintar tapi sangat licik, manipulatif dan jahat. Hidupnya sangat rumit jadi karakter Rosalind adalah peran yang sangat menantang untuk dimainkan.  Jika Liona berhasil menghidupkan karakter itu dengan wajah cantik polosnya, dia akan mendapat sorotan didunia hiburan.  Bayangkan saja, dengan wajah manis miliknya tapi dia memerankan karakter jahat, sangat menantang bukan?


Waktu berjalan sangat cepat dan Liona sudah benar-benar pulih.  Dia harus mulai syuting dan melanjutkan pengambilan gambar.  Hari pertamanya bekerja, Liona bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan.


Elvano sudah duduk di meja makan sambil makan bubur, bocah laki-laki itu memandang ibunya terus menerus seakan ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu. Liona tahu itu karena dia pun mengamati sikap putranya sedari tadi. Elvano selalu menunjukkan ekspresi wajah yang sama selama beberapa hari ini, tepatnya sejak Reynard dan Felicia menginap dirumah mereka.  Liona meletakkan sendoknya dan menatap Elvano “Sayang, katakan saja apa yang sedang kamu pikirkan.  Apa mam boleh tahu?”


“Mama, apakah mama menyukai paman Hiro?”


“Loh kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu, sayang?” tanya Liona heran.

__ADS_1


Elvano menundukkan wajah dan menjawab “Aku cuma ingin tahu. Apakah paman Hiro akan menjadi ayahku?”


“Oh, Tidak sayang.”


“He?” Elvano terkejut dan tak tahu harus berkata apa.


“Coba katakan pada mama, apa yang ada dipikiranmu akhir-akhir ini? Mama dan Paman Hiro sudah saling kenal lama dan Paman Hiro itu teman baik mama. Tidak mungkin kami menikah, sayang.  Kamu mengerti kan?”


“Tapi kenapa Ma? Paman Hiro orang baik dan selalu membantu kita.”


“Dengarkan mama ya sayang. Paman Hiro adalah lelaki yang hebat dan sudah banyak membantu kita. Paman Hiro layak mendapatkan seorang wanita yang baik dan hebat. Mama tidak mungkin menjebaknya dalam sebuah pernikahan hanya karena ingin membalas budi. Lagipula Paman Hiro mencintai orang lain. Kita jangan membahas hal ini lagi ok?”


“Yay! Hore!”


Jadi alasan Paman Hiro tidak bisa menikah dengan mama karena dia sudah mencintai orang lain. Berarti mama tidak akan berada dalam posisi terjepit karena harus memilih Paman Hiro dan Papa Felicia!


Kini wajah bocah laki-laki itu berubah ceria kembali setelah beberapa hari ini wajahnya selalu cemberut. Kini dia tahu semuanya, jadi dia bisa merancang ide lain bersama Felicia. Elvano melanjutkan makan dengan tersenyum.  Liona heran melihat perubahan ekspresi putranya. Aduh! Apalagi yang ada dipikirannya? Anak jaman sekarang memang rumit kadang sebagai seorang ibu sulit untuk menebak apa yang sedang dipikirkan oleh putranya.


“Elvano, kamu yakin mama tinggal sendirian dirumah?”


Bocah laki-laki itu tak menjawab hanya memberi isyarat OK dengan jarinya. “Ingat ya sayang, jangan buka pintu sembarangan kalau ada orang asing datang dan jangan keluar rumah.  Suhu AC jangan terlalu dingin.  Segera hubungi mama kalau ada apa-apa, okay?”

__ADS_1


“Iya mama. Jangan khawatir gitu dong. Aku bukan anak kecil lagi.”


Liona pun pergi kelokasi syuting meninggalkan putranya sendirian dirumah.  Saat sudah meninggalkan rumah dia merasa cemas. Meskipun putranya anak pintar tapi dia masih anak-anak.


“Aku harus segera menemukan pengasuh untuk menjaganya dirumah.”


Liona sampai di lokasi syuting saat pengambilan gambar sudah dimulai.  Saat ini sedang dilakukan pengambilan gambar untuk peran Naomi yang diperankan oleh Vena Obelia. Terlihat aktris itu menganakan gaun putih polos, membuatnya tampak muda dan cantik.  Saat adegan sedang berjalan-jalan disebuah taman bunga, Naomi bertemu dengan Tuan Muda tampan dan pria itu langsung jatuh cinta melihat gadis cantik itu. Sayangnya hati Naomi sudah jadi milik orang lain.  Begitu Naomi mengetahui jika pria itu adalah Tuan Muda yang kaya raya, maka dia pun mulai mendekati. Dia berpura-pura jatuh cinta pada Tuan Muda tampan itu.


“Ok, cut!”


Reiki terlihat melambaikan tangan “Lolos”


“Terimakasih sutradara.” kata Vena tersenyum puas.  Semua yang terlibat pada pengambilan gambar di adegan pertama pun merasa lega dan menghela napas.  Untung cuaca hari ini tidak begitu panas, karena semua adengan hari ini banyak diluar ruangan. Saat itu Liona dan Vena tak sengaja bertatapan, suasana pun langsung tegang. Vena tak konsentrasi dan keringat dingin mengucur ditubuhnya.


Sang sutradar pun terkejut dengan kedatangan Liona yang awal di set. “Sekarang baru jam tujuh tiga puluh pagi.  Kenapa kamu datang sangat awal?” tanya Reiki sambil melirik jam ditangannya.


“Lebih baik aku datang awal, lagipula aku bosan dirumah, tidak ada yang bisa kukerjakan.”


“Apakah kamu sudah pulih?”


“Ya, aku sudah benar-benar pulih. Jangan khawatir.” jawab Liona tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2