CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 56. AURORA DAN VENA


__ADS_3

“Ayo jujur…..katakan pada mama apa yang sudah kalian lakukan,”


“Tapi janji jangan marah ya…...Feli sayang mama Liona,” pipi tembemnya basah dengan airmata, lalu dia memeluk Liona dan mencium pipinya.


“Ini semua salah Elvano…...aku marah karena mereka jahat sama mama,”


“Bukan…...ini salah Feli. Kak El tidak boleh membelaku, aku tahu Kak El sayang samaku. Tapi Feli yang salah hiks…..hiks…...hiks…...”


“Ya sudah. Ceritakan apa yang sudah kalian lakukan pada mereka. Kenapa bisa seperti itu?”


“Feli suruh pengawalku untuk mengerjai mereka. Maafkan Feli.”


“Lalu apa yang mereka lakukan sehingga Aurora dan Vena bisa gatal-gatal begitu? Kalian tidak tahu jika itu sangat berbahaya?”


“Itu tidak bahaya mama. Percayalah padaku. Kami hanya membubuhkan bulu-bulu bambu di pakaian mereka supaya mereka gatal-gatal. Tidak berbahaya sama sekali. Kalau digaruk makin gatal dan merah tapi kalau tidak digaruk tidak apa-apa.”


Sebenarnya Liona tidak dapat menahan tawanya tapi dia ingin terlihat sedang marah pada kedua anak itu karena sudah mengerjai Aurora dan Vena.


“Semua kami lakukan untuk mama karena kami sayang sama mama. Feli akan membalas siapapun yang menyakiti mama.”


“Oh…..sayang. Kalian berdua membuat mama terharu.” Liona memeluk kedua anak itu “Tapi lain kali tidak perlu seperti itu.”


“Ssststtt…...waktu itu kami juga yang mengerjai bajunya saat syuting bajunya melorot dan dia telanjang hahaha…..hahahaha…..hahaha…...” ketiganya tertawa. Liona tak dapat lagi menahan diri menertawakan kejadian itu.


“Kalian berdua ini seperti rubah…..licik. Ide darimana semua itu?”


“Kak El dan Feli! Yeayyyy…….kami partner in crime,” keduanya tertawa riang. Beberapa kru menoleh kearah mereka melihat ketiganya tertawa girang. Miko hanya memperhatikan dari jauh kedekatan Liona dan Felicia, hatinya serasa dicubit karena mantan kekasihnya kini adalah calon istri pamannya.


...*...


Sementara dirumah sakit, Aurora dan Vena sedang diperiksa oleh seorang dokter penyakit kulit dan kelamin. Keduanya tak henti menggaruk bagian intimnya. Setelah selesai diperiksa dokter meminta mereka untuk berhenti menggaruk dan menjelaskan kondisi keduanya.

__ADS_1


“Maaf sebelumnya, saya mau tanya apakah kalian berdua ada berhubungan bebas gonta ganti pasangan?”


“Tidak ada dokter. Saya seorang aktris terkenal dan sudah punya kekasih. Saya adalah kekasih Seth Altezza Wilfred. Jangan sembarangan dokter menuduh saya.”


“Saya tidak menuduh, karena infeksi dibagian intim kalian berdua bisa jadi karena penyakit kelamin. Kita tunggu hasil dari lab sebentar lagi,” kata Dokter  Delina. Dalam hati dia bertanya-tanya jika kedua aktris itu pasti punya gaya hidup bebas, bukankah banyak yang begitu? Apalagi Aurora dikenal punya reputasi buruk dengan tingkah lakunya. Setelah menunggu selama tiga puluh menit, seorang perawat masuk membawa dokumen hasil pemeriksaan laboratorium.


Dokter Delina mengeryitkan dahi setelah membaca keterangan di surat itu.


“Bagaimana hasilnya dokter?” tanya Vena tak sabaran.


“Sebelumnya saya minta maaf. Hasil lab menyatakan jika kalian berdua alergi kulit,”


“Alergi kulit?” serempak menjawab.


“Iya. Coba kalian lihat disini,” Dokter Delina menunjukkan surat hasil lab “Sekali lagi maaf, kemungkinan alergi disebabkan kurang bersih menjaga **** *****. Bisa saja detergen yang dipakai, atau pakaian dalam yang jarang ditukar, maaf ya saya tahu kalian sedang syuting kadang kesibukan syuting membuat lupa mengganti pakaian dalam. Keringat yang melekat dipakaian dalam serinkali menyebabkan iritasi. Dan yang ini, disini dijelaskan kalau di pakaian dalam kalian ditemukan bulu-bulu halus.”


“Bulu-bulu halus? Maksudnya apa dokter?”


“Tidak!”


“Tidak mungkin dokter. Dirumah kami memakai mesin pengering jadi tidak mungkin,”


“Begini saja. Kalian bisa memeriksa mesin cuci atau mesin pengering dirumah. Bisa saja kurang bersih. Atau mungkin ada yang menaruh bulu-bulu halus itu. Karena ini bulu-bulu halus dari bambu,” jelas Dokter Delina.


