
Mereka terlihat sedang menari dengan terlalu bersemangat tak jauh darinya. Liona pun teringat ketika dia tinggal diluar negeri dia telah berkali-kali mengunjungi tempat seperti ini.
Karena itu sudah kehilangan minat saat menginjakkan kaki di bar itu. Dia memutar kursinya dan bersandar dimeja bar sambil memegang minumannya. Wanita itu melirik kearah pintu masuk bar.
Sudah kesekian kalinya dia melirik kearah pintu itu. Dia masih belum melihat kedatangan Delvin dan Reinhard hingga detik ini. ‘Apa mungkin mereka tidak datang ya? Ah, tidak mungkin!’
Liona menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan keraguan yang sejenak memenuhi pikirannya. Dia yakin Delvin tadi yang sudah melihatnya pasti sudah memberitahu Reinhard.
Mengetahui sifat pria itu, Liona yakin kalau Delvin pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk membawa Reinhard ke club ini. Liona mengangkat tangannya untuk memegang keningnya. Apakah mungkin Delvin tidak mengatakan apapun pada Reinhard?
Malam ini dia memang sengaja berpenampilan glamor seperti itu. Kalau Delvin sudah melihatnya dan tidak mengatakan apapun pada Reinhard, itu berarti usahanya malam ini sia-sia.
Liona berpikir, apakah sebaiknya dia menyerah saja? Tidak boleh! Dia harus bertahan sebentar lagi. Pertunjukan baru saja dimulai. Bagaimana mungkin seorang prajurit mundur sebelum maju ke medan perang? Liona pun akhirnya memutuskan menunggu sebentar lagi.
“Sebaiknya aku bersabar dan menunggu sebentar lagi. Mungkin mereka akan datang kesini.”
Liona berusaha menenangkan dirinya, ketika memasuki bar itu dia telah membuat banyak pria yang menoleh saat dia berjalan menuju ke meja bar. Dengan riasan sempurna dan tubuh mempesona yang dia miliki, sangat sulit untuk mengabaikan wanita itu. Liona masih menunggu dengan sabar sambil sesekali dia melirik kearah pintu masuk.
Tiba-tiba ada seorang pria dengan penampilan menghampirinya. “Permisi nona. Apakah kursi ini ada yang menempati? Bolehkah aku duduk disini?”
Liona menoleh kearah pria itu dan menatapnya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki dengan pandangan menyelidik. Pria itu terlihat kurus seperti tiang listrik yang hampir rubuh dan mengenakan setelan hitam serta kacamata tanpa bingkai.
Ada aura kelembutan yang menyelimuti tubuh pria itu. Meskipun begitu, dia tidak bisa dibandingkan dengan Reinhard! Tubuh pria ini masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Reinhard.
__ADS_1
Dan wajahnya juga tidak setampan wajah Reinhard. Bahkan meskipun pria itu mengenakan setelan jas mahal dan elegan sekalipun, dia tetap tidak terlihat semodis Reinhard.
Liona pun langsung meminta pria itu pergi ketika dia melihat ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Saat pria itu membawa gelas anggur sambil menyesapnya, Liona melihat ada bekas cincin kawin dijari manis pria itu.
‘Jadi dia adalah salah satu bajingan yang melepas cincin kawin mereka untuk menggoda wanita lain sementara istrinya menanti dirumah.’ pikir Liona.
Huh! Dia telah memilih wanita yang salah malam ini. Saat ini Liona sedang dalam suasana hati yang sangat buruk dan jika ada orang yang mengganggunya malam ini, maka orang itu akan membayar harga yang sangat mahal.
“Tidak ada yang duduk disini.” jawab Liona sambil mengedipkan matanya pada pria itu.
Pria tidak tahu malu itu melemparkan tatapan penuh nafsu pada Liona dan dia terlihat gelisah saat melihat senyum manis diwajah perempuan itu. Setelah mendapat persetujuan Liona, pria itupun langsung duduk disebelah Liona.
Karena jarak mereka yang cukup dekat, wangi parfum Liona tercium oleh pria itu. Dia pun menarik napas dalam-dalam sambil menutup matanya.
Dia menikmati aroma tubuh Liona yang memabukkannya. Tubuh pria itu bersandar di konter sambil menoleh kearah Liona dan tersenyum lebar.
