
Gara-gara asistennya mengungkit soal Liona membuat Aurora tidak terima dan semarah itu. Dia merasa bahwa Liona si artis pendatang baru sudah mengalahkannya hanya dalam beberapa hari, sementara Aurora yang cantik dan seksi sudah berjuang bertahun-tahun bahkan rela jadi simpanan seorang pengusaha agar bisa mencapai posisinya sekarang. Wilfre Media adalah perusahaan besar di industri hiburan dan Aurora merasa bahwa dialah yang seharusnya mendapat peran sebagai Rosalind ditambah lagi kontraknya dengan Sky Media akan berakhir sebentar lagi. Jika saja Liona tidak mencuri perannya maka dialah yang menandatangani kontrak dengan Wilfred Media. Liona telah mengambil semua kesempatannya untuk jadi terkenal dan Aurora tidak akan membiarkan itu. Takkan mungkin dia akan melepaskan Liona begitu saja. Bagaimana mungkin?
“Aurora….kalau kita membuat Liona marah dan mempermalukannya didepan umum secara terang-terangan mencari masalah, dia akan memberitahu pada sutradara dan itu akan membuatmu bisa kehilangan peran di serial ini.” kata asistennya memberi saran.
Aurora yang memang keras kepala tersenyum mengejek.
“Aurora!” tegur asistennya.
“Jangan khawatir, aku punya rencana! Ide yang sangat bagus!” ujarnya menyeringai. Tanpa mereka sadari percakapan mereka didengar oleh dua orang yang sejak tadi menguping dari balik pintu ruangan dan merekam semua perkataan Aurora dan asistennya. Seringai licik muncul diwajah dua orang dibalik pintu dan mereka saling melemparkan senyum. Keduanya pun pergi meninggalkan tempat itu dan berlari kecil menuju lokasi syuting.
Dalam serial itu Aurora berperan sebagai Joana, istri kedua dari Arwan Singgih. Syuting sudah dimulai dan saat ini sedang pengambilan gambar untuk peran Joana. Terlihat Joana tiba dirumah mewah milik Arwan Singgih, dia tiba disana lebih awal dari Rosalind (yang diperankan oleh Liona). Kedua wanita yang berbeda latar belakang. Joana berasal dari keluarga kaya raya sedangkan Rosalind seorang gadis pintar berasal dari keluarga sederhana. Dalam serial itu tokoh Joana digambarkan sebagai seorang wanita cantik berpendidikan tinggi tapi tidak punya otak dan tak tahu malu, sangat sesuai dengan citra Aurora. Oleh karena itu sutradara merasa Aurora adalah pilihan tepat untuk peran itu.
Dalam serial itu terlihat Rosalind memasuki rumah mewah itu membawakan tumpukan dokumen untuk ditandatangani oleh Arwan Singgih sang milyuner. Perhatian Arwan pada sekretaris pribadinya itu membuat kedua istrinya jengah, mereka merasa jika Arwan telah tersihir oleh kecantikan Rosalind yang alami dan saat melihat Rosalind memasuki rumah mereka, Joana mulai mencari masalah. Adegan ini adalah adegan yang direkam sore itu. Semua staf, aktor dan aktris yang terlibat sudah siap dilokasi syuting.
“Action!”
Adegan dimulai dengan kegilaan Joana dikediamannya. “Prang! Bruk! Byur!”
Joana yang mengenakan gaun berwarna hijau menjadi histeris setelah mendapat informasi jika suaminya telah bermalam di apartemen mewah yang diberikan pada Rosalind. Joana menghancurkan semua barang-barang yang ada dijangkauannya dan melemparnya hingga pecah berkeping-keping.
__ADS_1
“Nyonya! Nyonya! Tolong jangan hancurkan guci itu, itu guci mahal dan antik harganya milyaran rupiah dan merupakan peninggalan turun temurun.”
“Suamiku….suamiku!” kamera menyoroti wajah Joana yang menundukkan kepala sambil menangis. “Pelacur bodoh itu telah merayu suamiku. Kini suamiku sudah melupakan aku!”
“Tidak mungkin nyonya. Tuan hanya tertarik pada sekretarisnya karena masih baru dan cantik. Saat tuan sudah bosan padanya, saya yakin tuan akan kembali pada nyona. Tidak ada yang bisa menyaingi nyonya yang cantik, berpendidikan dan kaya. Semua ini hanya sementara nyonya,” ujar sang pelayan membujuk majikannya.
