CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 37. PAMAN REYNARD BAIK


__ADS_3

Felicia sudah terbaring pulas dikamarnya. Reynard yang sudah berada dikamarnya berdiri didepan jendala kamarnya yang gelap gulita, sengaja dia mematikan semua lampu dan satu-satunya cahaya yang menerangi kamar itu adalah cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Delvin masuk kedalam kamar kakaknya dan melihat pria itu berdiri tegak sambil menghisap rokok. Dari jendela itu bisa terlihat langsung kamar tidur Liona dilantai dua. Kamar itu masih terang benderang pertanda wanita itu belum tidur.


“Kak, kenapa belum tidur? Masih rindu ya?” goda Delvin.


“Aku tidak mengantuk.”


“Insomnia kakak kambuh lagi ya? Sudah beberapa hari ini kakak hanya tidur bebeapa jam saja, aku khawatir dengan kondisi kesehatan kakak.” kata Delvin cemas, dia masih ingat perkataan Dokter Ardana, jika keadaan Reynard terus berlanjut seperti itu maka dia bisa mengalami kematian mendadak. “Besok aku akan menelepon Ardana agar dia datang mengecek kondisi kakak, kita tidak bisa membiarkan itu terjadi. Hari ini kakak sudah berhasil mendapatkan wanita yang kakak sukai, kakak harus semangat untuk sembuh supaya bisa segera menikahinya.”


“Sudahlah tidak usah repot, toh dia sudah berusaha berbagai macam terapi dan tak ada satupun yang berhasil.  Bahkan hipnotis pun sama sekali tak berpengaruh, toh aku masih susah tidur. Tak usah membuang waktu lagi, tak ada gunanya.” ujar Reynard.


“Delvin. Tolong aku ya.”


“Apa yang kakak butuhkan? Aku akan selalu membantu kakak.”


“Cari tahu semua tentang Liona, masa lalunya dan orang-orang yang dekat dengannya.”


“Ha? Bukankah kita sudah memeriksanya?  Kenapa kakak mau memeriksanya lagi?”


“Kali ini aku mau informasi yang lengkap tentang Liona. Mulai dari dia kecil hingga kepulangannya kembali. Jangan sampai melewatkan petunjuk sekecil apapun. Aku ingin tahu semua tentangnya, mungkin dengan cara itu aku bisa lebih memahaminya.:


“Baiklah kak, akan aku lakukan secepatnya. Sekarang kakak coba istirahat, kalau masih merasa sulit tidur cukup kakak bayangkan saja wajah kekasih kakak itu.” kata Delvin sambil berlalu dari kamar kakaknya setelah mendapat tatapan tajam dari Reynard.


“Delvin! Tunggu!” Reynard mengejar adiknya yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. “Lupakan saja, kamu tidak perlu melakukan itu. Aku rasa tak perlu lagi menyelidiki lebih lanjut, aku tidak mau jika Liona tahu, dia akan merasa tak suka.”


“Apa kakak yakin?”


“Ya, aku sangat yakin. Semua orang punya hal pribadi yang tak ingin diketahui oleh orang lain. Biarlah it menjadi rahasia Liona, aku tak perlu tahu.”


“Okay. Aku rasa itu bagus juga. Terlalu banyak tahu juga tak baik nantinya.”

__ADS_1


Reynard bisa saja dengan mudahnya mendapatkan semua informasi tentang Liona dengan menggunakan kekuasaannya tapi Reynard tak mau melakukan itu. Setelah dia pikir-pikir, jika ia menggunakan kekuasaannya maka akan membuat Liona merasa tidak dihargai.


Deelvin menggosok matanya yang sudah mengantuk berat “Sebaiknya kita tidur, kak. Aku sudah sangat mengantuk.”


Jam didinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Di rumah no. 2 terlihat Liona sudah mengunci semua pintu dan mematikan lampu. Dia berjalan menuju ke lantai dua, setelah mengecek Elvano yang sudah lelap dikamarnya lalu Liona pun masuk ke kamar tidurnya. Kamar tidurnya sangat luas dan didekorasi dengan gaya victorian, suasana didalam kamar sangat nyaman dan tenang. Liona membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk itu. Malam ini adalah malam pertama mereka dirumah baru dan untungnya Elvano tidak takut tidur sendirian.


...*...


Pagi itu, Liona sudah bersiap-siap namun suara ketukan dipintu depan membuatnya menghela napas ‘Apakah sepagi ini Reynard sudah datang? Mentang-mentang tetanggaan dia datang seenaknya.’ gumamnya berjalan membuka pintu depan. Terlihat seorang pelayan membawa nampan berisi sarapan pagi.