“Benar sekali! Suamiku itu sangat menyebalkan! Dia orangnya sangat……keras dan mengekang. Dia terlalu taat pada peraturan dan sangat membosankan. Jadi aku menyelinap keluar rumah untuk bersenang-senang sendiri. Dulu ketika dia melamarku, dia berjanji akan menghormatiku dan memperlakukanku seperti seorang ratu. Tugasku hanyalah tinggal dirumah dan menjadi istri yang cantik.”
“Sementara suamiku itu akan bertanggung jawab menghasilkan uang untuk kebutuhan hidup kami. Tapi setelah kami menikah, sikapnya langsung brubah drastis. Dia tidak mengijinkanku lagi keluar rumah sendirian. Aku bahkan tidak bisa keluar untuk minum dan bersenang-senang sedikit. Aku kesal sekali pada suamiku itu!”
“Ehh……?” pria itu mengerutkan alisnya. ‘Kenapa kata-kata wanita ini terdengar sangat akrab di telinga ya? Mungkin karena dia mengatakan hal yang sama persis yang kukatakan pada istriku sendiri yntuk menahannya dirumah seperti seorang tahanan setelah kami menikah selama beberapa tahun.’ gumam pria itu didalam hatinya mulai merasa tertampar.
Pria itu menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran menyebalkan yang ada didalam kepalanya. Dia mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Liona, “Memang sangat menyebalkan. Aku sangat paham bagaimana perasaanmu. Pernikahan adalah tempat dimana cinta mati. Begitu kamu memakai cincin itu berarti kamu harus mengucapkan selamat inggal pada kebebasanmu.”
__ADS_1
Liona memicingkan mata dan bermain dengan dasi pria itu, dia bertanya dengan suara lembut nan menggoda, “Apakah kamu sudah kehilangan kebebasanmu?”
“Tentu saja tidak, cantik!”
“Apakah benar begitu?”
Pria itu tertawa dan mendekati Liona sambil melingkarkan satu tangannya dipinggang wanita itu.
Dia mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dan berbisik ditelinga Liona, “Jika aku harus menjalani kehidupan sebagai seorang budak, maka aku harus menemukan seorang ratu cantik yang membuatku rela untuk menjadi budaknya.
Saat Liona menggoda itu menjengkelkan itu, dia tidak menyadari bahwa Reinhard sedang duduk disalah satu sudut ruangan. Dia mengawasi setiap gerakan dan senyuman yang dilakukan oleh waita itu.
Temperatur udara disekitar Reinhard berubah dengan drastis. Jika saja tatapan mata bisa membunuh maka pria yang sedang berbicara dengan Liona itu pasti sudah mati.
Delvin segera meraih tangan kakaknya, dia takut Reinhard akan bertinda impulsif dan melakukan sesuatu yang bodoh. “Kak Reinhard. Tolong tenangkan dirimu dulu. Kakak memiliki wajah yang jauh lebih tampan dari pria itu. Dan aku yakin sekali kalau Liona memiliki selera yang bagus. Paling-paling dia sedang bermain-main saja, sekedar iseng sekarang!”
Tapi bujukan dan kata-kata Delvin sama sekali tidak mempengaruhi Reinhard.
“Kak, jangan melampiaskan amarah kakak pada gelas minuman yang malang itu. Gelas itu tidak berdosa, terbuat dari kaca bukan baja. Jika kakak terus begini maka…..”
Sebelum Delvin menyelesaikan kalimatnya, gelas ditangan Reinhard pecah berkeping-keping.
“.…….gelasnya hancur.” Delvin memandang gelas yang hancur itu. ‘Ya Tuhan. Ini mengerikan sekali. Kenapa jadi begini? Aku belum pernah melihat Kak Reinhard marah dan bersikap begini.’
__ADS_1
Delvin pun mundur beberapa langkah untuk bersembunyi dan menemukan tempat aman disudut ruangan itu. Jauh dari amarah kakaknya yang sedang menatap tajam kearah Liona.
Delvin memandang Liona dan bertanya-tanya didalam hatinya. “Ada apa denganmu malam ini? Kamu sedang menggali kuburanmu sendiri. Tidak yakin apakah Tuhan akan membantumu sekarang. Tapi demi persahabatan yang kita miliki selama ini aku berdoa dengan sepenuh hatiku padamu. Semoga kamu bisa lolos dari amarah Kak Reinhard.’ ucap Delvin dalam hatinya.