“Tentu saja bodoh! Suamiku selalu mengingatku didalam hatinya! Dia pasti sudah terkena guna-guna wanita j*lang itu! Akhir-akhir ini suamiku selalu bersamanya, dia telah kirim guna-guna pada suamiku dan takkan kubiarkan ada perempuan lain yang merebut suamiku. Aku sudah susah payah merebutnya dari Naomi dan aku akan jadi yang terakhir dan satu-satunya, tidak ada wanita lain lagi!” sambil menghentakkan kaki, saat itu seluruh pakaiannya melorot dan menampakan tubuh polos Aurora yang tak memakai dalaman.
Semua orang yang ada dilokasi syuting terkejut dan terpana melihat tatapan indah didepan mata mereka. Aurora yang masih terlalu menghayati aktingnya tak menyadari jika dia sudah tak berpakaian dan merasa semua orang yang menatapnya terkesima karena aktingnya yang bagus. Dia pun berjalan dengan pongahnya dan sombong namun tiba-tiba terdengar tawa dari dua bocah yang terbahak-bahak sambil menunjuk kearah Aurora.
Kesal saat melihat salah satu bocah itu adalah putri dari sang CEO tampan yang sudah diincar oleh Aurora sejak lama, diapun tersenyum penuh percaya diri.
“Hahahaha…..wanita itu telanjang! Kak El tutup matamu!” teriak Felicia menutup mata Elvano yang sejak tadi sudah memejamkan matanya saat pakaian Aurora melorot.
“Wah….hebat sekali akting Aurora kali ini! Dia sampai berani telanjang!” ucap beberapa kru yang tertawa karena akting itu tidak ada dalam naskah cerita. Mereka mengira Aurora menambahkan akting itu. Sutradara Reiki marah dan membentak Aurora yang dianggap sudah lancang.
“Cukup! Cepat pakai pakaianmu kembali dan temui aku diruanganku!” teriaknya pada Aurora yang masih tak paham. Dia merasa mungkin itu bagian dari naskah sehingga bajunya melorot, tadi diruang ganti dia mendapati ada kertas diatas mejanya yang memintanya memakai baju kostum tanpa pakaian dalam karena itu adalah bagian dari naskah, dia pun melakukannya. Maka saat bajunya melorot tak ada pelindung apapun ditubuhnya.
Dengan tergesa dan rasa malu, Aurora berjalan menuju ruang sutradara Reiki yang sudah menunggunya. “Apa-apaan kamu Aurora? Mempermalukan dirimu sendiri seperti itu!” bentak Reiki marah. Aurora hanya menundukkan kepala dan tak paham apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
“Aku hanya mengikuti alur sesuai naskah,”
“Apakah itu ada di naskah, hu? Menelanjangi dirimu seperti itu dihadapan semua orang!”
“Maaf. Aku tidak tahu jika pakaianku bisa melorot seperti itu.”
“Kamu bahkan tidak memakai pakaian dalam! Apa kau sudah gila?”
“Bukankah itu juga bagian naskah?” tanya Aurora bingung.
“Naskah apa yang kau maksud. Aktingmu tadi tidak sesuai dengan naskah!”
“Ta---tapi tadi ada yang mengirimkan aku surat yang mengatakan aku harus memakai kostum itu tanpa pakaian dalam, karena itu sesuai naskah.” ujarnya.
“Cukup! Jangan banyak alasan, tindakanmu hari ini sungguh memalukan! Mau kau taruh dimana mukamu sekarang, ha? Telanjang dihadapan semua orang seperti tadi dan kau bahkan akting begitu pongahnya layaknya seorang bintang porno.” amarah Reiki memuncak mengingat tingkah Aurora saat pengambilan gambar tadi.
“Maaf…..tolong maafkan aku. Ini ada kesalahpahaman saja. Aku yakin pasti Liona yang mengirimkan surat itu tadi dimejaku.”
“Diam! Liona baru tiba beberapa menit sebelum syuting. Apa kau pikir dengan waktu sesingkat itu dia bisa menulis dikertas dan menaruhnya dimejamu? Apa kau pikir dia punya cukup waktu untuk bertukar pakaian dan merias wajah lalu masuk ke lokasi syuting?”
__ADS_1
Aurora terdiam mendengar ucapan sang sutradara. ‘Ya, betul juga apa kata sutradara Reiki. Tak mungkin hanya dalam beberapa menit Liona bisa melakukan itu semua. Kostum yang dipakainya juga bisa melorot sendiri seperti itu butuh seseorang yang melakukan itu dan butuh waktu lama untuk melakukannya. Pikirnya. Tapi karena dia membenci Liona maka apapun itu akan dilimpahkannya sebagai kesalahan Liona.