CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 71. BERJANJILAH


__ADS_3

Liona menundukkan kepala dengan wajah merona mendengar Reynard menggodanya. Dia merasa malu dan ingin menyembunyikan dirinya kedalam lubang. “Kenapa kamu diam? Kemarilah aku ingin memelukmu.” kata Reynard lagi. 


“Aku tidak ingin menyakitimu, kamu baru saja sadar.” kata Liona.


“Ranjang ini cukup besar untuk kita berdua, masih terlalu longgar disini tidak akan menyakitiku. Kemarilah.” kata Reynard.


Wanita itupun beranjak dengan perlahan naik ke ranjang, dia berbaring disebelah kiri Reynard karena tangan kanannya diinfus. Ranjang ruang VIP ukurannya lebih luas sehingga mampu menampung mereka berdua, lagipula tubuh Liona langsing.


“Bagaimana kabar anak-anak? Aku belum melihat mereka sejak tadi.”


“Elvano berada dirumahku bersama pengasuh. Sedangkan Felicia tadi dijemput orangtuamu dan dibawa kerumah mereka.”


“Apa kamu sudah menelepon Felicia? Dia pasti tidak betah dirumah neneknya. Sudah sekian lama dia tidak pernah berpisah dengan Elvano, dia pasti merasa kesepian tanpa kakaknya.”


“Tadi aku mencoba menelepon ke ponselnya tapi tidak aktif.” jawab Liona. “Besok aku akan membawa Elvano kesini untuk menjengukmu.”


“Baiklah. Jika kamu lelah pulanglah dan beristirahat dirumah.”


“Tidak, sayang. Aku akan menemanimu disini sampai kamu diijinkan pulang kerumah.”


“Apa kamu takut perawat dan dokter wanita dirumah sakit ini menggodaku, hmm?”


“Isss…..kenapa kamu sekarang jadi genit begini?” Liona mencubit pinggang Reynard.


“Awww...apakah kamu ingin menyakitiku? Cubitanmu sakit sekali.” kata Reynard pura-pura memasang wajah kesakitan.


“Ma—maaf Rey, aku tidak sengaja. Sakit ya? Dimana yang sakit?”


Reynard menunjuk bagian bawah tubuhnya dengan lirikan mata, “Disana yang sakit.”


“Kamu apaan sih Rey! Apa hubungannya pinggang kamu sama itu?” ujar Liona merona.

__ADS_1


“Hahahaha….kenapa wajahmu memerah? Kamu sangat menggemaskan.” goda Reynard,


Keduanya saling menggoda dan Reynard tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Liona yang malu-malu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan suara teriakan seorang pria menyentakkan sepasang kekasih itu. “Kakakkkk…..apa yang terjadi? Kenapa kakak bisa kecelakaan?” teriak Delvin berlari masuk.


“Delvin! Kamu bising sekali.”


“Upss….maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kalian…..” Delvin tidak melanjutkan ucapannya karena melihat posisi Reynard dan Liona diatas ranjang rumah sakit.


“Apa yang kau pikirkan, ha?” tanya Reynard. Delvin hanya terkekeh lalu duduk di sofa.


“Kakak katakan padaku apa yang terjadi?” tanya Delvin yang mendapat kabar kalau kakaknya kecelakaan. Diapun bergegas meninggalkan semua urusan pekerjaan diluar kota.


“Aku mengalami kecelakaan di persimpangan jalan menuju tol. Rem mobil blong, sepertinya ada yang merusak rem mobil. Daripada kamu disini membuat kerusuhan lebih baik kamu pergi menyelidikinya. Kerahkan orang-orangku untuk mencari tahu sebab kecelakaan dan siapa yang merusak rem mobil. Satu lagi! Pergilah temui dokter dan tanyakan kondisi supir itu.”


“Baiklah. Aku pergi sekarang dan akan menemukan pelakunya!” kata Delvin lalu meraih ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang sambil berjalan keluar ruang rawatan itu.


“Rey, apakah kamu punya musuh diluar sana?” tanya Liona.


“Aku seorang pengusaha dan sudah pasti akan punya musuh maupun orang-orang yang tidak menyukaiku. Hal seperti itu wajah didunia bisnia. Sudahlah jangan berpikir terlalu banyak, aku juga baik-baik saja.”