“Dari bambu?” kedua wanita itu saling melirik dan berpikir.


“Apakah masih ada yang mau ditanyakan? Tolong jangan digaruk, karena jika digaruk maka akan semakin gatal dan melepuh. Silahkan ambil obatnya di apotik,”


“Baiklah.” keduanya lalu pergi meninggalkan rumah sakit setelah menebus obat-obatan. Wajah Aurora merah membara, menahan marah dan menahan gatal dibagian intimnya, rasa gatal dan panas akibat kulitnya tergores oleh kuku saat menggaruk.


“Siapa yang melakukan ini padaku?” tanya Vena lirih. Dia memakai ****** ***** dari rumah, itu berarti seseorang yang tinggal serumah dengannya. Asisten dan ART nya. Tidak mungkin…..dia menggelengkan kepala mencoba mengingat-ingat. Hal serupa juga terjadi pada Aurora yang berusaha mengingat-ingat. Mereka berdua lupa jika mereka sempat membawa pakaian dalam itu didalam tas pakaian untuk syuting kemarin. Saat itulah pengawal Felicia menaruh bulu bambu di pakaian dalam mereka.

__ADS_1


“Apa hasilnya?” bentak Reiki saat melihat Aurora dan Vena sudah kembali ke lokasi syuting.


“Kami tidak kena penyakit kelamin menular. Hanya alergi, ada orang yang sengaja mengerjai kami dengan menaruh bulu bambu di pakaian kami.”


“Tidak perlu cari alasan! Tidak ada siapapun dilokasi syuting yang melakukan itu. Bukankah kalian memakai pakaian dalam itu dari rumah?”


“Iya benar, sutradara. Dokter tadi bilang kalau kami kena alergi dari bulu bambu. Ini hasil lab, silahkan anda lihat.” Vena menyerahkan surat hasil lab pada Sutradara Reiki yang mengeryitkan dahi membaca surat itu.


“Ini salah kalian berdua. Saya tidak mau tahu, proses syuting tidak boleh tertunda gara-gara kalian, kita sedang kejar tayang. Kalian pikirkan caranya agar cepat sembuh. Besok syuting tetap lanjut jika kalian berdua tidak bisa ikut syuting maka kalian akan saya pecat!” dengus Reiki yang kesal, untuk kesekian kalian pengambilan gambar adegan Aurora dan Vena tertunda, selalu saja ada hal-hal yang membuat pengambilan gambar batal.


“Sutradara Reiki. Jika syuting hari ini sudah selesai, bolehkah saya pamit pulang? Anak-anak sudah menunggu dan Reynard akan menjemput saya sebentar lagi.” kata Liona yang sejaktadi berdiri disana mendengarkan kemarahan Reiki pada Aurora dan Vena.


“Oh iya Liona. Untuk hari sudah selesai dan akan dilanjutkan besok. Kamu boleh pulang, sampaikan salam saya pada Tuan Reynard.” ucap Reiki sopan dan tersenyum. Wajahnya sangat berbeda jika berhadapan dengan Liona, dia selalu senyum dan sopan.


“Terimakasih. Akan saya sampaikan. Sampai jumpa besok,” kata Liona hendak beranjak setelah Reiki pergi. Tapi tangannya ditahan oleh Aurora.


“Eh…..perempuan murahan. Sombong sekali kamu membawa-bawa nama Tuan Reynard.”


“Apa masalahmu Aurora? Aku tidak pernah mengganggumu. Oh…..pasti kau iri ya?”


“Liona! Aku tahu siapa kau, pasti kau menjual tubuhmu pada Tuan Wilfred. Hanya modal wajah cantik dan tubuh, selebihnya kau itu bukan siapa-siapa, huh,” Vena mencibir sinis.


“Lepaskan tanganku! Anak-anakku sudah menunggu.”


“Alaa…...sok sekali kamu Liona. Menggunakan anak Tuan Wilfred untuk mendekatinya….hahahaha…..murahan sekali.”


“DIAM! JANGAN GANGGU MAMA KU!” bentak Felicia yang entah kapan sudah ada disana.


“Ahhh…...anak manis. Kami hanya berbincang dengan Liona.” Aurora berjongkok sejajar dengan Felicia dan hendak menyentuh wajahnya namun tangannya ditepis oleh gadis kecil itu.


“Lepaskan mama ku. Kalau kalian mengganggu mama, maka para pengawal itu akan mematahkan tangan kalian.”

__ADS_1


Felicia memanggil pengawalnya, wajah Aurora dan Vena pucat seketika. “Akan aku adukan kalian pada papaku. Lihat saja! Papa sangat menyayangi mama Liona, papa akan membalas kalian karena sudah jahat sama mama ku.” tangan mungil itu menggenggam tangan Liona dan menariknya pergi.


__ADS_2