
Liona berjalan menelusuri ruangan sambil memeriksa isi lemari dan rak-rak yang ada disana. Dia terkejut saat menemukan berbagai botol anggur yang memiliki kualitas terbaik. Setiap botol yang ada didalam ruangan itu sangat berharga. Bahkan ada beberapa jenis anggur yang belum pernah dia dengar namanya sebelumnya. Liona berhenti didepan sebotol anggur Lafite yang diproduksi pada tahun 1987. “Kau punya Lafite yang ini? Ha ha ha orang-orang di internet sering berbicara tentang anggur Lafite yang diproduksi pada tahun 1982. Kenapa kau tidak memiliki anggur itu?”
Entah bagaimana, Reynard sudah berdiri dibelakang tubuh Liona. Pria itu kemudian menjelaskan, “Itu hanya lelucon di drama TV. Sebenarnya anggur Lafite yang diproduksi pada tahun 1987 adalah yang paling berharga.”
Liona menatap botol anggur didepannya dengan penuh harap.
“Apakah kau mau mencobanya?” tanya Reynard.
Liona pun langsung mengangguk dengan penuh semangat. Maafkan sikapnya yang sedikit tidak tahu malu karena ingin mencicipi anggur legendaris. Kapan lagi dia punya kesempatan untuk mencoba anggur langka ini? Dia hanya ingin menambah pengalamannya saja. Reynard mengeluarkan sebuah pembuka botol dari dalam lemari dan menekannya pada gabus botol anggur. Gigi spiral berputar segera menembus gabus botol dan menariknya keluar secara otomatis.
Reynard kemudian mengambil sebuah decanter anggur lalu menuangkan seluruh isi botol anggur. Pria itu segera mengeluarkan dua gelas untuk mereka. “Ayo kita pergi.” Reynard kembali ke kamarnya dan Liona mengikuti pria itu dibelakangnya dalam diam. Ada dua buah sofa tunggal di kamar tidur dengan meja the kecil ditengahnya. Reynard meletakkan botol anggur diatas meja dan meletakkan gelas anggur didepannya.
“Apakah kau mencium sesuatu? Bau apa itu?” Liona bertanya dengan dahi berkerut.
“Ketika kau membuka sebotol anggur tua, akan ada bau aneh yang keluar. Itu sebabnya kita membutuhkan sebuah decanter. Jika kita menuangkan anggur kedalam decanter, bau aneh itu akan hilang. Decanter akan memaksimalkan area kontak antara anggur dan udara. Hal ini akan membuat anggur sepenuhnya teroksidadi. Setelah itu, aroma anggur akan keluar dengan sednirinya.”
Liona mengangguk seperti ayam sedang mematuk nasi. “Kira-kira akan memakan waktu berapa lama?”
“Kurang lebih sekitar satu jam.” jawab Reynard.
__ADS_1
Liona langsung terdiam. “Ini hanyalah sebotol anggur. Mengapa perlu ritual panjang seperti itu sebelum kita meminumnya?” tanya Liona lagi. ‘Apa yang akan mereka lakukan sekarang? Mereka tidak mungkin menunggu selama satu jam dalam diam sambil bertatapan, kan?’
Dia harus segera menemukan topik pembicaraan.
“Sepertinya kau sangat suka minum anggur. Kau punya banyak koleksi dari berbagai jenis anggur.” ujar Liona memulai pembicaraan.
“Dulu aku sering minum tapi sejak Felicia datang dalam hidupku, aku berusaha tidak terlalu sering minum alkohol.”
“Oh begitu ceritanya.”
Ada kesunyian yang sedikit memalukan diruangan itu lagi. Keduanya sama-sama terdiam.
Dan kesunyian itu berlanjut selama beberapa menit. Kamar itu tampak sunyi senyap. Liona sedang berbaring di sofa karena mulai mengantuk. Dia menguap dan berkata, “Bagaimana kalau aku menceritakan kisah tentang masa kecilku?”
“Ketika aku masih kecil, tunggu…...biarkan aku berpikir sebentar. Sebenarnya aku tidak memiliki banyak kenangan masa kecil yang baik. Mungkin akan terdegar sedikit membosankan.”
