
‘Kenapa perempuan ****** itu selalu saja beruntung? Dulu dia selamat dari kematiannya, lalu kembali kesini dan menggaet Reynard? Ini tidak bisa dibiarkan! Aku sudah berusaha keras selama beberapa tahun ini agar bisa masuk ke keluarga Wilfred, tapi Liona malah dengan mudahnya masuk dan tinggal di rumah mewah itu?’
“Arrggggg! Aku harus memberitahu Seth tentang ini! Aku yakin dia pasti tidak senang jika tahu Liona tinggal serumah dengan pamannya! Aku harus bisa menjadi bagian dari keluarga itu! Bukan Liona!’ hati Vena semakin panas hanya dengan memikirkan bagaimana kehidupan Liona dirumah mewah Reynard sudah membuatnya iri, cemburu dan marah.
*******
Liona berada didalam pelukan Reynard didalam kamar mereka, Liona tidak bergerak seolah-olah menikmati kenyaman dipelukan pria itu. Sekarang Liona semakin memikirkan hubungannya dengan Reynard, dia harus memastikan hubungan ini akan berakhir di pernikahan. Hanya dengan cara itu posisi Liona akan semakin kuat dan takkan mudah bagi siapapun untuk menggangunya.
Seakan tahu jika wanita dalam pelukannya belum tenang atas kejadian tadi, tangan bsar Reynard memegang tangannya dengan penuh kasih sayang.
“Aku tidak peduli pada masa lalumu, Liona! Yang aku inginkan darimu adalah masa kini dan masa depan. Kita akan menikah dalam waktu dekat, dengan begitu kau punya posisi kuat dikeluargaku dan takkan ada seorangpun yang akan berani melecehkan dan menghinamu lagi.”
Reynard adalah orang yang sangat berkuasa, status tinggi yang dimiliki oleh Reynard adalah hal yang baik bagi Liona.
Adam dan Hesti tidak akan berani lagi mencari masalah dengan Liona untuk membalas dendam jika mereka tahu sebesar apa kekuasaan Reynard. Jika dia menikahi pria itu maka dia akan mudah untuk membalaskan dendamnya pada orang-orang yang sudah menyakitinya selama ini. Sejak mengenal Reynard, semuanya berubah dan pria itu rela melakukan apa saja untuknya.
“Aku mencintaimu Liona! Hanya kau selamanya. Aku pikir sikapku padamu selama ini sudah jelas.” ujar Reynard mengecup puncak kepala Liona masih dalam posisi mereka saling berpelukan.
Liona tersipu malu, “Aku….aku….”
Reynard menatap Liona yang mendongak menatapnya.”Liona, kamu tidak bisa memilih keluarga yang akan mengadopsimu. Mereka memilihmu waktu kau masih kecil tapi sekarang kau adalah wanita dewasa dan mandiri. Kau tahu apa yang terbaik untukmu, apakah masih ingin memiliki keluarga seperti itu atau tidak.”
Liona tahu dia berusaha menghiburnya meskipun kata-katanya terdengar agak canggung karena Reynard bukan tipe romantis dan tak biasa menghibur orang lain. Reynard ingin memberitahu Liona untuk tidak membiarkan sikap dan perkataan Adam memengaruhinya. Sebenarnya kata-kata maupun sikap Adam sama sekali tidak mengganggu Liona.
Tapi sekarang matanya terasa perih, airmatanya sudah berkumpul disudut matanya. “Reynard!”
“Iya, sayang.”
__ADS_1
“Tolong jangan bersikap terlalu baik padaku. Nanti aku jadi terbiasa.”
“Oh!” hanya itu yang keluar dari bibir Reynard. Liona pun tidak tahu harus berkata apalagi.
‘Apa maksud pria ini? Tidak bisakah dia bicara lebih jelas untuk sekali ini saja?’ pikir Liona.
Melihat raut wajah Liona yang bingung, Reynard langsung menjelaskan. “Maksudku, aku ingin membuatmu terbiasa. Aku senang jika kau terbiasa denganku.”
Berbaring di tempat tidur yang besar dan berada didalam dekapan pria yang dicintainya membuat Liona merasa nyaman. Tak lama deru napasnya terdengar teratur, dan saat Reynard menatap wajahnya, dia menyadari wanita itu sudah tertidur pulas.