“Sssstttt….jangan kencang-kencang suaranya aku masih bisa dengar. Maafkan aku sudah membuatmu khawatir.” ujar Reynard mengecup puncak kepala Liona. Hatinya merasa bahagia berada disamping wanita yang dicintainya yang mengkhawatirkan dirinya.


“Berjanjilah untuk selalu bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku dan anak-anak.” kata Liona lirih.


“Aku berjanji! Aku akan bertahan dan hidup panjang untuk kalian semua.” kata Reynard.


...**...


“Kurang ajar! Apa yang sudah kau lakukan, ha? Aku menyuruhmu untuk mencelakai perempuan itu.” teriak seorang pria pada orang bayarannya.


“Aku sudah menjalankan sesuai perintah Tuan. Aku sendiri yang memotong kabel rem dan membayar seseorang untuk mencelakainya. Sekarang aku minta sisa bayaranku!”

__ADS_1


“Kau tidak akan menerima sepeserpun! Perempuan itu baik-baik saja tapi orang lain yang celaka! Kau tidak seharusnya menyentuh pria itu!”


“Apa maksudmu tidak membayarku? Aku sudah lakukan sesuai perintahmu!”


“Tapi mobil yang kau rusak bukan mobil wanita itu! Dasar bodoh!”


“Aku sudah merusak mobil yang Tuan perintahkan. Mana kutahu jika orang yang didalam mobil itu bukanlah wanita itu. Aku menjalankan sesuai perintah Tuan!” ujar pria itu kesal.


“Arrrgggg…..pergi sana! Jangan pernah muncul dihadapanku atau kau akan kujebloskan ke penjara. Dan ingat, jangan pernah membawa-bawa namaku dalam masalah ini! Ini uangmu.” kata pria itu lalu mencampakkan sebuah amplop berisi uang. Begitu menerima sisa pembayarannya, pria itupun berlalu.


 Dasar sialan! Bodoh bodoh bodoh! Kenapa wanita ****** itu selalu beruntung! Ini tidak bisa dibiarkan terus. Perempuan itu harus mati kali ini.


...**...


Tampak Seth yang berjalan tergesa-gesa memasuki rumah sakit. Saat dia hendak masuk kedalam lift dia melihat sosok wanita yang dikenalinya baru saja berjalan keluar dari kafetaria. Pria itupun bersembunyi dibalik tembok hingga sang wanita tiba didepan lift dan masuk kedalam saat pintu lift terbuka, dengan langkah cepat Seth masuk ke lift dan menutup pintunya.


“Ahh!” teriak Liona terkejut melihat kehadiran Seth. Hanya mereka berdua didalam lift. Mendadak udara dilift terasa sesak.


“Kenapa? Apa kau takut melihatku?” tanya,Seth mebatap tajam wanita didepannya.


“Untuk apa kamu disini?”


“Apa urusanmu, ha? Ini rumah sakit dan siapa saja bisa berada disini.” Seth telah menekan tombol lantai 4. Melihat itu perasaannya tidak tenang karena Seth berdiri didepannya menghalangi.


“Apa maumu? Minggir sana!” tangan Liona berusaha mendorong tubuh Seth. Lift sudah sampai dilantai empat dan begitu pintu lift terbuka, Seth langsung menarik tangan Liona keluar dengan paksa. Pergelangan tangan Liona memerah saking kuatnya tangan pria itu menggenggam.


“Lepaskan! Apa yang kau lakukan! Aku harus kembali keruang perawatan pamanmu!” ujar Liona berusaha melepaskan tangannya.


“Kau tidak akan kemana-mana sampai urusan kita selesai!” bentak Seth menarik Liona kedalam ruangan yang berada disudut lalu menutup pintunya. Ruangan itu adalah ruang penyimpanan perlengkapan pasien ruang VIP. Seth mendorong tubuh Liona hingga terjatuh kelantai.


Kemarahan Liona memuncak lalu dia berdiri dengan cepat dan menampar Seth sekuat tenaga, Lalu kakinya menendang bagian bawah tubuh Seth hingga pria itu menjerit kesakitan dan jatuh kelantai menahan sakit. Tangannya memegangi bagian tubuh yang baru saja ditendang Liona.

__ADS_1


Tindakan Liona membuat Seth semakin marah, matanya melihat botol kosong yang berada di rak disebelahnya. Satu tangannya menahan perut bagian bawah yang ditendang Liona sedangkan tangan satunya lagi berpegangan pada rak lalu meraih botol kosong itu.


 


__ADS_2