“Selamat pagi, Nona. Ini saya bawakan sarapan untuk Nona sesuai perintah Tuan.” kata pelayan itu melangkah masuk dan meletakkan makanan diatas meja lalu pamit kembali kerumah no. 1


Elvano yang sudah mandi dan terlihat rapi turun kelantai bawah dan mencium aroma wangi makanan “Wah….mama sudah selesai masak? Cepat sekali?”


“Ini bukan mama yang masak, sayang. Tadi pelayan Tuan Reynard yang mengantarkan ini untuk kita,” ujarnya sambil duduk di kursi meja makan. Liona melihat Elvano yang membawa Ipad pemberian Reynard.


“Iya, mama. Aku suka sekali dengan Ipad ini, paman Reynard sudah menginstall beberapa aplikasi untuk belajar.” ujarnya sambil membuka Ipadnya “Paman Reynard baik dan perhatian pada kita.”


Bocah itu mulai membuka pembicaraan tentang Reynard. Liona langsung menghentikan makannya dan meletakkan kedua tangannya dibawah dagu. “Apakah kamu menyukai Paman Reynard karena dia membelikanmu barang itu?”


“Tidak mama! Aku tidak bisa dibeli dengan barang atau uang. Aku tidak mudah tergoda.” kata bocah kecil itu.


“Tapi kamu sudah mengakui kalau kamu sangat menyukai Paman Reynard.”


“Mama, aku suka Paman Reynard karena dia baik dan aku pikir dia pria tanggung jawab. Aku suka kalau Paman Reynard jadi kekasih mama. Aku bisa rasakan kalau dia orang baik dan cocok sama mama.” sambil menyuapi makanan kemulutnya.


“So, kalau mama dan Paman Reynard punya hubungan, kamu senang?”


“Sudah pasti, Ma. Aku akan mendukung mama dan Paman Reynard. Felicia juga pasti senang kalau itu benar terjadi. Aku dan Felicia jadi saudara, iyakan?” senyum bocah itu terpancar membayangkan keluarga kecil mereka bersama-sama.

__ADS_1


“Hemmm….baiklah. Akan mama pikirkan.”


“Jangan lama-lama mikir ya, Ma. Nanti Paman Reynard keburu diambil orang. Aku tidak mau itu terjadi, aku hanya mau Paman Reynard jadi papaku.” ucapnya polos membuat mata Liona membulat mendengar pengakuan putranya. Tiba-tiba pintu depan terbuka dan teriakan kecil dari Felicia yang berlari masuk “Selamat pagi Mama Liona! Kak El! Aku sangat merindukan mama, Feli tidak bisa jauh-jauh dari mama Liona,” ucapnya memeluk Liona erat dengan tangan mungilnya.


“Buat apa kamu datang kesini pagi-pagi? Pasti kamu belum mandi ya?” ejek Elvano.


“Issss….Kak El jahat. Aku sudah mandi dan sudah harum. Coba cium,’ ujarnya mendekat Elvano dan memeluknya “Kakak coba cium,aku wangi, iyakan?”


“Aduh! Feli….sana jangan ganggu aku makan. Paman Reynard tahu kamu kesini?”


“Tidak! Papa masih tidur, aku tidak mau ganggu papa karena papa susah tidur. Jadi aku langsung kesini.” mata bulat gadis kecil itu menatap Liona tak berkedip. “Mama Liona, boleh aku tanya?”


“Mau tanya apa, sayang?”


“Heemm…..tadi kata Paman Delvin kalau Papa dan Mama Liona pacaran ya? Kata Paman begitu, sudah resmi dan mau menikah.”


Liona hanya tersenyum tak menjawab, namun Felicia yang menatap wajah Liona tersenyum langsung paham. “Ha….Kak El! Papaku dan Mama Liona kekasih…..Yeay…...itu artinya usaha kita berhasil iyakan kak?” ucapnya keceplosan. Elvano langsung membekap mulut gadis gendut menggemaskan itu.


Liona yang mendengar, langsung melipat kedua tangannya didada dan menatap kedua anak itu bergantian. “Apa kalian mau jelaskan sama mama? Apa yang sudah kalian berdua lakukan, hu?”


“Tidak ada mama!” serempak menjawab sambil tersenyum. Tangan Felicia melingkar di leher Elvano Lalu berkata “Kami ada perjanjian jadi saudara dan berbagi, iyakan Kak?”


Elvano jadi salah tingkah lalu menggangguk “Felicia berbagi papa denganku, dan aku berbagi mama dengannya.”


“Ya, ampun. Perjanjian macam apa itu? Kenapa kalian berdua ini selalu saja bikin ulah.” Liona berusahan menahan tawa dan pura-pura cemberut.


“Maafkan aku, Mama Liona. Papa dan Mama Liona harus dapat yang terbaik. Kalian yang terbaik. Aku tidak mau orang lain jadi mama ku.”


“Aku juga tidak mau yang lain jadi papa ku.” sahut Elvano menimpali.

__ADS_1


__ADS_2