“Tidak masalah bagiku.” ujar Reynard. Karena dia ingin tahu segalanya tentang Liona, dia tidak peduli apakah cerita itu membosankan atau tidak.
“Baiklah kalau begitu. Dimana aku harus memulai? Mari kita mulai dengan cerita yang bahagia dulua. Ketika aku berusia enam tahun, aku dikirim ke kabupatan Mandalai. Apakah kau tahu tempat itu? Tempat itu adalah tempat yang buruk karena penduduk disana hidup dalam garis kemiskinan tetapi pemandangannya sangat indah.”
__ADS_1
Liona menghentikan kalimatnya sebentar lalu menghela napas panjang, “Aku masih ingat langit ditempat itu terlihat sangat biru dan udara disana terasa manis. Aku menghabiskan waktu paling bahagia disana.”
“Kabupaten Mandalai?” Reynard mengeryitkan alisnya.
“Kenapa? Apakah kau juga pernah mengunjungu tempat itu?” tanya Liona.
“Ya. Aku pernah kesana.”
Liona mengangguk, dia tidak menyadari perubahan ekspresi wajah Reynard. “Aku tinggal disana selama hampir lima tahun. Ibuku meninggal saat aku berumur tiga tahun. Ibu menerima sejumlah warisan dari kakekku. Karena nenek sudah tua dan tidak sanggup merawatku, aku dikirim ke panti asuhan.” Liona berhenti sejenak.
“Suatu hari pasangan suami istri Adam dan Hesty datang ke panti mengadopsiku dan kemudian Adam menjual semua warisan yang ditinggalkan oleh ibuku yang disiapkan untuk masa depanku. Pria brengsek itu menyimpan uang yang dia dapat untuk dirinya sendiri setelah mengadopsiku dari panti asuhan dan menjadikan dia waliku. Aku masih kecil dan tak mengerti apa-apa, dia mencari semua harta ibuku termasuk rumah. Entah darimana dia tahu semua tentang warisan ibuku.”
Liona memeluk lututnya seperti anak kecil dalam upaya untuk melindungi dirinya dari semua kenangan menyakitkan itu. “Adam benar-benar seorang bajingan. Dia mengirimku ke kabupaten Mandalai kerumah nenek saat aku berumur enam tahun. Dia tidak pernah menyebut tentang nenek sebelum dia mengirimku kedesa. Aku sempat mengira nenek sudah meninggal. Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah nenek. Ketika nenek datang untuk menjemputku dari stasiu, aku tidak tahu apa yang menungguku dimasa depan.”
“Apakah nenek akan bersikap baik kepadaku? Tapi keberuntungan masih berpihak padaku. Nenek adalah yang terbaik, beliau adalah seorang wanita yang manis dan penuh kasih sayang. Dia peduli padaku dan selalu memasak makanan favoritku. Bahkan ketika uang kami terbatas kadang-kadang nenek hanya mampu membelikan makanan untukku dan dia lebih memilih untuk tidak makan daripada melihatku kelaparan.”
Reynard mendengar cerita Liona dengan seksama. Liona tiba-tiba mendongak dan berbalik menghadap pria itu. “Kau pernah mendengar tentang kabupaten Mandalai kan? Luas wilayahnya tidak terlalu besar tetapi populasinya cukup tinggi. Semua pria yang mempunyai kesempatan memilih pergi dari desa karena ingin mencari pekerjaan. Jadi yang tertinggal didesa itu adalah orang tua atau wanita dan anak-anak. Tapi orang-orang disana selalu baik, saling membantu dan peduli satu sama lain. Ketika seseorang memasak tidak jarang dia akan membaginya dengan tetangga mereka. Kehidupan disana sangat damai.”
Reynard hanya bisa tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
“Aku ingat desa itu adalah sebuah kebun buah yang besar. Kami membantu pemilik kebun saat musim panen setiap tahun. Uang yang kami terima mungkin tidak banyak tapi kami mendapat sekantong apel dan pisang ketika kami sudah selesai bekerja. Jadi buah itulah yang paling sering aku makan saat masih anak-anak.”
Liona yang bercerita pun kembali membayangkan suasana desa tempat tinggalnya dulu. Kedamaian dan kesederhanaan yang dirindukannya tanpa ada intrik dari orang-orang yang memasang topeng kemunafikan diwajah mereka.