******
Hari minggu itu, matahari bersinar dengan cerah. Reynard dan Delvin tidak perlu bekerja jadi pagi-pagi sekali mereka memutuskan menghabiskan waktu bersama keluarga. Saat Delvin memasuki ruang tamu, dia menatap Lioan. Wanita itu tercengang karena diwajah Delvin terdapat memar biru dan dia tampak sangat kesakitan.
“Aduh Delvin! Apakah tadi malam kau terlibat dalam perampokan bersenjata?”
“Apakah tadi malam kau tidak mendengar aku berteriak dalam mimpimu?”
Liona tercengang. “Efek insulasi suara di villa ini sangat bagus,” candanya.
Mata Delvin dipenuhi dengan kepahitan, Liona kehilangan kata-kata dan akhirnya menyiapkan minuman untuk mereka. “Biarkan dia sendiri.” kata Reynard. Reynard memberi Liona sebotol salep dan dia memandang pria itu dengan curiga sehingga Reynard menceritakan jadwalnya untuk hari ini pada Liona.
“Hari ini aku harus membawa Felicia kembali kerumah orangtuaku bersama dengan Delvin.”
“Baiklah, aku mengerti.” karena malu, Liona mrapikan rambutnya dan pura-pura tidak mengerti. “Kau boleh pergi dan tidak perlu memberiku penjelasan.”
“Apakah kau ingin ikut kerumah orangtuaku?” tanya Reynard.
__ADS_1
Liona hampir jatuh dari sofa karena terkejut. Dia melihat Reynard dengan tatapan tidak percaya dan suaranya bergetar saat dia bicara.
“Jangan sembarangan. Untuk apa aku pergi denganmu?”
“Untuk bertemu dengan orangtuaku.” jawab Reynard dengan suara lembut.
“Kenapa kau harus bertemu dengan orangtuamu?” Liona takut kalau Reynard mengatakan sesuatu yang akan membuatnya dilema, Liona melompat dari sofa dan mencoba mendorongnya.
“Lihat sudah jam berapa sekarang! Hari semakin siang dan udara diluar panas sekali. Sebaiknya kau segera pergi sebelum cuacanya semakin panas. Aku dan Elvano punya rencana hari ini.”
Reynard segera meraih pergelangan tangannya. Liona bisa merasakan telapak tangan Reynard yang hangat. “Liona.”
“Apa yang kau lakukan. Lepaskan tanganku.”
“Aku bersungguh-sungguh dengan perkataanku tadi malam.” mendengar pernyataan Reynard, pikiran Liona mendadak kosong. Dia menghindari kontak mata dengan pria itu.
”Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan. Sebaiknya kalian segera pergi kerumah orangtuamu sekarang.” Liona masih bimbang disatu sisi ada rasa takut mengingat betapa sulitnya untuk masuk kedalam keluarga kaya raya seperti keluarga Wilfred. Dia takut ditolak keluarga besar itu.
Reynard tersenyum tipis, dibandingkan dengan penolakan yang dulu pernah dia terima diawal bertemu Liona, kali ini berbeda. Reynard paham apa yang ada didalam benak wanita itu dan dia menganggap ini sebagai tanda kemajuan yang signifikan baginya karena dia hanya perlu menyakinkan wanita itu saja.
Dia tahu kapan harus menahan diri, dia tidak memaksakan kehendaknya dan mengusap rambut Liona perlahan. “Istirahatlah yang cukup dirumah. Ingat kata-kata dokter Kevin dan jaga agar lukamu tetap kering. Ganti kain kasa dan oleskan salep tepat waktu.”
“Aku tahu….aku tahu. Kau cerewet sekali hari ini.” ujar Liona.
Delvin terkejut saat mendengar keluhan Liona. ‘Aduh orang ini! Liona kau tidak tahu betapa beruntungnya dirimu. Apakah kau tidak tahu bahwa kak Reynard tidak banyak bicara dan tidak peduli pada orang lain? Dia memperlakukanmu berbeda tapi kau malah tidak menghargainya.’
Akhirnya Reynard dan Delvin pergi bersama Felicia. Supir menyalakan mobil dan mereka segera menuju ke kediaman utama keluarga Wilfred. Reynard, Delvin dan Felicia duduk dikursi belakang. Setelah berada didalam mobil, Felicia tampak seperti seekor anak kucing yang dibuang.
__ADS_1